Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari 2012

Pengumuman Pemenang Kuis

Yeeaayy!! Akhirnya.. Waktu yang ditunggu-tunggu tiba. Hahahaha... Apakah para peserta Kuis Resensi Novel Favorit hari ini pada memendam rasa penasaran? Atau biasa aja? Atau penasaran tapi cool aja? Atau sampai berdoa dan ngasih sesajen supaya menang? Duh Rhein, kebanyakan ngomong deh! :D

Oke! Sebelumnya, Rhein mau ngucapin makasih banyaaaakkk untuk semua peserta yang udah pada ikut. Baru kali ini Rhein mengadakan kuis dan apresiasi dari temen-temen baik sekali. Jadi semangat untuk baca tulisan-tulisan peserta yang masuk. Semua resensinya bagus-bagus, lengkap, plus bikin penasaran dan pengen baca novelnya langsung. Sayangnya, aku hanya punya dua hadiah (Iya, kurang banyak). Mau nggak mau harus memilih 2 yang terbaik dari 43 resensi novel yang masuk di Fan Page Rhein Fathia.

Milihnya gimana? Semua resensi pasti Rhein baca, kok. Setelah itu, tentu Rhein cocokan dengan persyaratan yang sudah disebutkan di Syarat & Ketentuan Quiz. Selanjutnya, Rhein baca dan seleksi berdasarkan kelengkap…

Quiz Resensi Novel Favorit

QUIZ!! KUIS!! HADIAAAHH!! HORRAAY!! ^o^/

Ide kuis ini berasal dari begitu banyak buku-buku di rumah Rhein dan bingung mau dikemanakan. Di satu sisi rak buku tidak bisa bertambah dan di sisi lain hampir tiap bulan beli buku. Sebagian buku-buku koleksi pribadi sudah pernah di jual dan saat ini Rhein ingin membagikannya GRATIS!! Apah?? Gratis?? Iya dong... Hanya saja, Rhein ingin membuat: 
KUIS RESENSI NOVEL FAVORIT Tujuan kuis ini adalah agar para peserta melakukan aktivitas membaca sekaligus menulis. Membuat resensi pasti harus membaca dulu, lalu menuliskannya. Ya iyalah.. Aduh, Rhein kebanyakan basa-basi, deh! Hadiahnya apa, nih?? Okay, karena tujuan utama adalah mengosongkan sebagian isi rak buku, maka hadiahnya adalah paket buku koleksi pribadi Rhein. Eits, tapi tenang saja... Semua kondisi buku yang menjadi hadiah ini tentu masih sangat baik dan layak baca. Bahkan ada yang masih dibungkus plastik. Isi ceritanya tak lekang oleh waktu dan jumlahnya cukup banyak! Hohoho... Mau dong dap…

Ubud Writers Readers Festival 2012 (part 2)

Masih lanjutan cerita tentang Ubud Writers Readers Festival ya.. Sumpeh deh senang banget dateng ke acara ini. Auranya tuh bener-bener kepenulisan banget. Rhein juga sempet ngobrol-ngobrol sama orang Australia yang ternyata dia itu dosen jurusan budaya Indonesia di salah satu Universitas di Australia, lho! Oemji... Negara kita ini sebenarnya keren! Oke, lanjut ke topik diskusi panel yang Rhein ikuti.

3. It Rolls Off The Tongue General: A lesson in language; writers share for the precise phrase, the obsession with perfection, the a-ha moment when word matches vision. Speaker: Kader Abdolah, Marina Endicott, Anna Funder, Muhary Wahyu Nurba
Diskusi panel ini seru karena dibuka dengan curhat masing-masing pembicara. Ternyata para penulis yang udah tenar dan meraih banyak award itu banyak yang pada awalnya bukan benar-benar penulis, lho. Mereka juga mengalami masalah yang sama dengan para penulis di Indonesia, menjadi penulis masih dipandang sebagai karier yang 'tidak terlalu punya masa…

Ubud Writers Readers Festival 2012 (part 1)

I know it's so late. Ubud Writers Readers Festival (UWRF) has already held more than last month dan Rhein baru  mengulasnya sekarang. Ingkar janji padahal pengen langsung berbagi cerita seminggu setelah pulang dari Bali dan Lombok itu. Namun apa daya, seriously, efek UWRF dan bertemu begitu banyak penulis profesional bin tenar itu membuat semangat menulis langsung meningkat sehingga Rhein begitu tergerak untuk merampungkan editing-revisi sebuah novel. It finished now, Alhamdulillah. And while I'm writing for one thing, I still can't write for other thing. I don't know why. I just feel the characters ruin over my head and said, "Damn you writer! Focus in our life and finish our stories now!" Okay, let's talk about characters later.

Seperti yang sudah banyak orang ketahui, Rhein datang ke UWRF sebagai pengunjung biasa dan berkat kebaikan hati Penerbit Mizan yang memfasilitasi semua akomodasi selama di Bali, sebagai hadiah pemenang pertama lomba novel Qanit…

Backpacker: Lombok (Praya-Mataram-Senggigi)

Horeee... Akhirnya Rhein pulang setelah satu minggu melakukan perjalanan Bali-Lombok. Acara ke Bali tentunya merupakan hadiah dari Penerbit Mizan atas kemenangan novel Seven Days. Rhein dapet wisata literer untuk datang ke acara Ubud Writers Readers Festival. Untuk acara kepenulisan itu, Rhein share nanti dulu, ya... Soalnya harus buka-buka catatan lagi. Hehehe.. Ini cerita lanjutan waktu solo backpacker ke Lombok dan Gili Trawangan. Apa? Solo? Yap! Gw backpackeran sendirian, cyyyynnn...

Day 1: Minggu, 7 Oktober 2012
Perjalanan dari Bali menuju Lombok menggunakan Wings Air dalam waktu sekitar setengah jam. Cuaca sore hari cerah, menyenangkan, meski ada beberapa penumpang yang bikin sebal karena saat pesawat akan landing, mereka sudah teleponan dan BBMan (DOH!). Are they stupid or what?? Sampai di Bandar Udara Internasional Lombok Praya, lagi-lagi Rhein dikejutkan oleh banyaknya orang yang menonton di luar bandara. Nonton apaan, sih? Nggak tahu, ya... Ya nonton pesawat dan orang-orang …

Menulis vs Menerbitkan Tulisan

Rhein lagi pengen nulis agak serius.

Sehubungan dengan banyak banget penulis-penulis (pemula) yang sering tanya tentang bagaimana cara menerbitkan karya, gimana supaya tulisan tembus penerbit, minta diajarin nulis novel, de-el-el, Rhein mau share sedikit tentang dunia tulisan dan penerbitan. Meluruskan sedikit kesalahpahaman yang sering dialami oleh penulis (pemula) akan dunia penerbitan buku. Di sini, Rhein mau bilang bahwa:

Menulis dan menerbitkan karya adalah dua hal yang berbeda

Camkan itu. Dalam topik ini, penulis yang gw sasar adalah penulis pemula yang karyanya belum melanglangbuana secara luas dan penerbit yang dimaksud adalah penerbit major (bukan self publishing).

Menulis cerita, itu mudah. Tulis saja cerita keseharian dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Curhat. Jadilah sebuah cerita. Menulis cerita yang enak dibaca banyak orang, itu susah. Untuk sampai pada tahap ini, seorang penulis membutuhkan referensi, banyak membaca, riset mendalam, dan waktu. Jam terbang, mungkin …

Seven Days Won Qanita Romance Novel Competition

Seperti yang pernah Rhein tulis di postingan Happines of June, di cerita terakhir Rhein bilang sedang nulis novel untuk ikut Lomba Penulisan Novel Qanita Romance. Judul novel yang dikirim, "Seven Days". Sebelum heboh karena *sesuai judul* novel ini akhirnya menang, Rhein pengen cerita dulu gimana proses terbuatnya novel ini...

Seven Days bercerita dengan latar belakang Bali. Mengapa? Karena saat Rhein mendapat info mengenai lomba itu tepat sepulang dari Bali. Jadi, munculah ide tentang novel berlatar perjalanan ke Bali. Tentang isi novelnya, nanti aja lah ya pada baca kalau novelnya udah terbit. Hahaha... Sebenarnya agak khawatir novel itu bakal selesai di tengah kesibukan kantor dan waktu yang sudah mepet deadline, untunglah deadline diperpanjang. Thanks, Mizan :). Proses pembuatan novel ini tepat satu bulan. Dengan spesifikasi naskah sejumlah 111 halaman, riset dari berbagai sumber dan kawan yang di Bali, plus ingatan Rhein yang masih segar mengenai Bali tentunya. Apakah …

Idul Fitri 1433 H

Masih dalam suasana bulan Syawal, Rhein mau mengucapkan:
Selamat Idul Fitri 1433 H. Mohon Maaf Lahir Batin
Apa kabar nih semua? Gimana puasanya? Mudiknya? Silaturahminya? Lebarannya? Oleh-olehnya mana? Hehehe.. :D Buat Rhein pribadi, akhir Agustus ini memberikan kesan yang campur aduk antara senang, sedih, syok, kaget, dan bingung (aduh lu rempong banget sih, Rhein!). Lebaran lalu Rhein sekeluarga shalat Ied di masjid dekat rumah, seperti tahun-tahun sebelumnya. Lepas shalat, pastinya maaf-maafan sekeluarga, makan-makan, terima tamu-tamu, ngobrol sama pacar dan Ibu Camer yang ada di Semarang, dan prepare untuk ke rumah nenek di daerah Purwakarta. Semuanya, menyenangkan! Perjalanan ke rumah nenek juga lancar. Sampai di suatu sore, pacar ngasih kabar singkat kalau Ibu Camer masuk rumah sakit dan pacar minta Rhein untuk nggak tanya2 apapun karena dia lagi hectic merawat ibunya. Rhein pun mengiyakan, sedikit deg-degan, menunggu kabar...
Kondisi di rumah nenek menyenangkan, denga…

Mein Traumhaus!

Begrüßung! Ich habe Hausaufgabe von Deutschkurs zu schreiben über Mein Traumhaus in der Zukunft. Ich will es schreiben im mein Weblog.
Mein Traumhaus ist minimalistische und ziemlich groß und modern. Es hat eine Garage, eine Terrase, fünf zimmer, eine Badezimmer, eine Küche, und eine Bibliothek. Im Wohnzimmer sind zwei Sofas, ein Tisch, und eine vase mit Blume. Im Familienzimmer sind ein Teppich und ein Fernseher. Die Küche ist klein aber hat modern Küchenausstattung. Die Esszimmer stehen einen Tisch und vier Stühle. Das ist eine Gastezimmer für eine Freundnen und eine Familien. Das Schlafzimmer ist hell und ruhig denn es hat Fenster zum Hinterfof. Das steht eine Bett und eine Schrank. Das haus hat eine groß Bibliothek, da stehen Bücherregale haben hier viel Platz und eine Sofa. Die Bibliothek is hell denn es hat Wand aus Glas. Das haus hat Hinterhof. Der Hinterhof is groß und mit Blumen geschmückt. Ich kann schön Hinterhof sehen von Esszimmer, Schlafzimmer, und Bibliothek.
Das ist ein…

Happines of June :)

Juni memang bulan yang spesial. Sampai-sampai seorang sastrawan pak Sapardi Djoko Damono pun membuatkan puisi tentangnya dengan judul, "Hujan di Bulan Juni".

Buat Rhein, Juni tentu lebih-lebih spesial. Alasan utama tentu karena Rhein dan Furky lahir di bulan ini, dengan tanggal lahir beda 1 minggu. Itu tandanya, selalu ada syukuran dan keluarga kumpul lengkap di tiap bulan ini. Juni juga identik dengan libur sekolah, libur kuliah, summer time kalau kata orang Eropa & Amrik sana, meski nggak berlaku libur buat kuli Jakarta. Hiks.. Intinya, Juni selalu ditunggu-tunggu oleh keluarga Rhein. Ultah, makan-makan, liburan. Cihuy!

Nah, Juni di tahun ini juga spesial banget buat Rhein. Pertama, si pacar datang. Iya, si pacar yang sedang merantau di pulau terpencil bernama Tarakan di Kalimantan Timur itu, dapet izin libur dari kantor dan datang ke Bogor! Hohoho... Kejutan! Senaaannngg banget! Karena Rhein belum bisa cuti dan ngga ada long weekend, kami cuma melakukan aktivitas ora…

25!

Dear Mom & Daddy, I'm 25 now... Even I'm not a kid anymore, not a toddler or teenager, but still will be your little daugther, little princess... :)
Pagi ini menyenangkan seperti biasa. Bedanya, saat akan berangkat ke kantor, Ibu mencium pipi dan memelukku erat. Mengucapkan selamat ulang tahun dan berdoa supaya aku cepat menikah *gubraaaakk*. Bapak pun turut serta mencium pipiku serta berdoa, "Semoga teteh selalu sabar dan semakin bijaksana dalam menghadapi semua ujian Allah", sembari mencium ubun-ubun. Ah, doa pagi dari orangtua selalu mengharukan, bukan?

Setelah mendapat selamat dan doa dari adik-adik, pacar, geng H. Ridhi, temen-temen plurk, facebook, rasanya sangat menyenangkan pagi hari yang didoakan banyak orang. Semoga doa yang kalian berikan mendapat balasan dari Allah SWT dengan balasan sebaik-baiknya. Aamiin...
So,  I'm 25 now.. Seperemat abad, mameeeenn!! Hahaha... Konon, wanita di usia gw ini sedang masa-masa rawan. Rawan mengejar karir, rawan dita…

Seven Days (part of)

Ubud, kota kecil, sejuk, nan indah yang kukenal justru melalui film produksi Holywood, Eat, Pray, Love. Aku dan Shen sampai menjelang maghrib dan langsung mencari penginapan. Setelah menyimpan barang dan bersih-bersih, kami keluar mencari makan malam. Ada cerita unik yang kudapat dari pemilik penginapan saat check in tadi. Saat aku melihat jejeran motor milik pengunjung terparkir di jalanan di depan penginapan, aku bertanya kemana semua kendaraan itu nanti disimpan. Karena kulihat tempat parkir yang tersedia sedikit sekali. Pemilik penginapan malah tertawa menanggapi pertanyaanku. Katanya, motor-motor itu diparkir di jalan saja. Tidak pernah terjadi pencurian selama ia hidup di Ubud ini. Semuanya aman. Giliran aku terhenyak tak percaya. "Romantis banget tempatnya ya, Shen?" Kepalaku menoleh ke sana kemari dan menatap sekeliling café yang Shen pilih sebagai tempat makan malam. Ruangan luas dengan penataan kursi dan meja kayu yang rapi, di beberapa sudut malah berupa sofa empuk …

Editor Belajar Branding

Lagi kesel setengah mati. Sekesel-keselnya karena ketemu orang super egois yang baru kali ini gue temui dan dengan terpaksa harus gw ladenin. Setelah gw jadi editor buku fashion muslimah milik seorang desainer yang Alhamdulillah best seller, bos gw memperkenalkan dengan seorang calon penulis lagi. Ceritanya dia mau bikin buku fashion muslimah juga. Gue bilang dia calon penulis karena dia belum pernah nulis dan setau gw bukan lulusan sekolah desainer mana pun (ga patut lah gw sebut desainer fashion juga). 

Awal-awal kerja bareng masih okelah, meski feeling gue merasa nggak enak (masih inget kan gw kalau ketemu orang pertama kali selalu langsung dapet feeling 'sesuatu'). Why? Karena dia nggak ramah. Kalau dateng ke kantor hampir nggak pernah nyapa-nyapa atau senyum. Tiap rapat pun seringnya nggak merhatiin, malah asik main BB ato tabletnya. Siapa yang suka sama orang yang attitudenya seperti ini. Waktu berjalan seiring proses pembuatan buku, bolak balik pemotretan, ngurusin mode…