Langsung ke konten utama

Happines of June :)

Juni memang bulan yang spesial. Sampai-sampai seorang sastrawan pak Sapardi Djoko Damono pun membuatkan puisi tentangnya dengan judul, "Hujan di Bulan Juni".

Buat Rhein, Juni tentu lebih-lebih spesial. Alasan utama tentu karena Rhein dan Furky lahir di bulan ini, dengan tanggal lahir beda 1 minggu. Itu tandanya, selalu ada syukuran dan keluarga kumpul lengkap di tiap bulan ini. Juni juga identik dengan libur sekolah, libur kuliah, summer time kalau kata orang Eropa & Amrik sana, meski nggak berlaku libur buat kuli Jakarta. Hiks.. Intinya, Juni selalu ditunggu-tunggu oleh keluarga Rhein. Ultah, makan-makan, liburan. Cihuy!


Nah, Juni di tahun ini juga spesial banget buat Rhein. Pertama, si pacar datang. Iya, si pacar yang sedang merantau di pulau terpencil bernama Tarakan di Kalimantan Timur itu, dapet izin libur dari kantor dan datang ke Bogor! Hohoho... Kejutan! Senaaannngg banget! Karena Rhein belum bisa cuti dan ngga ada long weekend, kami cuma melakukan aktivitas orang pacaran kayak biasanya. Jalan-jalan, makan di resto, nonton bioskop, foto narsis. Standar? Emang! Namun, bagi Rhein yang anggota Laskar LDR dari zaman baheula, kegiatan sederhana itu tetap spesial pastinya. Thanks for coming, om Beruang. You always know how to make me happy :).
Kedua, Rhein juga ketemu penulis yang dari duluuuuuuu Rhein kagumi dan admire banget! Dewi Lestari. Waktu tahu ada book signing Partikel di Botani Square, udah catet dari jauh-jauh hari harus dateng! Meski cuma ketemu nggak sampai 5 menit dan hanya sekedar foto dan tanda tangan, tapi udah seneng banget. :D

Ketiga, ini yang paling menyenangkan. Rhein akhirnya bisa melakukan aktivitas yang dari dulu pengeeeeenn banget dilakuin. PARALAYANG! Iya, TERBANG! Hahaha... Sebenarnya udah pengen nyobain dari dulu, tergiur oleh postingan nona seeska cantik ini. Sayangnya, baru bulan ini kesampaian. Pikir-pikir, pengen merayakan ulang tahun bareng adek yang spesial. Kalau cuma makan-makan di resto pastinya udah biasa. Nah, tahun ini harus spesial. Jadi setelah dari bulan lalu sms-an sama Pak Anwar, CP untuk paralayang di Puncak, tanya-tanya masalah cuaca, dll, berangkatlah Rhein sekeluarga ke puncak di saat weekend.

Pergi ke puncak subuh-subuh, sayang banget ternyata anginnya kenceng banget, bahaya buat terbang. Huhuhu... Kami harus nunggu lamaaaaa sampai siang, angin juga masih kenceng. :'(. Untungnya di wilayah paralayang ini emang sering jadi tempat wisata. Tempatnya enak buat nongkrong, bisa liat pemandangan indah ke bawah, banyak warung makan, deket masjid At-Taawun, enak buat wisata lah pokoknya. Jadi, menunggu juga nggak bete-bete amat. Cuma yang perlu dikhawatirkan adalah kalau pulang terlalu sore pasti macetnya luar biasa.


Baru jam 3 sore angin mulai bagus (foto di samping itu alat penanda angin, pas angin nggak bagus). Perjuangan banget yak, buat nunggu. Setelah ada test-drive dari beberapa pilot paralayang dan siswanya (ada juga sekolah paralayang di sini), barulah pengunjung diperbolehkan terbang. Ternyata, yang mau terbang banyak, lho! Tapi antrenya nggak lama-lama banget karena peralatan dan pilot tandemnya banyak. Oiya, ada peraturan kalau mau ikut terbang, berat badan maksimum 80 kilogram :D.

Diantara kami bertiga, yang pertama terbang adalah Furky, Bani, lalu Rhein. Bukan karena alasan takut lho ya, Rhein terbang terakhir. Tapi lebih karena Rhein yang bawa digicam jadi bisa foto-foto mereka dulu pas persiapan. Hehehe... Setelah semua atribut terpasang dan parasut dibentangkan, Bismillah... Ada pilot tandem yang menaikkan parasut (kayak nerbangin layang-layang), dan Rhein dibantu lari kencang di landasan. Kemudian, SYUUUUTTT TERBAAANGG!! Parasut mengembang tertiup angin. Kami berada di ketinggian entah berapa ratus meter di atas tanah. Tinggiiiiii banget! 

Takut kah? Awalnya, iya bangeeett! Itu tingginya MasyaAllah, kalau jatuh gimana, kalau kebawa angin yang tiba-tiba kenceng ke gunung salak gimana. Sempet pas atribut sudah lengkap terpasang, Rhein pengen membatalkan. Namun apa daya udah disuruh lari di landasan. Ya udah deh, lahaula... :))
Ternyata rasanya? Rasanya? Senaaaaannnggg... Kayak burung terbang. Emangnya tahu gimana rasanya burung terbang? :p Udara sore, jingga matahari, awan putih, dan pemandangan hijaunya puncak. Keren banget! Speechless, deh... Tapi, terbang di udara dengan kondisi angin sepoi langsung menerpa kulit itu emang bener-bener menyenangkan. Pengen lagi, tapi mahal... Hahaha.. Biaya paralayang ini 300.000 per orang. Etapi kalau mau sekolah paralayang, cukup bayar 6 atau 7 juta gitu (lupa gw) untuk 40 kali terbang dan sampai bisa. Siapa tahu ada pembaca yang minat. Hehehe...

Oiya, paralayang ini ditangani sama pilot-pilot yang udah ahli, rata-rata atlet nasional, dengan peralatan bagus dan aman. Kalau pun jatuh, ya masih ke bawah... *maksutloRhein*. Jangan sampai lah ya... :). Tapi para pilot tandem ini ga mau ambil resiko kok kalau angin nggak bagus nggak bakal maksain terbang. Buat yang pengen mencoba tantangan, paralayang worth it dicoba! 

The last happiness in June, alhamdulillah Rhein bisa nulis lagi. Sebuah novel, BELOM TERBIT, dan berencana untuk diikutkan lomba. Doakan semoga menang ya, teman-teman... Kalau pun nggak menang, Rhein seneng kok udah bisa nulis dan berkarya lagi, meski untuk diri sendiri... :)












Here we go for another pictures...





All in all, see you again, June... ^_^

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Cyber Shopping mengatakan…
visit dan follow blog kami untuk mendapatkan T-Shirt distro keren dan sepatu branded dengan harga murah!!
Anonim mengatakan…
boleh minta contact person untuk paralayang-nya ngga, Pak Anwar itu? Trims.

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …