September 08, 2010

Salah Rayu

Pacaran jarak jauh emang penuh warna. Kangennya itu loh yang bikin warna. Untungnya sarana komunikasi ga seribet zaman sebelum Alexander Graham Bell dulu.

Si Ay  : Halo, sayang..
Rhein  : Haloo... tumben jam segini nelpon. Ada apa?
Si Ay  : Ga apa-apa. Kangen denger suara kamu aja.
Rhein  : Ooooh, kalau gitu aku mau nyanyi aja ya. *senanghati*
Si Ay  : Eng.... -__-"

Love is real, real is love. -John Lennon-

Agustus 23, 2010

It's About... Us

It's about surprising love
It's about promise
It's about waiting
It's about choice
It's about how through the time
It's about tall guy and short girl :p
It's about you and me

It's about Long Distance Relationship


*ps: So, I'll see you soon, then...

Movie: Dear, John

Love is real, real is love. -John Lennon-

Agustus 19, 2010

Kuli Jakarta: Pertama Kali Ngantor

Bukan pertama kali kerja loh ya... karena menurut hukum fisika, kerja itu usaha dikali perpindahan. Jadi, sudah dipastikan hampir semua orang pasti pernah bekerja. Ngomong-ngomong, kenapa gw bawa-bawa fisika juga?

So, inilah pertama kali gw ngantor. Bener-bener ngantor karena gw bekerja di sebuah perusahaan. Gw dateng tiap pagi, masuk ruangan, duduk di salah satu cubicle, lalu mulai kerja. Kita sebut saja namanya Kantor Beta. Selain dalam bahasa Papua beta itu artinya saya (jadi, Kantor Saya), juga karena perusahaan tempat gw bekerja namanya Beta Pramesti. Kita persingkat namanya Kantor Beta sehingga bisa memiliki dua arti. Letak kantor gw di daerah Matraman deket halte busway Kebon Pala. Deket juga dari stasiun Jatinegara dan untungnya deket sama kantor Bapak. Sangat lumayan sekali pagi-pagi berangkat bisa nebeng, dan pulang sore pun nebeng. Uhuuuyy..

Gimana rasanya ngantor? Dari segi atmosfer ruangan kerja, jelas sangat sangat jauh berbeda dengan Lab Teori tempat gw nongkrong. Gw ditempatkan di ruangan finance *padahal gw anak marketing*, yang orang-orangnya sibuk dengan hal ga jauh-jauh dari duit. Di sini semua orang bekerja, dan bukan baca buku quantum physics ataupun nyanyi lagu alay. Ruang kekuasaan gw hanyalah satu cubicle, dan bukan satu ruangan yang bisa gw jajah seenaknya. Teman-teman gw adalah bapak-bapak dan ibu-ibu, bukannya cowo-cowo jenius yang masalahnya ga jauh-jauh dari susah-dapet-cewe.

But at least, kerjaan gw menyenangkan, ga serumit dan sepusing nurunin rumus fisika yang pernah dikasih Pak Terry. Orang-orang di sini pun welcome dan ramah banget sama gw. Bos gw bae banget. Dan gw sangat berharap semoga gw bisa cocok dan betah di sini. Aamien...Aamien..

Hidup itu bagaikan mata uang. Dimana gw seneng dengan kondisi di sini, pasti ada juga dunk yang gw ga suka. Yang gw keluhkan ada 2. Pertama, Jakarta SUMPAH MACET PARAAAAAAAHHHH!! >.<. Ampun dah, gw berangkat telat dikit aja, udah pasti bakal telat ngantor. Hari pertama gw ngantor, gw telat. Untungnya hari kejepit libur dan bos gw juga dateng lebih telat. Hari-hari selanjutnya, berangkat lebih pagi yang artinya menu sahur gw ditambah secangkir ecxelso without sugar supaya ga ngantuk. Keluhan kedua, gw duduk melulu... v_v. Tipis pantat beneran dah 8 jam nonstop harus duduk. Dulu pas kuliah aja gw sering ke kamar mandi atau sengaja masuk telat supaya ga bete duduk. Tapi yah.. lebih mending dariapda gw disuruh lari-lari. Lagi puasa gini, bayar fidyah terus ntar gw. Hahaha...

Well, bahagia lah gw bahagia. Karena setiap fase hidup, harus dinikmati... ^^/

Love is real, real is love. -John Lennon-

Agustus 13, 2010

Pengangguran Bahagia

Well.... Well... Tanpa terasa, sudah satu bulan lebih Rhein jadi pengangguran. Bagaimana rasanya, Rhein?? Senaaaannggg.... Hahahaha... Sumpah deh, andaikan pengangguran itu digaji, mau banget gw. :D
Kerjaan gw tiap hari adalah nggak ada kerjaan. Alias, bisa bangun siang tanpa beban, tanpa perlu mikir tugas kuliah, tanpa perlu mikir rumus-rumus fisika, tanpa perlu deg-degan mikirin IP semesteran yang seringkali fluktuatif. Bener-bener waktu luang yang panjang, liburan menyenangkan. Hohohoho... Dan untungnya, orang tua gw ga terlalu berisik menuntut gw macem-macem. Ibu malah bilang, "nikmatin aja masa-masa nganggur kamu...". Dan gw bener-bener menikmati! ^^

Selain kegiatan-kegiatan dalam posting gw sebelumnya, yaitu kerja freelance, jualan, nyanyi, dan baca buku. Gw mulai mencoba bantu-bantu Ibu promosiin perusahaan Tenda Destarata. Istilahnya bagian marketing dadakan gitu lah... Hahaha... Menyenangkan kok, lumayan ada kegiatan jalan-jalan. Selain itu, gw juga mulai belajar TOEFL dan baca-baca persiapan GRE. Gimana pun juga, gw masih punya mimpi untuk lanjut sekolah lagi. Aamien... Lalu.. Lalu... Lalu... Kegiatan lain adalah interview! Betol sodara-sodara, meski pengangguran dan liburan sangat menyenangkan, tapi tabungan gw menunjukkan kurva penurunan yang cukup drastis. Subsidi uang jajan sudah diputus, maka mau ngga mau harus cari kerja. Minimal supaya tabungan bisa bernapas lega... *sekarang napasnya bengek.

Jujur aja, gw nggak pernah nyari lowongan kerja. Mungkin karena gw pribadi masih bingung ya. Pengen sekolah iya, tapi butuh duit juga. Jadilah, gw hanya ngelamar kerja via apply-apply cingcay di Jobstreet. Tinggal klik-klik dan menunggu panggilan. Agak beda sama temen-temen seangkatan yang sepertinya sangat getol searching kemana-mana. Hehehe... *no-offense.

Pertama interview adalah di perusahaan games online. Hahahaha... ngakak gw waktu dipanggil. Kalau perusahaan games, bukan kerja tapi main-main mulu kali yah gw. Posisi gw adalah sebagai translator. Udah interview ketemu para bos yang dari Taiwan 'n Thailand. Hasilnya, sama seperti lagu Melly, Gantung. Karena gw udah sampai tahap interview kedua, tapi belom ada informasi. Kayaknya sih karena mereka masih buka lowongan di Jobstreet sampai tanggal 21 nanti.

Kedua, di Metro TV. Gw ngelamar di Journalist Development Program. Mikirnya sih bagian jurnalistik kayak nulis-nulis berita gitu lah ya... Namun ternyata, pas gw dateng langsung disuruh on camera test jadi reporter. Langsung disuruh bikin berita on the spot. Lalu perkenalan diri dan melaporkan berita karangan sendiri dalam bahasa Inggris dan Indonesia. Hasilnya sudah jelas, berhubung gw anak pemalu (PEndiam MAnis LUcu) dan ga ada bakat akting di depan kamera, gagal dong ya... *bangga* 

Interview ketiga dapet dari Jobstreet juga. Dan gw dikasih pekerjaan yang bagi gw, paling gw suka. Nulis blog! Hahaha... Nama perusahaannya Beta Pramesti, dan bergerak di bidang air gitu. Bukan jadi tukang ledeng loh, ya... Jadi, contoh proyek mereka kayak untuk di Ancol, merubah air laut jadi air tawar. Sejenis gitu lah. Nah, tugas gw adalah menulis berbagai informasi dan artikel untuk website mereka. Huhuy... suka.. suka. Hasilnya? Mudah-mudahan gw bisa bekerja dengan baik.

Well, sepertinya kisah pengangguran gw akan berubah menjadi kisah Kuli Jakarta.

Love is real, real is love. -John Lennon-

Juli 14, 2010

Being Statusless and Happy

Hari ini tepat satu minggu saya menyandang status "statusless". Mau dibilang mahasiswa, ya udah lulus. Dibilang pekerja, ya ga punya pekerjaan tetap. Duh, pengangguran dunk?? Ya nggak gitu-gitu juga sih. Kalau pun bahasa gaulnya adalah pengacara alias pengangguran banyak acara, ya okelah bisa diterima. But, I really really enjoy this moment.

Freelance writer.
Sudah sejak Januari lalu saya jadi penulis freelance untuk beberapa web content. Sebuah kegiatan plus merangkap pekerjaan yang menyenangkan. Kenapa? Karena freelance. Tidak ada waktu yang terikat, suka-suka saya kapan mau mengerjakan, yang penting harus selesai sebelum deadline. Apalagi si bos justru bahagia karena saya udah lulus dan makin memberikan banyak pekerjaan. Penghasilan, tentu jauh berbeda dengan teman-teman yang karyawan bank. Masih jauh dari mencukupi kebutuhan hidup. Tapi setidaknya lumayan untuk nambah-nambah budget untuk hobi belanja saya: buku dan lipstick.

Happy Bisnis.
Saya memang tidak berencana menjadi wanita karir dan karyawati yang setiap hari ke kantor lalu saling sikut dan menjilat untuk meraih suatu jabatan. Dunia yang terlalu melelahkan dalam kacamata saya. Juga tidak bercita-cta menjadi sosok ibu rumah tangga yang hanya menunggu suami dan mengurus anak setiap harinya. Dunia yang terlalu membosankan dalam kacamata saya. Maka, saya sudah mulai mencoba belajar bisnis. Hanya bisnis kecil-kecilan namun menyenangkan karena hobi saya ikut serta di dalamnya: Belanja. Tentu saya tidak berharap akan langsung mendapat keuntungan besar dari bisnis kecil ini. Malah ditengah bokek yang melanda karena menjelang pemutusan subsidi uang jajan dari ortu, saya malah belanja barang dagangan. Duuhh.. Dompet saya makin tebel, tapi isinya nota. Ayok, mampir dan belanja di Rhein's Shop. *Promosi*

Buku
Dalam seminggu, saya sudah menamatkan 3 buah buku. Satu hal yang tidak mungkin saya lakukan saat jadi mahasiswa dulu, apalagi buku Giancoli yang tidak pernah tamat dalam 5 tahun ini *betul kan, bang Ben?* :p. Rasanya sangat-sangat membahagiakan saat membaca tanpa diganggu siapapun *bahkan si pacar*. Tenggelam dalam dunia imajinasi, merasakan menjadi tokoh atau bahkan mempelajari "isi" buku dan menyelami kondisi penulis. Saya menganggapnya sebagai supply otak dan hati.

Ladies Time
Ow...ow...ow... This is my favorite time! Jalan-jalan dengan si Cantik, ke mall, belanja, lihat-lihat gaun cantik dan mendiskusikan kapan kami bisa kursus menjahit atau desain sepatu. Tidak lupa nonton Eclipse untuk menghitung jumlah otot perut Jacob Black dan luluh dengan kalimat "I'm hotter than you". Juga merasa histeris dan pusing jika harus dihadapkan pada dua pria tampan sepertu Edward dan Jacob. Ouch... Oiya, bergosip tentu menjadi makanan utama. Sambil ngemil membicarakan para lelaki. Hahaha...

Les Vokal
Rhein?? Are you sure?? Well..Well... Banyak teman baru yang tidak menyangka saya punya tampang penyanyi. Tapi teman-teman lama saya tahu, dulu saya pernah jadi penyanyi. Maka karena kekosongan waktu, Ibu menyuruh saya les vokal. Dengan alasan, supaya kalau ada yang mau sewa organ tunggal, sound system sekaligus penyanyi dari Tenda Destarata, saya bisa ikut serta, *nasib punya Ibu pebisnis*. Jadilah si pacar kembali menjuluki saya biduan dangdut *sumpah ga banget*. Dan rasanya setelah les vokal, yang ada perut saya sakit karena sudah lama tidak bernafas menggunakan diafragma.

Wew.. beneran pengacara yah. Baru seminggu padahal. Hahaha.. Saya menjalani dengan senang hati. Sangat-sangat enjoy, merasa memiliki diri sendiri, mengendalikan hidup sendiri. Being statusless and happy.

Love is real, real is love. -John Lennon-

Juli 12, 2010

Buku dan Imaji yang Kembali

Kemarin, saya kembali merasakan nikmatnya membaca buku. Satu hal yang sudah hampir saya lupa bagaimana rasanya dalam beberapa waktu yang lama. Satu hal yang telah terenggut karena otak dan hati saya selalu memikirkan hal lain. Satu hal yang sangat saya rindu. Buku dan imaji saya yang berkeliaran dengan bebasnya. Rasanya, seperti bergemuruh hebat namun nyaman. Zona nyaman yang saya rindu. Imaji saya, ternyata tidak buntu!

Buku fiksi, tebal hampir 5 centi. Habis saya baca tidak sampai satu hari. Dalam perjalanan Jakarta-Bandung-Bogor. Di mobil, kosan adek, rest area. Hahaha.. Jadi teringat dulu kalau bermain dengan sepupu-sepupu dan saya tidak bisa diam mengganggu mereka. Salah seorang dari mereka akan berkata, "Kasih aja Tia buku, pasti diem deh nanti dia."


Love is real, real is love. -John Lennon-

Juni 24, 2010

Pelem India

Di saat orang-orang lagi demam sama drama Korea, gw malah lagi keranjingan film India. Hahahaha... Silahkan tertawa, karena gw juga suka tertawa kalau nonton India.

Yang gw tau, sekarang-sekarang ini -dari dulu juga mungkin- banyak yang suka ga ngaku kalau mereka suka pelem India. Entah karena gengsi atau apa. Tapi ternyata Slumdog Millionaire, My Name Is Khan, 3 Idiots, banyak juga penontonnya dan banyak yang memuji. Atau, siapa sih yang ga kenal dengan Kuch Kuch Hota Hai?? Kalau untuk alasan film India tampak norak dengan joget-nyanyi, di semua film itu juga ada kok adegan seperti itu. See? Ternyata meski banyak yang ngaku ga suka pelem India, penontonnya tetep aja banyak. Hahaha...

Bagi gw, film India termasuk yang konsisten dalam dunia perfilman mereka. Konsisten dengan joget-nyanyi maksudnya. Justru itu yang menjadikan film India khas dan gampang diingat orang. Dunia film mereka juga termasuk yang paling lama di Asia, selain Jepang dan China tentunya. Mulai dari waktu gw kecil ngeliat pembantu gw hobi nonton pelem India yang isinya polisi jahat, sampai sekarang yang menang berbagai penghargaan kelas dunia seperti My Name is Khan. Dari segi kualitas dan kreativitas alur cerita, film India jelas mengalami kemajuan yang signifikan, di banding film-film Asia yang baru-baru ini booming. Akting para pemain juga ga diragukan lagi. Jujur saja gw lebih suka aktor India yang macho daripada aktor Korea yang -katanya- kebanyakan maho *no offense penggemar korea*. Kesuksesan film India sekarang memang ada campur tangan Holywood yang udah jadi Dewa perfilman. Tapi, hingga akhirnya film India dilirik Holywood, itu bukan hal yang main-main toh.

So, gw mau nonton pelem India dulu yak. Lumayan ada banyak koleksi hasil donlotan. Fanaa, Dilwale Dulhania Le Jayenge, Rab Ne Bana Di Jodi, dll. Tenang aja, gw nonton sambil diem kok. Ga ikut joget-nyanyi :D

Love is real, real is love. -John Lennon-