Posts

Lockdown Begini, Nonton Apa Ya?

Image
Sudah 8 bulan sejak Ceko memberlakukan banyak aturan untuk beraktivitas di luar rumah. Meski border antar Eropa sempat dibuka summer lalu, ternyata gelombang kedua covid-19 kembali menyerang dan kasus kembali naik. Efeknya tentu saja kerja dan kuliah tetap di rumah. Bosan? Sudah pasti. Tapi mau gimana lagi, nikmati aja lah.  Salah satu cara menghapus bosan paling gampang tentu saja dengan nonton serial. Saya mau share serial-serial yang saya suka dan tonton selama lockdown berlangsung.  Friends, The Big Bang Theory, How I Met Your Mother. Iyes, ketiga serial ini sudah pernah saya tamatkan lebih dari satu kali sebelum era covid-19 bahkan saat saya masih di Indonesia. Tapiiii emang ketiga series ini ringan, kocak, waktu per episode sebentar, plus banyak pelajaran tentang hidup yang disampaikan tanpa menggurui, jadi cocok banget untuk pereda stress setelah kerja dan kuliah. Tiga series ini adalah pilihan paling mudah kalau lagi bosen dan ngga nemu jenis film/serial yang cocok di hati

Pelangi dan Kupu-Kupu

Image
Belgium, 2018 Sabtu pagi, hujan turun lagi, dan suasana hening sekali. Dari kasur, saya hanya mendengar rintik hujan dan dengung kulkas. Kamar saya super berantakan setelah masalah muncul bersamaan akhir-akhir ini. Untunglah ada long weekend, bisa saya pakai untuk sejenak istirahat.  Kepala yang terasa penuh dan kacau, sedikit trigger mudah membuat perasaan berantakan. Jadwal istirahat terganggu karena kembali sering terbangun di pagi buta, overthinking kemana-mana, sering nangis tiba-tiba, karena semua gym tutup saya melampiaskan dengan jalan kaki berkilo-kilometer jauhnya.  Selain itu, sahabat saya kehilangan orangtuanya. Tentu saya tidak akan tega memenuhi grup wasap kami dengan keluh kesah karena tidak sebanding dengan sedihnya ditinggal seorang ibu. Namun seperti apa kata Maroon 5, life isn't always rainbows and butterflies, it's compromise that moves us along. Mungkin benar apa kata pak bos saat midyear review beberapa hari lalu, "My recommendation for you is; take h

Persiapan Kuliah ke Eropa

Image
Kali ini mau nulis agak berfaedah meski tetap dari pengalaman pribadi dan masih ada bumbu curhat. Setelah setahun kuliah di Praha, baru niat nulis serius tentang persiapan kuliah ke sini. Hahaha. Gampang atau susah persiapan kuliah ke Eropa? Hmm.. Persiapannya lebih gampang daripada kuliah benerannya kok. Ini beberapa tips sederhana untuk persiapan. Cari Jurusan dan Kampus Eropa punya banyak kampus dan jurusan yang bisa dipilih. Dari jurusan umum seperti manajemen sampai spesifik seperti tourism. Pertama-tama kita perlu bertanya ke diri sendiri, mau belajar apa nih supaya punya skill yang bermanfaat untuk masa depan? Mahasiswa Indonesia di luar nagreg ada 2 tipe; a) yang cari jurusan berdasarkan beasiswa yang tersedia, b) yang cari jurusan sesuai minat. Karena nggak semua jurusan bisa difasilitasi beasiswa. Kalau nemu yang sesuai minat dan ada beasiswa, ya Alhamdulillah.  Setelah dapet ilham pengen kuliah di jurusan apa, mulai deh cari kampusnya. Ubek-ubek aja di google semua kampu

Menjadi Pendengar yang Baik

Image
Beberapa hari belakangan, saya lagi gloomy. Kombinasi PMS, banyak kerjaan, diserbu rekan kerja karena saya dikenal pekerja cepat untuk menyelesaikan masalah-masalah mereka ( yes, I'm bragging ). Kemudian bos bikin acara dinner bareng tim dan tentu saya pulang dengan kondisi terlalu banyak minum. Keesokan harinya, teman se-tim tepar dan saya harus back-up kerjaan mereka. Sebenarnya ngga semua harus dikerjakan, tapi saya gampang iritasi kalau ada yang ngga selesai. Lalu tamu bulanan datang tak lupa menggandeng pusing, kram, dan perasaan melankolis. Kalau sudah begini, pikiran jadi kemana-mana. The best time to be vulnerable and overthinking that would bring worry and anxiety. Karena sudah pernah mengalami kondisi ini berkali-kali, setidaknya saya tahu 'pertolongan pertama untuk diri sendiri'. Mudah saja, cukup menjadi pendengar yang baik bagi diri sendiri. Berbekal pengalaman menjadi pendengar yang baik bagi banyak orang, biasanya saya membuat percakapan absurd dan jujur

Bekal, Feminisme, dan Gengsi

Image
Anak twitter pasti tau beberapa waktu lalu sempat ada 'keributan' akibat seseorang membuat thread dengan judul "bekal untuk suami" . Saat twit tersebut muncul, langsung saya bookmark tanpa pikir panjang karena ide menu buat bekal atau makanan sehari-hari itu penting. Buat diri sendiri tentunya karena saya belum punya suami. Selang beberapa jam buka twitter lagi, lah kok jadi muncul keributan. Ada yang pro dengan alasan mirip-mirip saya dan ada yang kontra dengan alasan kesetaraan gender (yang menurut saya, maksa banget).  Pihak kontra, yang selanjutnya mengusung alasan feminisme, berpendapat bahwa tidak seharusnya seorang istri membuat bekal untuk suami. Harus ada kesetaraan pekerjaan, harusnya bikin bekal itu dibayar, cooking considered as work, yang membuat saya cengo. Dan ketawa.  Saya bukan penggemar isu feminisme apalagi mendalami topik gender equality. Karena bagi saya dalam sebuah hubungan ya common sense aja, dude. Kalau seseorang punya satu potensi,

Triple The Trouble

Image
Angka cantik, 33. Saya lupa ada kisah menarik apa saat usia 11 tahun, yang pasti saya masih tinggal di Semarang. Saat 22 tahun, masih kuliah di UI dan (sok) sibuk dengan skripsi, bolak balik Depok-Bogor-Bandung. Tahun ini usia 33, sedang di Praha. Selain karena study, juga nggak bisa pulang kampung karena korona. Hahaha.. Bicara tentang usia, saya dan teman sempat membahas tentang angka saat kami melakukan perjalanan ulang tahun minggu lalu. Terkait dengan stigma wanita usia kepala 3 yang menurut kultur asia sudah seharusnya mencapai ini dan itu atau dianggap tua. Dia bilang, "Every age is good. And if I can choose in which age I can live for long time, I will choose this age. I don't wanna go back to my twenties. I like myself more now." Saya setuju. Hidup saya sampai akhir usia 29 masih terlalu complicated. Seru, penuh resiko, banyak petualangan, pelajaran, random, dan saya labil. Bagian labil ini yang saya nggak mau ulangi, capek. Kan udah tua. :)) What&#

Hari Ini Tenang Sekali

Image
Hari ini rasanya tenang sekali. Weekend pertama setelah tahun ajaran 2019/2020 usai, semua ujian dan tugas selesai. Lulus semua pastinya, jangan tanya nilai karena lulus saja sudah bikin saya bahagia. Hari ini saya bangun siang, masak singkat, dan menikmati brunch sambil memperhatikan dua burung yang juga sedang makan buah-buahan di ranting pohon depan kamar. Cuaca cerah meski seringkali tidak stabil (mendung-cerah-berangin-cerah-mendung). Hari ini rasanya damai, melegakan.  Summer holiday sudah dimulai sampai 3 bulan ke depan. Pulang ke Indonesia bukan pilihan dengan situasi yang belum membaik dan penerbangan di Eropa masih sangat terbatas. Setidaknya di sini saya punya pekerjaan full-time jadi tidak akan terlalu bosan atau kesepian. Kerjaan saya banyak, tapi mudah dan tidak memberatkan pikiran. Mungkin sesekali saya akan ke luar kota dan semoga bulan depan sudah bisa ke negara tetangga tanpa perlu melibatkan banyak aturan. Kan ribet aja kalau ke Jerman atau Austria hanya 2-4 j