Posts

Menjadi Pendengar yang Baik

Image
Beberapa hari belakangan, saya lagi gloomy. Kombinasi PMS, banyak kerjaan, diserbu rekan kerja karena saya dikenal pekerja cepat untuk menyelesaikan masalah-masalah mereka (yes, I'm bragging). Kemudian bos bikin acara dinner bareng tim dan tentu saya pulang dengan kondisi terlalu banyak minum. Keesokan harinya, teman se-tim tepar dan saya harus back-up kerjaan mereka. Sebenarnya ngga semua harus dikerjakan, tapi saya gampang iritasi kalau ada yang ngga selesai.
Lalu tamu bulanan datang tak lupa menggandeng pusing, kram, dan perasaan melankolis. Kalau sudah begini, pikiran jadi kemana-mana. The best time to be vulnerable and overthinking that would bring worry and anxiety. Karena sudah pernah mengalami kondisi ini berkali-kali, setidaknya saya tahu 'pertolongan pertama untuk diri sendiri'. Mudah saja, cukup menjadi pendengar yang baik bagi diri sendiri. Berbekal pengalaman menjadi pendengar yang baik bagi banyak orang, biasanya saya membuat percakapan absurd dan jujur.


&qu…

Bekal, Feminisme, dan Gengsi

Image
Anak twitter pasti tau beberapa waktu lalu sempat ada 'keributan' akibat seseorang membuat thread dengan judul "bekal untuk suami". Saat twit tersebut muncul, langsung saya bookmark tanpa pikir panjang karena ide menu buat bekal atau makanan sehari-hari itu penting. Buat diri sendiri tentunya karena saya belum punya suami. Selang beberapa jam buka twitter lagi, lah kok jadi muncul keributan. Ada yang pro dengan alasan mirip-mirip saya dan ada yang kontra dengan alasan kesetaraan gender (yang menurut saya, maksa banget). 
Pihak kontra, yang selanjutnya mengusung alasan feminisme, berpendapat bahwa tidak seharusnya seorang istri membuat bekal untuk suami. Harus ada kesetaraan pekerjaan, harusnya bikin bekal itu dibayar, cooking considered as work, yang membuat saya cengo. Dan ketawa. 
Saya bukan penggemar isu feminisme apalagi mendalami topik gender equality. Karena bagi saya dalam sebuah hubungan ya common sense aja, dude. Kalau seseorang punya satu potensi, misalnya…

Triple The Trouble

Image
Angka cantik, 33. Saya lupa ada kisah menarik apa saat usia 11 tahun, yang pasti saya masih tinggal di Semarang. Saat 22 tahun, masih kuliah di UI dan (sok) sibuk dengan skripsi, bolak balik Depok-Bogor-Bandung. Tahun ini usia 33, sedang di Praha. Selain karena study, juga nggak bisa pulang kampung karena korona. Hahaha..

Bicara tentang usia, saya dan teman sempat membahas tentang angka saat kami melakukan perjalanan ulang tahun minggu lalu. Terkait dengan stigma wanita usia kepala 3 yang menurut kultur asia sudah seharusnya mencapai ini dan itu atau dianggap tua. Dia bilang, "Every age is good. And if I can choose in which age I can live for long time, I will choose this age. I don't wanna go back to my twenties. I like myself more now." Saya setuju. Hidup saya sampai akhir usia 29 masih terlalu complicated. Seru, penuh resiko, banyak petualangan, pelajaran, random, dan saya labil. Bagian labil ini yang saya nggak mau ulangi, capek. Kan udah tua. :))
What's so spec…

Hari Ini Tenang Sekali

Image
Hari ini rasanya tenang sekali. Weekend pertama setelah tahun ajaran 2019/2020 usai, semua ujian dan tugas selesai. Lulus semua pastinya, jangan tanya nilai karena lulus saja sudah bikin saya bahagia. Hari ini saya bangun siang, masak singkat, dan menikmati brunch sambil memperhatikan dua burung yang juga sedang makan buah-buahan di ranting pohon depan kamar. Cuaca cerah meski seringkali tidak stabil (mendung-cerah-berangin-cerah-mendung). Hari ini rasanya damai, melegakan. 
Summer holiday sudah dimulai sampai 3 bulan ke depan. Pulang ke Indonesia bukan pilihan dengan situasi yang belum membaik dan penerbangan di Eropa masih sangat terbatas. Setidaknya di sini saya punya pekerjaan full-time jadi tidak akan terlalu bosan atau kesepian. Kerjaan saya banyak, tapi mudah dan tidak memberatkan pikiran. Mungkin sesekali saya akan ke luar kota dan semoga bulan depan sudah bisa ke negara tetangga tanpa perlu melibatkan banyak aturan. Kan ribet aja kalau ke Jerman atau Austria hanya 2-4 jam pe…

Dekade

Image
Jadi udah ngapain aja selama 1 dekade ini? 
Baru lulus dari UI dan dapat kerja sebelum wisuda. Pengalaman jadi kuli di Jakarta dengan segala drama macet dan penuhnya kereta. Resign dari kantor pertama (Jakarta sungguh kejam) dan dapat kerjaan baru di Depok. Lebih dekat ke rumah dan suka sama kerjaan karena berhubungan dengan buku. Resign (lagi) karena rencana akan lanjut kuliah dan fokus nulis novel. Berhasil nulis 2 naskah novel bahkan salah satunya menang juara 1 lomba. Lanjut kuliah ke ITB. Kelas baru, temen baru, dan semua seru-seru. Novel terbit 2 biji sekaligus (Seven Days dan CoupL(ov)e) bahkan 2 novel sebelumnya (Jadian 6 Bulan dan Jalan Menuju Cinta-Mu) diterbitkan ulang. Umroh sama keluarga, jadi perjalanan keluarga paling jauh dan komplit ikut semua. Oiya, putus sama pacar. Ya ampun baru inget lagi, udah lama juga ya. Nulis novel lagi. Nulis tesis juga. Nulis aja pokoknya. Terbit novel (Gloomy Gift) dan terbit tesis (lupa judulnya). Hahaha. Lulus kuliah dan mulai daftar-daf…

You'll be Missed, Mele

Image
It brokes my heart so bad when my Mom called and told me that he was gone forever. Then, I cried for hours.
He came to our house years ago and made us fell in love effortlessly. He was an active cat and love to play, so we never really made him stay at home. He always came at day, played with us, asked for food, and when we're going to sleep, he will just went out. Maybe played with other cats in neighborhood or tried to catch mice. He hated being trapped. Sometimes he gave us his hunting prey as gift; mice, lizard, or cockroach.
Some said that cat is smart animal and they saw human as other creature at the same level with them. So yeah, as he became our family member, sometimes we had hard time. When he was in badmood because Mom accidentally stepped on his tail, or when he was angry and scratched me because I postponed his lunch (he need diet, he was too fat back then), or when he was just go away from home because we're all too busy with work and didn't pay attention to h…

Ada Sedih Ada Senang

Image
Beberapa hal tidak berjalan sesuai keinginan.
Nilai UTS tidak terlalu memuaskan. Kuliah di jurusan yang banting setir dari studi sebelumnya membuat saya menyadari harus belajar lebih ekstra (kalau belajar fisika lagi ya nggak mau juga sih). Persiapan UTS sudah dari jauh-jauh hari, ke perpustakaan untuk belajar bahkan saat long weekend, mengerjakan latihan soal, tanya jawab dengan teman, begadang itu sudah pasti, dll. Hasilnya masih tidak sesuai harapan. Ada banyak excuses berbisik di telinga; teman yang lain juga nilainya ga bagus-bagus amat, mungkin kamu nervous karena menghadapi ujian dunia akademis lagi setelah sekian tahun, waktu 30 menit kadang bikin otak blank, dsb dsb. But no, I could do better. I should study harder and do better next time.
Saya masih belum dapat kerja part-time. Untuk hal ini, saya agak nekad karena hanya fokus mencari karir di bidang bisnis atau finance & accounting, dimana saya minim pengalaman. Alasannya tentu agar bisa mengaplikasikan langsung apa yang …