Mei 21, 2016

Satu Bulan di Australia

10

Tanpa terasa, tepat sudah satu bulan saya tinggal di Australia, tepatnya di Sydney, salah satu kota paling mahal di dunia. Cerita tentang apa-apa mahal akan diulas nanti. Sekarang saya hanya mau curhat.. *lah, biasanya juga ini blog isinya cuma curhat*.

Ajaran Rasulullah Saw agar umat muslim berhijrah untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik benar-benar saya rasakan. Kalau Kanjeng Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah, saya masih tahap hijrah dari Bogor ke Sydney. Sedih? Awalnya iyalah sedih.. Meninggalkan kenyamanan tiada tara di rumah menuju negeri antah berantah. Rasanya seperti judi, otak saya tak lepas dari kalkulasi beragam rencana dan prediksi. Apalagi pas di bandara diantar keluarga dan saya harus pura-pura tegar masuk ke boarding room, meninggalkan Bapa, Ibu dan Adik dengan perasaan campur aduk. Namun, seperti kata tulisan adik saya, Bani, bahwa seringkali hidup harus pura-pura berani.

Allah memang Maha Baik. Super-Maha-Gigantis kebaikan-Nya untuk saya. Injury time penerbangan ke Sydney, saya dapat teman seperjalanan. Lumayan kan bisa jagain saya yang jago banget nyasar. Kan nggak lucu kalau nyasarnya sampai ke Praha (plak). Sampai di Sydney, dijemput teman lagi dan diantar ke hostel. Ketemu teman lain, kenalan, jalan-jalan, dan keliling kota. Berkat teman-teman ini juga saya langsung dapat pekerjaan part time. Kemudian dengan mudah langsung dapat flat di lokasi strategis. 

Lalu, ada cerita apa aja selama satu bulan ini?

"Education isn't something you can finish." ~Isaac Asimov.
Tiap orang punya tujuan berbeda datang ke Negeri Selatan ini. Beberapa ingin kerja, sebagian ingin liburan, saya sendiri ingin belajar. Obsesi saya kan dari dulu pengen kuliah di luar negeri. Maka, saya pun mendaftar short course di University of Sydney jurusan Creative Writing. Beberapa teman penasaran apa saya ambil S3, S2 lagi, atau gimana. Saya pribadi bukan tipe pencari jenjang pendidikan. Kalau ada ilmu yang saya suka, ya pengen belajar. Short course menjadi jalan paling cocok karena saya bisa mengambil mata kuliah beberapa saja yang saya butuhkan. Dan bayarannya relatif murah (ini penting), meski murah versi Sydney. Saat ini saya mengambil 2 mata kuliah untuk 2 bulan. Nanti kalau sudah selesai, saya bisa ambil mata kuliah lain. Bedanya sama kuliah reguler? Sama aja sih... Ada profesor, ada murid, ada kelas, ada PR yang banyak, harus baca buku dan jurnal. Hanya saja nggak ada ujian... Eh gatau juga deng, kan belum selesai kuliahnya. Hahahah.

Ini kampus, bukan kastil Disney!
Interviewer: So, why do you want this job? | Me: I need money.
Selain kuliah, saya juga kerja part-time sebagai room attendant di hotel. Itu loh, tukang bersih-bersih kamar kalau kalian nginep di hotel. Awal-awal kerja, sumpah ya Gusti tolong hambamu iniiiiii... Saya yang nggak pernah kerja fisik, langsung kerja fisik cape banget.. Tangan saya yang sehalus kulit bayi sekarang jadi sekasar tapas cuci piring. Belum lagi karena nggak terbiasa beberapa kali luka-luka. Pengen nangis tapi ga jadi karena gajinya gede. Hahaha... Di sini hampir semua pekerjaan dibayar per jam, jadi pemilik perusahaan bener-bener menghitung harus seberapa efektif karyawan bekerja. Nggak ada cerita lagi kerja bisa main Facebook atau chatting wasapan. Waktu kerja ya kerja! Alhamdulillahnya, saya kerja di hotel yang banyak pengunjung, jadi selalu dapat jam kerja lumayan. Meski tetep kalau pulang kerja perlu baluran counterpain.

Plis setelah kalian baca ini, kalau nginep di hotel, jangan sengaja kotor-kotorin kamarnya.. Bersihinnya capeeekkk 
Unexpected friendships are the best one
Teman-teman Indonesia yang saya temui di Sydney sebelumnya nggak ada yang saya kenal di Indonesia. Kami semua baru ketemu dan seneng banget karena bisa akrab dan kompak. Nggak jarang kami kumpul untuk piknik bareng atau sekedar nongkrong sambil makan cemilan. Teman dari negara lain pun nggak kalah seru. Saya tinggal bersama 2 gadis Korea, 1 gadis Jepang, dan 2 gadis Thailand. Semuanya seru-seru dan kami juga sering jalan bareng. Namanya tinggal satu flat, ya sering bareng-bareng baik itu masak, belanja mingguan, nyuci, atau curhat-curhatan. Kami juga saling menjaga dan perhatian kalau ada yang pulang malam atau kelupaan bawa kunci flat. Hahaha... Bagusnya, karena kami dari negara beda-beda, jadi ngobrolnya pasti pake bahasa Inggris. Ini penting untuk meningkatkan skill conversation. Teman-teman sekelas di kampus juga seru-seru. Mereka pinter-pinter, bikin saya sering minder. Tapi mereka memaklumi kalau saya rada lemot karena keterbatasan pemahaman bahasa dan mau mengajari kalau saya tanya-tanya. Meski bagi profesor, PR tetaplah PR yang harus dikerjakan sebaik mungkin.

aslinya fotonya banyaaaaakkk
Family. Where life begins. And love never end. 
Terimakasih jaringan internet masa kini yang mendekatkan jarak dan waktu. Saya dan keluarga komunikasi tiap hari. Seminggu satu atau dua kali saya telepon ke rumah, cerita macam-macam. Pertanyaan ortu selalu sama: Teteh sehat? Iya, yang penting sehat karena biaya berobat di Sydney mahal. Hahaha... Sejak merantau gini, saya justru makin sadar bahwa keluarga adalah segalanya. Apa pun yang terjadi, kalau udah nelepon rumah rasanya seperti nge-cas energi. Saya juga percaya bahwa segala kemudahan yang saya dapat selama merantau pasti karena doa keluarga.

Foto sebelum saya berangkat ke Negeri Selatan

"Ketika kamu menginginkan sesuatu, seisi alam semesta akan berkonspirasi untuk membantumu mewujudkannya." ~Ini quotes siapa ya?
Satu bulan di Sydney menjadi semacam jawaban dari doa-doa saya. Bayangan saya dulu tuh kuliah di luar negeri, punya temen-temen dari negara beda-beda, piknik ke tempat-tempat kece, kerja part time untuk hidup mandiri, bisa pakai mantel ala-ala film Holywood saat dingin, dan jadi bagian dari para pejalan kaki yang berbondong-bondong nyebrang jalan di zebra cross saat jam sibuk. Remeh banget emang bayangannya. Hahaha.. 

Satu bulan di Sydney. Tidak mudah, tapi juga tidak nestapa. Pastinya saya bersyukur bisa belajar banyak hal di sini. Saya yang malas bangun pagi sekarang selalu bangun pagi. Biasanya males beresin kamar, sekarang sehari bisa beresin 10 ruang apartemen kinclong! Kalau dulu di Indonesia hobi ke mall hedon, sekarang ngatur uang sehemat mungkin. Karena di Sydney apa-apa tepat waktu, mau nggak mau saya terbawa mengatur kapan kerja, kuliah, bikin PR di sela-sela waktu, pergi ke perpustakaan, dan main-main juga tentunya. 

Ini postingan udah panjang. Masih ada cerita lagi nanti...

Blue Mountain.
Setelah saya foto di sini, tiga hari kemudian ada yang kepleset di tebing ini dan meninggal. 

Love is real, real is love. -John Lennon-

April 13, 2016

Work & Holiday Visa yang Menjawab Mimpi

8

packing dan bingung mau bawa apa aja
Setelah lulus kuliah setahun lalu, saya getol banget cari beasiswa di luar negeri. Kuliah lagi?? Yaaa.. Sebenarnya urusan luar negeri ini obsesi dari dulu. Saya punya kebiasaan membuat target-target obsesi seperti: saat usia 17 tahun harus membuat sesuatu yang spesial, alhamdulillah terbit novel pertama, Jadian 6 Bulan. Nah, dari dulu sudah punya obsesi pokoknya sebelum usia 30 tahun harus bisa merantau & tinggal di luar negeri. Dalam hal ini luar Asia. 

Jadilah, berburu beasiswa merupakan proses melelahkan sejak tahun lalu. Hasilnya, gagal melulu. Apalagi cari beasiswanya nggak mau yang dari Indonesia karena males dengan syarat memberi timbal balik (nggak nasionalis kamu, Rhein!). Jelas saja persaingan skala internasional lebih ketat, Neng! Bersaing sama pemuda-pemuda hebat Indonesia saja belum tentu mampu. Loba gaya maneh..

Emangnya mau ngapain ke luar negeri, Rhein? Belajar. Itu saja alasan saya. Saya ingin belajar hidup di negara lain, belajar mandiri, belajar berbaur, belajar bersikap dan menghayati keadaan ketika menjadi kaum minoritas, dan tentunya belajar ilmu-ilmu baru secara profesional yang sulit didapat di Indonesia, creative writing contohnya. 

Sampai suatu hari, teman backpacker saya memberi tahu perihal Work and Holiday Visa

Wah, spesies apa tuh?

Nah, saya kan sering baca cerita para backpacker kelas dunia yang berkelana dalam waktu tahunan, ngegembel di beberapa negara, sambil kerja part time apa saja. Ternyata, para backpacker itu pakai sejenis program ini dari negara mereka masing-masing. Backpacker dari Indonesia bisa? Bisa dong... Untuk saat ini hanya untuk ke Australia. Setelah cari info kesana kemari, program ini menjawab semua yang saya butuhkan: bisa belajar di institusi, bekerja part time, dan backpacking. Cihuy banget WHV Australia ini, kan!

Caranya susah? Bayar berapa? Perlu agen khusus? Syarat lengkap dan prosedur ada di website imigrasi: Rekomendasi Visa Bekerja dan Berlibur. Saya akan share pengalaman pribadi saat melalui proses mendapatkan visa ini. 

Ketentuan Umum:

1. Telah berusia 18 tahun atau belum berusia 30 tahun pada saat pengajuan permohonan surat rekomendasi;
2. Memiliki kualifikasi setingkat perguruan tinggi, atau telah menjalani pendidikan di perguruan tinggi setidak-tidaknya 2 (dua) tahun pendidikan;
3. Belum pernah mengikuti program bekerja dan berlibur sebelumnya;
4. Memiliki paspor yang berlaku sekurang-kurangnya 12 bulan;
5. Memiliki tingkat kemahiran berbahasa Inggris sekurang-kurangnya tingkat fungsional;
6. Tidak disertai oleh anak-anak di bawah umur;
7. Memiliki sejumlah dana seharga tiket pergi-pulang dan untuk membiayai keperluan selama masa awal tinggal di Australia;
8. Surat Rekomendasi berlaku 1 (satu) bulan sejak tanggal dikeluarkan;
9. Permohonan Surat Rekomendasi tidak dapat diwakilkan.

Syarat:
1. Form Identitas (download di web imigrasi);
2. Kartu Tanda Penduduk (KTP);
3. Akte Kelahiran;
4. Paspor dengan masa berlaku minimal 12 bulan;
5. Ijazah perguruan tinggi minimal Diploma III, atau Surat Keterangan sebagai mahasiswa aktif setidaknya 2 tahun, dilengkapi Kartu Mahasiwa (KTM) dari perguruan tinggi bersangkutan;
6. Memiliki sertifikat kemampuan berbahasa Inggris IELTS dengan minimal score 4.5 ;
7. Surat keterangan / Jaminan Bank atas kepemilikan dana sejumlah AUD $ 5000 (lima ribu Dollar Australia) atau yang setara;
8. Pas foto terakhir berwarna ukuran 4 x 6 sebanyak 1 lembar, latar belakang putih.

Catatan:
1. Pada saat wawancara untuk membawa seluruh persyaratan asli dan fotokopi ;
2. Berkas fotokopi dimasukkan dalam map warna biru dengan urutan seperti di atas;
3. Tidak dipungut biaya selama proses pengeluaran surat rekomendasi;
4. Sertifikat bahasa Inggris dalam bentuk prediction TIDAK DITERIMA.

Proses yang saya jalani:
20an September 2015: registrasi online di website imigrasi.
7 November 2015: Cek website imigrasi dapat panggilan interview.
9 November 2015: Interview di imigrasi
10 Nov 2015-5 Jan 2016: Banyak-banyak doa supaya lolos seleksi SRPI.
6 Januari 2016: Dapet email cinta dari imigrasi dapet surat sakti SRPI.
8 Januari 2016: Lodge ke AVAC, prosedur dan syarat bisa dilihat di sini.
12 Januari 2016: Dapat HAP ID untuk medical check-up di RS yang ditentukan Kedubes Australia.
14 Januari 2016: Medcek ke RS di Bintaro.
15 Januari 2016: Visa granted.
Total sekitar 4 bulan proses.

FAQ Work & Holiday Visa:
1. SRPI itu apa sih?
Surat Rekomendasi Pemerintah Indonesia yang dikeluarkan pihak imigrasi sebagai syarat mendaftar Work & Holiday Visa (WHV Australia).
2. Jadi apply visa-nya bukan ke Australia Embassy langsung?
Bukan. Harus lewat seleksi imigrasi dulu dengan syarat-syarat di atas.
3. Berapa lama dari registrasi online hingga dapat panggilan interview imigrasi?
Hanya pihak imigrasi dan Tuhan yang tahu. Bukalah website imigrasi tiap hari. untuk lihat pengumuman. Dengar-dengar sekarang imigrasi juga melakukan panggilan interview melalui email, untuk lebih aman, cek website juga.
4. Berapa lama dari interview hingga dapat SRPI?
Hanya pihak imigrasi dan Tuhan yang tahu. Rata-rata 2 bulan. Sabar ya.
5. Saya lulusan SMA, bisa ikut program ini?
Nggak bisa.
6. Usia saya sudah 30 tahun jalan, apa masih bisa ikut program ini?
Lah maksimal aja usia 30 tahun... Nggak bisa.
7. Apa semua berkas perlu ditranslate ke bahasa Inggris?
Nggak perlu.
8. Syarat bahasa Inggris harus IELTS? Kalau TOEFL boleh ngga? ITP boleh? TOEIC?
Harus IELTS atau lulusan universitas di luar negeri yang berbahasa pengantar English.
9. Tapi di website imigrasi masih ada pilihan TOEFL dan TOEIC.
Ya udah, kalau mau nggak lolos SRPI silakan. *ngambek, karena ini pertanyaan sering banget diajukan*
10. Saya lulusan sastra Inggris di kampus di Indonesia masih butuh IELTS? Kampus saya juga menggunakan bahasa pengantar English.
Iya. Tetap pakai IELTS.
11. Dana 5,000AUD itu berapa? Saya nggak punya dana segitu apa masih bisa?
Dalam rupiah sekitar 50,000,000. Tambahkan dengan tiket pesawat, anggaplah minimal 55,000,000 itu harus ada di tabungan. Kalau nggak punya, bisa menggunakan tabungan keluarga yang ada dalam 1 Kartu Keluarga dengan menyertakan surat khusus. Misal pinjam ke orang tua. Nggak punya juga? Cari uang dan nabung dulu aja yaaaa...
12. Saya sudah berkeluarga apa bisa ikut program WHV ini?
Tetap bisa ikut program ini selama tidak membawa anak-anak saat ke Australia. Kalau sudah menikah dan pasangan ingin ikut, bisa mendaftar juga selama sesuai syarat. Pendaftaran masing-masing, tidak pengaruh sudah menikah atau lajang, proses tetap sama.
13. Berapa lama visa berlaku dan kita bisa tinggal di Australia?
Satu tahun. (ada isu akan diperpanjang jadi 2 tahun, tapi baru isu)

Jadi, yang punya mimpi ingin merantau ke luar negeri dan ternyata satu spesies ‘manusia bodoh seperti saya, bisa coba WHV ini. Sebentar lagi saya insyaAllah berangkat. Yeeaayy... satu mimpi saya tercapai lagi, alhamdulillah. Doakan lancar ya. Daftar short-course yang akan saya ikuti sudah panjang. Hahaha...


ps: Saya bukan pegawai imigrasi atau agen visa. Boleh tanya-tanya di komentar dan akan saya jawab sesuai pengalaman pribadi, bukan jawaban resmi.

Love is real, real is love. -John Lennon-

Maret 31, 2016

Gerhana Matahari Total Itu...

0

Seberapa sering kamu menikmati pemandangan alam yang indah? Pegunungan hijau, pasir pantai nan halus, laut lepas, matahari terbenam, danau luas, taman bunga, atau makhluk-makhluk cantik di kedalaman lautan yang sulit terjangkau oleh manusia-manusia penghuni Ibu kota. Dari segala macam petualangan yang pernah saya coba, dari menyelam ke lautan sampai terbang menggunakan paralayang, melihat gerhana adalah salah satu mimpi sejak saya kecil. 

Saya tahu (secara teori) saat gerhana matahari total, maka sebagian bumi akan menjadi gelap. Sebagian lokasi kecil yang ‘beruntung’ menjadi wilayah umbra. Palu adalah salah satunya saat gerhana matahari total 9 maret 2016 lalu. Meski sempat ragu, toh akhirnya saya tetap memutuskan ke sana. Ekspektasi saya sederhana. Gerhana matahari merupakan fenomena ketika posisi Matahari-Bulan-Bumi berada dalam satu garis lurus. Astronom mana yang tidak hapal teori itu? Termasuk teori gelap tadi. 

Tanggal 9 Maret usai subuh, saya dan teman-teman Himpunan Astronomi Amatir Jakarta sudah meluncur dari penginapan menuju sebuah lapangan luas di lokasi pemukiman penduduk lokal daerah Dolo, Palu. Sesuai SOP di segala macam pengamatan benda langit, mulai dari persiapan teleskop, penentuan posisi (ga lucu kan pasang teleskop eh ketutup rimbun pohon), pasang-pasang filter, fokus-fokus bayangan, dan segala macamnya. Akhirnya terpasanglah lebih dari sepuluh teleskop. Selain untuk dinikmati oleh anggota, semua perangkat juga bisa digunakan penduduk lokal yang ingin ikut serta menikmati fenomena alam ini. Termasuk kacamata khusus gerhana matahari.

Menanti puncak gerhana menjadi waktu yang membuat gemes-gemes penasaran. Saya banyak ngobrol dengan penduduk sekitar yang ramah & menyenangkan. Antusiasme mereka akan astronomi selalu membuat satu sisi melankolis saya muncul. Menjelang pukul 7.30 (waktu lokal), rasa deg-degan makin menyeruak di antara semua masyarakan yang berkumpul di lapangan. Suasana perlahan berubah lebih dingin (seperti hawa maghrib). Aba-aba dari salah seorang anggota HAAJ yang menghitung mundur membuat semua perhatian tertuju pada Matahari.

5...4...3...2..1...Lepaskan kacamata!

BLEP!
GELAP.

photo taken by Rayhan, member of Himpunan Astronomi Amatir Jakarta
Berganti riuh suara seru-seruan takjub semua penonton menatap langit. Matahari di sana, tertutup Bulan.

Sungguh! Kalau ada salah satu peristiwa paling ajaib yang pernah saya alami, menatap gerhana matahari adalah salah satunya. Langit gelap menyisakan sedikit sinar redup di sekeliling Matahari. Temperatur dingin. Dan lihatlah mahakarya Tuhan, rasi bintang! Bintang-bintang dan planet bermunculan berkedip layaknya malam. Saya sendiri sesak napas dan ingin menangis saking takjub dan terpana. Subhanallah banget pokoknyaaaaa... 

The Diamond Ring!
Photo taken by Rayhan. Dia pakai ni foto buat ngelamar pacarnya.. Yang jomblo ke black hole aja... 

Dua menit terlalu singkat untuk menikmati fenomena alam raya ini. Anggota HAAJ kembali menghitung mundur agar penonton bersiap mengenakan kacamata gerhana mereka. Usai pertunjukan tersebut, kami semua bertepuk tangan. Ah, bahagianyaaaaaa....

fase-fase menjelang gerhana, taken by myself pakai teknik bayangan: nyata, terbalik, diperkecil
(hayo inget-inget teori lensa/cermin?)
astronom murtad
Himpunan Astronomi Amatir Jakarta

Palu itu alamnya indah banget lhoooo

Love is real, real is love. -John Lennon-

Februari 29, 2016

Gerhana Matahari 2009 & 2016

3

Februari sudah akan berakhir dan saya belum posting blog sekalipun. Banyak yang pengin ditulis sampai bingung mau nulis apa *intinya masih pemalasan*. 

Sesuai judul postingan, kali ini saya akan menulis yang agak-agak saintifik, membuka luka lama memori lama sebagai astronom murtad. Udah pada tahu kan kalau tanggal 9 Maret 2016 Indonesia akan dilewati oleh jalur gerhana matahari total (GMT). Untuk informasi-informasi detail, kalian bisa berkunjung ke tulisan sahabat-sahabat saya yang astronom sejati di langitselatan dan penjelajahangkasa. Di sini saya hanya ingin curhat *seperti biasa*.

Hasil jepretan amatir. Gerhana Matahari Cincin.
Pengalaman mengamati gerhana Matahari pernah saya alami di tahun 2009, tepatnya 26 Januari. Saat itu sedang ada fenomena Gerhana Matahari Cincin pada pukul 15.00-18.000. Saya dan teman-teman astronom (saat itu saya masih beneran astronom) melakukan pengamatan di wilayah Anyer. Yang menyenangkan dari tiap kali ada fenomena astronomi adalah kami berkesempatan untuk menyebarkan ilmu-ilmu astronomi ke wilayah-wilayah Indonesia yang bisa jadi kurang mendapat fasilitas pendidikan mumpuni. Kami membawa 'peralatan perang' seperti teleskop beragam ukuran, kamera beragam spesifikasi, kacamata khusus gerhana (pastinya), sampai perlengkapan workshop dengan bahan-bahan kimia.

Sebelum melakukan pengamatan gerhana, kami memberikan workshop-workshop seru untuk masyarakat atau siswa-siswa tentang ilmu astronomi terutama matahari. Contohnya seperti membuat mini sundial (jam matahari ala kuno dari 3500 sebelum masehi). Kemudian meracik ocean solaris untuk merefleksikan bagaimana sih sebenarnya proses yang terjadi di permukaan matahari nan superaksasa itu? Apakah matahari itu bola api, bola cahaya, atau bola naga? 

Selalu menyenangkan berbagi cerita & pengetahuan pada orang lain, apalagi anak-anak sekolah yang antusias. Plus, saya jadi kelihatan agak-agak intelek gitu~~ Berikut beberapa foto kenangan tahun 2009 saat Gerhana Matahari Cincin.

abaikan tato
fase gerhana & astronom murtad
Awalnya saya galau untuk ikut mengamati Gerhana Matahari Total tahun 2016 ini. Perkara waktu yang mepet banget dengan pekerjaan dan persiapan untuk pindahan ke benua lain sana. Tapi.. tapi.. Fenomena gerhana seperti kali ini baru terjadi lagi setelah 375 tahun! Meski mantan astronom, toh saya tetap tidak bisa mengabaikan panggilan jiwa itu.. So.. insyaAllah saya akan ke kota Palu untuk ikut menikmati fenomena langka Gerhana Matahari Total ini bersama teman-teman astronom lain.


Akan ada share foto-foto di instagram @rheinfathia. Kalau memungkinkan, saya akan live report juga melalui snapchat @rheinfathia. Yang di Palu, hayuk ketemuan.
sumber: langitselatan.com
ps: posting spesial tanggal kabisat #inipenting

Love is real, real is love. -John Lennon-

Januari 15, 2016

Finally, Granted!

5


Postingan pertama di tahun 2016, cuma mau curhat tentang berkah di hari Jum'at. Baru saja dapat email dari embassy kalau aplikasi visa saya disetujui. Yeeaayy! Akhirnya, mimpi & obsesi untuk bisa tinggal, belajar, bekerja, & mencari pengalaman di luar negeri tinggal selangkah lagi. Tinggal cari duit buat awal-awal tinggal di sana gitu.. Biaya hidup di luar benua Asia kan ya lumayan menguras rekening. 

Mau ngapain emangnya, Rhein? Yaaa.. yang pengen go Internasional bukan hanya Agnes Monica, penulis kelas 'butiran remeh chiki' kayak saya juga mau dong go internasyenel.. Rencana berangkat masih agak lama, soalnya masih harus cari sekretaris Direktur Tenda Destarata yang bisa gantiin kerjaan saya. Mudah-mudahan semua rencana dilancarkan.

Yeeeaayyy.. mau main saljuuuu... \^o^/

Love is real, real is love. -John Lennon-

Desember 31, 2015

Teleskop 2015

1


Kok teleskop?
Begini ya... Sebagai mantan astronom, saya pernah menggunakan teleskop sebagai alat optik untuk melihat benda-benda langit terutama bintang (zaman penelitian tugas akhir dulu). Cara kerja teleskop yang menggunakan cermin atau lensa adalah dengan menampung cahaya bintang dan sampailah ke mata (ini saya malas jelasin prosesnya secara saintifik dan kalian juga pasti malas baca). Karena jarak yang sangat jauh hingga ribuan tahun cahaya, justru cahaya bintang yang sampai ke mata saya itu merupakan cahaya yang terpancar ribuan tahun lalu. Mungkin saat ini bintang tersebut malah sudah meledak, meredup, dan menjadi bintang katai putih atau black hole. 

Maka sejatinya, mengintip teleskop adalah menilik masa lalu. Seperti postingan kali ini tentang apa-apa yang terlewati dalam hidup saya setahun lalu. 

Januari: Sidang thesis.
Februari: Novel Gloomy Gift terbit.
Maret: Wisuda.
April: Agak lupa, tapi lagi sering pergi-pergi jumpa pembaca dalam rangka tour promosi novel baru gitu deh..
Mei: Novel Dansa Masa Lalu terbit online gratis.
Juni: Tes IELTS yang hasilnya bikin sedih yagitudeh, tapi lumayan masih bisa buat daftar kuliah ke Yu-Rop mah.
Juli: Nggak datang ke semua acara buka puasa bersama karena sayang kalau ketinggalan tarawih di masjid.
Agustus: Jadi pegawai tenda Destarata yang baik.
September: Jadi pegawai tenda Destarata yang baik.
Oktober: Keliling ASEAN.
November: Prestasi nagih utang ke beberapa corporate rekanan tenda Destarata dengan nilai lumayan. Padahal ni corporate, Gustiii… ngaleuyeud pisan. Karena kata ortu saya, syarat jadi pebisnis itu bukan hanya bisa dagang, tapi juga harus bisa nagih utang. Seems like I was born to be an author and a debt collector.
Desember: Daftar haji.

Itu yang seneng-senengnya. Yang bikin sedih tahun ini juga ada.

1. Daftar kuliah, course, beasiswa ke 8 kampus & institusi di Europe. 7 dari 8 hasilnya gagal. Satu lagi belum ada pengumuman. Waktu pertama kali datang amplop berlogo sebuah institusi dan tertulis “We’re sorry….” Sungguh saya langsung mewek. Amplop-amplop selanjutnya, ahyasyudahlah...

2. Belum kesampaian beli rumah. Selain karena duitnya belum ada juga bingung mau beli rumah di mana.

3. Ngga kurban. Lagi-lagi saat itu rezeki finansial belum terpenuhi. 

4. Target penjualan Gloomy Gift tidak sesuai keinginan. Penyebabnya ya macam-macam lah, seperti karena kebijakan kalau ni novel hanya dijual di Pulau Jawa dan sedihnya tiap kali ada pembaca di luar Jawa yang pengen baca tapi nggak pernah nemu di toko buku di kota mereka.

5. Solat masih suka telat-telat dan ngaji nggak khatam sekalipun. Perlu digetok saya ini emang. Baca novel dalam setahun 50 biji aja mampu, masa ngaji nggak selesai.

Overall, tahun 2015 ini seimbang tawa dan tangis, apa yang dicapai dan apa yang belum digapai, yang pasti sangat sangat bahagia dan bersyukur dengan kondisi sekarang. Terus, apa sudah bikin resolusi untuk 2016? Udah dong... Kali ini mimpinya lebih besar dengan risiko besar pula. Bismillah...

HAPPY NEW YEAR!

Love is real, real is love. -John Lennon-

Desember 17, 2015

Pendaftaran Haji

4

Dua hari lalu, saya dan adik-adik daftar untuk jadi calon jemaah haji. Kenapa? Simpel aja sih, selain memenuhi panggilan Allah, kami juga dari dulu punya cita-cita ingin haji saat masih muda agar stamina masih kuat. Mengingat sekarang antrian haji semakin lama bahkan sampai belasan tahun, itungannya nanti pas haji udah tua juga. 

Saya mau share pengalaman daftar haji di KOTA BOGOR yang alhamdulillah bisa dilakukan dalam satu hari, tapi… ya gitu deh kayaknya kalau ngga ada bumbu birokrasi nan rempong ala Indonesia ibarat nongkrong di kafe tapi nggak dapet wifi.

Persyaratan daftar haji ini cukup simpang siur dan nggak update, menurut saya. Saya googling dari website resmi kemenag pun nggak ketemu (atau saya nggak mahir cari), informasi banyak dari para blogger & isinya tidak seragam. Wahai KEMENAG, tolong dong perbaiki perihal persyaratan  pendaftaran haji ini agar informatif dan seragam seluruh Indonesia. Berdasarkan pengalaman ortu, katanya cukup ke bank dulu bawa KTP & Kartu Keluarga. Okelah. Menurut info melalui gambar di bawah ini dan tanya ke bank yang bisa membuka tabungan haji, saya melalui proses berikut.



1. Datang ke bank (kami pilih BNI Syariah) dengan membawa KTP, Kartu Keluarga, dan duit pastinya. Bilang ke teteh CS mau buka tabungan haji, isi form, tabung uang, dapat buku tabungan. Kemudian buku tabungan ini difotokopi & dilegalisir oleh pihak bank untuk dibawa ke departemen agama kota Bogor. Catatan: Setor untuk tabungan haji ini minimal 100,000 kemudian bisa nabung berlanjut alias nyicil tapi uang tidak bisa diambil, tidak ada ATM. Kalau saldo sudah mencapai 25 juta, baru bisa ke depag untuk daftar haji. 

2. Untuk ke depag, kata pihak bank butuh akte kelahiran ATAU ijazah terakhir DAN surat nikah (bagi yang sudah menikah). Heleh, kenapa nggak ada infonya sih. Jadilah adik saya pulang dulu ambil akte kelahiran. Lanjut ke depag bawa KTP, KK, akte kelahiran, buku tabungan asli, fotokopi legalisir buku tabungan. Saat di depag Bogor, kami ke ruangan layanan haji & umroh yang ada ibu-ibu petugas sedang melayani orang lain, disuruh ke ruangan Siskohat. Ke ruangan siskohat, ada bapak-bapak petugas ngerokok (hey, pak! Aturan pemda kan nggak boleh ngerokok di kantor. Mana kantor pemerintahan pula) dan malah nyuruh kami balik ke ruangan si ibu-ibu tadi. Mulai ada pingpong birokrasi, nih. Oleh petugas siskohat ini kami disodorkan syarat-syarat daftar haji, cuma berupa selembar kertas kecil fotokopian. Di sana diminta surat keterangan domisili & surat kesehatan, yang kami nggak bawa. Kami komplain kenapa syarat-syarat ini nggak ada informasinya sama sekali di media. Semua informasi simpang siur. Kata petugas karena tiap daerah beda-beda (Wahai Kemenag, tolong perbaiki dong. Kok bisa beda-beda syaratnya tiap daerah?? Ini membuka peluang bagi oknum untuk meng-ada-ada dokumen yang seharusnya tidak perlu). Kata petugas lagi, surat keterangan sehat tidak perlu, tapi surat keterangan domisili perlu, alias perlu ada keterangan dari RT, RW, Lurah, Camat. Heleeehhh.. Kami komplain aturan tambahan ini munculnya dari mana, padahal menurut aturan resmi Kemenag di sini, tidak ada syarat surat domisili tersebut, kan sudah ada KTP & KK. Akhirnya kami dialihkan ke ibu-ibu di ruangan sebelumnya, kemudian dijelaskan bahwa surat itu perlu karena banyak pendaftar dengan KTP & KK palsu. Hadeuh, itu surat domisili kan bisa aja dibuat palsu kalau niat. Setelah negosiasi, kami diperbolehkan menyerahkan surat domisili tersebut dengan menyusul. Kemudian proses daftar di depag: isi formulir, masing-masing berkas difotokopi 3 rangkap per orang: KTP, KK, akte lahir. Terus, foto! Ternyata perlu pas foto latar belakang putih dengan 80% wajah. Kebetulan ada studio foto dekat kantor depag, jadi foto di sana. Yang dibutuhkan: ukuran 3x4 10 lembar, 4x6 5 lembar. Selesai foto balik lagi ke kantor depag, foto lagi di sana untuk berkas data Surat Pendaftaran Pergi Haji (SPPH). Nah, SPPH ini ada 3 lumbar untuk calon jamaah, pihak depag, & pihak bank. Cek baik-baik data SPPH ini, ya.. Karena data ini diinput online yang age-link langsung ke kemenag & bank.

3. Dapet SPPH dari depag, kami balik lagi ke bank. Laporan ke teteh CS tadi, menyerahkan kembali buku tabungan dan SPPH. Lalu, diproseslah pendebetan uang muka haji sebesar 25 juta untuk mendapatkan nomor porsi yang menentukan kapan kami bisa berangkat haji. Proses-proses-proses dapat berlembar-lembar kertas juga yang dibagi untuk calon jamaah, pihak bank, dan depag.

4. Selesai dari bank, kami meluncur ke keluharan untuk mendapatkan surat keterangan domisili. Karena Bapa kami RW, jadi ya udahlah nggak perlu ngurus surat RT RW, pihak kelurahan pun sudah kenal dan dengan senang hati membantu membuatkan surat tersebut serta di tanda tangani oleh lurah & camat.

5. Balik lagi ke Depag untuk menyerahkan surat keterangan domisili (fotokopi dulu ya) dan berkas  bukti debet dana dari bank.

SELESAI! Yeeaayy.. Semua proses dilakukan mulai jam 8 pagi dan selesai jam 4 sore. TANPA CALO. TIDAK DIKENAKAN BIAYA APA PUN kecuali biaya fotokopi, pas foto, dan bayar haji itu sendiri. Jadi, wahai warga KOTA BOGOR yang ingin mendaftar haji, saya bisa rangkum dokumen-dokumen yang diperlukan supaya nggak rempong mengurus dokumen tambahan.

1. KTP (fotokopi 3)
2. Kartu Keluarga (fotokopi 3)
3. Surat Keterangan Domisili (fotokopi 3)
4. Akte kelahiran atau Ijazah (fotokopi 3)
5. Buku nikah (bagi yang sudah menikah, fotokopi 3)
6. Pas foto latar belakang putih 80% wajah ukuran 3x4 (10 lembar) dan 4x6 (5 lembar). Simpan soft copy foto ini, karena saat akan berangkat haji, harus menggunakan foto yang sama. (Sebenarnya ini agak nggak masuk logika saya, sih.. 15 tahun penantian bisa mengubah wajah seseorang).
7. Uang 25 juta.

Hari ini, kami cek di website Kemenag dengan memasukkan nomor porsi, dapat perkiraan keberangkatan tahun 2031. Bismillah, labaik allahuma labaik..

Love is real, real is love. -John Lennon-

Desember 08, 2015

ASEAN Trip (3): Backpacking Delta Mekong, Vietnam

5

Sore hari tanggal 21 Oktober 2015, pesawat yang saya tumpangi mendarat di bandara Tan Son Nhat, Ho Chi Minh City, Vietnam. Proses imigrasi cepat & lancar, keluar dari bandara langsung cari ATM ambil duit, kemudian naik bis nomor 152 menuju wilayah Bui Vien tempat saya menginap. Bis ini semacam bis damri gitu, murah, tampilan mirip-mirip kopaja, tapi jangan salah… bersih dan ber-AC! 

Ho Chi Minh baru saja diguyur hujan, adem. Selama perjalanan di bis, saya agak kaget dengan bendera palu-arit di sepanjang jalan utama (di mana-mana, lebih tepatnya), bersamaan dengan bendera negara (bintang). Sebagai generasi90an yang terkontaminasi Orde Baru dan doktrin akan paham komunis serta cerita muram PKI, rasanya agak gimana gitu sih. Tapi ya sudahlah, akhirnya saya sampai di hostel yang menjadi hostel paling kece selama perjalanan Asean Trip ini. Dapat dorm di lantai 6, saya baru sadar kalau bangunan di kota ini tinggi-tinggi, tapi lebarnya kecil. Mungkin luas tanah mahal kali ye..

Hostel nyaman bikin mager ternyata. Baru agak malam saya keluar untuk cari makan dan urus bookingan tour selama di Vietnam, antara lain Delta Mekong tour & Mui Ne tour. How’s night life in Ho Chi Minh City? Gustiiiiiii…… Saya kira Jakarta & Depok adalah neraka berisi sepeda motor yang membuat pejalan kaki selalu terdzolimi. Ternyata, kota ini lebih parah! Super parah. Ibarat main video game itu level kesemrautan motor di Jakarta level 3, di Ho Chi Minh City level 10. Tidak baik bagi pengidap penyakit jantung.

maafkan wajah saya yang sudah tak terawat

Delta Mekong: Crocodile? We never know…
Pagi hari sebelum pukul 7 tanggal 22 Oktober, saya sudah nongkrong di tempat travel agent yang lokasinya tidak jauh Bui Vien (lokasi hostel). Yang mau jalan-jalan nggak hanya saya (ya iyalah), di sepanjang jalan Pham Ngu Lao ini sudah banyak bis parkir & wisatawan menunggu. Ternyata bis tour yang saya ikuti banyak juga pesertanya, hampir 30 orang. Guide bis (ganteng, lho #plak) memperkenalkan diri namanya Jack, kepanjangan dari Jackie Chan. Dia menggunakan nama itu karena kebanyakan turis sulit menyebut nama orang-orang Vietnam. Kemampuan bahasanya keren, karena di sepanjang perjalanan dia menjelaskan banyak hal bergantian dari bahasa Inggris, Cina, & Vietnam. Orangnya juga lucu, informatif, interaktif, pinter banget memeriahkan suasana. 

Sebelum ke daerah Mekong, bis sempat mampir dulu ke kuil yang memiliki 3 patung Budha denga pose tidur, berdiri, dan duduk. Konon menurut Mr. Jack, 3 patung Budha tersebut merepresentasikan kehidupan manusia. Budha tidur adalah masa lalu saat tidak bisa apa-apa, Budha berdiri adalah masa kini saat manusia berjuang dalam hidup, Budha duduk dengan perut buncit dan tertawa adalah masa depan impian. 

Sampai di pelabuhan (eh, kalau pangkalan sungai namanya apa sih?), saya & wisatawan lain naik kapal nelayan ukuran sedang. Kami akan menyusuri sebagian kecil sungai Mekong yang menjadi salah satu sungai terpanjang di dunia, berawal dari Tibet, mengalir melewati China, Laos, Kamboja, Thailand, dan Vietnam. Kalah deh, choki-choki. Perjalanan menyusuri sungai menyenangkan. Mr. Jack menjelaskan banyak hal seperti sekelumit sejarah Delta Mekong, bagaimana kehidupan petani di daerah sana yang relatif miskin sehingga para orang tua menginginkan anak-anak mereka pergi ke kota untuk belajar dan bekerja demi taraf hidup lebih baik, hasilnya adalah wilayah delta mekong (dan desa-desa lain di Vietnam) kini sepi penduduk. Well, problematika negara berkembang ngga beda jauh sama Ibu Pertiwi. 

Konon, Delta Mekong ini dulunya banyak buaya. Emang sih, sungainya meski luas bingits tetap berwarna cokelat tanpa kelihatan apa-apa. Di sepanjang perjalanan menyusuri sungai, wisatawan dilarang mencelupkan tangannya ke air.. Because, we never know.. Hiiiii… Apalagi tambahan cerita kalau petani-petani di wilayah Delta masih melingkari mata mereka dengan tinta hitam. Sebuah kepercayaan bahwa jika buaya melihatnya, akan dianggap monster dan buaya-buaya tersebut pergi menjauh. Kami diajak berkeliling ke 4 pulau besar: Phoenix, Turtle, Dragon, & Unicorn. Lucu-lucu ya nama pulaunya..

Di pulau Turtle kami turun untuk makan siang. Karena yang muslim hanya saya dan travelmate, kami sudah pesan menu vegetarian. Tips: bawalah abon. Karena sungguh makanan di Vietnam (dan semua negara ASEAN yang saya kunjungi) rasanya hambar. Saya sungguh ngidam MSG. Selesai makan, kami pergi lagi ke pulau lain dan disuguhi pembuatan beragam jenis barang & makanan dari kelapa. Ada permen, parfum, lipbalm, sabun, body lotion, centong sayur, mainan, sampai obat kuat untuk lelaki agar tahan seharian… untuk bekerja. Tips untuk perempuan: belilah lipbalm-nya yang berwarna. Sungguh saya menyesal cuma beli 1. Karena baguuussss banget. Bibir jadi lembab-segar, warna pink alami, nggak lengket, dan tahan lama. Pas saya cari di Ho Chi Minh, ngga ada yang jual. Hiks.. Kalau ada yang mau ikutan tour Delta Mekong, kabari saya ya.. Mau nitip lipbalm!

Selanjutnya kami menyusuri ke anak-anak sungai yang lebih kecil dan sepiiiii… itu loh, yang pakai perahu kecil dan caping. Agak-agak spooky karena di kanan kiri sungai cuma ilalang tinggi-tinggi. Pokoknya kalau tiba-tiba muncul harimau dari balik semak dan buaya mangap dari sungai, hanya Tuhan yang tau nasibmu, Nak.

Saya suka waktu tour sampai ke pulau yang ada pertanian lebah dan kami disuguhi kesenian khas Vietnam. Mr. Jack menjelaskan tentang bagaimana lebah-lebah menghasilkan madu dan propolis serta manfaatnya terutama untuk kesehatan dan kecantikan. Dijual juga krim-krim kecantikan, mana yang mempromosikan benar-benar cantik banget pula. Duh, tapi emang bener sih gadis-gadis Vietnam ini cantik luar biasa & badannya itu loohh.. Selama di Vietnam, saya belum nemu perempuan lokal yang gendut! Bahkan yang udah tua sekalipun. Ramping, wajah putih mulus, bibir merah ranum. Sepertinya efek diet mayo, krim propolis, dan lip balm kelapa.

Menjelang akhir tour, sembari menikmati teh-madu asli, kebetulan saya duduk satu meja bersama 2 pemuda asal China & Italia (ganteng, again #plak). Dari obrol-obrol seru tentang pengalaman backpacking masing-masing, sampai celetukan dari pemuda China ke pemuda Italia, “Hey dude, if you want to have 4 wives, just being a moslem like them,” ujarnya menunjuk saya & travelmate (karena kami berjilbab). Pemuda Italia hanya menggeleng dan tidak menjawab apa pun, mungkin dia menghormati saya yang muslim akan merasa tersinggung. Saya malah menanggapi dengan tertawa karena paham maksud pemuda China bercanda, sembari menjelaskan bahwa bukan seperti yang-dimaksud-khalayak-umum tentang Islam untuk memiliki 4 istri. Pemuda China pun mengoreksi bahwa ia pun paham sangat sulit untuk memiliki istri 4 dalam Islam, perihal tanggung jawab dan keadilan. Bahwa tanggung jawab dan bersikap adil tidak hanya tentang materi, atau persetujuan istri, tapi juga anak-anak, pendidikan mereka, perasaan mereka, kebutuhan kasih sayang mereka akan seorang ayah. “Whoaaa, no, could not have 4 wives!”, tegasnya di akhir penjelasan. 

Ada perasaan miris ketika persepsi non-muslim tentang Islam terkesan negatif urusan 4 istri ini. Juga perasaan miris mengapa pemahaman non-muslim tentang tanggung jawab & keadilan jauh lebih mendalam dibanding muslim yang merasa paham Islam sehingga merasa pantas memiliki istri lagi. 

Di akhir tour, kami menyaksikan pertunjukan kesenian sembari menyantap buah-buahan. Para artist ini menyanyi (yang saya ngga ngerti bahasanya), menari, diiringi alat musik khas, yang konon merepresentasikan kehidupan sendu rakyat Vietnam.

click for detail
Love is real, real is love. -John Lennon-

November 18, 2015

ASEAN Trip (2): Backpacking Phuket-Patong

5

Phi-phi Island Tour

Malam sebelumnya saya udah keliling sekitaran Bangla Road untuk cari tour Phi phi, harganya rata-rata 1600 baht, paling mentok 1,400 baht, dan akhirnya dapat 1,350 baht. Senin 19 Oktober pagi, sudah ada van yang menjemput ke penginapan, on time. Salah satu hal yang saya suka dari Thailand adalah kedisiplinan mereka akan janji & waktu. Tahun lalu saat ke Bangkok & Pattaya pun, segala macam aktivitas selalu tepat jadwal. Bukan hanya yang berhubungan dengan fasilitas umum, tapi memang attitude masyarakatnya aja. 

Sampai di pantai (saya lupa namanya), saya dan penumpang van lain diberi benang wol warna kuning untuk dijadikan gelang. Tiap penumpang speed boat memakai warna gelang berbeda. Sebelum berangkat, guide kapal (Mr. Ring) menjelaskan banyak hal dengan bahasa Inggris aksen Thailand (pokoknya ya gitulah kedengerannya, kadang nangkep maksudnya lebih seringnya saya bingung), mengenai rute, waktu di tiap lokasi, fasilitas, bahkan memberi kami antimo. Sekitar jam 10 pagi, cuusss kami pun naik speed boat.

Perjalanan di laut menyenangkan. Cuaca cerah, angin sepoi, ombak bersahabat, dan para guide speed boat yang ceria. Sebelumnya Mr. Ring mewanti-wanti kalau ombak akan ajrut-ajrutan (bahasa apa ini), tapi karena saya pernah mengalami ombak yang lebih buruk di Indonesia, jadi ga terlalu berasa apa-apa. Sampailah kami di Maya Bay, itu loooohhh… tempat syuting Kang Leo di The Beach.. Pemandangannya indah bangeeeettt… Pasirnya bersiiihhh… Lautnya biruuuuu…. Pokoknya menggoda banget untuk langsung nyebur.

Selesai foto-foto di pantai (buat syarat doang, karena saya lebih suka enjoy moment), langsung nyemplung lah ke laut. Sayangnya lupa bawa kacamata renang, kan lumayan yah mata kena air garam. Ga apa-apa, yang penting berenang. Untungnya, karena saya datang bukan saat weekend, suasana tidak terlalu ramai. Tetap ramai sih, tapi nggak kayak cendol dan masih bisa renang kesana-kemari tanpa tubrukan sama orang lain atau foto di sana sini tanpa sering dilewatin orang. Suka banget sama suasana di sini. Touristy, bersih, rapi, aman terkendali. 

Puas di Maya Bay, perjalanan berlanjut ke lokasi selanjutnya, pantai kecil yang banyak monyet liar di antara pulau-pulau tebing. Di sini nggak berhenti, hanya lewat saja karena emang sempit banget. Banyak turis kapal yang foto-fotoin monyet. Yah, di Indonesia banyak… Kapal berlanjut ke lokasi yang saya tunggu-tunggu. Snorkling! Yeeeaaayyy… Pakai perlengkapan, cek-cek snorkle, life vest, fin, cebuuuurrr… Kyaaaa… Dikasih waktu untuk snorkling lumayan lama (meski nggak selama waktu saya ke Kep. Seribu, sih). Bocoran nih, kekayaan lautnya tidak seindah yang pernah saya alami waktu snorkling di Kep. Seribu & Tiga Gili. Setidaknya, saya puas berenang di laut biru bersih dan melihat ke kedalaman laut yang masih banyak ikan warna-warni dengan bentuk-bentuk unik. 

Capek snorkelling, balk ke speed boat dan disuguhi coca-cola. Saya baru merasakan kalau minuman bersoda bisa menetralisir air asin setelah berenang di laut. Selanjutnya cuss makan siang di salah satu pulau (lupa namanya). Makanannya enak, bentuknya prasmanan, menu beragam, dan halal (yang masak dan menyajikan Ibu-ibu muslim berkerudung). Selesai makan lanjut ke pulau lain lagi dan boleh lanjut berenang. Hanya saja karena cuaca sore mulai mendung, jadi saya hanya foto-foto dan beli eskrim. Enya..enyak.. Pihak kapal juga menyediakan minuman & buah segar di pulau terakhir ini. Puas banget sama tour phi phi ini deh. Fasilitas bagus, kapal bersih, tour guide lucu & ramah, makanan enak. Pukul 6 sore, kami sudah diantar kembali ke hostel.



Patong: Life Start at 9 p.m
Patong pagi hari sangatlah sepi. Kalau saya cari persamaan, daerah wisata seperti Patong, Khaosan Road, Pattaya, bahkan Legian Bali memiliki daya tarik di kehidupan malam. Jadi kalau pagi sampai siang, ya sepi-sepi aja makanya banyak cafe dan restoran memberikan diskon bir #eh.

Menjelang siang saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Phuket Town saja. Awalnya  mau ikut paket tour Phuket Town gitu, tapi mahal (dasar kere). Tambahan lagi wisata yang ditawarkan ya temple-temple dan patung-patung Buddha yang saya pikir tidak beda jauh dengan di Bangkok. Lokasi menarik lain paling melihat gajah dan monyet. Sebagai penduduk Bogor yang dekat dengan Taman Safari, jujur saya tidak terlalu tertarik. Jadi ya sudahlah, tetap ke Phuket Town dengan modal murah yaitu naik bis yang lewat di sepanjang pantai Patong. Bisnya besar, warna biru (seingat saya), duduknya kayak di bemo (ini masih ada ga ya di Indonesia?), bentuknya terbuka, dan perjalanan menuju Phuket meliuk-liuk naik turun seperti perjalanan ke Puncak. Ngeri-ngeri sedap lah.

Sampai Phuket Town, sepi juga. Hanya ramai oleh calo-calo yang menawarkan wisata ini itu dan dari informasi yang saya dapat sebelum berangkat bisa menjurus ke scam. Saya cukup puas jalan kaki keliling Phuket Town, melihat kota yang rapi, bersih, bangungan-bangunan khas seperti wilayah Kota Tua Jakarta, mampir ke toko buku tua, dan makan eskrim. Menjelang sore, saya baru menemukan food street yang dekat pangkalan bis untuk kembali ke Patong. Yaaahh… Pas udah mau pulang malah nemu tempat seru! Karena hujan, ya sudah pulang aja.

Sore hari di Patong ya nunggu sunset di pantai dong.. Pantainya bersih, nggak terlalu ramai, nyaman banget buat jalan sore apalagi sama pacar #nasibsingle. Malamnya, karena ini malam terakhir di Phuket, saya keluar penginapan sekitar jam 9 malam. Geliat kehidupan sudah ramai, gadis-gadis (???) seksi mulai keluar, lampu warna-warni dari setiap penjuru kafe menghidupkan suasana, banyak atraksi seru yang ditawarkan (bayar, jadi saya ngga cobain), dan semakin malam saya keasikan menatap etalase yang menampilkan para wanita menari striptis. 

Yang lucu, saat saya asik nonton para gadis (entah gadis asli atau KW) ada serombongan Aki-Aki buncit ubanan sedikit botak menghampiri. Mereka tanya apa saya reporter (kayaknya karena bawa kamera), saya jawab bukan. Kami sempat ngobrol dan mereka berasal dari Palestina. Berkali-kali para Aki ini bilang, “This is crazy! This place is so crazy!”. Saya hanya tertawa, ya kali di Palestina bisa nonton penari striptis di pinggir jalan.

Setiap kali saya singgah di lokasi wisata ‘macam begini’, kadang ada perasaan miris. Di lokasi-lokasi seperti ini saya merasa aman. Orang-orang seperti sadar diri untuk tidak saling mengganggu. Tidak ada preman, copet, atau perasaan tersisih karena saya muslimah berjilbab. Oiya, saya nggak lihat wisatawan berjilbab di sini selain si travelmate. Orang-orang tetap menyapa saya ramah, penjual menawarkan dagangan dengan senyum, beberapa wisatawan menyapa dan mengajak ngobrol begitu friendly.  

Perbedaan bukan alasan untuk mengganggu perdamaian. Kita hanya perlu menerima dan memahami. 


Love is real, real is love. -John Lennon-

November 12, 2015

ASEAN Trip (1): Backpacking Jakarta-Singapura-Phuket

3

Singapore (Changi): Heaven of Duty Free
Minggu pagi 18 Oktober 2015, saya bertolak dari Soekarno Hatta menggunakan maskapai Harimau Udara menuju Phuket dengan rute transit di Singapura selama kurang lebih 5 jam. Tidak perlu diceritakan lah ya bagaimana oh-so-wow nya Changi, sudah tenar kredibilitas bandara di negara mungil ini memanjakan para traveler. Bahkan saat saya tiba, masih banyak manusia bergelimpangan di sudut-sudut bandara alias mereka yang menginap untuk penerbangan selanjutnya. 

Awalnya saya ingin ikut free tour Singapore yang disediakan pihak Changi, namun apadaya untuk jadwal yang diincar sudah habis. Hiks.. Jadilah, selama transit cukup puas mengelilingi taman-taman indah, mewarnai gambar (sebenarnya ini fasilitas untuk anak-anak, tapi ya sudahlah tampang saya masih baby face) dan pastinya belanja make up di Duty Free #uhuk. Ya gimana dong, gerai Duty Free itu banyak banget dan menggoda iman. Hihihi.. Saat akan boarding, pengecekan cukup rempong sampai saya harus membongkar tas hanya karena petugas bandara curiga sama… Energen! “What’s this?”, tanya petugas. “Cereal,” jawab saya, dan lolos #DOH. Pesawat sempat delay, hanya 30 menit.

Penulis Narsis
Phuket: Touristy City
Sampai di Phuket sudah malam dan proses imigrasi mengular panjang. Hebat pariwisata Phuket ini, bahkan saat low season pun tetap ramai oleh wisatawan. Hampir pukul 21.00 selesai sudah urusan imigrasi dan saya keluar bandara mencari bis Airport-Patong (semacam Damri Soetta gitu), sayangnya sudah tidak beroperasi. Daripada menggelandang, ya sudah naik mini van yang memang banyak di depan bandara. Saya agak kesal sama alat transportasi ini. Perjalanan bandara-Patong memakan waktu cukup lama (sekitar 1,5 jam, belum ditambah mini van ngetem), kondisi malam hari (pukul 22.00 lebih) , penumpang terlihat sudah pada capek. EH, ujug-ujug supir berhenti di komplek ruko dan menyuruh kita semua turun dengan alasan “Passport check!”. HAH?

Ternyata oh ternyata, kami disuruh masuk ke travel agent yang mimiliki banyak pegawai, menyebar menyambut masing-masing turis dengan ramah basa-basi menawarkan segala macam paket tour dan harus booking saat itu juga. Zzzz… Dengan tampang zombie karena ngantuk, (setelah pegawai travel berbusa-busa ngoceh) saya hanya menjawab singkat, “No, thank you. We’ve already booked the whole tour package from our hostel.” (Padahal mah bo’ong). Pegawai travel pun mingkem dan saya kembali ke van. Travelmate saya sampai bilang, “Kamu nolaknya singkat & tegas banget.” Bodo, saya ngantuk!

Sampai Patong udah nyaris jam 11 malam, tapi emang dasarnya ni kota hidupnya malam-malam, ya ramenya kayak pasar Indonesia pagi hari. Saking rame, saya jadi nggak ngantuk lagi. Hahaha… Tambahan lagi lokasi penginapan tinggal ngesot ke pantai dan Bangla Walking Street, jadi makin ajib lah itu ramenya. Menginap di hostel dorm campur, di kamar sudah ada bule-ganteng-perut-six-pack yang terbangun saat saya datang. Bukannya lanjut tidur,  Kang Bule malah mandi dan keluar penginapan. Mau tahajud di masjid ya, Kang? Mau dooonnggg jadi makmum… #dihajarladyboy

Next: ASEAN Trip (2): Backpacking Phuket-Patong

============================
Rincian Biaya 18 Oktober

Makan siang di Changi: $SGD 7
Mini van ke Paton: THB 180
Hostel 3 malam: THB 750
Minum: THB 14

TOTAL: Rp 428,000

Love is real, real is love. -John Lennon-