Agustus 19, 2016

9 Things to Do for WHV Indonesia When Arrived in Australia

2

Sebenarnya saya udah lama ingin nulis ini, meski nggak sesibuk teman-teman WHV warrior lain, toh saya terkendala penyakit malas. As usual. Nah, berhubung sekarang lagi day off dan hawa-hawa di perpustakaan ini bikin pengen nulis, saya mau share beberapa hal yang perlu dilakukan saat awal hidup di Australia (Sydney, tepatnya) saat menjalani Work & Holiday Visa.

Beli Kartu
Bukan kartu gaple ya. Saat mendarat di bandara Sydney, akan banyak ditemukan counter-counter provider ponsel. Saya milih kartu Vodafone, alasannya selain karena konon katanya menurut gosip sinyalnya paling kenceng, juga pada saat mau beli eh lagi ada diskon gitu, paket $50 cukup bayar $30. Nah, kartu sim di Australia ini agak sedikit berbeda dengan di Indonesia. Sistemnya paketan dengan harga berbeda. Misalnya, saya pakai paket $30 dengan masa berlaku 28 hari, gratis telpon & sms ke semua nomor Australia, paket internet 2 GB plus bonus, dan pulsa $30. Ini nggak pernah habis, lho. Karena saya seringnya pakai wifi, jadi paket data jarang dipake. Pun pulsa cuma sedikit terpakai. Jeleknya, kalau kita isi pulsa lagi, nggak terakumulasi. Jadi kalau dari bulan lalu masih sisa pulsa $25, pas isi pulsa $30 ya cuma dapet $30. -_-

Kartu lain yang perlu dibeli saat di bandara adalah kartu OPAL (meski bentuknya persegi panjang). Ini kartu transportasi di wilayah NSW yang bisa dipakai untuk bis, kereta, dan kapal feri. Hanya bisa dibeli menggunakan kartu dengan logo mastercard atau visa (nggak bisa cash) dan harganya sekalian top up $10, $20, $40, dst. Saya beli $30 karena kereta dari bandara ke city mahal. Kartu ini kalau udah dipakai 8 kali sisanya gratis di sisa minggu dengan syarat dan ketentuan berlaku. Overall, rata-rata seminggu habis $17-$20 untuk opal. 


Cari roomshare/apartemen/flat
Ada banyak tawaran roomshare di Sydney. Bisa cek di flatmates, gumtree, atau grup Facebook. Beberapa teman sudah mencari dan mendapat roomshare saat mereka masih Indonesia, jadi pas sampai Sydney tinggal dateng ke lokasi. Kebanyakan sih penghuninya orang Indonesia juga. Saya lebih memilih tinggal di hostel selama beberapa hari (saya nginap di BIG Hostel, ini rekomended!), kemudian cari flat atau apartemen. Selain bisa inspeksi langsung, saya juga bisa kenalan dulu sama penghuninya yang rata-rata mix countries. Tiga bulan pertama saya tinggal dengan gadis Korea, Taiwan, Jepang, dan Thailand. Sekarang tinggal dengan 5 cowok (4 Jerman, 1 Inggris), 2 gadis (Jerman & Korea). Seru? Seru bangeeeettt dan mau nggak mau pasti lancar cas cis cus bahasa Inggris karena ya gimana lagi masa diem-dieman?? Hahaha

Cari Kerja
Perbanyak kenalan dan jaringan sebelum datang ke Australia. Gimana pun juga, info kerjaan sering muncul dari gosip ke gosip. Tapi cari kenalannya jangan oportunis juga sih, cuma pengen kerjaan doang. Saling berbagi lowongan udah jadi hal biasa untuk WHV warrior di Australia. Kerjaan pertama saya jadi room attendant (housekeeping) satu minggu setelah kedatangan di Sydney, berkat mamah Adhi Sappareng. Setelah 6 minggu, dapet kerjaan jadi allrounder di kafe berkat tawaran si cantik Julia. Sekarang saya kerja sebagai au pair, jagain bayik usia 2 bulan. Semua kerjaan di sini melelahkan (sesuai sama bayaran lah), bedanya adalah kamu bisa menikmati atau nggak. Kalau saran saya, untuk awal-awal tinggal di Oz mah selama kerjaan halal ya embat aja. Biaya hidup mahal, cyynn!

Beberapa website untuk cari kerjaan bisa dilihat di gumtree, seek, indeed. Ubek-ubek aja di sana, apply online, kalau ada nomor hp atau telepon langsung kontak. Cara lain adalah dengan print CV, lalu keliling untuk drop. Karena saya suka kerja di kafe, jadi search di google map kafe-kafe di sekitaran city Sydney, lalu datengin, minta ketemu managernya, bilang lagi cari kerja dan mau drop resume, gitu deh. Apa pun yang penting usaha!
Atas-Bawah: room attendant, cafe all rounder, au pair
Bikin TFN
Apaan tuu? Tax File Number semacam NPWP kalau di Indonesia. Kalau di negara kita kadang terabaikan, di Australia ini penting pisan karena mayoritas pemberi kerja minta TFN. Kalau dapat kerjaan yang pakai tax, gaji kita akan dipotong pajak dan nanti bisa diklaim untuk balik lagi duitnya menggunakan TFN itu. Cara buat TFN gampang, tinggal akses ato.gov.au, klik tab individual, pilih apply TFN dan ikuti langkah-langkah selanjutnya. Usahakan alamat yang dicantumkan sesuai dengan alamat tempat tinggal karena dari pihak ATO akan kirim surat berisi nomor TFN ke alamat tersebut. Atau kalau belum punya alamat tetap (masih di hostel, misalnya) pakai alamat teman juga boleh. Yang penting bukan alamat palsu. Kasian nanti si Ayu, eh ATO. 

Buka akun Tabungan
Hampir semua transaksi pembayaran di Sydney bisa menggunakan kartu debit, maka punya tabungan tentu penting. Apalagi untuk transfer gaji. Ada banyak pilihan bank, tapi yang common sih commonwealth kalau di city Sydney. ATM-nya banyak macam BCA di wilayah Jabodetabek. Mau belanja-belanja, tinggal tempel kartu ATMnya. Saya paling bawa cash $10-$20. Cara bikin tabungan juga gampang. Tinggal datang ke bank terdekat, bawa paspor, nanti dibantu sama pegawainya. Bawa duit cash untuk nabungnya, tapi jangan ditabungin semua karena kartu ATM baru jadi 5 hari kerja. Kan nggak lucu punya uang $10,000 tapi di tabungan semua dan kita kere selama 5 hari. Kartu ATM juga bisa dikirim ke alamat tempat tinggal atau diambil langsung di bank tempat membuka tabungan, tinggal kita request gimana.

Cari Kuliah
Ini optional tergantung tujuan masing-masing. Karena tujuan utama saya ke Oz juga pengen belajar, maka saya cari beberapa short-course yang seru sebelum berangkat. WHV mengizinkan belajar maksimum 4 bulan untuk sekali course. Nah karena saya pengen belajar creative writing, hoki banget di University of Sydney dibuka short-course juga. Untuk umum, syaratnya cuma bayar dan kegiatan belajar mengajar dalam bahasa Inggris. Nanti dapat sertifikat juga. Selain cari ilmu, berada dalam lingkungan akademis yang semuanya pake English bisa membantu untuk improve skill English saya. Karena belajar di sini sama kayak kuliah, dapet whole package; presentasi, nulis tugas, dengerin dosen. Awalnya saya juga keteteran sih, tapi ya dijalani aja.

Untuk short course yang bagus bisa coba di University of Sydney atau TAFE.
Belanja Murah
Sydney salah satu kota termahal di dunia. Emang iya sih, pokoknya kalau beli apa-apa jangan di-kurs ke rupiah deh. Sakit hati Neng. Tapi...tapi... ada triknya kalau mau belanja murah. Untuk belanja keperluan makanan yang bisa disimpan lama, bisa ke supermarket Coles, Woolworth, atau ALDI. Pilih brand mereka yang harganya jauh lebih murah (semacam kalau kita belanja ke Giant ada gula pasir merek Giant juga). Kalau mau coba brand lain yang lebih berkualitas, pilih yang diskon setidaknya setengah harga. Kalau mau beli sayur dan buah, pergilah ke Paddy's Market hari minggu jam 5 sore (anjisss detail banget). Menjelang tutup pasar jam 6, mereka akan banyak obral seharga $1! Gerak cepat & gesit (karena pasarnya rame), incar kebutuhan yang diperlukan. Usahakan beli secukupnya untuk 1 minggu sampai ketemu jadwal belanja murah selanjutnya. Saya cerita ini sama Ibu malah dibilangin kayak Misae si hobi diskon. Hahaha.

belanja pasar
Jalan-Jalan Hemat
Ada banyak yang bisa dieksplor dan diakses dengan murah bahkan gratis di Sydney. Ketika jatah kartu opal udah bisa gratis, pergilah ke lokasi-lokasi seru dengan kereta. Blue Mountain, Morisset Park, Wedding Cake rock, pantai-pantai kece. Kalau lagi mager pergi jauh, bisa keliling museum atau kebun raya Sydney yang gratisan. Masih mager juga? Ya udah nongkrong aja di deket Opera House.

Gaul

Trust me, gaul adalah satu hal penting nan hakiki selama di luar negeri (buat saya). Utamanya sih supaya nggak terlalu homesick. Saya sebenarnya tipe anak pemalu (pendiam-manis-lucu), dan sejak datang ke Sydney, mau nggak mau kemampuan berteman harus diasah. Berteman dengan sesama orang Indonesia itu penting, karena bagaimana pun we are all take care each other here. Apalagi kalau lagi galau dan butuh curhat dalam bahasa Indonesia! Hahaha.. Berteman dengan warga negara lain juga penting. Gimana pun, udah jauh-jauh dari Indonesia, saya ingin belajar banyak hal tentang negara lain. Saya dan housemates sering bertukar cerita, pendapat, kebiasaan di negara masing-masing, dsb. Dari sini saya belajar untuk saling menghargai dan salut dengan bagaimana cara mereka menghargai saya. Seringkali saya ikut gabung kalau roomates pergi dengan teman-temannya atau roomates ikutan main bareng dengan teman-teman Indonesia.

Last but not least and the most important thing: Minta doa orang tua!

viva WHV warrior!

Love is real, real is love. -John Lennon-

Juli 15, 2016

He and I

0

The writings below are one of assignments from creative writing course I took in Sydney Uni. An essay I try to recreate from original version of "He and I" by Natalia Ginzburg. I got positive compliment from my professor for this writings (because the other assignments are just like sh*t, LOL). 
=================================================================
He and I
He plans for almost everything. I plan for only important things. Since we’re met in high school, he has planned his life for next ten and twenty years. I was planned only for which university I will go.
He loves travel. I love travel too. One day we decided to go to Bali to spend annual leave. He bought tickets, booked hotel, rented motorbike, and told me about detail schedule for five days we will spend. I just agree or he will so fussy and argue that his plan was the most effective and efficient way to explore fascinating places in Bali in a short time. He does everything in a rush even we’re not in a hurry; I prefer to do everything slowly. At the airport, he was impatient when queuing for check in. I was paying attention to people’s behaviour; what they bring, what they wear, how is their expression, are they traveling alone or in a group.
He hates wasting time shopping. I love shopping so much. If we go to buy something, he focuses to look for what he need, take, and pay it. I will look for what I need too and stop for a while in every eye-catching object, then thinking maybe I will need it. At souvenir shop in our fourth day in Bali, I distracted by unique stuffs and forgot the time. It was afternoon. He mad because we missed watching sunset on the beach as he planned. I upset because even I’m happy we’re succeed visiting captivating places on his to-do-list, I deserve my kind of holiday; slowly and enjoy the moment. Then we missed his plan to have dinner. We just lied on the beach and saw the sky getting dark. It was full of stars.  
==================================================================

Love is real, real is love. -John Lennon-

Juli 08, 2016

Ramadhan & Idul Fitri di Sydney

4

Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini telah berlalu. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup saya lalui tanpa keluarga, di benua sebrang, dan memberi pengalaman berbekas dalam kalbu. 

Sydney, Australia tentu berbeda dengan Bogor atau Bandung. Di sini tidak ada hiruk pikuk Ramadhan, tidak ada pedagang yang berderet di sepanjang jalan menjajakan makanan buka puasa, tidak ada heboh belanja baju baru, apalagi tradisi mudik. Di sini restoran dan kafe buka seperti biasa, jam kerja tidak berubah menjadi lebih pendek, dan menjadi kaum minoritas ternyata memberi pengalaman lucu serta berkesan. 

How could you survive?
Pekerjaan saya sebagai all rounder cafe mengharuskan saya datang jam 7 pagi (di mana tiap kali berangkat kerja seringkali masih gelap) dan pulang jam 4 sore (sedangkan buka puasa jam 5 sore). Namanya kerja di cafe, makanan dan minuman enak jelas bejibun (godaan). Karena saya memakai jilbab, yang tentunya sebagian besar orang tahu saya muslim, percakapan ini seringkali terjadi. Entah dengan rekan kerja atau pengunjung kafe yang penasaran.
They: Hey, you’re muslim, right? So you’re doing Ramadan now?
Me: Yes, of course.
They: You don’t eat anything all day?
Me: No.
They: But, you still can drink, right?
Me: Not at all. No eat and drink.
They: Oh my God, how could you survive?!
Saya hanya akan tertawa serta menjelaskan dengan bahasa santai tentang aturan puasa, maknanya apa, dan bagaimana para muslim sanggup melakukannya. Yeah, I’m happy and proud of it.

We can have lunch with just water.
Bicara merantau rasanya nggak seru kalau nggak ada cerita tentang lawan jenis *uhuk*. Beberapa kali berkenalan dengan pria lokal (lokal sini maksudnya), ternyata saya nggak jelek-jelek amat karena ada yang mengajak kencan. Namun saya sadar menjalin hubungan di benua sini berbeda dengan di Indonesia. Alasan Ramadan sangatlah ampuh untuk menolak ajakan kencan.
Him: Hey, let’s have lunch.
Me: I can’t. I’m muslim and doing Ramadan now, I’m fasting.
Him: Okay. But we can have lunch with just water.
Me: Haha.. I don’t eat and drink.
Him: What about dinner?
Me: I have class at night.
Iya bro, cewek muslim emang susah digaet.

Take as many as you need.
Salah satu kejadian menarik adalah saat hari kedua Ramadhan, kerjaan di cafe padat dan saya pulang mepet waktu maghrib. Lupa bawa minum pula. Saya berniat untuk beli air mineral di minimarket. Tapi kan di sini air putih botolan 600 ml harganya lebih mahal daripada susu 1 liter dan uang saya di dompet tinggal $1.75 *anak miskin*. Setelah lihat-lihat di minimarket dan nggak ada air mineral sesuai budget, akhirnya saya memutuskan pulang. Tiba-tiba..
Kasir: Hi, buy something?
Me: No. Maybe next time. Thank you.
Kasir: Are you fasting? (kayanya karena dia lihat saya berjilbab)
Me: Yes.
Kasir: Oh, take any drink you want. Its free! Take it.
Me: Oh, no. I'm okay. Thank you so much.. (buru-buru keluar).
Kasir: No, please.. Hey, take any drink. Take the bottle near you, there.. Please take it, its okay. (Dia nunjuk air mineral dekat pintu keluar)
Me: Really? May I?
Kasir: Yes of course. Take as many as you need.
Dan saya pun mengambil satu botol dengan tampang hepi dan berterima kasih. Bahagiaaaaaa banget ketika menjadi minoritas dan diperlakukan dengan toleransi sederhana seperti itu.

Salat Tarawih nan salting.
Dari awal Ramadhan saya selalu shalat tarawih di rumah. Alasannya sih karena di sini masjid jarang banget dan cukup jauh, terus kan saya pemalas gitu. Namun saat sepuluh hari terakhir, saya niat banget pengen shalat di masjid. Maka suatu malam, saya siap-siap, mencari masjid terdekat di google map, dan dengan pede naik bus kemudian jalan kaki ke suatu masjid. Sesampainya di masjid, JRENG! Ternyata laki-laki semuaaaaa... Mereka memandang saya aneh gitu. Karena masjid tersebut ada dua lantai, saya kira bagian perempuan ada di lantai dua, saya pun buru-buru naik dan ternyata, JRENG! Laki-laki juga. -_-

Dengan tampang blo’on demi menyelamatkan gengsi, saya pun pura-pura bertanya ke salah satu lelaki yang lewat,
Me: Oh, I just want to pay zakat fitra.
Kemudian saya cepat-cepat pulang.

Idul Fitri dan meluruhnya air mata
Sejak awal Ramadan, sahabat saya sudah menyuruh untuk pulang ke Indonesia. Katanya, yakin saya nggak akan kangen? Yakin saya bisa tahan lebaran tanpa keluarga? Dan dengan mantap saya bilang nggak mau pulang, pengin mencoba lebaran di negeri orang. 

Shalat Idul Fitri di Sydney tidak semudah di Bogor yang tinggal ngesot, gelar koran, dan kemudian solat. Saya harus bangun sebelum subuh, solat subuh tepat waktu, dan setelah salam langsung cabut ke stasiun karena perjalanan ke lokasi komunitas muslim Indonesia yang mengadakan shalat Ied memerlukan waktu kurang lebih satu jam perjalanan. Masih gelap, musim dingin, jalan kaki ke stasiun. Bbbbrrrr...

Saya tidak akan cerita bagaimana muslim Indonesia di Australia yang ternyata banyak banget. Sepulang shalat dan makan-makan, saya sudah janjian dengan Bani akan melakukan video call. Keluarga Syahroni sudah ada di rumah nenek di Purwakarta. Siap dengan laptop berkamera dan LINE dengan wifi memadai, video call pun tersambung. Kemudian, muncullah mereka di layar laptop saya, Bapa, Ibu, Uki, dan Bani.

There’s something burst from my heart. Something I hold since I left them at the airport. Something I ignore just because of selfishness to get experience “I am an independent girl”. 

Usai video call, sahabat saya mengirim pesan,
Him: Selamat Idul Fitri, F.. Please don’t cry.
Yeah, he knows me. Saya ternyata tidak setangguh itu untuk menahan rindu. 

Foto official Idul Fitri 1437 H Keluarga Syahroni. Itu saya di pojok kiri atas
Hal ini membuat saya makin banyak bersyukur. Saya punya keluarga hangat, punya tempat pulang, punya orang-orang yang bisa saya rindukan dan juga merindukan saya. Karena sejauh apa pun saya pergi, sebanyak apa pun pengalaman yang saya cari dan gali, mereka lah tempat saya bermuara dan kembali. 

Selamat Idul Fitri.

Sydney, 3 Syawal 1437 H.

Love is real, real is love. -John Lennon-

Juni 13, 2016

Twenty Nine My Age

6

Ulang Tahun selalu spesial sejak saya kecil. Meski bukan pecinta pesta, saya selalu melakukan hal menyenangkan di hari spesial ini untuk diri sendiri. Biasanya sih makan-makan, piknik, dan berdoa bareng keluarga. Kali ini karena tinggal di Sydney sendirian, tadinya saya mengira akan menghabiskan waktu di kafe. Namun rezeki anak soleh emang nggak kemana. Ternyata hari ulang tahun saya sama dengan Ratu Victoria dan di Australia menjadi hari libur nasional. Kafe tempat saya kerja yang bergabung dengan perkantoran, otomatis ikut libur. Lalu, kebun binatang paling kece se-Australia, Taronga Zoo, juga merayakan hari ulang tahun ke 100 di 2016 ini. Jadi, siapa pun yang datang saat hari ulang tahun (di tahun 2016 ini doang), cukup membayar $1 sajah! Tiket aslinya $46, lho... Rezeki lain ada teman yang bersedia ditodong untuk menemani saya ke kebun binatang. Hahahaha...

Hal menyenangkan lain adalah karena saya datang saat ulang tahun, pihak Taronga Zoo memberikan pin yang menandakan "I'm the birthday girl!". Jadi, saat jalan keliling kebun binatang dan bertemu petugas, mereka akan mengucapkan, "Hey, Happy Birthday! Have a good day!". Saya juga mendapatkan diskon 10% setiap belanja di souvenir shop. Alhamdulillah... I'm so happy... 

birthday girl so happy for whole day!
Age just number. Now twenty nine my age and still have labil economy alias hidup miskin merantau di negeri orang. Mungkin ulang tahun seharusnya menjadi momen merenung dan berkontemplasi, apa yang sudah saya lakukan atau berikan untuk agama, keluarga, dan negara. Namun apa daya, sepertinya pemikiran saya masih seperti tampang saya jika dilihat oleh orang luar negeri; selalu disangka usia dua puluh dua.

They're make me happy today :)
Harapan saya setiap tahun sederhana; saya hanya ingin jadi manusia yang penuh syukur dan bahagia.. :)

Love is real, real is love. -John Lennon-

Mei 21, 2016

Satu Bulan di Australia

13

Tanpa terasa, tepat sudah satu bulan saya tinggal di Australia, tepatnya di Sydney, salah satu kota paling mahal di dunia. Cerita tentang apa-apa mahal akan diulas nanti. Sekarang saya hanya mau curhat.. *lah, biasanya juga ini blog isinya cuma curhat*.

Ajaran Rasulullah Saw agar umat muslim berhijrah untuk belajar menjadi pribadi yang lebih baik benar-benar saya rasakan. Kalau Kanjeng Nabi hijrah dari Mekkah ke Madinah, saya masih tahap hijrah dari Bogor ke Sydney. Sedih? Awalnya iyalah sedih.. Meninggalkan kenyamanan tiada tara di rumah menuju negeri antah berantah. Rasanya seperti judi, otak saya tak lepas dari kalkulasi beragam rencana dan prediksi. Apalagi pas di bandara diantar keluarga dan saya harus pura-pura tegar masuk ke boarding room, meninggalkan Bapa, Ibu dan Adik dengan perasaan campur aduk. Namun, seperti kata tulisan adik saya, Bani, bahwa seringkali hidup harus pura-pura berani.

Allah memang Maha Baik. Super-Maha-Gigantis kebaikan-Nya untuk saya. Injury time penerbangan ke Sydney, saya dapat teman seperjalanan. Lumayan kan bisa jagain saya yang jago banget nyasar. Kan nggak lucu kalau nyasarnya sampai ke Praha (plak). Sampai di Sydney, dijemput teman lagi dan diantar ke hostel. Ketemu teman lain, kenalan, jalan-jalan, dan keliling kota. Berkat teman-teman ini juga saya langsung dapat pekerjaan part time. Kemudian dengan mudah langsung dapat flat di lokasi strategis. 

Lalu, ada cerita apa aja selama satu bulan ini?

"Education isn't something you can finish." ~Isaac Asimov.
Tiap orang punya tujuan berbeda datang ke Negeri Selatan ini. Beberapa ingin kerja, sebagian ingin liburan, saya sendiri ingin belajar. Obsesi saya kan dari dulu pengen kuliah di luar negeri. Maka, saya pun mendaftar short course di University of Sydney jurusan Creative Writing. Beberapa teman penasaran apa saya ambil S3, S2 lagi, atau gimana. Saya pribadi bukan tipe pencari jenjang pendidikan. Kalau ada ilmu yang saya suka, ya pengen belajar. Short course menjadi jalan paling cocok karena saya bisa mengambil mata kuliah beberapa saja yang saya butuhkan. Dan bayarannya relatif murah (ini penting), meski murah versi Sydney. Saat ini saya mengambil 2 mata kuliah untuk 2 bulan. Nanti kalau sudah selesai, saya bisa ambil mata kuliah lain. Bedanya sama kuliah reguler? Sama aja sih... Ada profesor, ada murid, ada kelas, ada PR yang banyak, harus baca buku dan jurnal. Hanya saja nggak ada ujian... Eh gatau juga deng, kan belum selesai kuliahnya. Hahahah.

Ini kampus, bukan kastil Disney!
Interviewer: So, why do you want this job? | Me: I need money.
Selain kuliah, saya juga kerja part-time sebagai room attendant di hotel. Itu loh, tukang bersih-bersih kamar kalau kalian nginep di hotel. Awal-awal kerja, sumpah ya Gusti tolong hambamu iniiiiii... Saya yang nggak pernah kerja fisik, langsung kerja fisik cape banget.. Tangan saya yang sehalus kulit bayi sekarang jadi sekasar tapas cuci piring. Belum lagi karena nggak terbiasa beberapa kali luka-luka. Pengen nangis tapi ga jadi karena gajinya gede. Hahaha... Di sini hampir semua pekerjaan dibayar per jam, jadi pemilik perusahaan bener-bener menghitung harus seberapa efektif karyawan bekerja. Nggak ada cerita lagi kerja bisa main Facebook atau chatting wasapan. Waktu kerja ya kerja! Alhamdulillahnya, saya kerja di hotel yang banyak pengunjung, jadi selalu dapat jam kerja lumayan. Meski tetep kalau pulang kerja perlu baluran counterpain.

Plis setelah kalian baca ini, kalau nginep di hotel, jangan sengaja kotor-kotorin kamarnya.. Bersihinnya capeeekkk 
Unexpected friendships are the best one
Teman-teman Indonesia yang saya temui di Sydney sebelumnya nggak ada yang saya kenal di Indonesia. Kami semua baru ketemu dan seneng banget karena bisa akrab dan kompak. Nggak jarang kami kumpul untuk piknik bareng atau sekedar nongkrong sambil makan cemilan. Teman dari negara lain pun nggak kalah seru. Saya tinggal bersama 2 gadis Korea, 1 gadis Jepang, dan 2 gadis Thailand. Semuanya seru-seru dan kami juga sering jalan bareng. Namanya tinggal satu flat, ya sering bareng-bareng baik itu masak, belanja mingguan, nyuci, atau curhat-curhatan. Kami juga saling menjaga dan perhatian kalau ada yang pulang malam atau kelupaan bawa kunci flat. Hahaha... Bagusnya, karena kami dari negara beda-beda, jadi ngobrolnya pasti pake bahasa Inggris. Ini penting untuk meningkatkan skill conversation. Teman-teman sekelas di kampus juga seru-seru. Mereka pinter-pinter, bikin saya sering minder. Tapi mereka memaklumi kalau saya rada lemot karena keterbatasan pemahaman bahasa dan mau mengajari kalau saya tanya-tanya. Meski bagi profesor, PR tetaplah PR yang harus dikerjakan sebaik mungkin.

aslinya fotonya banyaaaaakkk
Family. Where life begins. And love never end. 
Terimakasih jaringan internet masa kini yang mendekatkan jarak dan waktu. Saya dan keluarga komunikasi tiap hari. Seminggu satu atau dua kali saya telepon ke rumah, cerita macam-macam. Pertanyaan ortu selalu sama: Teteh sehat? Iya, yang penting sehat karena biaya berobat di Sydney mahal. Hahaha... Sejak merantau gini, saya justru makin sadar bahwa keluarga adalah segalanya. Apa pun yang terjadi, kalau udah nelepon rumah rasanya seperti nge-cas energi. Saya juga percaya bahwa segala kemudahan yang saya dapat selama merantau pasti karena doa keluarga.

Foto sebelum saya berangkat ke Negeri Selatan

"Ketika kamu menginginkan sesuatu, seisi alam semesta akan berkonspirasi untuk membantumu mewujudkannya." ~Ini quotes siapa ya?
Satu bulan di Sydney menjadi semacam jawaban dari doa-doa saya. Bayangan saya dulu tuh kuliah di luar negeri, punya temen-temen dari negara beda-beda, piknik ke tempat-tempat kece, kerja part time untuk hidup mandiri, bisa pakai mantel ala-ala film Holywood saat dingin, dan jadi bagian dari para pejalan kaki yang berbondong-bondong nyebrang jalan di zebra cross saat jam sibuk. Remeh banget emang bayangannya. Hahaha.. 

Satu bulan di Sydney. Tidak mudah, tapi juga tidak nestapa. Pastinya saya bersyukur bisa belajar banyak hal di sini. Saya yang malas bangun pagi sekarang selalu bangun pagi. Biasanya males beresin kamar, sekarang sehari bisa beresin 10 ruang apartemen kinclong! Kalau dulu di Indonesia hobi ke mall hedon, sekarang ngatur uang sehemat mungkin. Karena di Sydney apa-apa tepat waktu, mau nggak mau saya terbawa mengatur kapan kerja, kuliah, bikin PR di sela-sela waktu, pergi ke perpustakaan, dan main-main juga tentunya. 

Ini postingan udah panjang. Masih ada cerita lagi nanti...

Blue Mountain.
Setelah saya foto di sini, tiga hari kemudian ada yang kepleset di tebing ini dan meninggal. 

Love is real, real is love. -John Lennon-

April 13, 2016

Work & Holiday Visa yang Menjawab Mimpi

9

packing dan bingung mau bawa apa aja
Setelah lulus kuliah setahun lalu, saya getol banget cari beasiswa di luar negeri. Kuliah lagi?? Yaaa.. Sebenarnya urusan luar negeri ini obsesi dari dulu. Saya punya kebiasaan membuat target-target obsesi seperti: saat usia 17 tahun harus membuat sesuatu yang spesial, alhamdulillah terbit novel pertama, Jadian 6 Bulan. Nah, dari dulu sudah punya obsesi pokoknya sebelum usia 30 tahun harus bisa merantau & tinggal di luar negeri. Dalam hal ini luar Asia. 

Jadilah, berburu beasiswa merupakan proses melelahkan sejak tahun lalu. Hasilnya, gagal melulu. Apalagi cari beasiswanya nggak mau yang dari Indonesia karena males dengan syarat memberi timbal balik (nggak nasionalis kamu, Rhein!). Jelas saja persaingan skala internasional lebih ketat, Neng! Bersaing sama pemuda-pemuda hebat Indonesia saja belum tentu mampu. Loba gaya maneh..

Emangnya mau ngapain ke luar negeri, Rhein? Belajar. Itu saja alasan saya. Saya ingin belajar hidup di negara lain, belajar mandiri, belajar berbaur, belajar bersikap dan menghayati keadaan ketika menjadi kaum minoritas, dan tentunya belajar ilmu-ilmu baru secara profesional yang sulit didapat di Indonesia, creative writing contohnya. 

Sampai suatu hari, teman backpacker saya memberi tahu perihal Work and Holiday Visa

Wah, spesies apa tuh?

Nah, saya kan sering baca cerita para backpacker kelas dunia yang berkelana dalam waktu tahunan, ngegembel di beberapa negara, sambil kerja part time apa saja. Ternyata, para backpacker itu pakai sejenis program ini dari negara mereka masing-masing. Backpacker dari Indonesia bisa? Bisa dong... Untuk saat ini hanya untuk ke Australia. Setelah cari info kesana kemari, program ini menjawab semua yang saya butuhkan: bisa belajar di institusi, bekerja part time, dan backpacking. Cihuy banget WHV Australia ini, kan!

Caranya susah? Bayar berapa? Perlu agen khusus? Syarat lengkap dan prosedur ada di website imigrasi: Rekomendasi Visa Bekerja dan Berlibur. Saya akan share pengalaman pribadi saat melalui proses mendapatkan visa ini. 

Ketentuan Umum:

1. Telah berusia 18 tahun atau belum berusia 30 tahun pada saat pengajuan permohonan surat rekomendasi;
2. Memiliki kualifikasi setingkat perguruan tinggi, atau telah menjalani pendidikan di perguruan tinggi setidak-tidaknya 2 (dua) tahun pendidikan;
3. Belum pernah mengikuti program bekerja dan berlibur sebelumnya;
4. Memiliki paspor yang berlaku sekurang-kurangnya 12 bulan;
5. Memiliki tingkat kemahiran berbahasa Inggris sekurang-kurangnya tingkat fungsional;
6. Tidak disertai oleh anak-anak di bawah umur;
7. Memiliki sejumlah dana seharga tiket pergi-pulang dan untuk membiayai keperluan selama masa awal tinggal di Australia;
8. Surat Rekomendasi berlaku 1 (satu) bulan sejak tanggal dikeluarkan;
9. Permohonan Surat Rekomendasi tidak dapat diwakilkan.

Syarat:
1. Form Identitas (download di web imigrasi);
2. Kartu Tanda Penduduk (KTP);
3. Akte Kelahiran;
4. Paspor dengan masa berlaku minimal 12 bulan;
5. Ijazah perguruan tinggi minimal Diploma III, atau Surat Keterangan sebagai mahasiswa aktif setidaknya 2 tahun, dilengkapi Kartu Mahasiwa (KTM) dari perguruan tinggi bersangkutan;
6. Memiliki sertifikat kemampuan berbahasa Inggris IELTS dengan minimal score 4.5 ;
7. Surat keterangan / Jaminan Bank atas kepemilikan dana sejumlah AUD $ 5000 (lima ribu Dollar Australia) atau yang setara;
8. Pas foto terakhir berwarna ukuran 4 x 6 sebanyak 1 lembar, latar belakang putih.

Catatan:
1. Pada saat wawancara untuk membawa seluruh persyaratan asli dan fotokopi ;
2. Berkas fotokopi dimasukkan dalam map warna biru dengan urutan seperti di atas;
3. Tidak dipungut biaya selama proses pengeluaran surat rekomendasi;
4. Sertifikat bahasa Inggris dalam bentuk prediction TIDAK DITERIMA.

Proses yang saya jalani:
20an September 2015: registrasi online di website imigrasi.
7 November 2015: Cek website imigrasi dapat panggilan interview.
9 November 2015: Interview di imigrasi
10 Nov 2015-5 Jan 2016: Banyak-banyak doa supaya lolos seleksi SRPI.
6 Januari 2016: Dapet email cinta dari imigrasi dapet surat sakti SRPI.
8 Januari 2016: Lodge ke AVAC, prosedur dan syarat bisa dilihat di sini.
12 Januari 2016: Dapat HAP ID untuk medical check-up di RS yang ditentukan Kedubes Australia.
14 Januari 2016: Medcek ke RS di Bintaro.
15 Januari 2016: Visa granted.
Total sekitar 4 bulan proses.

FAQ Work & Holiday Visa:
1. SRPI itu apa sih?
Surat Rekomendasi Pemerintah Indonesia yang dikeluarkan pihak imigrasi sebagai syarat mendaftar Work & Holiday Visa (WHV Australia).
2. Jadi apply visa-nya bukan ke Australia Embassy langsung?
Bukan. Harus lewat seleksi imigrasi dulu dengan syarat-syarat di atas.
3. Berapa lama dari registrasi online hingga dapat panggilan interview imigrasi?
Hanya pihak imigrasi dan Tuhan yang tahu. Bukalah website imigrasi tiap hari. untuk lihat pengumuman. Dengar-dengar sekarang imigrasi juga melakukan panggilan interview melalui email, untuk lebih aman, cek website juga.
4. Berapa lama dari interview hingga dapat SRPI?
Hanya pihak imigrasi dan Tuhan yang tahu. Rata-rata 2 bulan. Sabar ya.
5. Saya lulusan SMA, bisa ikut program ini?
Nggak bisa.
6. Usia saya sudah 30 tahun jalan, apa masih bisa ikut program ini?
Lah maksimal aja usia 30 tahun... Nggak bisa.
7. Apa semua berkas perlu ditranslate ke bahasa Inggris?
Nggak perlu.
8. Syarat bahasa Inggris harus IELTS? Kalau TOEFL boleh ngga? ITP boleh? TOEIC?
Harus IELTS atau lulusan universitas di luar negeri yang berbahasa pengantar English.
9. Tapi di website imigrasi masih ada pilihan TOEFL dan TOEIC.
Ya udah, kalau mau nggak lolos SRPI silakan. *ngambek, karena ini pertanyaan sering banget diajukan*
10. Saya lulusan sastra Inggris di kampus di Indonesia masih butuh IELTS? Kampus saya juga menggunakan bahasa pengantar English.
Iya. Tetap pakai IELTS.
11. Dana 5,000AUD itu berapa? Saya nggak punya dana segitu apa masih bisa?
Dalam rupiah sekitar 50,000,000. Tambahkan dengan tiket pesawat, anggaplah minimal 55,000,000 itu harus ada di tabungan. Kalau nggak punya, bisa menggunakan tabungan keluarga yang ada dalam 1 Kartu Keluarga dengan menyertakan surat khusus. Misal pinjam ke orang tua. Nggak punya juga? Cari uang dan nabung dulu aja yaaaa...
12. Saya sudah berkeluarga apa bisa ikut program WHV ini?
Tetap bisa ikut program ini selama tidak membawa anak-anak saat ke Australia. Kalau sudah menikah dan pasangan ingin ikut, bisa mendaftar juga selama sesuai syarat. Pendaftaran masing-masing, tidak pengaruh sudah menikah atau lajang, proses tetap sama.
13. Berapa lama visa berlaku dan kita bisa tinggal di Australia?
Satu tahun. (ada isu akan diperpanjang jadi 2 tahun, tapi baru isu)

Jadi, yang punya mimpi ingin merantau ke luar negeri dan ternyata satu spesies ‘manusia bodoh seperti saya, bisa coba WHV ini. Sebentar lagi saya insyaAllah berangkat. Yeeaayy... satu mimpi saya tercapai lagi, alhamdulillah. Doakan lancar ya. Daftar short-course yang akan saya ikuti sudah panjang. Hahaha...


ps: Saya bukan pegawai imigrasi atau agen visa. Boleh tanya-tanya di komentar dan akan saya jawab sesuai pengalaman pribadi, bukan jawaban resmi.

Love is real, real is love. -John Lennon-

Maret 31, 2016

Gerhana Matahari Total Itu...

0

Seberapa sering kamu menikmati pemandangan alam yang indah? Pegunungan hijau, pasir pantai nan halus, laut lepas, matahari terbenam, danau luas, taman bunga, atau makhluk-makhluk cantik di kedalaman lautan yang sulit terjangkau oleh manusia-manusia penghuni Ibu kota. Dari segala macam petualangan yang pernah saya coba, dari menyelam ke lautan sampai terbang menggunakan paralayang, melihat gerhana adalah salah satu mimpi sejak saya kecil. 

Saya tahu (secara teori) saat gerhana matahari total, maka sebagian bumi akan menjadi gelap. Sebagian lokasi kecil yang ‘beruntung’ menjadi wilayah umbra. Palu adalah salah satunya saat gerhana matahari total 9 maret 2016 lalu. Meski sempat ragu, toh akhirnya saya tetap memutuskan ke sana. Ekspektasi saya sederhana. Gerhana matahari merupakan fenomena ketika posisi Matahari-Bulan-Bumi berada dalam satu garis lurus. Astronom mana yang tidak hapal teori itu? Termasuk teori gelap tadi. 

Tanggal 9 Maret usai subuh, saya dan teman-teman Himpunan Astronomi Amatir Jakarta sudah meluncur dari penginapan menuju sebuah lapangan luas di lokasi pemukiman penduduk lokal daerah Dolo, Palu. Sesuai SOP di segala macam pengamatan benda langit, mulai dari persiapan teleskop, penentuan posisi (ga lucu kan pasang teleskop eh ketutup rimbun pohon), pasang-pasang filter, fokus-fokus bayangan, dan segala macamnya. Akhirnya terpasanglah lebih dari sepuluh teleskop. Selain untuk dinikmati oleh anggota, semua perangkat juga bisa digunakan penduduk lokal yang ingin ikut serta menikmati fenomena alam ini. Termasuk kacamata khusus gerhana matahari.

Menanti puncak gerhana menjadi waktu yang membuat gemes-gemes penasaran. Saya banyak ngobrol dengan penduduk sekitar yang ramah & menyenangkan. Antusiasme mereka akan astronomi selalu membuat satu sisi melankolis saya muncul. Menjelang pukul 7.30 (waktu lokal), rasa deg-degan makin menyeruak di antara semua masyarakan yang berkumpul di lapangan. Suasana perlahan berubah lebih dingin (seperti hawa maghrib). Aba-aba dari salah seorang anggota HAAJ yang menghitung mundur membuat semua perhatian tertuju pada Matahari.

5...4...3...2..1...Lepaskan kacamata!

BLEP!
GELAP.

photo taken by Rayhan, member of Himpunan Astronomi Amatir Jakarta
Berganti riuh suara seru-seruan takjub semua penonton menatap langit. Matahari di sana, tertutup Bulan.

Sungguh! Kalau ada salah satu peristiwa paling ajaib yang pernah saya alami, menatap gerhana matahari adalah salah satunya. Langit gelap menyisakan sedikit sinar redup di sekeliling Matahari. Temperatur dingin. Dan lihatlah mahakarya Tuhan, rasi bintang! Bintang-bintang dan planet bermunculan berkedip layaknya malam. Saya sendiri sesak napas dan ingin menangis saking takjub dan terpana. Subhanallah banget pokoknyaaaaa... 

The Diamond Ring!
Photo taken by Rayhan. Dia pakai ni foto buat ngelamar pacarnya.. Yang jomblo ke black hole aja... 

Dua menit terlalu singkat untuk menikmati fenomena alam raya ini. Anggota HAAJ kembali menghitung mundur agar penonton bersiap mengenakan kacamata gerhana mereka. Usai pertunjukan tersebut, kami semua bertepuk tangan. Ah, bahagianyaaaaaa....

fase-fase menjelang gerhana, taken by myself pakai teknik bayangan: nyata, terbalik, diperkecil
(hayo inget-inget teori lensa/cermin?)
astronom murtad
Himpunan Astronomi Amatir Jakarta

Palu itu alamnya indah banget lhoooo

Love is real, real is love. -John Lennon-

Februari 29, 2016

Gerhana Matahari 2009 & 2016

3

Februari sudah akan berakhir dan saya belum posting blog sekalipun. Banyak yang pengin ditulis sampai bingung mau nulis apa *intinya masih pemalasan*. 

Sesuai judul postingan, kali ini saya akan menulis yang agak-agak saintifik, membuka luka lama memori lama sebagai astronom murtad. Udah pada tahu kan kalau tanggal 9 Maret 2016 Indonesia akan dilewati oleh jalur gerhana matahari total (GMT). Untuk informasi-informasi detail, kalian bisa berkunjung ke tulisan sahabat-sahabat saya yang astronom sejati di langitselatan dan penjelajahangkasa. Di sini saya hanya ingin curhat *seperti biasa*.

Hasil jepretan amatir. Gerhana Matahari Cincin.
Pengalaman mengamati gerhana Matahari pernah saya alami di tahun 2009, tepatnya 26 Januari. Saat itu sedang ada fenomena Gerhana Matahari Cincin pada pukul 15.00-18.000. Saya dan teman-teman astronom (saat itu saya masih beneran astronom) melakukan pengamatan di wilayah Anyer. Yang menyenangkan dari tiap kali ada fenomena astronomi adalah kami berkesempatan untuk menyebarkan ilmu-ilmu astronomi ke wilayah-wilayah Indonesia yang bisa jadi kurang mendapat fasilitas pendidikan mumpuni. Kami membawa 'peralatan perang' seperti teleskop beragam ukuran, kamera beragam spesifikasi, kacamata khusus gerhana (pastinya), sampai perlengkapan workshop dengan bahan-bahan kimia.

Sebelum melakukan pengamatan gerhana, kami memberikan workshop-workshop seru untuk masyarakat atau siswa-siswa tentang ilmu astronomi terutama matahari. Contohnya seperti membuat mini sundial (jam matahari ala kuno dari 3500 sebelum masehi). Kemudian meracik ocean solaris untuk merefleksikan bagaimana sih sebenarnya proses yang terjadi di permukaan matahari nan superaksasa itu? Apakah matahari itu bola api, bola cahaya, atau bola naga? 

Selalu menyenangkan berbagi cerita & pengetahuan pada orang lain, apalagi anak-anak sekolah yang antusias. Plus, saya jadi kelihatan agak-agak intelek gitu~~ Berikut beberapa foto kenangan tahun 2009 saat Gerhana Matahari Cincin.

abaikan tato
fase gerhana & astronom murtad
Awalnya saya galau untuk ikut mengamati Gerhana Matahari Total tahun 2016 ini. Perkara waktu yang mepet banget dengan pekerjaan dan persiapan untuk pindahan ke benua lain sana. Tapi.. tapi.. Fenomena gerhana seperti kali ini baru terjadi lagi setelah 375 tahun! Meski mantan astronom, toh saya tetap tidak bisa mengabaikan panggilan jiwa itu.. So.. insyaAllah saya akan ke kota Palu untuk ikut menikmati fenomena langka Gerhana Matahari Total ini bersama teman-teman astronom lain.


Akan ada share foto-foto di instagram @rheinfathia. Kalau memungkinkan, saya akan live report juga melalui snapchat @rheinfathia. Yang di Palu, hayuk ketemuan.
sumber: langitselatan.com
ps: posting spesial tanggal kabisat #inipenting

Love is real, real is love. -John Lennon-

Januari 15, 2016

Finally, Granted!

5


Postingan pertama di tahun 2016, cuma mau curhat tentang berkah di hari Jum'at. Baru saja dapat email dari embassy kalau aplikasi visa saya disetujui. Yeeaayy! Akhirnya, mimpi & obsesi untuk bisa tinggal, belajar, bekerja, & mencari pengalaman di luar negeri tinggal selangkah lagi. Tinggal cari duit buat awal-awal tinggal di sana gitu.. Biaya hidup di luar benua Asia kan ya lumayan menguras rekening. 

Mau ngapain emangnya, Rhein? Yaaa.. yang pengen go Internasional bukan hanya Agnes Monica, penulis kelas 'butiran remeh chiki' kayak saya juga mau dong go internasyenel.. Rencana berangkat masih agak lama, soalnya masih harus cari sekretaris Direktur Tenda Destarata yang bisa gantiin kerjaan saya. Mudah-mudahan semua rencana dilancarkan.

Yeeeaayyy.. mau main saljuuuu... \^o^/

Love is real, real is love. -John Lennon-

Desember 31, 2015

Teleskop 2015

1


Kok teleskop?
Begini ya... Sebagai mantan astronom, saya pernah menggunakan teleskop sebagai alat optik untuk melihat benda-benda langit terutama bintang (zaman penelitian tugas akhir dulu). Cara kerja teleskop yang menggunakan cermin atau lensa adalah dengan menampung cahaya bintang dan sampailah ke mata (ini saya malas jelasin prosesnya secara saintifik dan kalian juga pasti malas baca). Karena jarak yang sangat jauh hingga ribuan tahun cahaya, justru cahaya bintang yang sampai ke mata saya itu merupakan cahaya yang terpancar ribuan tahun lalu. Mungkin saat ini bintang tersebut malah sudah meledak, meredup, dan menjadi bintang katai putih atau black hole. 

Maka sejatinya, mengintip teleskop adalah menilik masa lalu. Seperti postingan kali ini tentang apa-apa yang terlewati dalam hidup saya setahun lalu. 

Januari: Sidang thesis.
Februari: Novel Gloomy Gift terbit.
Maret: Wisuda.
April: Agak lupa, tapi lagi sering pergi-pergi jumpa pembaca dalam rangka tour promosi novel baru gitu deh..
Mei: Novel Dansa Masa Lalu terbit online gratis.
Juni: Tes IELTS yang hasilnya bikin sedih yagitudeh, tapi lumayan masih bisa buat daftar kuliah ke Yu-Rop mah.
Juli: Nggak datang ke semua acara buka puasa bersama karena sayang kalau ketinggalan tarawih di masjid.
Agustus: Jadi pegawai tenda Destarata yang baik.
September: Jadi pegawai tenda Destarata yang baik.
Oktober: Keliling ASEAN.
November: Prestasi nagih utang ke beberapa corporate rekanan tenda Destarata dengan nilai lumayan. Padahal ni corporate, Gustiii… ngaleuyeud pisan. Karena kata ortu saya, syarat jadi pebisnis itu bukan hanya bisa dagang, tapi juga harus bisa nagih utang. Seems like I was born to be an author and a debt collector.
Desember: Daftar haji.

Itu yang seneng-senengnya. Yang bikin sedih tahun ini juga ada.

1. Daftar kuliah, course, beasiswa ke 8 kampus & institusi di Europe. 7 dari 8 hasilnya gagal. Satu lagi belum ada pengumuman. Waktu pertama kali datang amplop berlogo sebuah institusi dan tertulis “We’re sorry….” Sungguh saya langsung mewek. Amplop-amplop selanjutnya, ahyasyudahlah...

2. Belum kesampaian beli rumah. Selain karena duitnya belum ada juga bingung mau beli rumah di mana.

3. Ngga kurban. Lagi-lagi saat itu rezeki finansial belum terpenuhi. 

4. Target penjualan Gloomy Gift tidak sesuai keinginan. Penyebabnya ya macam-macam lah, seperti karena kebijakan kalau ni novel hanya dijual di Pulau Jawa dan sedihnya tiap kali ada pembaca di luar Jawa yang pengen baca tapi nggak pernah nemu di toko buku di kota mereka.

5. Solat masih suka telat-telat dan ngaji nggak khatam sekalipun. Perlu digetok saya ini emang. Baca novel dalam setahun 50 biji aja mampu, masa ngaji nggak selesai.

Overall, tahun 2015 ini seimbang tawa dan tangis, apa yang dicapai dan apa yang belum digapai, yang pasti sangat sangat bahagia dan bersyukur dengan kondisi sekarang. Terus, apa sudah bikin resolusi untuk 2016? Udah dong... Kali ini mimpinya lebih besar dengan risiko besar pula. Bismillah...

HAPPY NEW YEAR!

Love is real, real is love. -John Lennon-