0 ikutan ngoceh

Everything Could be Solved

Ibu pernah bilang padaku, "Kamu kalau cari suami ya harus yang lebih baik dari Bapak, dong.". Dan jawabanku, "Tapi di mata tia, tetep aja bapak itu laki-laki terbaik.". Yupz, aku sangat sangat menganggumi Bapak, dan tidak bisa digantikan pria manapun. Semua sifat, sikap, tanggung jawab dan pribadi beliau banyak aku contoh.

Bapak selalu total dalam setiap pekerjaannya. Punya sifat perfeksionis memang. Segala hal harus sesuai aturan, rencana, proses baik, hasil baik. Hobinya adalah bekerja. Bener-bener nggak bisa diem deh meskipun hari libur. Sampai sekarang pun, aku masih sering melihatnya tidur larut karena menyelesaikan pekerjaan. Hobinya adalah semua hal yang berbau desain dan dekorasi. Kalau kalian main ke rumahku, bisa dilihat 80% furnitur di rumahku adalah buatan tangan bapak sendiri! Lemari, rak buku, kitchen set, meja kursi, dsb. Bahkan meja belajarku sekarang adalah bekas bapak dulu yang beliau buat sendiri. So, usianya lebih tua dari aku pastinya. Bagus, elegan, kuat dan awet.

Beliau pun mendidik kami untuk selalu bisa melakukan yang terbaik. Mungkin aku, sebagai anak sulung, yang sejak kecil paling banyak berinteraksi dengan beliau. Jadilah didikan 'must be perfect' itu selalu melekat. Pernah ada di postingku sebelumya, 9 vs 10. Beliau sosok yang tenang dan strategis dalam menghadapi masalah, sepelik ataupun banyak tekanan yang dihadapi. "Semua pasti bisa diatasi," ujar Bapak. Makanya, sangat menyenangkan untuk diskusi hal-hal strategis dengan bapak. Everything could be solved, memang benar. Dan didikan itu begitu melekat. Yang merupakan kelebihan, namun juga ternyata kelemahan.

Siapa sih yang nggak seneng melihat orang begitu struggle dengan hidupnya? Dapat menyelesaikan semua problem yang dihadapi. Itu kelebihan, karena tidak semua orang dapat seperti itu. Banyak orang lebih suka menyerah dan menerima keadaan. Namun, didikan 'Everything could be solved' pun ternyata punya kelemahan, because sometime I push myself too hard. For target and perfect. Ketika aku bilang harus bisa, ya berarti harus bisa. Harus, pokoknya! Jadinya stress dan panik sendiri. Dengan hasil yang tidak begitu memuaskan. Hahaha...

Aku memang belum bisa seperti bapak dengan prinsip 'Everything could be solved'-nya itu. Karena beliau bisa menjalaninya dengan tenang, ikhlas, dengan hasil yang baik. Tetap seimbang antara pekerjaan dan hiburan. Tidak panik dan merasa tertekan. Well, someday aku ingin bisa seperti bapak. Harus, pokoknya! Hahaha...

Love is real, real is love. -John Lennon-

1 ikutan ngoceh

Susah Curhat?

Ada banyak alasan kenapa gw susah curhat sama orang. Pertama, karena gw masih ngerasa masalah yang gw hadapi nggak sesulit masalah orang. Okay, ada yang pernah bilang ini tanda orang sombong karena nggak mau berbagi. Karena masalah orang lain bisa saja sepele menurut kita dan masalah kita sepele bagi orang lain. Karena itu, butuh saling curhat untuk berbagi. Gw juga suka merasa orang lain pasti sibuk sama masalah-masalahnya dan ngapain juga gw curhat malah nambah masalah mereka.

Kedua, gw ga suka dihakimi. Jujur, gw benci banget di judge sama orang. Okelah gw juga sadar diri gw juga pasti pernah ngejudge orang baik sengaja ato nggak. Tp gw selalu meminimalisir hal itu. Orang curhat itu hanya butuh didengar pada awalnya. Mereka nggak selalu butuh solusi, apalagi solusi yang men-judge dan ga penting. Contohnya seperti ini,

Gw    : Aduh, pusing gw ngerjain skripsi.
si A    : Emang kenapa?
Gw    : Gw masih kesulitan nurunin rumus.
si A    : Ya belajarlah!

Dodol! Mau gw solat tahajud setahun berturut-turut juga gw ga akan pernah bisa nurunin tu rumus kalo gw nggak belajar. Ya gw tau itu musti dipelajari.

Ketiga, karena dari dulu gw sudah terlalu sering dianggap nggak bersyukur. Tiap kali gw curhat tentang masalah yang gw hadapi -yang mungkin bagi orang lain sepele-. Seringkali banyak dari mereka bilang, "Ya ampun, lu tuh kurang apa sih? Lu orang mampu, pinter, kuliah di UI, sukses, penulis novel, temen lu banyak. Nggak bersyukur banget sih lu??". Helloooww... Emangnya masalah hanya muncul pada orang yang nggak mampu, yang ga pinter, yang bukan kuliah di UI, yang nggak punya temen?

Entahlah, bagi gw tiap orang itu punya hak kok untuk menceritakan masalahnya. Sekecil apapun itu. But well, tidak semua orang punya 'telinga', tapi semua punya 'lidah'.

Thanks untuk para soulmate yang selalu denger semua curhat gw. Kalian jauh di mata dekat di hati dan rugi di ongkos kalo mau ketemu =))
Love is real, real is love. -John Lennon-

4 ikutan ngoceh

Aku Seneng Pacaran sama Kamu

Aku seneng pacaran sama kamu dengan usia kita yang nggak beda jauh. Kamu satu tahun di atasku, membuatku hormat dengan semua kedewasaan, kebijaksanaan, dan kesabaran kamu dalam ngemong aku. Namun juga tetap membuatmu menghargai aku dengan tidak bersikap ngatur ini itu ataupun meremehkan dan menganggapku anak kecil.

Aku seneng pacaran sama kamu dengan kondisi akademis yang sama. Mahasiswa semester akhir yang sedang diberi anugerah terindah yang pasti dialami setiap mahasiswa S1 yaitu tugas akhir alias skripsi. Membuat kita bisa saling merasakan betapa crowded, stuck, worry, under pressure, sampai nangis segala. Okay ini lebay, yang nangis cuma aku. Dan dibalik itu semua, aku menikmati saling supportnya kita.

Aku seneng pacaran sama kamu karena kamu anak IPS. Meski obrolan sering nggak nyambung, tapi aku benar-benar merasa bebas ketika curhat, mengeluh, memaki, sambil nangis-nangis tentang betapa sulitnya belajar fisika meski itu hal paling gampang sekalipun. Tidak perlu khawatir kamu akan berkata "Masa' hal gampang kayak gitu aja nggak ngerti, sih?!". Okay, my last men did it, make me scare and feel I'm the stupidest girl in the world.

Aku seneng pacaran sama kamu meski kita long distance. Cinta berat diongkos kata orang. Well, sebenernya nggak gitu juga kalau bener-bener mau dihitung. Pacaran jarak deket juga berat diongkos karena hampir tiap hari ketemu dan ujung-ujungnya nongkrong ngobrol-ngobrol sambil makan, apalagi kalau ditambah sering jalan-jalan. Dan kita beruntung dengan privider yang menawarkan tarif murah hingga masih tetap bisa komunikasi. Ketemu setahun 2-3 kali, wajar lah ya.. Yang terpenting, hemat waktu. Kamu sibuk dengan duniamu, pekerjaanmu, semua aktivitas yang mengembangkan potensimu sendiri tanpa perlu mikir "ntar musti jemput yayank pulang kuliah" atau "yayank minta anter ke sini, situ, sono.". Begitu pula denganku. Masing-masing dari kita sama-sama berkembang tanpa saling mengganggu.

Aku seneng pacaran sama kamu dengan kondisi kehidupan kita yang sama. Status mahasiswa dengan kondisi keuangan pas-pasan membuat kita sama-sama rajin mencari penghasilan dari pekerjaan freelance dan serabutan. Dari situ, kita sama-sama bisa melihat usaha gigih dan sikap tanggung jawab terhadap diri sendiri, minimal. Hal-hal kecil yang nantinya menentukan hal besar di masa depan.

Aku seneng pacaran sama kamu karena kita sama-sama yakin, kalau kita ini pasangan hebat.
Love is real, real is love. -John Lennon-

1 ikutan ngoceh

Life is Love and Just for Fun

Apa versi kehidupan dan kebahagiaan menurutmu? Banyak teman kah? Banyak uang kah? Kesuksesan di pekerjaan? Banyak selingkuhan? *Uppzz...* Well, tiap orang punya versi bahagia menuurut pola pikir mereka masing-masing. Pun Rhein yang punya asumsi "Life is Love and Just For Fun". Terkesan menyepelekan dan tidak menghargai hidup kata beberapa orang. Rhein anggap saja mereka hanya berpemikiran pendek lah ya... :p

Kita lahir di dunia ini, menghirup nafas kehidupan, karena adanya cinta. Terkesan klise memang. Namun kelahiran kita di dunia disambut suka cita, didoakan oleh para malaikat, disambut keluarga. Lalu dimulailah, episode kehidupan dengan kita sendiri sebagai pemeran utama. Menapaki hidup, dengan segala daya upaya. Belajarlah kita tentang apa itu pertemuan, perpisahan, kehilangan, kesedihan, jatuh cinta, perjuangan. Wow.. What a wonderfull life! Dan apa yang kita dapat? Ah, terlalu naif jika kita mengkalkulasikan nikmat dan kebahagiaan yang Tuhan beri secara matematis.

Yang pasti, rencana Tuhan selalu indah. Karena Tuhan Maha Baik, karena Tuhan miliki banyak cinta dan tidak pernah menyakiti hamba-Nya. Lalu, bahagiakah kita? Ah, sebagai manusia kita terlalu sering mengeluh dan memaki keadaan yang ada. Fitrah memang, karena manusia punya banyak keterbatasan.

Rhein pernah membaca novel Musashi, cerita tentang samurai Jepang zaman dulu. Salah satu tokoh pendeta bernama Takuan pernah berkata, "Orang yang bahagia di akhirat nanti, adalah  mereka yang bahagia pula di dunia.". I really love that quote! Kalau dipikir-pikir, masa iya sih manusia yang bahagia di akhirat alias masuk surga adalah manusia yang di dunianya aja nggak bahagia? Manusia yang sering mengeluh, sering iri, serakah, sombong, banyak maunya, malas, de-el-el. Hellow... Di dunia aja nggak bahagia apalagi di akhirat coba??

So, sejak itu Rhein mulai belajar untuk selalu bahagia dalam kehidupan. Meraih bahagia dengan rasa syukur, sikap ikhlas, mencintai dan berbagi pada sesama, berusaha menggali potensi untuk kehidupan yang lebih baik, menjadikan dalam setiap hembus nafas adalah kebahagiaan. Memang, dalam kehidupan akan ada rasa kecewa, rasa sedih, dan terjatuh berkali-kali. Tapi salah seorang sahabatku bilang, "Tenaga yang banyak dan waktu yang panjang ga ada artinya ketika akhirnya kamu sampai disana....". So, ujung-ujungnya toh kita akan bahagia juga dalam kehidupan ini.

Terlalu mubazir dan rugi energi lah kalau kita menghabiskan waktu hidup ini hanya untuk bersusah-susah. Hellowww.. Siapa sih yang mau hidup susah? Tiap orang pasti pengen bahagia, kan? Tergantung dari bagaimana usaha mereka untuk meraihnya...


Love is real, real is love. -John Lennon-

2 ikutan ngoceh

Step Ahead!

Banyak yang bilang, akhir-akhir ini aku makin cantik, lebih fresh, makin segar *yang nggak setuju silahkan angkat jemuran karena sekarang emang lagi musim hujan* :p . Huuummm... Tipsnya? Hanya merasa lebih bahagia, bersyukur, sehingga banyak tersenyum dan lebih pede.


Liku-liku yang dulu adalah dulu bagiku.  
Aku melangkah lagi dengan pasti! (Vina P- Melangkah Lagi)


Love is real, real is love. -John Lennon-

5 ikutan ngoceh

Mommy, I can't Cook...


Setelah natal hingga Tahun Baru, Rhein pergi jalan-jalan untuk liburan. Tujuan utama sih *ehemm* ketemu pacar. So, berangkatlah naik bis sore hari dari Bogor menuju Semarang. Rhein yang hampir tidak pernah melakukan perjalanan jauh menggunakan bis *Fans berat kereta api*, merasa agak deg-degan. Nyampe nggak ya? Ntar kalau ketiduran dibangunin ga ya? Nanti ga diturunin di tengah jalan kan ya? Semoga ga ada tabrakan, dll. Dan kekhawatiran yang terjadi adalah Rhein masuk angin! Oh God, AC-nya bener-bener nggak nahan.

Sampai Semarang, seru lah seru. Hampir tiap hari jalan-jalan sama *ehemm* pacar. Plus bareng temen-temen yang lain juga ke tempat-tempat wisata yang pastinya ngga ada di Jakarta, Depok atau Bogor. Kalau di Depok, Jakarta, Bogor adanya kan wisata mall ya... But, bukan cerita tentang tempat wisata yang akan Rhein bahas kali ini. Rhein mau cerita tentang di rumah *ehemm* pacar.

Jadi ceritanya, mbakyu (kakaknya *ehemm* pacar) baru saja melahirkan anak keduanya, putri kecil yang cantik. Bisa dilihat di foto itu lucu banget kan, baik sang bayi atau pun Rhein sama-sama lucu tentunya *bletak!*. Karena itu Ibu camer mau bikin syukuran, masak-masak untuk dibagikan ke tetangga-tetangga. Karena Rhein kebetulan lagi di Semarang juga, alhamdulillah dunk ya bisa bantu-bantu. So, ceritanya Rhein membantu Ibu camer masak. Ibu camer mau masak urap.

Pertama-tama, Rhein diminta mengupas wortel. Sumpah! Gw lupa kapan terakhir kali ngupas wortel. Pastinya tidak dalam 2 tahun terakhir ini. Tapi alhamdulillah gw masih inget caranya, dan hasilnya juga lumayan *menurut Rhein*. Meski waktu ngupas wortel tuh seriuuuusss banget. Takut tuh pisau kepleset. Beres kupas mengupas, giliran memetik daun. Jujur, Rhein ga tau daun yang buat urap itu daun apaan. Mau tanya, kok ya malu. Halah, yang penting dipetik dulu lah ya... Beres memetik, Ibu camer bilang, "Itu wortelnya dirajang.". Untung kuping gw nggak dengernya dirajam *Hahaha..*. Cuma, gw kira dirajang itu dipotong-potong biasa. Ternyata eh ternyata, diiris tipis-tipis. MAMPUS! Sumpah gw ga bisa... Sampe akhirnya Ibu camer bilang lagi, "Bisa ngga? Nanti malah luka. Ya udah, sini sama ibu aja. Kamu itu aja, timun nya dionceki". Gw meringis, maluuu... Plus lagi-lagi bingung. Dionceki itu diapain??? Sambil mengingat-ingat kosakata bahasa Jawa tentang arti dionceki itu gw mikir dan cuma ngelus-elus tu timun. Finally, nyerah! Dan bertanyalah sambil senyum, "Bu, dionceki itu diapain?". Mengertilah Rhein kalau maksudnya dikupas juga.

Selesai masak memasak, langsung lah Rhein sms ke Ibu di Bogor kalau baru aja beres bantuin Ibu camer masak, tapi nggak bisa. Dan ibu pun membalas "Hahaha... terulang lagi deh. Ibu juga dulu di tes masak sama nenek malah bikin rujak. Yah... terus terang ajalah...". GUBRAKZZ!! Like mother like daughter...

Dipikir-pikir, lucu ya.. Gw sekolah tinggi-tinggi tapi di dapur keok begitu. Gw tau persamaan Schrodinger, tapi ga tau nama daun untuk bikin urap. Gw bisa nurunin rumus, tapi ga bisa nge-rajang wortel. 


 Love is real, real is love. -John Lennon-

3 ikutan ngoceh

Sherlock Holmes, Baker Street 221B


Kebanyakan penggemar buku, pasti kenal dengan Sherlock Holmes, detektif hebat karangan Sir Arthur Conan Doyle itu. Dengan ciri khas mantel, topi, serta cangklong, menjadikannya icon detektif cerdas yang dapat menyelesaikan kasus apapun.

Rhein mengenal Sherlock Holmes zaman SMP. Waktu lagi seneng-senengnya baca novel detektif mulai dari Agatha Christie, Enid Blyton, Alfred Hitchock, dll. Seneng banget lah sama novel-novel berbau detektif gitu. Biasanya beli novel-novel gitu di toko buku loak. Karena jarang banget terbitan barunya. Nah, waktu denger berita munculnya ada film Sehrlock Holmes tuh, langsung niat banget deh WAJIB nonton. Cuma setelah premier, di Bogor adanya tayang pas midnight. Dan akhirnya, baru kamis lalu deh kesampaian bisa nonton om Sherlock ini sama berondong langganan. Hahaha...

Kesan setelah nonton? GREAT! Memang ada beberapa hal berbeda seperti tokoh Sherlock di novel adalah sosok rapi sedangkan di film sangat berantakan. Lalu dalam serial atau novel lebih mengedepankan sikap tenang, hanya perang pemikiran serta strategi namun di film ini cukup banyak action. Dr. Watson yang dalam cerita adalah tokoh pendek gendut serta penyabar, Jude Law yang memerankan adalah sosok tinggi dan tidak penyabar. Sherlock Holmes yang 'anti' wanita, Robert Dawney Jr menampilkan peran jatuh cinta pada wanita pencuri cerdik. But at least, tetep film yang keren!

Dengan setting kota London abad 19 yang masih banyak tersebar sekte-sekte keagamaan, di film ini bener-bener kerasa banget pertarungan antara pemikiran, logika sama mistis dan supranatural. Nggak hanya itu, di film juga mengajarkan untuk melihat detail hal-hal kecil dan berpikirlah secara tenang-logis-sistematis dalam melihat problem apapun. Karena ketika logika berjalan dengan baik, semua masalah ada jalan keluarnya.

So, FIGHT WITH YOUR BRAIN! YOUR SMART BRAIN!

Love is real, real is love. -John Lennon-