Tahun Pertama Belajar Gambar

Belajar satu skill baru tiap tahun menjadi ide seru sejak saya ulang tahun ke 30. Rasa-rasanya, usia 20an itu untuk explore dunia, dan usia 30an untuk explore diri sendiri. Daftar skill yang sudah saya pelajari;

2017: Main ukulele

2018: Bikin tas handmade dari kulit

2019: Masak 

2020: Menjahit


2021: Menggambar


Ibarat kelas TK, skill menggambar saya tuh nol besar. Padahal Bapak arsitek, adik-adik jago desain dan melukis. Ya saya ngikut Ibu yang jago bercerita dan ngatur duit (LOL). But if I want to learn drawing, I should try. 

Modal utama adalah buku tutorial How to Draw Almost Everything by. Chika Miyata. Di awal dijelaskan teori menggambar, pemanasan agar membentuk kebiasaan, jenis-jenis alat gambar, pemilihan warna, dll dsb. Selanjutnya tentu tinggal mengikuti step-step menggambar tiap bentuk. Mudah banget diikuti bahkan untuk saya yang ble’e banget. Untuk alat gambar, saya menggunakan pensil mekanik dan beberapa jenis alat mewarnai: crayon, pensil warna, spidol, dan pensil warna yang bisa jadi cat air. Koh-i-Noor Hardmuth jadi brand yang saya pilih karena produk asli Czechia dan menurut hasil nonton Youtube, hasilnya bagus-bagus. Harga juga terjangkau untuk nubitol. 

Bulan pertama menggambar, ribet banget cuma bikin garis lengkung atau kuping hewan doang, ya ampun. Gambar-hapus-gambar-hapus, gitu aja terus. Di sini saya menemukan hal menarik, saya selalu membuat garis tegas, cepat, dan ketika tidak sama persis dengan buku tutorial, saya akan kesal dan hapus. Padahal tiap orang, tiap tangan, bahkan tiap waktu, itu kan pasti ada perbedaan. You just need to keep drawing and you’ll see improvement. Kemudian, saya menggunakan teknik garis halus ala bikin sketsa, perlahan, lebih sabar, bahkan mengganti pensil mekanik dengan alat warna langsung supaya lebih hati-hati karena susah dihapus. 

Kata Angie, halaman gambar serangga di atas mirip buku pelajaran biologi (LOL). Saat menggambar kategori ini, saya belajar tentang detail, simetri, presisi, dan memadukan pensil mekanik serta spidol. Happy pas lihat hasilnya. Ternyata saya bisa juga menggambar kupu-kupu dan laba-laba cantik.

Menggambar hewan laut dengan teknik cat air supaya lebih terasa suasana ke-water2an. Menggambar hewan besar ternyata susah karena jari saya harus menjangkau ruang yang lebih luas dan rentan tremor. Selain itu, saya ternyata nggak suka crayon. Pensil warna dan cat air masih lebih mudah untuk dipelajari.

Pas banget gambar session kingdom flora ini ketika musim panas saat banyak bunga bermekaran warna warni. Summer surely pretty. Menggunakan teknik gambar dengan pensil warna langsung, saya belajar menakar ketebalan garis serta teknik arsiran supaya terlihat halus. Beberapa saya coba mencampur warna dengan cat air tapi ternyata skill saya jauh dari mumpuni (ya menurut lo).


From paper to screen, technology has been made trend to digital drawing. Seorang teman sesama nubi bilang, "Kalau digital drawing lebih banyak pilihan warna, nggak terbatas 24 atau 48." Padahal mah alat mewarnai kalau dipegang Bapak saya yang jago, jumlah sedikit pun bisa dicampur jadi beragam warna-warni. Ini mah emang kami yang amatir. LOL. Tapi toh saya terpincut hasutannya juga dan mulai belajar digital drawing. 


Hal penting dari digital drawing mengingatkan saya akan creative writing. The significant key of art relay on artists' idea and technique. Menggambar di layar menggunakan aplikasi itu banyak kemudahan; saya bisa bikin lingkaran tanpa mletat-mletot, garis yang lurus, lengkungan rapi, mewarnani tanpa keluar garis, plus beragam jenis brush yang bisa langsung diaplikasikan dengan beragam ukuran. Nggak perlu kayak Bapak yang mau melukis butuh persiapan beragam jenis kuas. Tapiii saya hanya bisa sampai tahap meniru. Belum sampe skill saya ke 'tutup mata, dapat ide, lalu menuangkan dalam gambar penuh ketekunan dan kesabaran'. Mirip-mirip kalau saya nulis, lah (ya saya kan nulis udah dari SD, gambar baru mulai pas usia 33). 

(Belajar color tone dan teknik sapuan brush)

Kenapa sih, belajar skill baru? Pertama, karena naturalnya saya emang hobi penasaran, curious aja gitu. Kedua, untuk relaxing di waktu senggang. Perkara waktu senggang ini tricky, lho. Memilih aktivitas yang salah di waktu senggang bisa jadi bukannya recharge energy tapi 'ya biasa aja gitu'. Melihat kucing-kucing lucu di instagram itu menyenangkan, tapi bagi saya hanya mengisi energi yang sedikit karena tidak memiliki kepuasan di sana, tidak belajar hal baru, tidak ada excitement. Mengisi waktu dengan main ukulele latihan satu lagu baru, membuat saya excited karena ada progress baik dalam diri sendiri. Atau dengan baca buku, ada input serta inspirasi baru masuk ke otak. Menggambar hal-hal sederhana juga bikin saya happy karena setelahnya ada perasaan, "wah, ternyata bisa!" Kalau masak sih sudah pasti bikin saya kenyang. 

(bikin wallpaper hp ala-ala)

Saya ini introvert, cara mengisi 'baterai' yang efisien adalah dengan melakukan aktivitas yang fokus pada menyendiri. Bagi beberapa orang, nonton youtube yang ada aktivitas orang lain mungkin jadi pilihan mengisi waktu senggang, tapi bagi saya tidak karena ada manusia lain di sana. Apalagi aktivitas war-comment di sosial media dengan orang asing, yang ada malah jadi low-bat :)).


Meski tidak berharap punya skill secanggih Bapak, saya hanya berharap bisa istiqomah belajar.

Love is real, real is love. -John Lennon-

Comments

Rd said…
kok keren sih, dan targer satu skill per tahun iitu bener2 keren, teh
Rhein Fathia said…
Makasih, om Warm.. Niatnya biar tiap tahun ada yang seru-seru 😄

Popular posts from this blog

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Giveaway & Talkshow with Nulisbuku Club