Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari Mei, 2017

When It Comes to Sex

It could be pleasure or danger.
As a girl who come from Indonesia and grew up in moslem family, sex still become taboo to discuss in any communities, even friendly chit-chat. I didn’t get enough sex education (yes, I attended biology class, but I hate biology, so I didn’t learn that much) and my parents were very strict about any media we consumed especially about violence and sexuality (I watched Titanic after I reached 19 years old because my Mom said there’s inappropriate scenes and I allowed to watch it after my age pass 17 years old. Titanic released when I was in elementary school).
When I came to Australia and my friend asked what forbidden in Islam and I mentioned we can’t have sex before married, she just surprised. “But you can kiss, right?” she asked. I replied, “If you want to strict to the rule, not even shakehands.”
Since I got friends from different countries and learn about their culture, then I knew that sex is something usual; common thing, human need basis, somethi…

Money & Manners

One thing money can't buy: Manners.
Pekerjaan sebagai waitress di Australia memberi saya kesempatan untuk bertemu banyak manusia dengan beragam latar belakang. Teman sesama pegawai, pemilik restoran, dan pengunjung menjadi objek menarik untuk diobservasi. Saya bekerja di empat restoran berbeda (kita sebut saja: Mawar, Melati, Anggrek, dan Cempaka) dengan karakteristik pegawai, pemilik, dan pengunjung yang berbeda. 
Restoran Mawar Terletak di dalam gedung perkantoran, restoran mungil ini hanya memiliki 2 pegawai; saya dan seorang barista. Fungsi utama restoran ini memfasilitasi semua pegawai yang bekerja di kantor tersebut. Tidak hanya melayani pengunjung yang datang untuk mengisi perut, tiap hari restoran juga memfasilitasi pesanan katering untuk beragam macam rapat, pertemuan, bahkan training pegawai baru. Karena barista tidak bisa meninggalkan mesin kopi, sudah menjadi tugas saya wara-wiri melakukan pekerjaan lain mulai dari cuci piring sampai naik turun lift melayani pesanan. 
S…

Moment of Silence

A moment of silence between after subuh pray until I get up to have my coffee.
It took an hour or two.
A moment when I had myself alone.
A moment when I turned off my phone.
A moment when I opened the door to balcony and sit on my bed.
A moment when I needed to control my breath.

Another moment of silence when I had my coffee.
Sat in dining room and saw the sky through the window.
Sometimes I was lucky and saw the mountain.
Most of the time there’s only rain.
I loved the warm when I hold my cup.
Took a sip and enjoyed the caffein’s effect to my heart.
Long black. Bitter. Everyday.

One day my Mom interupted and suddenly said, "You have moments to get closer with God, Teteh.“
I smiled. I think she knew.
If one day I become a mother, will I have that sixth sense too?
Or maybe not.

Moment of silence.
To build the wall. That had been broken.

Love is real, real is love. -John Lennon-

I'm Aging Like A Fine Wine

"Never be ashamed." he said. "Accept what life offers you and try to drink from every cup. All wines should be tasted; some should only be sipped, but with others, drink the whole bottle." "How will I know which is which?" "By the taste. You can only know a good wine if you have first tasted a bad one." Paulo Coelho, Brida.
Di negeri Koala, minuman ber-alkohol termasuk murah dengan varian rasa beragam. Suatu hal yang tidak mengejutkan karena Australia berada di peringkat ke-4 sebagai eksportir wine di seluruh dunia. Saya yang di Indonesia hanya mengenal bir bintang, cukup terpana saat datang ke Liquorland (supermarket yang khusus menjual minuman beralkohol) yang menyajikan banyak pilihan. Bergaul dengan banyak teman dari beragam negara tentu membuat saya mengetahui tiap negara memiliki minuman beralkohol yang khas. Jepang dengan sake, Cina dengan arak, Korea dengan soju, Eropa yang lebih populer dengan bir, dan Australia memiliki beragam pilihan wi…

Yang Berbeda: Orientasi Seksual dan Ras

Suatu kali di kelab malam, lantai dansa selalu menjadi tujuan utama saya untuk bergoyang. Lampu gemerlap, musik berdentam, dan di antara kerumunan saya melihat seorang perempuan rupawan dengan rambut indah panjang. Ia mengerling, mata kami bertemu. Tanpa ragu, gadis itu menarik saya untuk menari berpasangan. Beberapa pria melihat kami begitu asyik dan tertarik untuk mendekat, perempuan itu dengan setengah malas menghalau tak berminat. Seiring musik menghentak, kami berdansa makin semangat. Kami tertawa, saling sentuh menggoda, sesekali gadis cantik itu memeluk saya, tangannya serta merta meraba pinggul dan paha. Dengan alasan berpose selfie, pipi dan bibir saya pun diciumnya. Sampai ketika jemarinya berkelana ke bagian intim, saya merengkuh kedua pipinya dan berkata, "I'll go buy drinks. Okay?" 
Melanjutkan postingan sebelumnya, Australia tidak hanya menyuguhkan cerita tentang perbedaan agama. Kali ini saya akan bercerita tentang perbedaan lain yang jarang ditemui selama…