Langsung ke konten utama

Pos

Menampilkan postingan dari 2017

Does Love Exist?

You're such a lame with that question, Rhein.
Lame. Lame. Laaammmee.
Well, I am.

I searched for love in my journey.
And it turned out that I always said, "Love just exist in movies and my novels."

One year later,
I met them...


I got the answer.
Yes, love does exist. It took time and just rare.
As long as they're happy & healthy, that's all enough for me.

I wish I could be as wise as my Mom and as patient as my Dad.

Love is real, real is love. -John Lennon-

When It Comes to Sex

It could be pleasure or danger.
As a girl who come from Indonesia and grew up in moslem family, sex still become taboo to discuss in any communities, even friendly chit-chat. I didn’t get enough sex education (yes, I attended biology class, but I hate biology, so I didn’t learn that much) and my parents were very strict about any media we consumed especially about violence and sexuality (I watched Titanic after I reached 19 years old because my Mom said there’s inappropriate scenes and I allowed to watch it after my age pass 17 years old. Titanic released when I was in elementary school).
When I came to Australia and my friend asked what forbidden in Islam and I mentioned we can’t have sex before married, she just surprised. “But you can kiss, right?” she asked. I replied, “If you want to strict to the rule, not even shakehands.”
Since I got friends from different countries and learn about their culture, then I knew that sex is something usual; common thing, human need basis, somethi…

Money & Manners

One thing money can't buy: Manners.
Pekerjaan sebagai waitress di Australia memberi saya kesempatan untuk bertemu banyak manusia dengan beragam latar belakang. Teman sesama pegawai, pemilik restoran, dan pengunjung menjadi objek menarik untuk diobservasi. Saya bekerja di empat restoran berbeda (kita sebut saja: Mawar, Melati, Anggrek, dan Cempaka) dengan karakteristik pegawai, pemilik, dan pengunjung yang berbeda. 
Restoran Mawar Terletak di dalam gedung perkantoran, restoran mungil ini hanya memiliki 2 pegawai; saya dan seorang barista. Fungsi utama restoran ini memfasilitasi semua pegawai yang bekerja di kantor tersebut. Tidak hanya melayani pengunjung yang datang untuk mengisi perut, tiap hari restoran juga memfasilitasi pesanan katering untuk beragam macam rapat, pertemuan, bahkan training pegawai baru. Karena barista tidak bisa meninggalkan mesin kopi, sudah menjadi tugas saya wara-wiri melakukan pekerjaan lain mulai dari cuci piring sampai naik turun lift melayani pesanan. 
S…

Moment of Silence

A moment of silence between after subuh pray until I get up to have my coffee.
It took an hour or two.
A moment when I had myself alone.
A moment when I turned off my phone.
A moment when I opened the door to balcony and sit on my bed.
A moment when I needed to control my breath.

Another moment of silence when I had my coffee.
Sat in dining room and saw the sky through the window.
Sometimes I was lucky and saw the mountain.
Most of the time there’s only rain.
I loved the warm when I hold my cup.
Took a sip and enjoyed the caffein’s effect to my heart.
Long black. Bitter. Everyday.

One day my Mom interupted and suddenly said, "You have moments to get closer with God, Teteh.“
I smiled. I think she knew.
If one day I become a mother, will I have that sixth sense too?
Or maybe not.

Moment of silence.
To build the wall. That had been broken.

Love is real, real is love. -John Lennon-

I'm Aging Like A Fine Wine

"Never be ashamed." he said. "Accept what life offers you and try to drink from every cup. All wines should be tasted; some should only be sipped, but with others, drink the whole bottle." "How will I know which is which?" "By the taste. You can only know a good wine if you have first tasted a bad one." Paulo Coelho, Brida.
Di negeri Koala, minuman ber-alkohol termasuk murah dengan varian rasa beragam. Suatu hal yang tidak mengejutkan karena Australia berada di peringkat ke-4 sebagai eksportir wine di seluruh dunia. Saya yang di Indonesia hanya mengenal bir bintang, cukup terpana saat datang ke Liquorland (supermarket yang khusus menjual minuman beralkohol) yang menyajikan banyak pilihan. Bergaul dengan banyak teman dari beragam negara tentu membuat saya mengetahui tiap negara memiliki minuman beralkohol yang khas. Jepang dengan sake, Cina dengan arak, Korea dengan soju, Eropa yang lebih populer dengan bir, dan Australia memiliki beragam pilihan wi…

Yang Berbeda: Orientasi Seksual dan Ras

Suatu kali di kelab malam, lantai dansa selalu menjadi tujuan utama saya untuk bergoyang. Lampu gemerlap, musik berdentam, dan di antara kerumunan saya melihat seorang perempuan rupawan dengan rambut indah panjang. Ia mengerling, mata kami bertemu. Tanpa ragu, gadis itu menarik saya untuk menari berpasangan. Beberapa pria melihat kami begitu asyik dan tertarik untuk mendekat, perempuan itu dengan setengah malas menghalau tak berminat. Seiring musik menghentak, kami berdansa makin semangat. Kami tertawa, saling sentuh menggoda, sesekali gadis cantik itu memeluk saya, tangannya serta merta meraba pinggul dan paha. Dengan alasan berpose selfie, pipi dan bibir saya pun diciumnya. Sampai ketika jemarinya berkelana ke bagian intim, saya merengkuh kedua pipinya dan berkata, "I'll go buy drinks. Okay?" 
Melanjutkan postingan sebelumnya, Australia tidak hanya menyuguhkan cerita tentang perbedaan agama. Kali ini saya akan bercerita tentang perbedaan lain yang jarang ditemui selama…

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …

Life is Better with Friends

Friendship is complicated. Yes, this is for you. Welcome to your tape. Lhah, kok jadi Hannah Baker?
“Hi, is this seat empty? Can I sit here?” Orang di hadapan saya mendongak. “Yeah, sure!”
Percakapan di atas menjadi sebuah kebiasaan tiap kali tinggal di hostel selama saya di Australia. Hampir semua hostel backpacker memiliki ruangan luas multifungsi merangkap dapur, ruang makan, nonton TV, perpustakaan, bahkan ada yang punya meja billiard. Dari kenalan dengan satu orang saat sarapan, kemudian malamnya kenalan dengan orang lain dan mengajak si orang-saat-sarapan bergabung, lalu ia pun mengajak temannya, apalagi ditambah teman satu kamar. Begitulah biasanya pertemanan antar backpacker terjalin.
Skill berteman. Satu hal yang saya pelajari selama setahun ke belakang. Saat memutuskan merantau, saya sadar bahwa saya tidak bisa hidup bergantung pada keluarga. Bukan hanya urusan materi tapi juga hati #halah. Menjalin pertemanan adalah salah satu cara untuk bertahan hidup. Baik untuk sama-sama…

Don't Judge a Book By Its Tattoo

Menurut cerita Ibu, di era mantan presiden Soeharto ada sebuah operasi pembunuhan massal yang dinamakan Petrus atau penembak misterius. Operasi yang dikomandoi ABRI ini bertujuan memberantas siapa pun yang diduga menjadi penyebab keresahan masyarakat. Culik, tembak, tinggalkan mayatnya. Kala itu, banyak preman-preman ketakutan dan menyelamatkan diri dari incaran Petrus. Salah satu cara yang dilakukan adalah menghapus tato yang sudah dirajah di tubuh mereka. 
Secara umum masyarakat Indonesia masih menganggap tato sebagai sesuatu yang dikaitkan dengan hal negatif. Sebagian orang menghubungkan tato dengan premanisme, kekasaran, kenakalan remaja, meskipun mereka tatoan tapi tak pakai narkoba. Apalagi kalau tato gambar sangar sebadan-badan. Saya akui saya pernah punya mindset seperti itu. 
Saat traveling ke Pattaya, saya pernah berkenalan dengan seorang gadis Rusia yang berprofesi sebagai tatto artist. Dia traveling ke banyak negara dan mencari uang dengan cara merajah siapa saja yang mau…

One Year Later

The Astronaut has landed at home after one year travel. Happy. Safely. She got a lot of experience she need including some scars -of course, but every scar tells a story and -in a good way, it looks sexy.
Usai kurang lebih 13 jam perjalanan Melbourne-transit Kuala Lumpur-Jakarta, akhirnya saya kembali merasakan pelukan Ibu, Bapa, dan Bani yang menjemput di Soekarno-Hatta. Saya pun mengabari banyak teman dengan pesan singkat “Gw udah balik Indo. I’m home. I arrived safely. etc.” Kemudian pagi ini, hari pertama bangun tidur di rumah dengan perasaan tenang tanpa bertanya-tanya, “Sekarang gw lagi ada di mana ya?”(Percayalah, terlalu sering traveling, pindah-pindah hostel atau tempat tinggal, kadang membuat saya bingung akan situasi tiap bangun tidur).
Setahun ke belakang menjadi fase Long Vacation dalam hidup saya. Kalau pernah ada yang nonton dorama Jepang dengan judul sama, kira-kira seperti itulah gambaran filosofinya. Setelah kerja kantoran, lanjut kuliah S2, lulus, daftar kuliah lag…

Waitress Abal-Abal

Hari terakhir menjalani karir sebagai waitress abal-abal #halah.
Akhirnya, usai sudah kisah cinta pekerjaan saya sebagai waitress. Dari duluuuuu banget, saya suka membayangkan kalau tinggal di luar negeri pengen kerja di restoran dan malamnya kuliah. Kayaknya seru aja gitu jadi waitress ketemu banyak macam-macam orang apalagi kalau ada drama-drama lucu macam Penny di The Big Bang Theory atau Max di Two Broke Girls. Eh, selama di Australia ini terkabul dong.

Sejak sebelum berangkat ke benua selatan, pekerjaan part-time yang saya incar ada dua: waitress dan guru bahasa Indonesia. Ternyata yang terkabul hanya yang pertama dengan kesempatan bekerja di satu kafe dan dua restoran. Bulan Juni saya bekerja di Sette Cafe, Oktober-Januari di Fremantle Bakehouse, Februari-Maret di Jimmy’s Recipe. 
Menjadi waitress abal-abal di negeri kanguru bagi saya menyenangkan meski kalau restoran rame capeknya bisa bikin kaki kram. Rutinitas yang saya kerjakan meliputi melayani order pembeli, bersih-bersih…

The Chronicle in Fremantle

Pada suatu hari, salah seorang sahabat saya mengirimkan gambar di atas. Sebagai anak sok petualang, saya pun berkeyakinan bahwa suatu hari harus mencoba. Bukan hanya sekadar wisata, tapi benar-benar harus mencoba hidup di suatu tempat yang tidak satu pun tahu siapa saya dan tidak seorang pun yang saya kenal sebelumnya. 
Usai lima bulan tinggal di Sydney dan mulai bosan (serta hampa plus lelah kebanyakan klabing #plak), saya pun berpikir saatnya menjelajahi tempat baru. Ide di gambar itu pun kembali muncul. Pilihan destinasi tertuju ke kota Fremantle yang gaulnya disebut Freo. Sebuah kota kecil dengan jarak 30 menit menggunakan kereta dari Perth City, Western Australia. Tidak banyak informasi yang saya dapat tentang kota ini sebelumnya karena saya malas googling. Dalam pikiran saya hanya, “Okay, I’ll go!”
Berbeda dengan saat pertama kali ke Australia, saya benar-benar penuh rencana. Ada teman bareng naik pesawat, sampai Sydney akan ada yang jemput, saya punya tempat tinggal sementara,…

Simple Girl

I rarely bring fancy handbag, backpack still the most comfortable for me.
I don't have pretty wallet. Even mine is simpler than men's wallet, the small one for cards and a little money inside.
I don't wear branded dress. I bought when I need it, the cheap one or discount price, as long as it fit and comfy.
I do love make up. I choose nude and natural look colour, then put them inside travel size pocket. I still want to look pretty when I take selfie.
My shoes, sure it should be high quality because I wear them everyday for my journey. Good shoes, healthy feet, amazing journey.
I'm a simple girl in appearance, but pretty sure not in experience.



Love is real, real is love. -John Lennon-

Rottnest Island, A Paradise

Surga itu ternyata hanya berjarak 30 menit dari tempat saya tinggal sekarang, Fremantle.
Setelah sekian lama saya selalu membanggakan pantai-pantai di Bali dan 3 Gili yang belum ada memandingi keindahan mereka di semua pantai yang pernah saya temui, akhirnya saya menemukan pulau surga lain: Rottnest Island. 
Berbekal izin libur dari pak Bos, saya dan Kiyomi berangkat ke Rottnest untuk piknik setelah dua minggu kerja rodi di restoran saat musim liburan akhir & awal tahun yang oh-my-god kenapa tamu nggak berhenti-berhenti dateng?! Kami membeli tiket di hari selasa agar dapat separuh harga yang tiketnya bisa dibooking di sini. Saya tahu orang-orang bilang Rottnest indah dan menyenangkan terutama pantainya, tapi tidak mau berekspektasi besar karena dari pantai-pantai yang pernah saya kunjungi di Asia Tenggara dan Australia selama ini, belum ada yang se-memuaskan Bali dan 3 Gili (yang udah ke Raja Ampat, ga usah komentar. Saya belum kesana). Kemudian, sampailah kami di Rottnest dan...…