Langsung ke konten utama

Seru-Seruan Main Ukulele

Hubungan saya dan alat musik ibarat pencarian jodoh alias susah nemu yang pas. Padahal saya suka nyanyi sejak kecil. Pernah belajar gitar, berhenti karena jari luka-luka. Belajar keyboard, jari kanan-kiri sering nggak sinkron. Belajar biola, aduh leher saya pegel. Belajar piano, saya pusing liat not balok (dan jari-jari tetep nggak sinkron). Paling mentok saya agak mahir main suling dan pianika di sekolah. Tapi gimana saya bisa nyanyi?

Saat di Australia, saya semakin menyadari bahwa menyanyi dan main alat musik menjadi salah satu cara paling cepat kalau kepepet butuh duit sebagai backpacker. Tinggal ngamen di pinggir jalan dan banyak doa supaya orang-orang lewat terhibur lalu mau ngasih uang. Pulang ke Indonesia, saya membuat resolusi tahun ini harus bisa main alat musik (karena resolusi bisa masak sudah terlalu mainstream meski gagal tiap tahun). Pilihan saya akan alat musik cukup sederhana: gampang dibawa-bawa, bisa mengiringi saya nyanyi, nggak bikin sakit anggota tubuh, harga murah. Tadinya Angie menyarankan saya main kecrekan, tapi kok semacam kurang tantangan untuk belajarnya (waaeeek). Daaaann pilihan saya jatuh pada ukulele!


Saya nggak punya sense of nada. Jadi untuk setting atau tuning nada dasar menggunakan versi digital dengan apps Ukulele Tuner Free. Tinggal petik satu senar bisa ketahuan nada sudah pas atau belum. Mempelajari chord-chord dasar ukulele bagi saya nggak terlalu sulit. Lagu pertama yang saya pelajari adalah City of Stars nya La La Land karena emang suka banget sama lagu ini. Selanjutnya (selain googling) saya menggunakan apps Tabs untuk kumpulan lagu serta chord ukulele.
Ukulele tuner free apps android
Dua bulan main ukulele, rasanya ternyata menyenangkan! Saya biasa latihan malam-malam sebelum tidur dan sesekali upload di story instagram. Saya juga pernah ikut workshop dasar ukulele bareng @ukuiki. Kalau lagi iseng kadang upload cover lagu-lagu sederhana di instagram (@rheinfathia). Selain itu, sekarang kalau traveling pasti nggak lupa bawa ni ukulele. Nggak sampai harus ngamen di negeri orang sih, tapi at least saya bisa nyanyi-nyanyi geje kalau di hotel atau saat menunggu sesuatu. Cara lain menghibur diri saat sepi selain membaca buku.

Ngamen berapa lama ya supaya bisa dinner chyantik di kapal atas gedung itu?
Untuk yang ingin belajar alat musik tapi masih sangat amatir kayak saya, ukulele ini patut dicoba. Terus, udah bisa main City of Stars, Rhein? Yaaa... meski sering out of tune, tapi lumayan.


Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Nhae Gerhana mengatakan…
Wuiiihhh..langsung jagoo nih kayanya maen ukulele..hehe..

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

9 Things to Do for WHV Indonesia When Arrived in Australia

Sebenarnya saya udah lama ingin nulis ini, meski nggak sesibuk teman-teman WHV warrior lain, toh saya terkendala penyakit malas. As usual. Nah, berhubung sekarang lagi day off dan hawa-hawa di perpustakaan ini bikin pengen nulis, saya mau share beberapa hal yang perlu dilakukan saat awal hidup di Australia (Sydney, tepatnya) saat menjalani Work & Holiday Visa.
Beli Kartu Bukan kartu gaple ya. Saat mendarat di bandara Sydney, akan banyak ditemukan counter-counter provider ponsel. Saya milih kartu Vodafone, alasannya selain karena konon katanya menurut gosip sinyalnya paling kenceng, juga pada saat mau beli eh lagi ada diskon gitu, paket $50 cukup bayar $30. Nah, kartu sim di Australia ini agak sedikit berbeda dengan di Indonesia. Sistemnya paketan dengan harga berbeda. Misalnya, saya pakai paket $30 dengan masa berlaku 28 hari, gratis telpon & sms ke semua nomor Australia, paket internet 2 GB plus bonus, dan pulsa $30. Ini nggak pernah habis, lho. Karena saya seringnya pakai wi…