Langsung ke konten utama

Iseng Bareng FujiFilm X-A3

Ceritanya pas kapan itu saya lagi stress. Terus yang namanya cewek biasanya kalau stres pengen belanja gitu tapi saya bingung. Mau belanja baju nggak suka. Beli sepatu? Saya termasuk picky urusan sepatu dan males aja kalau beli hanya karena lapar mata dan malah dibuang. Tas? Masih punya banyak tas yang jarang dipake. Hp? Yang sekarang masih berfungsi. Laptop? Masih fit banget. Makanan? Udah keseringan jajan dan berat badan saya malah ngedrop 6 kilo dalam waktu kurang dari 2 bulan (satu hal yang saya suka dari stress). Ribet banget sih Rhein mau belanja doang. 

Terus akhirnya ujug-ujug beli kamera (bye tabungan). Meski rada telat karena sekarang saya lagi cuti traveling (gaya lo, orang-orang mah cuti kerja buat traveling). Sebagai manusia dengan kemampuan fotografi sekadar selfie, Fuji Film X-A3 ini agak terlalu mewah sih. Karena kebanyakan saya pakai buat iseng jepret tanpa teknik, rekam video ge-je, sok-sokan bikin vlog yang isinya ketawa-ketawa doang, bikin ala-ala unboxing padahal yang dibuka box biskuit, rekam cover lagu dengan suara pas-pasan (pas didenger nggak enak ternyata). Intinya ini smart camera for dumb photographer. Apalagi pas beli diajarin semua fiturnya sama si abang penjual bahkan dia ngasih nomor WA-nya kalau-kalau saya mau belajar fotografi sama dia (ciye bang, jangan modus yak).

Lalu awal Juni lalu teman saya udah selesai kuliahnya di Australia dan sebelum balik ke Korea, dia mampir dulu ke Indonesia untuk ketemu saya. Kemudian tercetus ide untuk bertukar kebudayaan Korea dan Indonesia dalam bidang bahasa. Supaya pertemanan kami agak produktif dan kamera ini agak berguna gitu. Niatnya sih supaya siapa pun bisa belajar kalimat-kalimat sederhana dari bahasa Korea dan Indonesia. Beginilah hasilnya.

Rempong dan kocak ternyata bikin ginian


Vlog pertama masih kaku dan nervous. Ini video diambil di Kebun Raya Bogor siang hari (karena bisa buat latar belakang yang bagus). Nggak pakai teknik apa-apa, nggak pakai microphone eksternal ala-ala vlogger hits. Yang saya suka dari kamera ini layarnya bisa dibalik ke depan (apa ya istilahnya) bisa buat selfie. Jadi pas rekam video bisa rada-rada kontrol muka. Cuma klik tombol merah, rekam! Edit video juga cuma pakai iMovie yang udah ada di macbook, tambahin musik dikit (thanks to Bani yang udah ngajarin dan ngasih ide ini itu).
amatir sok serius

pulang kantor tiba-tiba pengen nyanyi (kualitas video akibat kegaptekan pemilik)

Selamat mudik semuanyaaa!! :D

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

9 Things to Do for WHV Indonesia When Arrived in Australia

Sebenarnya saya udah lama ingin nulis ini, meski nggak sesibuk teman-teman WHV warrior lain, toh saya terkendala penyakit malas. As usual. Nah, berhubung sekarang lagi day off dan hawa-hawa di perpustakaan ini bikin pengen nulis, saya mau share beberapa hal yang perlu dilakukan saat awal hidup di Australia (Sydney, tepatnya) saat menjalani Work & Holiday Visa.
Beli Kartu Bukan kartu gaple ya. Saat mendarat di bandara Sydney, akan banyak ditemukan counter-counter provider ponsel. Saya milih kartu Vodafone, alasannya selain karena konon katanya menurut gosip sinyalnya paling kenceng, juga pada saat mau beli eh lagi ada diskon gitu, paket $50 cukup bayar $30. Nah, kartu sim di Australia ini agak sedikit berbeda dengan di Indonesia. Sistemnya paketan dengan harga berbeda. Misalnya, saya pakai paket $30 dengan masa berlaku 28 hari, gratis telpon & sms ke semua nomor Australia, paket internet 2 GB plus bonus, dan pulsa $30. Ini nggak pernah habis, lho. Karena saya seringnya pakai wi…

Backpacker Thailand Trip (part 4): Grand Palace - Asiatique

Rhein itu kebiasaan deh, kalau posting tentang backpacking pasti ngga beres dari berangkat sampai pulang. Seringnya kepotong setengah-setengah karena alasan yang entah apa. Mungkin ini mengidentifikasi kalau Rhein tipe orang yang cepet move on yah.. Hehehe.. 
Untuk Backpacking Thailand ini udah diniatkan harus ditulis sampai tamat! Soalnya ini backpacking berprestasi yang mengeluarkan budget murah, ke luar negeri pula. Baiklah, mari kita lanjutkan cerita-cerita backpackingnya dengan membongkar ingatan. Yang belum baca part sebelumnya ada di sini, di sini, dan di sini, ya.
Hari keempat di Thailand dan kembali ke Bangkok lagi. Pagi-pagi sekitar jam 8 Rhein udah siap mandi, dandan cantik, dan siap untuk wisata kebudayaan. Saat turun ke lobi, Rhein dikasih tahu sama penjaga penginapan bagaimana rute ke Grand Palace yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Khaosan Road dan jangan tertipu sama orang-orang yang menawarkan tuktuk atau mengatakan bahwa Grand Palace tutup. Ih sumpah pemilik &…