Langsung ke konten utama

Perempuan dan Cerita Pengantar Tidur


Saat membaca buku ini, saya teringat Bayik.

Saya membayangkan pada suatu hari nanti diberi kesempatan untuk bertemu Bayik lagi saat dia sudah paham berkomunikasi, kembali menemaninya sebelum terlelap tidur, lalu kami bersama-sama membaca cerita-cerita dalam buku ini. 

Buku ini berkisah tentang 100 perempuan hebat di dunia. Kisah nyata, bukan fiksi, tentang bagaimana perempuan-perempuan menghadapi problematika sesuai realita yang ada. Dari perempuan yang lahir sebelum zaman masehi sampai generasi milenial. Mereka yang terlahir di kalangan rakyat biasa sampai seorang ratu. Ada yang berasal dari keluarga kaya, ada pula yang ditempa dengan kehidupan sehari-hari di antara desing peluru.

Melalui buku ini, saya ingin bercerita pada Bayik bahwa dilahirkan sebagai perempuan memiliki tantangan hidup tersendiri. Dengan keterbatasan fisik yang lebih lemah dibanding pria, penilaian masyarakat yang terkadang membuat perempuan sulit berekspresi atau menggali potensi, aturan ini-itu yang membatasi gerak dengan alasan norma dan agama yang sudah dimanipulasi.


Saya ingin Bayik memahami bahwa satu benang merah dari seluruh cerita dalam buku ini adalah mereka semua pemberani. Berani beropini, berani belajar, berani mengungkapkan pikiran dan perasaan, berani berekspresi, berani berpetualang, berani berbeda, berani bereksperimen, berani mengalahkan ketakukan sendiri, berani melintasi lautan ganas demi bertahan hidup. Kisah-kisah dalam buku ini menunjukkan bahwa perempuan bisa dan perlu menjadi sosok yang cerdas, memiliki cita-cita, lembut hati, mandiri, berambisi, mau menggali potensi, percaya diri, lihai bernegosiasi.


Saya ingin Bayik belajar bahwa hidup juga tentang menjadi apa pun yang dia ingin, serta bermanfaat bagi diri sendiri dan lingkungan. Saya ingin Bayik paham bahwa dalam perjalanan menggapai cita-cita, dia akan bertemu orang-orang yang akan melumpuhkan semangat, sesama kaum perempuan yang merayu “ngapain kerja di terik panas, kalau bisa merengek syantik ‘halalkan aku, mas...'”. Saya ingin Bayik yakin bahwa dia dilahirkan di dunia untuk sebuah tujuan mulia. 

Buku ini cocok dibaca untuk anak-anak perempuan, gadis remaja, perempuan dewasa, bahkan para pria dan waria. 

Me & Bayik
"Reserve your right to think, for even to think wrongly is better than not to think at all." ~Hypatia.
Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …