Langsung ke konten utama

Menulis vs Menerbitkan Tulisan

Rhein lagi pengen nulis agak serius.

Sehubungan dengan banyak banget penulis-penulis (pemula) yang sering tanya tentang bagaimana cara menerbitkan karya, gimana supaya tulisan tembus penerbit, minta diajarin nulis novel, de-el-el, Rhein mau share sedikit tentang dunia tulisan dan penerbitan. Meluruskan sedikit kesalahpahaman yang sering dialami oleh penulis (pemula) akan dunia penerbitan buku. Di sini, Rhein mau bilang bahwa:

Menulis dan menerbitkan karya adalah dua hal yang berbeda

Camkan itu. Dalam topik ini, penulis yang gw sasar adalah penulis pemula yang karyanya belum melanglangbuana secara luas dan penerbit yang dimaksud adalah penerbit major (bukan self publishing).

Menulis cerita, itu mudah. Tulis saja cerita keseharian dari bangun tidur sampai mau tidur lagi. Curhat. Jadilah sebuah cerita. Menulis cerita yang enak dibaca banyak orang, itu susah. Untuk sampai pada tahap ini, seorang penulis membutuhkan referensi, banyak membaca, riset mendalam, dan waktu. Jam terbang, mungkin itu istilahnya.  Menulis cerita yang enak dibaca banyak orang dan diterbitkan untuk kalangan luas, ini lebih susah. Why? Karena ada banyak hal yang perlu dipertimbangkan, dipikirkan, dirangkum, dianalisis. Banyak penulis yang masih kurang paham dan merasa blur mengapa karyanya tidak bisa terbit atau ditolak penerbit berkali-kali. Ada sebagian yang merasa putus asa, sebagian lain tetap gigih berusaha. Namun, kedua reaksi itu tidak akan memberi efek apa-apa jika penulis tidak mau menganalisis di mana letak ketidakpahaman mereka.

Rhein coba urai satu per satu berdasarkan pengalaman pribadi ya..

Persaingan

Yang mau jadi penulis tenar itu banyak. Ciyuss?? Cungguh! Dari beberapa pengalaman Rhein sering menclok ke forum-forum penulis, banyak banget penulis yang pengen karyanya diterbitkan dan dijual di toko buku. Ada rasa bangga tersendiri, itu pasti. Banyak penulis pemula yang merasa karyanya sudah bagus, sudah puas dan merasa enak dibaca, sering dipuji di kalangan komunitasnya, dan membuat mereka tidak sadar bahwa di luar sana BUANYAAAKK penulis yang sama seperti mereka atau lebih canggih dari mereka.

Selain dari forum-forum kepenulisan yang menjamur, persaingan juga terlihat dari banyaknya naskah yang masuk ke penerbit. Dalam satu bulan buanyak sekali naskah yang masuk dan harus diseleksi editor. Jadi, jangan merasa kamu sudah menulis dan dikomentari bagus sama temen-temen, lalu dengan mulus sampai di meja editor. Hohoho, tidak kawan... Sadarilah, meloloskan tulisan hingga terbit selayaknya  ikut tes SNMPTN. Yang ikut ribuan, yang lolos paling ratusan.
Tulisan Rapi
Coba bayangkan, ketika kamu menjelma sebagai editor yang menerima sebuah naskah dan berisi:
Ad cwo yg W n4ks1r beud dech. d0i kEr3n b4N6eT!!!!!! t4J1r m4mpuuuusss!!!!!! KECE BADAAAAAAIIII!!!!! Trus, W sm dy tuch 1 kls 'n sring plng b4reng kl bl1k skul. kekny sich d0i tw kl W n4ks1r, coz d0i sk beud ngsh prh4tian lbh gt ke W. duch, ap d0i n3ks1r W jg eeaaa?????
Katakan gw lebay, masak ada yang ngirim naskah kayak gitu? Tapi serius, ADA!! Di era digital yang serba praktis ini, kita dihadapkan pada cara berkomunikasi selain suara juga teks. SMS, chatting messenger, BBM, WhatsApp, Line, dll. Cara kita berkomunikasi dengan teks pun tergantung pada kebiasaan. Nah, banyak penulis pemula yang masih membawa kebiasaannya ber-chatting ria pada saat mereka menulis naskah. Ada yang nulisnya huruf kecil semua. Ada yang lempeng aja tanpa paragraf, jeda, atau perbedaan narasi dan percakapan. Ada yang tanda serunya banyak banget!!!!!!!!! Ada juga yang ngasih tanda tanya ciyuuuuusss?????? Atau banyak banget titik.............

Kembali ke persaingan tadi. Kalau kamu kirim naskah dengan ketikan acak-acakan. Udah pasti dibuang sama editor. So, menulislah dengan rapi. Biasanya tiap penerbit punya standar sendiri untuk penulisan. Rata-rata adalah kertas A4, huruf Times New Roman 12pt, spasi 1,5, margin 3 cm. Itu standar ukuran. Nah, standar tulisan rapi, pakai huruf besar di awal kalimat, jangan lupa titik, tanda baca (?!.) maksimum 3 biji, dll. Pokoknya, standar pelajaran Bahasa Indonesia dari zaman SD sampai SMA, deh.

Target Penerbit yang Kurang Tepat
Banyak penulis pemula yang merasa karyanya sudah bagus dan ngiler karena melihat sosok penulis-penulis lain jadi tenar di penerbit X. Lalu, dikirimlah olehnya karya tersebut ke penerbit X, padahal isi ceritanya beda jauh dengan penulis-penulis yang udah tenar itu. Sudah pasti, tulisannya ditolak. Contoh, penerbit Bukune yang jelas-jelas menyasar buku remaja dan lifestyle, jangan kirim tulisan tentang agama ke sana. Mungkin tulisanmu akan dibaca, ditelaah, tapi kemungkinan diterbitkan sangat kecil. Why? Kan yang penting tulisan gw bagus. Ya, tulisanmu bagus, tapi tiap penerbit punya sasaran pembaca masing-masing. Mereka punya brand dan ciri khas dari karya-karya yang sudah diterbitkan. Kalau nerbitin buku yang nggak nyambung, ya nggak laku. Penerbit itu badan usaha profit, bisnis, mereka nggak akan menerbitkan buku yang nantinya nggak laku. Loh, kan belum dicoba? Ya nggak perlu dicoba lah ya... Mereka kan punya study market dan analisis juga...

Jadi, pelajari  masing-masing penerbit. Gimana caranya? Baca buku-buku yang mereka terbitkan. Sesuaikan apakah tulisanmu cocok dengan "karya yang biasa mereka incar"? Perhatikan dari segi tema, setting, taste, usia, genre, de-el-el. Pelajari, analisis, putuskan.

Tidak Sesuai Tren
Ini yang terkadang sulit bagi penulis pemula. Mereka kadang menulis dan mengirim karya sesuai dengan daya khayal saja. Ini tidak salah. Namun, untuk diterbitkan, penerbit juga biasanya melihat tren yang sedang booming. Dulu waktu menerbitkan Jadian 6 Bulan, karya Rhein itu pas banget karena lagi booming teenlit. Setelah ada novel Ayat-Ayat Cinta, booming novel-novel dengan latar negeri Arab dan Timur Tengah. Rhein nggak mengirim dan menerbitkan karya saat itu karena merasa belum mampu. Kalau Rhein mengirim naskah teenlit lagi, kemungkinan besar nggak akan diterbitkan.

Tulisanmu mungkin sudah bagus. Tapi kalau nggak sesuai tren, sulit untuk bersaing di pasaran. Jadi, penerbit lebih memilih untuk tidak menerbitkan. So, pelajari tren. Caranya? Sering-sering main ke toko buku dan buka radar Neptunus selebar-lebarnya.

Tulisan Tidak Logis
Imajinasi memang tanpa batas. Namun bukan berarti tulisanmu diperbolehkan untuk tidak logis. Logis di sini adalah dalam hal plot, alur cerita. Semua orang pasti tahu Harry Potter dengan segala cerita imajinasinya. Nah, dalam dunia nyata, tentu dunia Harry Potter itu tidak logis dan tidak akan terjadi. Tapi, alur cerita Harry Potter itu tetap logis sehingga ia bisa terbit menjadi novel yang gigantis sekali efeknya.

Ada hal-hal remeh yang seringkali dilupakan penulis pemula sehingga membuat karyanya tidak logis. Misalnya, cerita si cowok baru saja mengalami kecelakaan super parah. Saat masih di rumah sakit, ia mendengar gadisnya diserang preman. Dengan secepat kilat ia keluar dari rumah sakit untuk menyelamatkan layaknya pahlawan. How come?? Orang yang baru kecelakaan itu menolong diri sendiri aja sulit apalagi menolong orang lain? Atau misalnya si tokoh di awal cerita memiliki karakter periang tapi bodoh, jangan tiba-tiba di akhir cerita demi menyelamatkan sang kekasih dari cengkraman si jahat, dia harus ikut lomba cerdas cermat yang membutuhkan IQ tinggi, lalu bisa menjawab semua soal sulit. Aneh kan? Hal-hal kecil seperti ini yang penting diperhatikan. Contoh tulisan Rhein yang nggak logis itu novel online Dansa Masa Lalu. Banyak yang bilang ceritanya seru dan manis, tapi buat Rhein banyak hal nggak logis sehingga gw sadar diri nggak akan kirim ke penerbit. 

Saran Rhein, kalau mau cari inspirasi tulisan jangan dari sinetron Indonesia, nggak logis. Apalagi dari cerita di stasiun TV Indos*ar yang cerita rakyat tiba-tiba ada Betmen sama Joker. Dijamin kalau tulisan kamu kayak gitu, nggak lolos terbit...

Kepala Batu
Ini sebenarnya lebih pada kepribadian penulis itu sendiri. Saat karya kalian dinyatakan lolos dan akan terbit, penulis akan bekerja sama dengan editor, artistik (yang bikin cover), ilustrator, dll. Nah, penulis memang punya hak untuk memberi masukan ingin karyanya dieksekusi seperti apa. Namun, pahamilah bahwa penerbit yang memiliki keputusan pada akhirnya. Itu hak mereka karena penerbit lebih tahu dan lebih banyak pengalaman dalam dunia penerbitan buku. Ingat, buku kamu yang akan diterbitkan itu bukan hanya untuk kamu atau komunitasmu yang membaca. Tapi masyarakat luas! Penerbit lebih tahu selera pasar dan pasti memikirkan yang terbaik juga untuk karya kamu nantinya. Mereka juga nggak mau rugi dengan menerbitkan buku yang nantinya nggak akan laku.

Rhein pernah kerja sama calon penulis kepala batu ini. Ujung-ujungnya tentu pihak penerbit tempat Rhein dulu bekerja nggak jadi menerbitkan bukunya. Belum lagi kalau karya tersebut sudah dicetak dan sampai di tangan pembaca. Wuiiihh,, kritik mereka akan lebih pedas dan kejam. Jadilah penulis yang rendah hati... :)
 
my first novel
Begitulah kira-kira penjelasan mengapa banyak penulis yang merasa kok karyanya susah banget tembus penerbit atau ditolak berkali-kali. Sedikit curcol, banyak orang yang merasa heran kenapa Rhein dulu pertama kali nulis novel Jadian 6 Bulan, pertama kali kirim ke penerbit, terus langsung terbit. Ajaib! Hoki banget! Ya karena gw merangkum dan menganalisis semua poin-poin di atas, cyyynn... Cukup cerdas lah otak gw memikirkan itu semua saat masih kelas 2 SMA *songong kumat*.

Begitulah.. Menulis dan menerbitkan karya adalah dua hal yang berbeda. Tiap orang bebas menulis apa yang ada dalam otak dan hati mereka. Namun, tidak semua bisa terbit menjadi buku dan layak jual.

Writing is easy. Easy reading is hard writing. Publish your writings is even harder. So, keep writing, learning, and never give up! :)

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Vira Cla mengatakan…
Dear Astronaut,

Aku baru pertama kali ini berkunjung ke pesawat ulangalikmu. Kalau gak salah, kamu yg menang lomba Mizan Qanita kmrn ya? Selamat ya.. :)

Tulisanmu sangat bermanfaat. Tks ya udah sharing. I'm on my way, anyway. :D
dinikopi mengatakan…
Kayaknya sangat kenal dengan karakter bahasa Rhein deh. Semacam admin @gradien kah? :)))))
rhein fathia mengatakan…
@Vira Cla:
Dear Alien Vira.. Thanks for coming! :D Yup, aku yang beruntung menang lomba kemarin.. Kamu tetep semangat nulis juga ya... :)

@dinikopi:
Hahaha... Nope! :D
Novye Sparkyu mengatakan…
postinganmu sangat bermanfaat dan sangat membantu.terima kasih ya!
Anonim mengatakan…
Seven days'na rhein fathia keren :D
Chaedar Rizal mengatakan…
Terima kasih sudah berbagi ilmu, Mbak Admin.. :) Sangat menginspirasi. Salam

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …