Langsung ke konten utama

Backpacker: Lombok (Praya-Mataram-Senggigi)


Horeee... Akhirnya Rhein pulang setelah satu minggu melakukan perjalanan Bali-Lombok. Acara ke Bali tentunya merupakan hadiah dari Penerbit Mizan atas kemenangan novel Seven Days. Rhein dapet wisata literer untuk datang ke acara Ubud Writers Readers Festival. Untuk acara kepenulisan itu, Rhein share nanti dulu, ya... Soalnya harus buka-buka catatan lagi. Hehehe.. Ini cerita lanjutan waktu solo backpacker ke Lombok dan Gili Trawangan. Apa? Solo? Yap! Gw backpackeran sendirian, cyyyynnn...

Day 1: Minggu, 7 Oktober 2012
Perjalanan dari Bali menuju Lombok menggunakan Wings Air dalam waktu sekitar setengah jam. Cuaca sore hari cerah, menyenangkan, meski ada beberapa penumpang yang bikin sebal karena saat pesawat akan landing, mereka sudah teleponan dan BBMan (DOH!). Are they stupid or what?? Sampai di Bandar Udara Internasional Lombok Praya, lagi-lagi Rhein dikejutkan oleh banyaknya orang yang menonton di luar bandara. Nonton apaan, sih? Nggak tahu, ya... Ya nonton pesawat dan orang-orang yang dateng gitu, deh. Menurut informasi yang pernah gw baca sih emang penduduk di sekitar Praya masih menganggap bandara adalah bangunan yang wah. Sehingga mereka sering datang dan tampak asyik seperti berwisata di sekitar bandara.

Sampai di bandara, tujuan Rhein selanjutnya adalah kota Mataram dengan angkutan bis Damri seharga Rp 15,000. Awalnya sih mau langsung ke Kuta, tapi karena susah angkutan umum yang murah dan menurut teman backpacker yang sudah ke Kuta, penduduk di sana agak rawan kejahatan (apalagi gw sendirian), maka gw memutuskan menginap di Mataram saja. Oiya, sebelum bis Damri berangkat, ada yang nggak kalah menghebohkan. Di bandara lombok, tiba-tiba ada orang mabuk ngamuk dan mau menghajar polisi dengan balok kayu panjang! Nah loh.. Syok kan ya gw? Di bandara Internasional ada orang mabok ngamuk! Saat ada ribut-ribut itu, para penduduk yang lagi 'berwisata' pun langsung menyerbu untuk nonton orang mabuk tadi. Ehm... Sambutan yang cukup meriah.

Perjalanan Praya-Mataram sekitar 1 jam. Sampai di pool Damri, lanjut naik ojeg 10,000 ke penginapan backpacker bernama Hotel Ayu Jaya di Jl. Subak 1 Cakranegara, seharga 70,000/malam. Fasilitas kasur bersar, TV, kipas angin, lemari, kamar mandi di dalam. Nyaman lah untuk tidur mah.

Day 2: Senin, 8 Oktober 2012
Pagi-pagi sekali, setelah sewa motor seharga 60,000 yang ternyata menurut penduduk di sana sebenarnya itu harga mahal, Rhein berangkat hendak menuju Kuta. Perjalanan pagi hari cukup menyenangkan, udara segar, jalanan mulus dan ramai layaknya aktivitas Senin pagi, meski tidak seramai Jakarta pastinya. Oiya, berkendara di Lombok harus mengandalkan GPS dari gadget karena rambu-rambu lalu lintas di sana nggak lengkap. Saat sudah setengah jam perjalanan sampai di daerah Kediri, cerita horor mulai terjadi! RHEIN KECELAKAAN!

Kejadiannya terasa cepet banget. Saat itu Rhein masih enak-enak nyupir motor di jalur lambat, sebelah kiri, selayaknya kalau mengendarai motor. Tiba-tiba, Rhein lihat seperti ada tumpahan air di sepanjang jalan. Entah kenapa, jalanan tiba-tiba terasa licin, motor oleng hebat, nggak bisa di-rem, dan Rhein terpelanting! Nggak cukup sampai di situ, selain terpelanting dan guling-guling di aspal, Rhein juga terseret motor yang posisinya ada di atas tubuh gw. Yang bisa Rhein lakukan saat itu hanya jerit-jerit Allahuakbar, terbayang wajah Bapak-Ibu, dan sudah ikhlas kalau pun harus dipanggil yang Mahakuasa. Huhuhu... T_T. Entah berapa puluh meter terseret sampai akhirnya motor berhenti dan gw masih hidup! Gw membayangkan, kalau nggak pakai helm, sepertinya sudah wassalam, karena pas terpelanting itu kerasa banget benturan di kepala.

Orang-orang di sekitar sana langsung nolong Rhein. Ternyata, yang Rhein sangka air tumpah itu aslinya OLI! Plus menurut orang sekitar situ, sebelumnya udah ada yang jatuh terpeleset juga. Ih, sebel kan gw! Kenapa nggak ada rambu atau polisi yang jaga untuk mengamankan gitu??? Ada seorang bapak-bapak tua baik hati yang ngajak Rhein ke UGD untuk diperiksa. Luka-luka lecet efek terseret aspal itu cukup menyeramkan. Lengan baju robek-robek, kaus kaki robek, tas robek, dari ujung kaki, tangan, bahu, sampai bibir, luka-luka semua berdarah. Belum lagi badan yang lebam-lebam warna ungu-biru. Plus, sedikit gigi depan patah. Huhuhu.... T_T. Setelah pemeriksaan di UGD dan dikasih obat, setidaknya gw masih bersyukur nggak ada patah tulang, sendi-sendi normal tanpa ada keseleo, dan sehat. Gw cuma syok berat! Seumur-umur Rhein bisa naik motor dari SMP kelas 1, baru kali ini kecelakaan dan terjadi di tempat jauuuuhhh dari rumah, dari orang tua, beda pulau, sendirian pula! o_0

Setelah istirahat sebentar di rumah bapak baik hati tadi, gw memutuskan untuk nggak jadi ke Kuta. Selain karena perjalanan masih cukup jauh, gw juga agak khawatir dengan peringatan dari temen backpacker yang bilang bahwa penduduk di sana masih jahil-jahil. Dengan kondisi tubuh luka-luka, Rhein nggak yakin bisa menyelamatkan diri lagi kalau terjadi apa-apa. Terus, Rhein pulang ke penginapan aja, gitu? Nggak, dooonngg!! Motor baik-baik saja dan Rhein masih bisa nyupir, jadi mari  lanjut perjalanan ke Pantai Senggigi... Hahahaha...

Seperti yang sudah disebutkan bahwa rambu-rambu di Lombok ini masih belum lengkap, perjalanan ke Senggigi mengandalkan GPS dan agak muter-muter dulu karena beberapa jalan sedang diperbaiki. Tengah hari, sampailah di pantai Senggigi nan sepi. Sumpah, sepi! Sampai-sampai Rhein mikir ini sebenarnya tempat wisata atau bukan ya? Atau Karena hari Senin jadi pada nggak ada yang wisata? Masuk ke pantai Senggigi juga membingungkan. Rata-rata di pinggir pantai itu hotel atau restoran, jadi nggak kelihatan akses masuk langsung ke pantai. Kirain cuma Rhein yang bingung, ternyata wisatawan asing juga sama. Akhirnya, Rhein masuk melalui Art Market. Sambil makan siang, menikmati Senggigi yang pantainya bening banget dengan pasir putih bersih tanpa sampah. KEREN!

Beres makan siang, mari mencari masjid untuk shalat dzuhur. Gara-gara kecelakaan tadi, Rhein jadi punya banyak kesempatan untuk ngobrol dengan penduduk Lombok. Secara, siapa yang nggak tertarik dan kasihan sama cewek dengan lengan baju sobek-sobek plus luka menganga dimana-mana.. Hahaha... Sambil nunggu waktu sunset, Rhein diajakin seorang ibu muda untuk mampir ke perusahaan mebel kecil-kecilan milik keluarganya. Dari obrolan dengan ibu muda dan suaminya ini, sedikit banyak Rhein mendapat banyak cerita tentang situasi di Lombok. Masyarakat Lombok bukan tipikal perantau. Mereka juga belum sadar akan pariwisata dan keindahan tempatnya sendiri. Apalagi saat mereka denger cerita kalau gw backpackeran sendiri, mereka takjub. Masyarakat Lombok juga mayoritas muslim dan masih sangat menganut gotong royong. Mereka ramah, baik hati, dan sangat informatif kalau kita tanya-tanya. Meski awalnya Rhein agak kaget karena logat mereka tidak selembut orang Sunda, Jawa, atau Bali. Suami-istri ini juga membenarkan kalau ada penduduk di desa sekitar Kuta yang sering berantem dan sudah menjadi trademark daerah rawan. Kecuali di Desa Sasak-Sade yang memang terkenal sebagai desa budaya Lombok.

Selesai ngobrol-ngobrol dan hari makin sore, Rhein pamit mau balik ke Senggigi lagi untuk lihat sunset. Berhubung malas turun ke pantai karena kaki luka-luka dan pastinya perih kalau kena air garam, Rhein memutuskan untuk menikmati sunset di atas bukit sajah. Memang ada beberapa spot bagus untuk melihat sunset dari atas. Biasanya banyak penjual makanan seperti jagung bakar, es kelapa muda, dan minuman lain. Rhein pesen jagung bakar seharga 5,000 dan air mineral sajah...

Selesai menikmati sunset, mari pulang. Perjalanan ke Mataram agak malam ini harus hati-hati. Selain di kota Mataramnya yang memang ramai, jalanan lain di Lombok ini gelap dan sepi! Setelah sampai Mataram, beli makan di KFC (dasar ye anak kota), dan kembali ke penginapan. Saatnya istirahat sambil meringis karena perih oleh luka. Hahaha... Besok pagi lanjut ke Gili Trawangan!

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

langkah fie mengatakan…
beeh... sunsetnya bagus tapi ceritanya bikin merinding.

tapi Alhamdulillah semuanya baik, rhein.
pitulimo mengatakan…
mudah2 cpt sembuh yaa,di tunggu lagi cerita dari gili trawangan key...
achie mengatakan…
lanjutan ceritanya mana rhein? cant wait :)
T.Djaka Scorpio mengatakan…
Alhamdulillah, Rhein masih diberi keselamatan oleh TYME. Rhein mau tanya CP Hotel Ayu Jaya Siapa dan Berapa No. Telpon Hotelnya.
Salam dan Terima Kasih
T.Djaka Scorpio mengatakan…
Alhamdulillah, Rhein masih diberi keselamatan oleh TYME. Rhein mau tanya CP Hotel Ayu Jaya Siapa dan Berapa No. Telpon Hotelnya.
Salam dan Terima Kasih
Rachmat Hidayat mengatakan…
Duh mbak kog mesakke temen tow dirimu.... hadehh tapi kerenlah emg, bsk2 lagi jangan sendirian lagi 2 orang cukup deh :) selain costnya bisa di bagi 2 khan jd g ekstrim2 amat hahaha...

2thumbs 4 U
Hamdiana Muhamad mengatakan…
Aku juga di Lombok nich

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …