Langsung ke konten utama

Idul Fitri 1433 H

Keluarga -sangat- Besar
 
Masih dalam suasana bulan Syawal, Rhein mau mengucapkan:

Selamat Idul Fitri 1433 H. Mohon Maaf Lahir Batin

Apa kabar nih semua? Gimana puasanya? Mudiknya? Silaturahminya? Lebarannya? Oleh-olehnya mana? Hehehe.. :D
 
Buat Rhein pribadi, akhir Agustus ini memberikan kesan yang campur aduk antara senang, sedih, syok, kaget, dan bingung (aduh lu rempong banget sih, Rhein!). Lebaran lalu Rhein sekeluarga shalat Ied di masjid dekat rumah, seperti tahun-tahun sebelumnya. Lepas shalat, pastinya maaf-maafan sekeluarga, makan-makan, terima tamu-tamu, ngobrol sama pacar dan Ibu Camer yang ada di Semarang, dan prepare untuk ke rumah nenek di daerah Purwakarta. Semuanya, menyenangkan! Perjalanan ke rumah nenek juga lancar. Sampai di suatu sore, pacar ngasih kabar singkat kalau Ibu Camer masuk rumah sakit dan pacar minta Rhein untuk nggak tanya2 apapun karena dia lagi hectic merawat ibunya. Rhein pun mengiyakan, sedikit deg-degan, menunggu kabar...

Kondisi di rumah nenek menyenangkan, dengan para sepupu yang masih kecil-kecil yang ramai. Menginap semalam di rumah nenek, ke makam almarhum kakek, jalan-jalan ke kolam renang yang isinya kayak cendol (penuh buaaannggeettt), dan menikmati suasana desa yang mulai terpengaruh kota. Dari kabar-kabar pacar, ternyata kondisi Ibu Camer semakin parah, beliau koma sudah hampir 24 jam. Senin sore, Rhein sekeluarga pulang ke Bogor, persiapan menyambut keluarga besar Klan Suminta yang akan kumpul di villa Sentul sebagai acara Idul Fitri tahun ini. Selain itu, Rhein juga kelimpungan cari tiket ke Semarang yang ternyata susssyyaaaahhh buaanggeeettt (ya iyalah, Lebaran getoh?). Akhirnya dapet tiket untuk hari rabu. Sayang beribu sayang, Senin malam itu juga, Ibunda pacar ini dipanggil untuk kembali pada Allah... Rhein syok!

Rasanya, entahlah... Nggak nyangka, itu aja. Pagi hari saat Idul Fitri, Rhein dan beliau masih ngobrol banyak, beliau bilang merasa sehat, senang banyak keluarga datang, senang karena mau jalan silaturahmi ke Kendal, kerepotan mengurus cucunya yang makin bandel, dsb...dsb... Plus pesan-pesan beliau untukku dan si pacar. Obrolan-obrolan standar yang biasa kami lakukan. Kemudian, Allah memang Maha Pengendali Segalanya. Dia memanggil Ibu Camer untuk kembali. Tanpa Rhein, bahkan si pacar dan keluarganya pun nggak menyangka.

Selasa, Rhein kumpul keluarga Suminta dengan pikiran nggak konsen. Mau langsung ke Semarang juga gimana? Semua tiket ludes dan kalau naik bis mau macet kayak apa? Rabu pagi, Rhein berangkat ke Semarang. Sumpah waktu ketemu pacar rasanya udah nggak karuan sedihnya. Ah, gitulah... nggak terdeskripsi. I know how much he loves his mom... 

Sisa liburan Rhein habiskan di Semarang. Nemenin pacar dan bantu-bantu di keluarganya. Ikut ke makam, melakukan beberapa ritual ibadah, tahlilan, doa-doa, bantu-bantu di dapur (meski nggak mahir), plus mengurus keponakan si pacar yang lucu 'n gemesin minta ampun. Nggak banyak yang bisa gw lakukan untuk keluarga pacar selain ikut memahami perasaan mereka...

Usai 7 harian alm. Ibu Camer, gw dan pacar mau balik ke Jakarta dan jeng! Jeng! Tiket susahnya minta ampun... Iya sih, itu pas arus balik dan semua tiket ludes dengan harga melonjak tinggi. Setelah akhirnya dapet pas hari Senin malam, kami pulang ke Bogor. 

Hari selasa 28 Agustus, pacar ulang tahun.. Gw seneng dia ada di Bogor dan bisa merayakannya bareng dia. Maklum, pasangan LDR yang jarang ketemu nih... :D.

Well, ini Idul Fitri yang nggak terlupakan buat kami... Semoga Ibunda Camer tenang dan mendapat tempat terbaik di sisi Allah Swt. Aamien...


Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

langkah fie mengatakan…
turut berduka cita rhein. semoga almarhumah mendapat tempat terbaik disisiNya. amin.
achie mengatakan…
ah ternyata..
amien :)
rhein fathia mengatakan…
@fie:
Makasih fie.. Aamien...

@achie:
Iya, chie.. nggak nyangka... Aamien.. :)

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …