Langsung ke konten utama

Hari-Hari Pengangguran

Is that fine? Yes, I'm happy
Istilah kerennya pengacara. Pengangguran banyak acara. Nah, sebenarnya sih Rhein nggak termasuk seperti mereka karena nggak banyak acara. Cuma ya itu, pengangguran sok sibuk *ya samimawon kali, Rhein*.

Selepas Lebaran kemarin, Rhein resmi hengkang dari status pegawai. Nggak ada lagi berangkat pagi pulang malem. Nggak ada lagi tidur di bis pas berangkat & pulang kerja. Nggak melewati macet di jam-jam padat kendaraan. Nggak ada lagi seharian duduk di kantor 8 jam di hadapan PC. Nggak ada lagi meja khusus buat gw kerja dengan setumpuk naskah yang harus gw edit. Nggak ada lagi celoteh temen-temen kantor yang biasa menemani. Is that fine? Yes of course. I'm happy...

Awalnya, Rhein khawatir tidak menjadi pegawai akan bikin gw bosan dan kesepian karena lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Nyatanya? Tidak sodara-sodara. Kesibukan gw tidak berkurang. Gw jadi sering bolak-balik ke Bandung. Selain ngurusin si adek di sana, juga dalam rangka pendaftaran kuliah. Persiapan kuliah ini menyenangkan sekaligus menegangkan. Gw harus belajar buat tes, kembali mengasah otak dengan Math & English. Cukup belajar aja? Ooo.. tentu tidak! Minta surat rekomendasi dosen juga bikin gw dag-dig-dug nggak karuan. Udah pada tahu kan, kalau dulu gw kuliah di jurusan Fisika, konsentrasi Nuklir Partikel pula, dengan topik skripsi Astrofisika *cukup nggak usah dibahas detail, Rhein. Most of readers dislike equation*. Nah, minta rekomendasi ke para dosen-dosen baik hati itu sedikit banyak bikin perasaan gw nggak enak. Why? Karena gw mau lanjut kuliah bisnis. JENG! JENG! Ada satu sisi hati gw yang merasa kalau gw udah mengkhianati ilmu murni ini *semurni hati gw. Plak!*. Untungnya, para dosen baik hati itu tetap mau memberikan rekomendasi dan mendoakan gw untuk sukses. Aaahh... Sumpah gw terharu dan pengen nangis kalau sama para dosen ini. Kejeniusan dan gelar-gelar ilmuwan itu tidak pernah menjadikan mereka sombong. Mereka adalah contoh nyata ilmu padi. Semakin berisi, semakin merunduk. Bapak-bapak dosen, doakan saya jadi pengusaha sukses ya... Salah satu cita-cita saya tetap ingin memajukan ilmu murni. Kalau udah sukses, saya sangat bersedia jadi donatur untuk perkembangan pendidikan dan penelitian ilmu tersebut. Aamien...

Selain urusan perkuliahan, Rhein juga mulai bantu-bantu ortu menjalankan bisnis keluarga yang udah berjalan. Gimana rasanya? Lebih rempong daripada jadi pegawai kantoran, boooo... Jadi buat yang mengira jadi pengusaha itu enak karena duitnya banyak, gw bilang itu benar. Konsekuensinya, lu bakal lebih sibuk setengah mati. Kalau jadi pegawai, lu tinggal terima gaji buat kehidupan perut keluarga lu. Kalau lu jadi pengusaha, lu harus mikir gimana perusahan jalan, banyak untung, bisa ngasih gaji pegawai-pegawai untuk ngisi perut keluarga mereka. Coba pikir, berapa perut dan otak (karena buat gw asupan pendidikan juga penting) yang jadi tanggung jawab?

Oh well, gw belum sampe pada tahap ke sana, sih. Status gw masih jadi asisten ortu yang ngintil kemana-mana. Ketemu klien, liatin ortu ngasih penjelasan dan presentasi. Survey lapangan, digigitin nyamuk plus serangga lain waktu ke tempat klien yang pengen ngadain pesta kebun. Mengelola pegawai yang moodnya nggak selalu bagus. Didatangi klien yang kadang cerewet plus maunya macem-macem. Bantuin produksi barang kalau kuota nggak memenuhi. Dan... itu nyokap kan punya hape 3 biji, bokap punya 2 biji, nah sering banget-banget rata-rata 3 hape berdering dalam waktu bersamaan! Jadi nyokap lagi angkat hape ngobrol si Ibu A, hape lain bunyi ada pesanan dari Nyonya B, hape lain bunyi lagi dari pegawai yang mau laporan. Kemudian, jangan sangka itu hape berhenti bunyi selepas jam kantor. Jam 11 malem aja masih bunyi! Apalagi kalau lagi peak season pesanan, bisa-bisa sampe pagi. Duh, riweuh! Tapi, dari semua itu gw belajar...

Menjadi pengangguran dan punya banyak waktu luang juga makin mendekatkan Rhein dengan keluarga. Diskusi sama bapak-ibu, dengerin curhat adek-adek. Terutama support si atlet kebanggaan Indonesia, FURKY, yang lagi bertanding di PON. Semoga dapet emas! Sungguh, memberikan waktu untuk keluarga itu rasanya nikmat luar biasa.

Lalu gimana dengan penghasilan? Gw juga digaji sama ortu. Hahaha... Meski jauh lebih kecil dari gaji kantor-kantor sebelumnya. Iyalah, gw masih ece-ece begini. Buat gw yang penting bisa nabung dan nambahin duit jajan adek-adek.

Is that fine? Yes of course. I'm happy... :)

ps: Gw juga masih akan backpacking. Gratis pula! Hadiah menang lomba novel. Oh Allah, rezeki-Mu emang nggak akan kemana. Maka, nikmat Tuhan yang manakah yang kamu dustakan?

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

aryanto mengatakan…
betul betul betul rezeki gak kemana-mana
bambang mengatakan…
yap...saya juga baru berhenti bekerja dan coba wiraswasta. Memang cukup mengerikan takut ga dapet rezeki, tapi sejauh ini baik2 aja :)

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Trip to Vietnam: Hanoi-Ha Long Bay

Sebenarnya perjalanan ini saya lakukan Oktober 2017 lalu, namun apa daya baru sempat ditulis sekarang. Kemudian kali ini juga kunjungan saya ke Vietnam yang kedua, yang  pertama tahun 2015 dan malah tidak saya tulis di blog. Semua karena apa? Tentu karena malas. Hahaha..

Berbekal izin libur dari kantor dan tiket yang nggak murah-murah amat, saya dan adik bertolak ke Vietnam, sempat transit dan bermalam di KLIA2 untuk flight pagi menuju Hanoi. Berhubung kali ini merupakan perjalanan singkat (maklum buruh), otomatis saya nggak bisa go-show ujug-ujug menclok di suatu negara baru dan berpikir mau ngapain aja seperti biasanya. Saya sudah booking hostel dorm (hanya $5! I love Vietnam! Cheap!) dan tujuan saya kali ini jelas: Bermalam di kapal pesiar di Ha Long Bay. Duh, buruh satu ini emang loba gaya pisan. 
Hari ke 1
Dari bandara Hanoi kami naik bis umum dengan waktu perjalanan kurang lebih 30 menit ke daerah Old Quarter atau Hoan Kiem District. Sebenarnya di bandara banyak yang menawarkan …

Backpacker Thailand Trip (part 4): Grand Palace - Asiatique

Rhein itu kebiasaan deh, kalau posting tentang backpacking pasti ngga beres dari berangkat sampai pulang. Seringnya kepotong setengah-setengah karena alasan yang entah apa. Mungkin ini mengidentifikasi kalau Rhein tipe orang yang cepet move on yah.. Hehehe.. 
Untuk Backpacking Thailand ini udah diniatkan harus ditulis sampai tamat! Soalnya ini backpacking berprestasi yang mengeluarkan budget murah, ke luar negeri pula. Baiklah, mari kita lanjutkan cerita-cerita backpackingnya dengan membongkar ingatan. Yang belum baca part sebelumnya ada di sini, di sini, dan di sini, ya.
Hari keempat di Thailand dan kembali ke Bangkok lagi. Pagi-pagi sekitar jam 8 Rhein udah siap mandi, dandan cantik, dan siap untuk wisata kebudayaan. Saat turun ke lobi, Rhein dikasih tahu sama penjaga penginapan bagaimana rute ke Grand Palace yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Khaosan Road dan jangan tertipu sama orang-orang yang menawarkan tuktuk atau mengatakan bahwa Grand Palace tutup. Ih sumpah pemilik &…