Langsung ke konten utama

Ubud Writers Readers Festival 2012 (part 2)

Masih lanjutan cerita tentang Ubud Writers Readers Festival ya.. Sumpeh deh senang banget dateng ke acara ini. Auranya tuh bener-bener kepenulisan banget. Rhein juga sempet ngobrol-ngobrol sama orang Australia yang ternyata dia itu dosen jurusan budaya Indonesia di salah satu Universitas di Australia, lho! Oemji... Negara kita ini sebenarnya keren! Oke, lanjut ke topik diskusi panel yang Rhein ikuti.

3. It Rolls Off The Tongue
General: A lesson in language; writers share for the precise phrase, the obsession with perfection, the a-ha moment when word matches vision. Speaker: Kader Abdolah, Marina Endicott, Anna Funder, Muhary Wahyu Nurba

Diskusi panel ini seru karena dibuka dengan curhat masing-masing pembicara. Ternyata para penulis yang udah tenar dan meraih banyak award itu banyak yang pada awalnya bukan benar-benar penulis, lho. Mereka juga mengalami masalah yang sama dengan para penulis di Indonesia, menjadi penulis masih dipandang sebagai karier yang 'tidak terlalu punya masa depan cerah'. Para pembicara itu kompak setuju bahwa saat mereka masih muda dan sekolah, orang tua mereka mendoktrin bahwa pekerjaan yang dijamin punya masa depan cerah adalah doctor, lawyer, and engineer. Mereka pun mengambil pendidikan yang diminta para keluarga tersebut, dong. Bahkan Mr. Kader Abdolah memiliki latar belakang pendidikan di Nuclear Physics! Oooohh.. Itu kan gw bangeeett!! *ketemu senior senasib* *sok ngaku-ngaku junior gini gue* :))

Pada kenyataannya, toh karier mereka di dunia tulis menulis sangat gemilang. Ini bener-bener jadi penyemangat banget untuk siapa pun yang pengen jadi penulis tapi latar belakang pendidikan atau pekerjaan nggak ada sangkut paut dengan menulis. Asal ada niat dan usaha, pasti bisa! :)

Diskusi berlanjut dengan topik utama, "What languange in your thinking?". Maksudnyah?? Jadi begini, ketika kalian berpikir dan memiliki ide-ide atau khayalan-khayalan, bahasa apa yang ada di otak kalian? Di sini, mulai ada perbedaan pendapat (tapi nggak sampe debat kusir bodoh, ya). Tiga orang pembicara mengaku bahwa bahasa dalam pikiran mereka adalah English (untuk pembicara asing) dan Bahasa (untuk pembicara orang Indonesia). Namun, Mr. Kader Abdolah memiliki pendapat lain. He said, We don't think in a language. We think magically! Hal ini merujuk pada cerita pribadinya bahwa beliau memiliki Ayah yang bisu dan tuli sejak kecil, sehingga tidak pernah mendengar bahasa apa pun atau bicara bahasa apa pun (zaman dulu belum secanggih sekarang ya teknologinya). Meski begitu, Ayah Mr. Kader ini tetap bisa berkomunikasi meski melalui sorot mata. Keluarga besar Mr. Kader bisa mengerti apa yang dipikirkan atau apa yang ada di otak sang Ayah tersebut. Nah, bahasa apa yang dipakai? Tidak ada, toh? Karena itu Mr. Kader berpendapat bahwa, What we think is a magic and language is medium explained by tongue and write. (Mr. Kader, mungkin maksud anda itu bahasa kalbu, ya?)

So, ide-ide atau apa yang ada di pikiran kita adalah keajaiban. Dan, ketika menuliskan ide yang ada di otak, kita sedang menuliskan keajaiban. When you start trying in make word, you do a magic! :) Kemudian tentang menulis, selalu kembali pada pertanyaan, mengapa kamu menulis? Para pembicara berkata, "I need to tell my story! Because of the BIG NEED, I need to find a way. Right or wrong, just write! Menulislah karena kamu membutuhkannya, karena kamu butuh mengungkap keajaiban yang ada di otak kamu. Menulislah dengan cara yang kamu merasa asyik melakukannya, because every writer has own finger print, has own rythm.

Kemudian muncul pertanyaan, What is the hard thing or the biggest problem in writing? Jawaban para pembicara ini lucu. Mereka tidak menjawab tentang kesulitan riset, membuat plot, menciptakan karaktr, atau hal-hal teknis lain. Mereka kompak menjawab,
The biggest problem is I must sit, write, continue, and shut up! =))

Untuk penulis pemula, salah seorang pembicara juga mengatakan bahwa biasanya masalah terbesar adalah PEDE. Confidence to express in writing. Saat menulis, kita harus pede dan yakin bisa menghasilkan tulisan bagus. :)


4. Serial Offenders
General: When book becomes many: creating characters that endure, surprising development and disturbing tendencies. Speaker: Shamini Flint, Nury Vittachi.

Sekarang diskui tentang novel serial, nih. Cihuy banget deh buat yang pengen bisa nulis novel serial. Kalau di luar negeri, yang terkenal pastinya novel-novel serial detektif semacam Sherlock Holmes, Hercule Poirot, atau yang terbaru triloginya The Girl with The Dragon Tatoo. Entah mengapa kebanyakan novel serial kok cerita detektif, ya? Bahkan salah satu pembicara, Ms. Shamini juga menulis serial Inspector Singh (bisa cek novel-novelnya di sini) yang sayang banget nggak diterbitkan di Indonesia... *kan pengen baca*. Kalau di Indonesia, pasti dong serial yang legendaris itu adalah LUPUS! Hohoho...

Nah, dalam menulis cerita serial, para pembicara setuju bahwa menulisnya bisa menjadi sebuah ajang latihan paksa untuk mengasah potensi diri. Pastinya dong, namanya serial harus ada cerita lanjutan dan sebagai penulis mau nggak mau harus kreatif baik dari segi ide cerita atau pun merangkai kata. Ada kemudahan dan kesulitan tersendiri saat menulis novel serial dibanding novel satuan. Di novel satuan, kita harus memulai semuanya dari awal, baik ide cerita, karakter, dll. Sedangkan dalam cerita serial, you have characters and you know them very well. Para tokoh ini layaknya kawan lama si penulis yang punya sifat khusus atau kepribadiannya sendiri. Mereka juga berkembang dengan seiring waktu.

Konsistensi! Itulah hal harus sangat dipegang dalam membuat cerita serial. Baik dalam segi cerita utama ataupun karakter. Nggak mungkin dong di novel pertama karakternya punya phobia ular lalu di novel selanjutnya (tanpa alasan apa pun) malah jadi kolektor ular langka. Konsistensi menulis juga pastinya sangat dibutuhkan dalam menulis cerita serial ini. Termasuk bagaimana merangkai kata yang menarik agar pembaca terus dan terus akan menunggu-nunggu, menanti, dan membaca cerita selanjutnya. The first line sell the book, the last line sell the next book! Teknik menulis di awal dan di akhir cerita serial menjadi poin sangat penting yang harus diperhatikan.


Penulis-penulis cantik mau narsis juga dong... :D Ki-Ka: Me & Mba Prisca Primasari
Nah... begitulah isi beberapa diskusi panel yang Rhein ikuti. Ubud Writers Readers Festival ini diadakan tiap tahun di bulan Oktober. Tahun depan juga ada lagi, lho! Acaranya seru-seru dan bener-bener memberi insight untuk meningkatkan skill menulis. Sebenarnya acaranya nggak hanya diskusi panel. Ada launching buku, drama, mendengar dongeng, workshop, nonton film, acara untuk anak-anak, acara kesenian, pasar seni, banyak banget deh! Kalau ikut acara ini memang harus milih jadwal dan cukup capek untuk mengikuti semuanya. Harus punya stamina yang kuat!

Hal yang Rhein sayangkan dari acara ini adalah, penulis dan pengunjung dari Indonesia sedikit banget yang dateng... T_T. Bahkan Rhein nggak melihat penerbit atau beberapa forum buku ikut aktif berpartisipasi. Entah karena sistem dari panitia yang melakukan seleksi ketat dan penggiat buku di Indonesia pada nggak lolos atau gimana, ya... Tapi minimal penulis-penulis (apalagi pemula kayak saya) disarankan banget untuk partisipasi. Apalagi untuk mahasiswa, harga tiketnya muraaaahhh banget! Kalau ada rezeki, Rhein pengen dateng lagi tahun depan, apalagi dengan status mahasiswa. Hahahaha... Atau siapa tahu Penerbit Mizan mengadakan lomba Qanita Romance dan saya dijadikan pemenang lagi... #PLAK :D

Sekali lagi terima kasih banyak Penerbit Mizan atas hadiah ini. Dari semua rangkaian acara dan bertemu para penulis hebat itu, saya belajar banyak. Termasuk belajar menjadi penulis yang rendah hati.

Keep writing, friends! :)
Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

warm mengatakan…
itu acaranya keren euy,
entah kapan ya bisa ikutan acara itu :)
merry go round mengatakan…
One day, pengeenn banget bisa dateng ke acara itu. Lebih pengen lagi dibayarin dan disponsorin sih *dilempar buku*
Fita Chakra mengatakan…
Nggak boleh ikutan lagii! *sirik mode on. Sekali-kali kasih aku kesempatan biar menang dong hahaha... Mupeng banget aku ama UWRF ini :))
rhein fathia mengatakan…
@warm
Ayo datang, om waaarrrmm.. seruuuu banget! banget! banget! :D

@Merry
Hahaha.. kmaren gw juga dibayarin dan disponsorin, Sa... :)) Emang lebih enak, sih...

@Fita
Hahaha.. Iya kok Teh, ngga ikut lagi.. kasih kesempatan nih.. Tp wajib menang ya... hihihi...

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Trip to Vietnam: Hanoi-Ha Long Bay

Sebenarnya perjalanan ini saya lakukan Oktober 2017 lalu, namun apa daya baru sempat ditulis sekarang. Kemudian kali ini juga kunjungan saya ke Vietnam yang kedua, yang  pertama tahun 2015 dan malah tidak saya tulis di blog. Semua karena apa? Tentu karena malas. Hahaha..

Berbekal izin libur dari kantor dan tiket yang nggak murah-murah amat, saya dan adik bertolak ke Vietnam, sempat transit dan bermalam di KLIA2 untuk flight pagi menuju Hanoi. Berhubung kali ini merupakan perjalanan singkat (maklum buruh), otomatis saya nggak bisa go-show ujug-ujug menclok di suatu negara baru dan berpikir mau ngapain aja seperti biasanya. Saya sudah booking hostel dorm (hanya $5! I love Vietnam! Cheap!) dan tujuan saya kali ini jelas: Bermalam di kapal pesiar di Ha Long Bay. Duh, buruh satu ini emang loba gaya pisan. 
Hari ke 1
Dari bandara Hanoi kami naik bis umum dengan waktu perjalanan kurang lebih 30 menit ke daerah Old Quarter atau Hoan Kiem District. Sebenarnya di bandara banyak yang menawarkan …

Backpacker Thailand Trip (part 4): Grand Palace - Asiatique

Rhein itu kebiasaan deh, kalau posting tentang backpacking pasti ngga beres dari berangkat sampai pulang. Seringnya kepotong setengah-setengah karena alasan yang entah apa. Mungkin ini mengidentifikasi kalau Rhein tipe orang yang cepet move on yah.. Hehehe.. 
Untuk Backpacking Thailand ini udah diniatkan harus ditulis sampai tamat! Soalnya ini backpacking berprestasi yang mengeluarkan budget murah, ke luar negeri pula. Baiklah, mari kita lanjutkan cerita-cerita backpackingnya dengan membongkar ingatan. Yang belum baca part sebelumnya ada di sini, di sini, dan di sini, ya.
Hari keempat di Thailand dan kembali ke Bangkok lagi. Pagi-pagi sekitar jam 8 Rhein udah siap mandi, dandan cantik, dan siap untuk wisata kebudayaan. Saat turun ke lobi, Rhein dikasih tahu sama penjaga penginapan bagaimana rute ke Grand Palace yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Khaosan Road dan jangan tertipu sama orang-orang yang menawarkan tuktuk atau mengatakan bahwa Grand Palace tutup. Ih sumpah pemilik &…