Ubud Writers Readers Festival 2012 (part 1)

I know it's so late. Ubud Writers Readers Festival (UWRF) has already held more than last month dan Rhein baru  mengulasnya sekarang. Ingkar janji padahal pengen langsung berbagi cerita seminggu setelah pulang dari Bali dan Lombok itu. Namun apa daya, seriously, efek UWRF dan bertemu begitu banyak penulis profesional bin tenar itu membuat semangat menulis langsung meningkat sehingga Rhein begitu tergerak untuk merampungkan editing-revisi sebuah novel. It finished now, Alhamdulillah. And while I'm writing for one thing, I still can't write for other thing. I don't know why. I just feel the characters ruin over my head and said, "Damn you writer! Focus in our life and finish our stories now!" Okay, let's talk about characters later.

Seperti yang sudah banyak orang ketahui, Rhein datang ke UWRF sebagai pengunjung biasa dan berkat kebaikan hati Penerbit Mizan yang memfasilitasi semua akomodasi selama di Bali, sebagai hadiah pemenang pertama lomba novel Qanita Romance. Thanks a bunch, Penerbit Mizan... *kiss & hug*. Di sana, Rhein ditemani oleh mbak editor yang super baik hati, Prisca Primasari. Ah, beliau ini novelis juga yang karya-karyanya keren abis dan sudah tenar. Jum'at 5 Oktober, Rhein berangkat dari Soetta dan sampai di Bali siang. Setelah check in hotel, simpan barang, bersih-bersih, berangkatlah Rhein dan mba Prisca ke acara Ubud Writers Readers Festival.


Untuk lebih tahu banyak tentang UWRF, bisa langsung buka webnya ya... Acaranya banyak banget dan pengunjung harus milih beberapa program yang tersedia. Kami diberi ID card peserta dan buklet yang berisi informasi lengkap buanget tentang UWRF. Event ini sangat-sangat rapi, teratur, dan tepat waktu, lho. Panitianya kebanyakan orang asing. Pengunjungnya juga 75% orang asing. Sehingga sangat wajar kalau bahasa yang digunakan dalam seluruh rangkaian acara UWRF adalah bahasa Inggris. Bahkan penulis Indonesia yang menjadi pembicara di acara ini menggunakan penerjemah yang mentranslate Bahasa ke English. Hehehe.. Oke, berikut beberapa review program diskusi panel yang kami ikuti selama di sana dan memberi banyak insight dalam hal kepenulisan.  

1. Why Story Matters
General: The role of fiction in our lives, how story gives life context and strengthens human understanding. Speaker: Colin Falconer, Kathryn Heyman, Olyrnson, Anuradha Roy.
Diskusi ini (seharusnya) membahas tentang bagaimana pengaruh dunia fiksi terhadap kehidupan masyarakat. Namun entah mengapa malah banyak didominasi oleh pengaruh teknologi terhadap minat baca dan tulis. -___-".

Dari hasil pembicaraan yang masih dalam koridor sesuai topik, disebutkan bahwa buku fiksi yang selama ini banyak beredar dan dibaca, sebenarnya memiliki fungsi utama untuk menolong orang-orang untuk mengerti bagaimana kondisi kehidupan atau dunia sebenarnya. Books help people to understand the world. Itulah kekuatan sebuah cerita. Dari cerita fiksi yang selama ini kita baca, ada banyak pelajaran dan pengalaman para tokohnya yang bisa kita ambil. Kita bisa tahu bagaimana kondisi seorang tawanan penjara, kita bisa mengerti bagaimana perasaan seorang pekerja seks komersil, kita bisa memahami bagaimana jalan pikiran orang-orang yang memiliki penyakit mental. We know they're only fiction. But what the characters want, how they run their life, we can learn a lot from them. And then, we can understand about this life, about this world.

Adanya buku pasti berhubungan dengan minat baca. Bagaimana menyikapi atau membaca buku yang baik? Menurut salah satu pembicara, beliau berkata, reading is feeling in all of our body and keep the intellect. Gunakan seluruh sensitifitas kita saat membaca. Ada yang bertanya mengapa di Indonesia ini sulit menerbitkan buku padahal masyarakatnya banyak? Alasannya bukan pada sedikit jumlah penerbit atau birokrasinya, tapi masalah utama ada pada minat baca masyarakat Indonesia yang masih sangat rendah. Ada sebuah contoh di Negara Jepang, jumlah novel Mushashi yang terjual pada suatu waktu adalah dua kali lipat dari jumlah masyarakatnya. Mereka memiliki minat baca yang sangat tinggi sehingga jumlah buku yang terbit di sana sangat banyak. Jadi, tidak ada hubungannya antara jumlah buku yang diterbitkan dengan jumlah masyarakat sebuah negara. Tugas para penggiat buku lah untuk meningkatkan minat baca di negara ini.

sebnarnya ngga boleh ambil foto pas acara diskusi. Tapi kan yah... kan.. pengen.... hehehe.. :D

2. Writing There, Living Here, The Difference of Distance
General: The freedoms and difficulties imposed by living in location far distant from that in which on writes. Speaker: Isobelle Carmody, Romesh Gunesekera, Sunil Nair
Nah, session ini yang paling Rhein suka! Hehehe.. Semua pembicaranya keren dan aksen bicaranya jelas. Maklum ya cyynn, kan telinga gw jarang denger orang ngomong English. Hehehe... Selain itu, di session ini juga semua pembicara diminta untuk membacakan cuplikan salah satu novel mereka. And you know what? Soooo touching! Mereka membacakan cuplikan novel mereka sendiri begitu lembut seperti menceritakan sebuah dongeng indah ke anak-anak. Ah Rhein melting. Saya sendiri yang penulis belum tentu bisa seindah itu membacakan novel sendiri.

Session ini dibuka dengan pertanyaan "Mengapa kamu menulis?". Para pembicara memberi beberapa jawaban. Ada yang bilang untuk mengungkapkan semua opini dalam otaknya (most of writer yeah). Ada juga yang menjawab bahwa ia  menulis karena ingin membentuk sebuah kondisi yang lebih ideal daripada lingkungannya. Contohnya seorang anak yang berasal dari keluarga broken home, ia menulis karena ingin mengatakan pada dunia bahwa keluarga ideal seperti apa yang seharusnya ada. Termasuk bagaimana sikap seorang penulis ketika ia menulis. Salah seorang pembicara berkata, "I don't think who is reader when I write. I just give reflection inside character in my soul". Menulis itu merefleksikan jiwa kita sendiri. Menulislah dengan senang hati tanpa harus dipusingkan oleh bagaimana pendapat pembaca nanti.

Selanjutnya adalah diskusi mengenai hal yang menjadi topik session ini. How about location in story? Do you feel in pressure? Beberapa penulis kadang terlalu mengedepankan riset mengenai lokasi sampai desperate bahkan melupakan inti cerita yang ingin dibuatnya. Menurut para pembicara di sini, "It's fantasy and fiction, not reality. Up to you want to write how authentic about your novel". Sebaiknya penulis tidak perlu dipusingkan dengan hal mendetail yang tampak remeh temeh. Kita penulis punya khayalan sendiri dan itu sah-sah saja. Pembicara juga mengatakan, "For first novel, you need to write enough authentic so nobody complaint. Then, you write with your sensitivity". Masih pada ingat Harry Potter pastinya, kan? Itulah kehebatan J.K Rowling. Bisa menciptakan setting detail dari khayalan dan sensitivitas menulisnya. Jangan pedulikan setting harus mirip suatu tempat yang ada di bumi ini. Remember, it's fiction.
Bahkan jika ingin menulis dengan setting suatu lokasi, sangat baik jika kita berada jauh dari lokasi tersebut. Lho, kok bisa? Far distance from place you write will make you thinking! Itulah menulis sebenarnya. Thinking, feeling, playing with your own fantasy. Jauh dari lokasi yang dituliskan juga akan meminimalisir tulisan dari kontaminasi realitas yang ada di sana. Bahkan seorang pembicara mengatakan, "Better if away from the location and feels like will never comeback". Dari sana sensitivitas kita akan terasah dan membayangkan lokasi tersebut melalui memori menjadi lebih detail, lebih ada kenangan, lebih ada jiwanya, lebih melankolis, dan lebih hidup.

Menulis memang membutuhkan latihan kontinu. Perlu diingat yang dilatih bukan hanya skill menulis, tapi juga sensitivitas dari hati kita sendiri.

Nah, cerita session selanjutnya bersambung yah... Khawatir posting yang ini kepanjangan. Hehehehe... Selanjutnya silakan klik UWRF part 2.. :)

Love is real, real is love. -John Lennon-

Comments

Dion Yulianto said…
Laporannya menyenangkan, enak dan runtut. Kaya informasi dan bikin pengen. terima kasih Kakak
Rhein Fathia said…
@Dion:
Makasih banyak juga udah berkunjung dan baca yaaa.. semoga bermanfaat.. :)

Popular posts from this blog

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Giveaway & Talkshow with Nulisbuku Club

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok