Langsung ke konten utama

Resign Story

Assalamu'alaikum semua...

Ah elu Rhein, mentang-mentang lagi bulan Ramadhan jadi nyapa pake Assalamu'alaikum. Plak!
Baiklah, jadi gimana puasanya? Yang cewek udah bolong berapa? Udah ngaji berapa juz? Dapet jadwal buka puasa bersama berapa kali? Udah dapet THR? Jangan lupa zakat yaaaa... :)
Terus, kalau Rhein sendiri gimana? Ah, nggak usah curhat di sini nanti disangka sombong... Hahaha...

Sebenarnya, nulis postingan ini dalam rangka update blog aja... :D Rhein sedang tidak dalam rangka backpacking jadi belum ada cerita jalan-jalan yang terbaru.. Ya iyalah, bulan puasa mau naik gunung atau nyelam di laut? Batal dong, cyyynn... Apalagi setelah bulan Ramadhan ini bakal semakin kencangkan ikat pinggang dan hemat abis karena Rhein sudah mengajukan resign. Apa, Rhein? Lu resign lagi? Betol, sodara-sodara...

Pengajuan Resign sudah sejak awal bulan. Alasan utama, jelas karena mau sekolah lagi. Dari dulu, Rhein memang tidak pernah berniat membangung karir di dunia kantor, sih. Secara gw tipe orang yang nggak suka rutinitas monoton. Buat gw, niat awal bekerja kantoran itu memang untuk belajar, menyerap ilmu how to be smart when you have deal with sucks and nice people, how to manage your time, how to keep professional and responsible with your job even yourself in the worst condition, etc...etc... Karena bekerja kantoran beda dengan freelance yang lebih membebaskan diri pribadi dan fleksibel. Kemudian setelah satu setengah tahun bekerja, Rhein merasa sudah saatnya untuk naik kelas. Ayolah, sekolah aja naik tingkat tiap setahun, masak di dunia kerja nggak ada peningkatan juga? Jadi, resign ini menjadi pilihan.

Sempat dapet banyak pertanyaan dari orang-orang, lu kenapa resign, nyari kerja lagi susah gini? Udah dapet kerjaan baru? Mau sekolah emang udah diterima? Ntar kalau nggak keterima gimana? Lu nganggur? Well yah, pertanyaan standar dan realistis sih, ya... Meski dari kacamata gw, kalau kita punya energi untuk berpikir buruk dan mencemaskan banyak hal, kenapa energi itu nggak dialihkan untuk berpikir positif dan tetap ikhtiar? Toh itu sama-sama tentang prasangka yang dibuat otak kita sendiri tentang masa depan yang sama-sama masih misteri. Lagipula buat Rhein, keluar dari zona nyaman itu juga menantang, toh? Itu yang namanya meng-improve diri untuk naik kelas :)

Alhamdulillah, Rhein punya keluarga dan sahabat-sahabat yang mendukung penuh. Planning 'menari-nari' di luar zona nyaman itu sudah ada. Rhein harus belajar supaya lolos tes kuliah, lebih banyak studi literatur dan menulis lagi, dan bantu orang tua menjalankan bisnis. Emang bisnis apa, Rhein? Itu loh, penyedia jasa peralatan acara. Jadi sejak 2006 keluarga Rhein punya usaha sendiri untuk persewaan tenda, kursi, meja, sound system, dekorasi, alat katering, AC, kipas angin, lampu kristal, dsb..dsb... Jadi buat yang mau punya acara nikahan, khitan, pesta kantor, ultah, konser musik, dll, bisa loh datang ke tempat Rhein dengan perusahaan Tenda Destarata dan di email tenda_desta@yahoo.com. Kami juga melayani wilayah Jabodetabek. Kok lu jadi promosi gini, sih? Ya biarin lah ya.. Blog gw perusahaan keluarga gw... Hahaha...

Balik cerita tentang resign, ini yang kedua kali dan gw nggak pernah menyesali setiap kali gw resign. Jadi pengangguran itu jeleknya cuma nggak punya duit, kok. Hahahaha... Paling jatah backpacking menghilang. Untuk urusan rezeki, selama masih usaha, Allah nggak pernah tidur. :)

Btw, doakan juga novel gw bisa cepat terbit ya... Semoga doa pembaca di bulan Ramadhan cepat diijabah.. :)

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

anne mengatakan…
tidak! backpacking jangan menghilang :(
addiehf mengatakan…
semoga keinginannya cepet terkabul ya mba. (worship)

Met Lebaran, Mohon Maaf Lahir Batin (worship)
rhein fathia mengatakan…
@Anne: Gw jual diri dulu yah buat cari duit supaya bisa backpacking.. hehe..

@addiehf: Makasih, om... (rock) Mohon maaf lahir batin juga...
Anonim mengatakan…
Waktu ngomong ma bos alesannya apa? Bagi2 dong alesannya

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Trip to Vietnam: Hanoi-Ha Long Bay

Sebenarnya perjalanan ini saya lakukan Oktober 2017 lalu, namun apa daya baru sempat ditulis sekarang. Kemudian kali ini juga kunjungan saya ke Vietnam yang kedua, yang  pertama tahun 2015 dan malah tidak saya tulis di blog. Semua karena apa? Tentu karena malas. Hahaha..

Berbekal izin libur dari kantor dan tiket yang nggak murah-murah amat, saya dan adik bertolak ke Vietnam, sempat transit dan bermalam di KLIA2 untuk flight pagi menuju Hanoi. Berhubung kali ini merupakan perjalanan singkat (maklum buruh), otomatis saya nggak bisa go-show ujug-ujug menclok di suatu negara baru dan berpikir mau ngapain aja seperti biasanya. Saya sudah booking hostel dorm (hanya $5! I love Vietnam! Cheap!) dan tujuan saya kali ini jelas: Bermalam di kapal pesiar di Ha Long Bay. Duh, buruh satu ini emang loba gaya pisan. 
Hari ke 1
Dari bandara Hanoi kami naik bis umum dengan waktu perjalanan kurang lebih 30 menit ke daerah Old Quarter atau Hoan Kiem District. Sebenarnya di bandara banyak yang menawarkan …

Backpacker Thailand Trip (part 4): Grand Palace - Asiatique

Rhein itu kebiasaan deh, kalau posting tentang backpacking pasti ngga beres dari berangkat sampai pulang. Seringnya kepotong setengah-setengah karena alasan yang entah apa. Mungkin ini mengidentifikasi kalau Rhein tipe orang yang cepet move on yah.. Hehehe.. 
Untuk Backpacking Thailand ini udah diniatkan harus ditulis sampai tamat! Soalnya ini backpacking berprestasi yang mengeluarkan budget murah, ke luar negeri pula. Baiklah, mari kita lanjutkan cerita-cerita backpackingnya dengan membongkar ingatan. Yang belum baca part sebelumnya ada di sini, di sini, dan di sini, ya.
Hari keempat di Thailand dan kembali ke Bangkok lagi. Pagi-pagi sekitar jam 8 Rhein udah siap mandi, dandan cantik, dan siap untuk wisata kebudayaan. Saat turun ke lobi, Rhein dikasih tahu sama penjaga penginapan bagaimana rute ke Grand Palace yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Khaosan Road dan jangan tertipu sama orang-orang yang menawarkan tuktuk atau mengatakan bahwa Grand Palace tutup. Ih sumpah pemilik &…