Langsung ke konten utama

Einstein dan Pendidikan di Indonesia

Dari 2 (atau 3, ya?) hari lalu, di sela-sela kesempatan (kuliah, ngetwit, hang out, maen, makan), Rhein mencoba untuk membaca satu buku keren ini. Tentang Einstein dan isinya keren. Kenapa keren? Karena meski belum baca sampai tamat, gaya penuturannya enak, mudah dipahami, dan ada banyak hal positif yang bisa dipelajari. Oh, bukan.. Bukan tentang pelajaran fisika. I promise!

Rhein mau sedikit ngoceh setelah baca sedikit buku Einstein. Bukan tentang isi bukunya, ya... Hanya beberapa pendapat yang timbul efek dari buku ini.

Di awal, diceritakan tentang bagaimana kondisi mental sosok Einstein yang sedikit terbelakang saat ia masih kecil. Yang mana dijelaskan olehnya bahwa itu termasuk anugerah. Why? Begini, seorang anak kecil memiliki rasa ingin tahu dan kreativitas yang tinggi. Karena ia 'terlambat tumbuh', Einstein jadi tetap memiliki rasa ingin tahu seperti anak-anak saat ia sudah dewasa dan mencari solusi dengan cara orang dewasa. Perpaduan yang hebat, bukan?

Contohnya begini. Saat Einstein diberi hadiah kompas oleh Ayahnya, ia sangat penasaran bagaimana jarum tersebut selalu mengarah ke tempat yang sama. Apa yang membuatnya menjadi begitu? Jujur aja deh kalian, waktu kecil pas dikasih liat kompas, pasti pada penasaran dan bertanya-tanya juga, kan? Rhein juga gitu, kok. Nah, setelah dewasa, masih penasaran, sih.. Tapi apa masih berminat mencari tahu apa yang menyebabkannya? Begitu pula saat Einstein melihat petir, naik lift dan merasakan gravitasi, dll. Dia merasakan semua itu saat sudah dewasa dan dengan kreativitas serta rasa ingin tahu, ia pun sadar bahwa hal tersebut bisa dijawab dengan matematika. Karena itulah ia belajar ilmu alam dan rasa ingin tahunya terus menerus menciptakan ide-ide kreatif yang mencengangkan.

Sekarang, kita lihat apa sih yang terjadi dengan pendidikan di Indonesia menyangkut masalah ilmu alam (tenarnya IPA). Dari kecil, kebanyakan dari kita terbiasa kalau muncul kata "MATEMATIKA" itu langsung muncul stigma, susah, pusing, rumus njlimet, guru killer, doooohhhh siksaan bener, deh! Hingga nilai jelek di pelajaran matematika, fisika, kimia, pun menjadi sebuah pemakluman. Kan susaaaahh...

Hal ini diperparah dengan kondisi pengajaran di kelas yang melulu rumus. Ngakulah, dari SD sampe SMA pasti kalau pelajaran MatFisKim yang diinget pasti rumus-rumus. Apalagi yang pada bimbel, rumus cepat itu jadi andalan dan yang penting dapet nilai bagus. Adakah guru yang menjelaskan kenapa harus belajar seperti itu? Adakah guru yang merangsang rasa ingin tahu siswa hingga otak mereka bekerja kreatif mencari solusi tanpa mencontek rumus di buku, melainkan dengan nalar logika hukum alam?

Loh, apa hubungannya ilmu pasti sama kreativitas? Oh, sangat ada. Kreativitas bukan hanya milik ilmu yang berhubungan dengan desain. Dalam natural science pun sangat perlu. Kreativitas itu cara berpikir dan bukan bidang pekerjaan/pelajaran. Kreativitas perlu diterapkan di bidang ilmu apa aja. Termasuk natural science yang sudah terdogma dgn kata2 "Ilmu pasti". Einstein itu sangat kreatif, lho. Rhein nggak bilang pelajaran hitungan itu gampang.. Tapi pelajaran hitungan, kalau diajarkan secara kreatif, bisa sangat menyenangkan & menantang.
Imagination is more important than knowledge. ~Albert Einstein~
Well, sekian ocehan hari ini. Nanti kalau udah tamat baca bukunya, Rhein share di sini lagi.. :)

#30DaysChallenge Day 3.

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Trip to Vietnam: Hanoi-Ha Long Bay

Sebenarnya perjalanan ini saya lakukan Oktober 2017 lalu, namun apa daya baru sempat ditulis sekarang. Kemudian kali ini juga kunjungan saya ke Vietnam yang kedua, yang  pertama tahun 2015 dan malah tidak saya tulis di blog. Semua karena apa? Tentu karena malas. Hahaha..

Berbekal izin libur dari kantor dan tiket yang nggak murah-murah amat, saya dan adik bertolak ke Vietnam, sempat transit dan bermalam di KLIA2 untuk flight pagi menuju Hanoi. Berhubung kali ini merupakan perjalanan singkat (maklum buruh), otomatis saya nggak bisa go-show ujug-ujug menclok di suatu negara baru dan berpikir mau ngapain aja seperti biasanya. Saya sudah booking hostel dorm (hanya $5! I love Vietnam! Cheap!) dan tujuan saya kali ini jelas: Bermalam di kapal pesiar di Ha Long Bay. Duh, buruh satu ini emang loba gaya pisan. 
Hari ke 1
Dari bandara Hanoi kami naik bis umum dengan waktu perjalanan kurang lebih 30 menit ke daerah Old Quarter atau Hoan Kiem District. Sebenarnya di bandara banyak yang menawarkan …

Backpacker Thailand Trip (part 4): Grand Palace - Asiatique

Rhein itu kebiasaan deh, kalau posting tentang backpacking pasti ngga beres dari berangkat sampai pulang. Seringnya kepotong setengah-setengah karena alasan yang entah apa. Mungkin ini mengidentifikasi kalau Rhein tipe orang yang cepet move on yah.. Hehehe.. 
Untuk Backpacking Thailand ini udah diniatkan harus ditulis sampai tamat! Soalnya ini backpacking berprestasi yang mengeluarkan budget murah, ke luar negeri pula. Baiklah, mari kita lanjutkan cerita-cerita backpackingnya dengan membongkar ingatan. Yang belum baca part sebelumnya ada di sini, di sini, dan di sini, ya.
Hari keempat di Thailand dan kembali ke Bangkok lagi. Pagi-pagi sekitar jam 8 Rhein udah siap mandi, dandan cantik, dan siap untuk wisata kebudayaan. Saat turun ke lobi, Rhein dikasih tahu sama penjaga penginapan bagaimana rute ke Grand Palace yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Khaosan Road dan jangan tertipu sama orang-orang yang menawarkan tuktuk atau mengatakan bahwa Grand Palace tutup. Ih sumpah pemilik &…