Langsung ke konten utama

Mastering Storytelling (UWRF 2013)

Sabtu, 12 Oktober 2013

Sejak datang ke Ubud Writers Readers Festival tahun lalu, Rhein sudah berjanji pada diri sendiri bahwa tahun depan harus datang lagi. (Ceritanya ada di sini dan sini). Janji pada diri sendiri pun harus ditepati, dong... Alhamdulillah, tahun ini bisa datang lagi. Sejak dua bulan lalu, udah niat banget cari tiket pesawat promo dan mantengin website UWRF ngincer workshop-workshop menarik untuk diikuti. Yup, kalau setahun lalu hanya berkesempatan mengikuti main program alias diskusi panel karena tiket workshop udah pada sold out, tahun ini nggak boleh kecolongan. Bener aja lho, bahkan sekitar dua minggu sebelum UWRF digelar, workshop-workshop yang Rhein incer udah pada sold out (untung udah beli tiket sebulan sebelumnya).

Tanggal 12 Oktober, Rhein ikut workshop yang diisi oleh Claire Scobie, seorang jurnalis dan penulis buku yang udah mendapatkan award penulisan. Tema yang diangkat adalah "Mastering Storytelling". Why? Why did you choose this workshop, Rhein? 

Begini, Rhein menemukan 2 tipe orang dalam hal bercerita. Pertama adalah orang yang bercerita dengan cara berbicara. Contoh terdekat adalah Ibu dan Furky (adik Rhein). Ibu jelas sangat piawai mendongeng sejak Rhein kecil, sampai sekarang pun Rhein masih bisa merasakan betapa sedih ketika ikan Leungli mati dan si gadis dalam cerita menangis karena kehilangan sahabatnya itu. Furky, pecinta hampir segala macam film. Minta dia menceritakan sebuah film dari awal sampai tamat dan Rhein bisa membayangkan film tersebut plus ikut tegang tanpa perlu menontonnya. Apa? Apa yang membuat kedua orang terdekat Rhein ini bisa bercerita (bicara) sampai bisa membawa perasaan pendengar ikut terhanyut? Kemampuan mereka ber-NARASI.

Kedua, ada orang yang bercerita melalui tulisan. Ask me to tell (talk) about some stories and I will ruin it and make the listener confuse. Yep, Rhein ngga bakat becerita dengan cara ngomong (kecuali gosip, halah). Karena lebih merasa mampu bercerita melalui tulisan, Rhein pun perlu belajar bagaimana supaya orang-orang yang baca tulisan Rhein ikut terhanyut seperti lagi didongengin (bahasa apa ini). That's why I choose this workshop, to sharpen the storytelling.
Across all writing genre, one of the most important things to know is how to craft a story with a strong narrative thread.
Sebenarnya dalam workshop ini ada dua tipe tulisan yaitu fiksi dan non fiksi, tapi Rhein rangkum yang fiksi aja ya, daripada ntar kepanjangan. Hahaha.. Ini yang fiksi juga yang hal utama aja, karena lumayan banyak yang di bahas di modulnya.

Oke, dalam memperkuat narasi dalam fiksi ada dua hal penting yang perlu ditekankan. Pertama adalah plot, adegan. Penulis perlu mempertajam plot untuk mendapatkan narasi yang sesuai. Buat kronologi yang teratur, bangun ketegangan dalam cerita dan antisipasi apa yang perlu dilakukan si tokoh. Lakukan dramatisasi pada beberapa adegan (dramatis beda sama lebay). Picu hal-hal yang bisa memancing imajinasi pembaca pada setiap adegan yang ditulis.

Kedua adalah 'suara' dalam karakter. Ciptakan karakter se-nyata mungkin, buat hal-hal kecil yang menjadi kebiasaannya (meski pada prakteknya ngga perlu ditulis semua) dan memberi efek pada bagaimana dia berbicara. Misalnya si karakter tipe orang mudah panik, dia punya tipe suara cempreng, aneh aja tipe suaranya lemah lembut kayak putri Solo. Bahkan kalau perlu, wawancara narasumber untuk penulis bisa mendapat 'suara' si karakter.

Here is the point of this workshop: Make the reader trust the writer. Make the reader believe everything you write is real.

Susah ya? BANGETTTTTT!!

Sisa cerita, workshop ini menyenangkan, inspiratif, bahkan peserta diminta langsung praktek nulis mulai dari nulis sinopsis (bahkan, tuliskan inti novelmu dalam HANYA satu kalimat! Oh, man..), mencipta karakter yang unik dan nyata, membuat dialog yang efektif, sampai bikin beberapa alternatif kalimat pembuka yang bisa 'nampol' pembaca (ada partner yang menilai). Diskusi juga berjalan aktif. Rhein dapet banyak banget masukan dari speaker dan partner Rhein selama workshop.

Saat coffee break, peserta banyak berbaur (dari 20 peserta, hanya 2 dari Indonesia). Rhein ngobrol dengan salah seorang penulis dari Australia dan dia sedang menerjemahkan cerita serial 'si Kancil' dalam bahasa Inggris agar lebih mendunia. Bahkan, cerita si kancil jadi cerita anak di Australia. Jadilah kami cekikikan ngomongin si kancil, timun, buaya, dan pak tani. Lalu beberapa juga bertanya tentang novel Rhein yang sudah terbit (di awal ada perkenalan peserta gitu), bahkan mereka mendoakan semoga novel Rhein diterjemahkan dalam bahasa Inggris supaya suatu hari mereka bisa baca. Aaahhh... So cuuttee.. Terharu luar biasa.. :')

Overall, workshop hari ini menyenangkan. Rhein juga ikut beberapa diskusi panel, tapi kalian bisa lihat di twitter @ubudwritersfest tentang beberapa cuplikannya. Soalnya ini tulisan udah kepanjangan. Hahaha.. Bersambung ke UWRF hari selanjutnya :).

Posted via Blogaway

Komentar

Ellnovianty Nine, M.Hum mengatakan…
http://japanworkstudy.blogspot.com/
Ellnovianty Nine, M.Hum mengatakan…
Halo Rhein, teteh mampir di sini. Baca hasil workshop Rhei. Soalnya teteh suka mendongeng. Intinya begitu. Alhamdulillah ternyata dapat ilmu baru dalam deskripsi cerita. Sesuai dengan kata Rhei, susaaah banget!
Maya mengatakan…
wahh, makasih. saya pnh dgr seorg sahabat penulis memberi tips ttg mslh ini. dia bilang, menulis itu adala "showing" bukan cuma "telling" :)
Shanti mengatakan…
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
Shanti mengatakan…
Wah seru bgt Pet UWRF.. Pengeeen banget suatu hari bisa ikut juga.
Ada bagian nulis non-fiksinya juga ya ternyata? Boleh minta materinya ga? Hehe..

Pos populer dari blog ini

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 2): Pattaya & Koh Larn Island

7 May 2014 Subuh di Bangkok, jujur Rhein nggak tahu arah kiblat ke mana. Pas di Indo nyarinya jadwal solat doang, lupa cari arah kiblat. Tapi yasud, kalau nggak tahu, solat mah niatnya yang penting ke kiblat, yes. Malam sebelumnya udah pesen ke resepsionis kalau beres subuh minta diantar ke terminal bus Ekkamai. Katanya mereka bisa nganter pake ojeg. Namun apa daya jam 5 pagi itu resepsionis masih gelap, nggak ada orang, ngga ada bel untuk manggil, mau nelepon ke contact person ya nomor hape Rhein masih nomor Indo kena roaming ngga bisa dipake. Akhirnya memutuskan untuk check out, simpan kunci, dan keluar hostel cari taksi ke terminal Ekkamai. Soalnya ngejar kapal ferry ke Koh Larn Island di Pattaya nanti yang cuma ada di jam-jam tertentu. 
Supir taksi, petugas terminal, dan orang-orang yang Rhein temui sepagi itu ramah-ramah. Mungkin kelihatan banget, cewek bawa backpack gede laha-loho nggak tahu arah, jadi mereka murah hati ngasih informasi. Perjalanan 2 jam dari Bangkok ke Pattaya …