Langsung ke konten utama

Bapak, Aku, dan Kambing Kami

Masih dalam kondisi traveling setelah Ubud Writers Readers Festival dan keterbatasan alat ngetik plus sinyal wifi. Thanks to lovely brother, Bani, yang rela tabletnya digondol selama perjalanan ini..

Kemarin Idul Adha ya... Rhein menjalaninya di Ubud, bertepatan dengan hari terakhir UWRF. Pagi-pagi (06.30 waktu setempat) Rhein buru-buru keluar penginapan menuju lokasi yang ditunjukkan bapak pemilik homestay sebagai tempat yang biasa digunakan untuk umat muslim shalat Jumat. Keliling-keliling di lokasi tersebut, kok sepi?? Setelah bertanya ke salah satu penduduk, ternyata umat muslim Ubud kalau mau solat Idul Adha atau Idul Fitri harus ke kota. Yang terdekat katanya kantor kelurahan di Gianyar, yang mana termasuk jauh dari homestay tempat Rhein menginap. Akhirnya ngga jadi melihat aktivitas Idul Adha muslim di Ubud, balik ke homestay.

Sekarang cerita tentang kambing. Di rumah, Bapak adalah yang paling anti dengan daging kambing. Hal itu juga terbawa menjadi kebiasaan anak-anaknya ngga ada yang suka. Kenapa? Aku diceritain sama Ibu yang dapet kisahnya dari Nenek (Ibunya Bapak).

Waktu Bapak masih kecil, usia TK atau SD kelas kecil, Aki membeli kambing untuk kurban Idul Adha saat itu. Aki sengaja membeli sekitar seminggu sebelum Idul Adha. Bapak kecil yang belum mengerti esensi kurban seneng banget ada kambing di halaman rumah, disangkanya untuk dipelihara. Tiap hari Bapak sering main sama tuh kambing, ngasih makan, dielus-elus, pulang sekolah didatengin ke kandang, pokoknya seneng banget punya peliharaan.

Sampai pada saat Idul Adha, selesai shalat, Bapak masih ketemu si kambing dan ngasih makan, lalu pergi main sama temen-temen, libur sekolah kan ya... Nah, sore-sore pulang main, Bapak mendapati si kambing ngga ada di halaman. Bapak kecil nyari kambing kemana-mana, keliling setiap rumah, kolong ranjang, dapur, sampai nanya ke uwak-uwaknya kemana kambing saya? Ngga ada yang tahu. Sampai akhirnya kakaknya Bapak bilang bahwa kambing Bapak udah disembelih, udah mati. Dang! Patah hati lah Bapak.

Keesokan harinya, masih menurut cerita Nenek, giliran Bapak yang hilang entah ke mana. Seharian dicari oleh Nenek, Aki, dan semua kakak-kakanya, ngga ketemu. Baru pada malam hari, Nenek menemukan Bapak di salah satu kolong tempat tidur di rumah (rumah Nenek-Aki dulu luaaasss banget & banyak kamar karena sering ada orang luar negeri nge-kos). Bapak ditemukan ngumpet di kolong ranjang dalam kondisi nangis diam-diam, sedih kambing sahabatnya dalam beberapa hari, disembelih tanpa dia tahu, tanpa sempat perpisahan. Huhuhu... Sejak itulah Bapak ngga pernah mau makan daging kambing karena selalu teringat kenangan kambing tersayang.

Itu cerita kambing Bapak. Sejak dulu, Bapak-Ibu selalu mengajarkan Rhein dan adik-adik untuk berbagi. Termasuk mengenai esensi kurban Idul Adha, kami diajarkan mengenai keikhlasan untuk memberi, apalagi setelah mendapat begitu banyak anugerah berlimpah. Karena seringkali memberi pada orang lain sebenarnya memberi kebahagiaan pada hati kita sendiri. Mungkin kita baru mampu memberi materi, tapi Tuhan pasti memberi 'hal lain' pada kehidupan dan hati  kita. Tambahan lagi ortu pernah cerita kalau binatang yang menjadi kurban Idul Adha akan menjemput saat kita akan melewati jalan Sidhratul Muntaha, menjadi kendaraan kita menuju surga. Dulu, Rhein kecil cuma ketawa-ketiwi 'hihihi... Gimana rasanya naik kambing?'.

Tahun ini, setelah menabung beberapa tahun dan niat banget dari tahun-tahun lalu, Alhamdulillah dikabulkan untuk bisa kurban sendiri. Karena Rhein harus melakukan perjalanan, jadi hanya bisa menitip ke Bapak-Ibu, minta tolong dibelikan hewan kurban. Kemudian pagi-pagi di hari Idul Adha, Ibu mengirim foto si kambing. Kambing kurbanku, kambing pertamaku, kambing yang semoga pada saatnya nanti bisa, insyAllah, menjemputku untuk ke surga. Di penginapan Ubud, cuma bisa nangis lihat foto kambing. Nangis haru, seneng, dan bersyukur banget. Baru pada kali itu Rhein merasa bahwa kambing itu cakep! Hahaha.. Itu cerita kambingku...

Kalau kambingmu? :D

Kuta, 16 Oktober 2013.


Posted via Blogaway

Komentar

Lina W. Sasmita mengatakan…
Haha...Rhein mana ada kambing yg cakep atuh Neng. Eh di Ubud Writer ya? Selamat yaaaa. Masih mimpi bisa ke sana jadi peserta.

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …