Langsung ke konten utama

Writers Meet & Writing Style

Kalau dua atau beberapa penulis ketemu, biasanya mereka ngapain, sih? Ngomongin tentang nulis? Hmm.. Sebenarnya iya, sih. Hehehe...

Jum'at lalu Rhein main ke kantor Mizan. Mau beli beberapa novel titipan temen-temen sekalian ketemu Moemoe Rizal buat barter novel kece nan cetar membahana milik kami berdua. Iyes, barter CoupL(ov)e sama Bangkok, dong. Oh iya, Moemoe ini editor novel Jadian 6 Bulan juga, jadilah ketemuan kemarin itu jadi ajang bergosip berbagai hal dunia kepenulisan. *Ajang narsis juga*


Rhein Fathia & Moemoe Rizal
Ih, puasa-puasa gosip. Hmmm.. Diskusi sih sebenarnya dan insyAllah apa yang kami bicarakan bermanfaat. *Ngelesnya bisaan*. Selain curhat tentang proses kelahiran buku, Rhein sama Mumu juga membicarakan tentang karya masing-masing dari awal karier menulis. Kami sama-sama menerbitkan buku pertama kali sekitar tahun 2005. Rhein dengan "Jadian 6 Bulan" dan Moemoe jadi pemenang lomba dengan judul novel "Kling! Spinning Coin". Coba liat potonya di samping ini. So jadul.

Tahun berlalu, bedanya Moemoe produktif nulis bahkan beberapa novelnya termasuk Mama Cake udah dibuat film. Sedangkan Rhein? Oh, moody luar biasa dan berkarya semau-maunya *jangan dicontoh*. Namun, ada hal yang kami bahas sekilas dan penting banget buat penulis. Yaitu, tentang peningkatan kualitas karya. 

Ibarat makhluk hidup, sebenarnya "writing style" seseorang juga tumbuh. Seharusnya tumbuh. Menjadi lebih baik, lebih matang, lebih memperlihatkan karakter si penulis. Karena seiring waktu, tentu penulis mendapat pengalaman yang lebih banyak, belajar lebih banyak, melahap banyak karya yang lebih variatif, sehingga sudah otomatis ia akan menyerap semua itu dan menghasilkan karya-karya yang memiliki makna lebih luas. Penulis perlu menantang dirinya sendiri untuk menghasilkan karya dengan "writing style" yang tidak stagnan. Harus ada naik kelas.

Sejak tahun 2005 sampai 2013, wow 8 tahun lah Rhein & Moemoe berkecimpung di dunia penulisan. Sudah tentu, Rhein yang membaca "Kling! Spinning Coin" dan "Bangkok" melihat perbedaan dan perkembangan yang jauh meningkat. Moemoe pun merasa kok dia mengalami perubahan kualitas menulis seiring waktu. Sama seperti halnya "Jadian 6 Bulan" dan "CoupL(ov)e", jelas berbeda. Rhein juga merasakan perubahan kualitas menulis yang lebih kentara. Perubahan ke arah yang lebih baik.
Menulis itu ajang pembelajaran. Baik dari segi isi tulisan mau pun kualitas penulisan. So, keep learning, keep writing, and never give up! :)

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Riski Fitriasari mengatakan…
waaaaa... gaya penulisan saya berubah mateng ga ya... ??? #mikir, liat blog, mikir lagi, liat lagi...
Rusdianto mengatakan…
ya, Nona astronaut benar.

Sebagian penulis tumbuh dgn cepat , sebagian lainnya tumbuh lambat, ada yang tdk berkembang & ada jg yg berhenti tumbuh...

Untuk kasus pribadi, praktek terus-menerus adalah cara paling efektif untuk menumbuhkan kualitas tulisan.

Oh yah, isi pesawat Anda bagus-bagus. Senang bisa nyasar disini.. :)

Jika sempat, Anda mendapat izin untuk mendarat di planet saya :)

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …