Langsung ke konten utama

Dukungan Bapak

Sabtu lalu, 13 Juli 2013, Rhein diundang Nulisbuku Club untuk berpartisipasi dalam acara mereka dengan mengisi talkshow tentang creative writing. Acara ini merupakan rangkaian acara Nulisbuku Club yang sebelumnya mengadakan event #ProyekMenulis dan berhasil menjaring 800 cerpen! Ayo semua bilang WOW! Nah, dari #ProyekMenulis ini, hari Sabtu itulah pengumuman siapa yang berhasil lolos menjadi 17 finalis dan 200 karya terbaik lain yang akan dibukukan. Bertempat di FX-Sudirman Jakarta, acara ini juga menjadi salah satu rangkaian acara HijabSpeak Festival.

Rhein nggak akan cerita terlalu panjang lebar tentang jalannya acara talkshow tersebut. Pastinya seru, yang dateng rame sampe banyak yang berdiri nggak kebagian tempat duduk, dan para pemenang #ProyekMenulis itu keren-keren! *Rhein sebagai pengisi talkshow juga keren. Plak!*
Rame ya, acaranya.. #NulisbukuClub
Ada cerita unik setelah Rhein selesai mengisi talkshow dan acara berganti ke pengumuman finalis. Saat itu Rhein beranjak agak jauh dari panggung, berbaur dengan para pengunjung yang berdiri nggak kebagian kursi. Tiba-tiba ada seorang bapak-bapak mengajak kenalan. Beliau cerita kalau anaknya juga suka banget nulis dan ikutan #ProyekMenulis itu. Dan hey, putri beliau lolos menjadi finalis! (Halo, Dita! :D). Sempat ada percakapan begini,
Me: Iya Pak, kalau putrinya suka nulis, harus didukung terus!
Papanya Dita: Oh iya, saya sangat mendukung makanya anter dia sampai ke sini. Sekarang dia di atas panggung itu.
Kemudian, ingatan Rhein langsung melayang ke Bapak. Yes, my King! Pikiran Rhein langsung mengingatkan, "Gue nggak akan sesukses ini tanpa dukungan Bapak dari gue kecil". Let me tell you little bit story about my Daddy, Bapak.

Di mata Rhein, Bapak itu sosok jenius. Beliau lulusan arsitek ITB, masih produktif membuat berbagai macam desain gambar atau memproduksi furniture untuk desain interior. Masih bisa mengikuti kecanggihan teknologi bahkan mengalahkan Rhein si anak gaptek ini. He is perfectionist. Dari zaman Rhein SD, ketika gw pamer dapet nilai ulangan matematika 98, beliau akan berkata "Kalau bisa dapet 100, kenapa harus dapet nilai 98?". Hahaha... But yeah, that's my Dad! Bapak berkata begitu bukan tanpa kontribusi. Selama sekolah, pelajaran matematika & fisika kalau ada yang susah pasti Rhein minta ajarin ke beliau. Tugas prakarya bahkan sampai menghias laporan praktikum pun Rhein butuh bantuan Bapak (maklum, gw ga ada bakat desain). Nggak terhitung deh si Rhein anak manja ini sering minta tolong kayak apa sama Bapak untuk tugas-tugas kuliah (sampe sekarang!). Pastinya, Bapak adalah sosok yang menepati janji yang pernah beliau ucapkan saat Rhein masih kecil,
Selama untuk pendidikan, apa pun yang Teteh butuh pasti akan Bapak sediakan. Tugas Teteh tinggal belajar dan jadi anak pinter.
That's it! Sebuah janji sederhana yang masih beliau lakukan sampai sekarang. Rhein juga inget, masih di zaman SD, ketika sedang haus-hausnya kebutuhan membaca sedangkan orang tua juga nggak mungkin membeli semua buku di toko buku. Setiap liburan caturwulan (anak 90an banget yah), Bapak akan mengajak Rhein ke perpustakaan daerah (saat itu kami masih tinggal di Semarang). Jadi, pagi-pagi Rhein ikut Bapak berangkat ke kantor, lalu Bapak mengantar dan menitipkan Rhein ke penjaga perpus, baru sore hari saat pulang kantor Bapak akan menjemput. Bagi Rhein kecil, ditinggal di perpustakaan besar seharian itu seperti surga. Dan aktivitas ini berlangsung setiap liburan. Kenangan itu menjadi momen yang sangat Rhein syukuri sampai sekarang.

Tentang karir menulis. Draft naskah Jadian 6 Bulan, yang Rhein tulis saat kelas 2 SMA, sempat mengendap beberapa bulan di rak buku. Bapak tahu Rhein suka nulis dan sudah ngeprint naskah itu meski beliau belum membacanya (nggak boleh sama Rhein soalnya). Naskah novel pertama, Rhein ABG juga punya rasa nggak pede mengirimkan ke penerbit. Sempat beberapa hari Bapak meminta draft tersebut dan bilang akan bantu kirim. Rhein menunda-nunda. Sampai akhirnya setelah dipaksa-paksa, ya sudahlah Rhein serahkan juga naskah itu ke Bapak dan beliau mengirimkan ke penerbit. Hasilnya? Voila! Sejak 2004 naskah itu dikirim oleh Bapak, udah 9 tahun, novel itu tetap terbit dan menjadi masterpiece yang masih disukai pembaca.
Ki: versi 2005 | Ka: versi 2013 | Still has fans after 8 years!
Kalau Rhein nggak punya Bapak yang sangat mendukung seperti itu, yang nggak memaksa Rhein mengeluarkan naskah itu dari rak buku, draft Jadian 6 Bulan itu hanya akan menjadi setumpuk kertas print berdebu selamanya. Dan Rhein belum tentu akan jadi penulis yang bisa mengeluarkan karya lain seperti sekarang.

Masih banyak, masih sangat banyak cerita tentang dukungan yang Bapak kasih ke Rhein. Bapak yang selalu rela menjemput Rhein kapan pun bahkan tengah malam dari segala aktivitas astronomi, nonton Rhein perform dansa, urusan launching buku, atau hal lain. Bapak yang akan mengantar jemput Rhein selama beliau bisa. Anything! Yang pasti, Bapak adalah sosok Ayah yang akan membiarkan Rhein terbang setiiiinnggiii apa pun tanpa mengekang. Pesan Bapak sederhana,
 "Yang penting Teteh jaga kehormatan agama dan keluarga."
The King and his Little Princess
Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

naussea mengatakan…
aih, sungguh keren, punya keluarga yang bisa mendukung anak dalam segala hal, terutama hobi,

ayah yang keren, sangat, sehat selalu om
Hanna HM Zwan mengatakan…
Baaralallah rhein....sma ats dkungan bapak :)
Lina W. Sasmita mengatakan…
Didikan Bapak gak sia-sia ya Rhein. Buktinya Rhein udah jadi penulis keren dan beken. Saya sangat suka baca novelnya Rhein. Good luck semoga novel2nya best seller terus.
rhein fathia mengatakan…
@Om Sea:
Makasih, Om.. Semoga Om jg bs jadi Ayah yg hebat untuk Lintang ya.. pasti bisa :)

@Hanna:
Alhamdulillah.. Makasih..

@Lina:
Makasih ya udah baca novelku.. Keren itu relatif, tapi kalau Kece sih emang iya.. Hahaha.. :D
nhae gerhana mengatakan…
jujyr..berkaca2 bacany..pdhal kg di mobil breng tmn2..huaaaa..inget alm bapak jg..yah selagi ada, tunjuki rasa sayang itu..he
salm knal :-)

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …