Langsung ke konten utama

Tips Menulis 1: Baca (Iqra'!)

Saya sering banget dapat pertanyaan, "Rhein, apa sih tips supaya bisa nulis?". Dan saya akan selalu menjawab, sebelum menulis kamu harus bisa terlebih dulu membaca. Baca buku? Oh, tidak selalu... Saya akan coba jelaskan mengapa membaca merupakan poin penting untuk bisa menulis. Tulisan ini pernah saya publish di blog saya sebelumnya. Check this out!
=========================================================================

Aku mengenal seorang anak kecil yang menurut cerita ibunya, sudah suka membaca bahkan sebelum ia mengenal huruf dan angka. Ibunya pernah bercerita, "Dia ini, waktu usia belum 3 tahun hobinya ngedeprok (bhs sunda: tengkurap) di atas koran terus pura-pura baca 'dan olang-olang dan belsama-sama..dan olang-olang dan belsama-sama', begitu terus setiap baca koran".

Kini, anak kecil itu sudah tumbuh dewasa dan masih suka membaca. Mulai dari sobekan koran bekas bungkus terasi dari warung, sampai jurnal sains milik J.J Thompson (untuk yang ini, masih dalam tahap membaca dan berusaha keras untuk memahami hihi,, ;p)

Perintah untuk membaca adalah wahyu Tuhan pertama yang turun untuk manusia teristimewa. Ia tidak memerintahkan untuk berperang melawan musuh, Ia tidak memerintahkan untuk bersujud 5 waktu, Ia tidak memerintahkan untuk menyebar kebaikan, bahkan Ia tidak memerintahkan untuk selalu mengingat-Nya. Ia hanya memerintahkan untuk membaca! That's it.

Mengapa? Karena membaca adalah pekerjaan mudah (yang sering dijadikan susah) yang dapat dilakukan manusia. Bahkan menurut sebuah penelitian, bayi usia dibawah 6 bulan sudah dapat membaca gerak orang-orang sekitarnya, yang nantinya akan masuk dan mengendap lalu membentuk kepribadian si bayi itu.

Membaca itu mudah, karena instrumennya sudah Ia berikan pada setiap manusia. Membaca hanya perlu MATA. Bola mata, mata hati, dan mata kaki. Bila tak miliki salah satunya, manusia masih miliki mata yang lain. Dan merugilah mereka yang tidak memiliki ketiga mata itu...

Membaca juga dapat dilakukan oleh orang yang buta huruf, karena membaca tidak melulu huruf dan angka. Orang-orang zaman dulu bisa 'membaca' langit dan merangkai bintang-bintang (sebenarnya tidak melulu bintang, karena ada juga nebula dan galaksi) hingga membentuk konstelasi, yang sampai sekarang dipergunakan oleh orang-orang modern (ngakunya) seperti kita.

Membaca juga tidak melulu identik dengan sekolah, ruang kelas dengan papan tulis, guru, buku, pinsil, penghapus, dll. Karena dengan melihat sehelai daun atau seekor nyamuk terbang pun, banyak hal yang dapat dibaca.

Untuk membaca, manusia hanya perlu membuka MATA. Bola matamu, mata hatimu, dan ayunkan mata kakimu,,, Di manapun dirimu berpijak, disitulah taman bacaan-mu,,,

Selamat Membaca,,, ^_^
==========================================================================

Bacalah...

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

addiehf mengatakan…
aku juga sedang mbaca postingan ini :D
Qori Reader mengatakan…
not only read, but hear, fell, and eat up to your brain. Make a processing word to write it depending on mood and situation. Alright ya?
Tukang Gosip mengatakan…
alhamdulillah.... berkat Rhein, akhirnya tukang Gosip bisa baca dweh...

makasih ya Rhein....
Tukang Gosip mengatakan…
alhamdulillah.... bisa mbaca, akhirnya Tukang Gosip bisa nulis juga dweh...

makasih lagi ya Rhein....

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …