Saya Takut Miskin, Kawan...

Mari kita bicara tentang materi, tentang uang, tentang hal-hal yang perlu dibeli.

Kata orang, miskin atau kaya itu relatif. Dari kacamata *dan softlens* saya, miskin adalah ketika kita terpaksa harus meminta pada orang lain karena tidak mampu mengusahakan sendiri. Dan saya takut miskin. Sebuah doktrin yang tertanam lekat dan ditularkan oleh Ibu. Iya, Ibu saya juga takut miskin.

Emang kamu pernah miskin, Rhein? Entahlah, saya sih dari dulu selalu merasa cukup *Alhamdulillah...*. Beruntunglah saya punya orangtua yang mengajarkan untuk tidak konsumtif dan gemar menabung. Sebelum TK, saya diajarkan untuk rajin menabung di celengan. Di TK, karena Bapak melarang untuk jajan sembarangan, saya jarang jajan. Jadilah uang jajan utuh.

Beranjak SD, saya mulai menabung di bank atas nama saya dan Ibu. Jadilah seminggu sekali saya rutin pergi ke bank untuk menabung sisa uang jajan *berapa banyak anak SD yang punya account Bank?*. Sedikit demi sedikit, tapi bisa untuk beli kado untuk Ibu. Jadi teringat Liquid, sahabat sejak SD yang ultah Ibu kami berdekatan dan sering cari kado bareng. Oiya, waktu SD juga saya cari uang dengan menyewakan koleksi majalah Bobo di suatu tempat persewaan buku, barengan sahabat saya Rosita yang menyewakan komik-komiknya. Uangnya untuk apa, Rhein? Beli eskrim.

Buku-buku pelajaran di sekolah, saya beli bekas. Jadi, setiap tahun ajaran baru saya mencatat semua buku yang diperlukan di sekolah, lalu pergi bareng Ibu ke toko buku loak di pasar Johar (dulu di Semarang). Hal itu beranjak sampai SMP. Selain buku bekas itu murah, toh isinya sama. Apalagi biasanya sudah ada isi jawaban dari soal-soalnya. Hehehe.. :D. Di SMP juga saya mulai jualan gantungan kunci buatan sendiri. Selain ditabung, uangnya untuk beli novel. Saya mulai kecanduan Sherlock Holmes, Poirot, Trio Detektif, STOP, dan novel detektif lain. SMA, saya sibuk belajar. Belajar organisasi maksudnya. Hahaha... Jadinya hobi cari uang untuk sponsorship. Tapi beruntung saya bisa menerbitkan novel. Lumayan foya-foya dari royalti. Foya-foya beli apa, Rhein? Buku. Ibu sering ribut saya kebanyakan buku.

Kuliah, saya kerja serabutan. Dari guru SMA, jadi guide teleskop, atau pembicara. Apapun deh, yang penting tabungan saya bisa bernapas *seringnya sesak napas*. Maklum uang jajan saya nggak besar, cuma 450ribu/bulan padahal saya kost. Tapi tetap, saya pantang kekurangan uang. Satu kali saya miskin alias minta tambahan uang adalah ketika ngerjain skripsi di Bosscha. Karena saya men-stop semua kerja sambilan.

Mungkin, karena sejak kecil saya selalu punya tabungan dan bisa mendapatkan apa yang saya mau, saya jadi takut miskin. Makanya semua teman cowok saya setuju kalau Rhein itu cewek matre. Bahkan pernah seorang mantan *mantan yang mana Rhein? :D* marah-marah karena saya bilang ke dia, "Kalau kamu cari istri untuk diajak hidup susah, silahkan cari perempuan lain. Saya nggak mau hidup miskin". Jadi orang itu harus kaya, urusan gaya hidup mewah atau sederhana, itu pilihan. Jadi orang kaya itu bisa banyak memberi. Dan seluruh alam raya tahu memberi itu lebih baik daripada tidak diberi menerima.

Kalau orang-orang melihat saya ini hidupnya enak, bisa beli-beli atau pergi ke sana-sini, ingat saja bahwa tidak ada hasil tanpa usaha, *aksi-reaksi hukum Newton 3*. Saat ini, saya sedang mencoba investasi dan bisnis Rhein's Shop, juga belajar dari pebisnis lain. Alasan simpelnya ya karena memang saya takut miskin, jadi saya antisipasi. Dan supaya tidak miskin, syaratnya hanya 1: Jangan Malas.

ps: Jangan lupa untuk berbagi dan memberi pada saudara kita yang menjadi korban bencana alam.

Love is real, real is love. -John Lennon-

Comments

ahmil said…
permisi ..mantep atuh gan postingannya :)) perlu belajar dari sekarang nih buat menabung hehehe..salam knl yah???
Anonymous said…
Gw jg udh punya tabungan dr SD (kelas 6 tapiiii. hihihi).

Nabungggg ituuuuuuu... susah susah gampang.

Susah ngumpulinnya, gampang ngabisinnya. hihihi. :D
Rhein Fathia said…
@ahmil:
Salam kenal juga ya... ayo..ayo menabung! Hehehe... :D

@ordinaryoktaviani:
Betuuuulll... susah ngumpulin. Kalau ngabisin, bisa dalam sekejap! Hahaha...
Unknown said…
yg penting mau kerja pasti gak akan miskin
Miss G said…
Supaya tidak miskin, jadilah orang kaya... hihi..
Muhammad A Vip said…
mending takut kaya, kaya monyet kan payah. tapi menjadi miskin dan sabar lebih baik daripada merasa kaya tapi pelit.
Rhein Fathia said…
@Sang Cerpenis:
setuju :)

@Miss G:
Jadilah orang kaya supaya nggak miskin.. Hahaha..

@Muhammad A Vip:
beuh.. kan dari awal juga dibilang ini bicara tentang materi, bukan kebun binatang. Nah, kalau kaya jangan pelit dunk... Dan orang sabar jangan mau miskin.. :D
Tukang Gosip said…
setuju deh sama filosofi "miskin adalah ketika kita terpaksa harus meminta pada orang lain karena tidak mampu mengusahakan sendiri"
makanya kita diajarain ngatur uang. dan hasilnya pun bisa kita rasa setelah dewasa...
----------------------------------------------------------------------

itu kok plat nomer motornya di sensor seeh???
btw, nama pacarnya kok nggak di gosipin sih...
Rhein Fathia said…
@Tukang Gosip:
Toss dulu ah kalau setuju...
Plat nomor dirahasiakan. Nanti kena razia.. hihihi.. :p

Popular posts from this blog

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Mein Traumhaus!