Langsung ke konten utama

Kuli Jakarta: Preman

Sudah jelas bahwa Ibukota lebih kejam daripada Ibu Tiri, rumput tetangga lebih hijau daripada rumput sendiri *nggaknyambungsi*. Nah, setelah hampir sebulan Rhein kerja di Jakarta tepatnya Kantor Beta, selain kemacetan yang menjadi ciri khas Jakarta, ada hal lain yang patut diwaspadai yaitu kriminalitas. Sepertinya hampir segala macam kejahatan tersaji di Jakarta ini. Dari yang ecek-ecek seperti maling ayam sampai yang kelas tinggi seperti korupsi uang rakyat *wuidiihh*.

Sepengetahuan Rhein, wilayah Matraman-Jatinegara memang wilayah yang patut diwaspadai karena tempat ini cukup padat sebagai tempat perkantoran, pasar, plus stasiun. Pasarnya pun ga tanggung-tanggung deh. Kayaknya semua lahan di sini bisa jadi pasar. Ruame beneerrr.. Dan tentunya pasar identik dengan preman pasar pula. Setiap kali turun dari halte busway Kebon Pala, Rhein harus jalan kaki kira-kira 100 meter menuju kantor. Dari perjalanan singkat tersebut, Rhein harus melewati berbagai macam pedagang kaki lima dan tak lupa para lelaki nongkrong (beberapa preman) yang hobi suit-suit serta menyapa "Assalamu'alaikum". Awalnya Rhein ngga terlalu peduli, tapi setelah dipikir-pikir, sepertinya bahaya juga kalau Rhein sudah ketahuan sering lewat tempat itu dan jadi incaran kejahatan mereka. Bukan ge-er loh *meskipunemangsayacantik*, tapi waspada itu sangat penting di Jakarta ini.

So, ada beberapa tips yang sudah Rhein lakukan dan akan Rhein bagi untuk waspada terhadap para preman dan kawan-kawannya ini.

1. Bawa senjata!

Bukan pistol kaliber 9mm yang punya peluru tajam loh ya.. Itu sih Rhein juga ngeri bawanya. Tapi minimal bawa senjata yang kira-kira ngga keliatan seperti senjata. Dulu, Ibunya Rhein selalu bawa cutter saat kerja di Jakarta. Rhein sendiri selalu bawa parfum semprot (Rhein mau menghalau preman atau bergaya sih??). Emang sih, selain untuk wangi-wangian, parfum ini lumayan kalau disemprotin ke mata. Cobain aja kalau penasaran.. Hahaha.. Selain itu, Rhein juga selalu bawa kantong isinya sepatu high heels. Jadi kalau ada yang mulai macem-macem, sabet aja pake tuh high heels terus semprot matanya pake parfum. Honestly, ini belum dicoba, tapi minimal untuk persiapan.

2. Jaga sikap
Jangan bersikap centil, klemar klemer, apalagi malah goda-godain preman. Juga jangan terlalu gahar dan galak. Bersikaplah cuek. Pasang tampang datar, dan kalau disapa "Assalamu'alaikum", terutama yang berjilbab nih, jawab aja sambil bergumam. Setidaknya mereka tahu kita jawab salam tapi nggak ngasih kesempatan untuk macem-macem

3. Cari Temen
Kalau bisa, janjian sama temen untuk jalan bareng ke kantor. Entah itu janjian di halte busway atau di mana gitu, supaya ga terlalu sering jalan sendirian.

4. Kenali Satpam Kantor
Selain emang pak Satpam itu untuk menjaga keamanan kantor, tapi bersikaplah baik dan ramah sama satpam kantor sendiri *masakantortetangga*. Supaya mereka pun kenal sama kita. Gimanapun juga, saat terjadi hal-hal yang tidak diinginkan di sekitar kantor, otomatis kita lari ke kantor lagi duonk.. Dan yang ada di barisan garda depan adalah Pak Satpam yang berjasa ini. Nggak asik dong kalau ada cerita, kamu dijambret terus kamu teriak-teriak jambret, semua orang di sekitar situ teriak-teriak jambret, si jambret asli lari, kamu ngejar. Jambret asli lewat kantor kamu, kamu lewat kantor kamu dan berhenti niat minta tolong, ada pak Satpam pasang wajah garang sambil bilang, "Kamu jambretnya ya?! *baghbughbaghbugh*" @#%^!&!*&$

Semoga tips ini bermanfaat.. ^^

pic taken from here

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

achie mengatakan…
emang serem jalan2 deket kebon pala situ ya? aku turun angkotnya depan komplek c jd ga ngerasain di tatap preman2 :p

satu lagi, bawa peniti. kalo2 ada yang iseng colak colek. mo bawa cutter kan lumayan gede. lumayan buat tojos2 siempunya tangan jail :D
rhein fathia mengatakan…
@achie:
awalnya sih serem. Tapi sekarang udah terbiasa, terbiasa serem maksudnya.. haha..
nice tips! Tapi aku juga selalu bawa jarum pentul sih.. haha..
siska mengatakan…
met lebaran! maaf lahir batin. gue juga udah di jakarta nih! hehehe...

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Trip to Vietnam: Hanoi-Ha Long Bay

Sebenarnya perjalanan ini saya lakukan Oktober 2017 lalu, namun apa daya baru sempat ditulis sekarang. Kemudian kali ini juga kunjungan saya ke Vietnam yang kedua, yang  pertama tahun 2015 dan malah tidak saya tulis di blog. Semua karena apa? Tentu karena malas. Hahaha..

Berbekal izin libur dari kantor dan tiket yang nggak murah-murah amat, saya dan adik bertolak ke Vietnam, sempat transit dan bermalam di KLIA2 untuk flight pagi menuju Hanoi. Berhubung kali ini merupakan perjalanan singkat (maklum buruh), otomatis saya nggak bisa go-show ujug-ujug menclok di suatu negara baru dan berpikir mau ngapain aja seperti biasanya. Saya sudah booking hostel dorm (hanya $5! I love Vietnam! Cheap!) dan tujuan saya kali ini jelas: Bermalam di kapal pesiar di Ha Long Bay. Duh, buruh satu ini emang loba gaya pisan. 
Hari ke 1
Dari bandara Hanoi kami naik bis umum dengan waktu perjalanan kurang lebih 30 menit ke daerah Old Quarter atau Hoan Kiem District. Sebenarnya di bandara banyak yang menawarkan …

Backpacker Thailand Trip (part 4): Grand Palace - Asiatique

Rhein itu kebiasaan deh, kalau posting tentang backpacking pasti ngga beres dari berangkat sampai pulang. Seringnya kepotong setengah-setengah karena alasan yang entah apa. Mungkin ini mengidentifikasi kalau Rhein tipe orang yang cepet move on yah.. Hehehe.. 
Untuk Backpacking Thailand ini udah diniatkan harus ditulis sampai tamat! Soalnya ini backpacking berprestasi yang mengeluarkan budget murah, ke luar negeri pula. Baiklah, mari kita lanjutkan cerita-cerita backpackingnya dengan membongkar ingatan. Yang belum baca part sebelumnya ada di sini, di sini, dan di sini, ya.
Hari keempat di Thailand dan kembali ke Bangkok lagi. Pagi-pagi sekitar jam 8 Rhein udah siap mandi, dandan cantik, dan siap untuk wisata kebudayaan. Saat turun ke lobi, Rhein dikasih tahu sama penjaga penginapan bagaimana rute ke Grand Palace yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Khaosan Road dan jangan tertipu sama orang-orang yang menawarkan tuktuk atau mengatakan bahwa Grand Palace tutup. Ih sumpah pemilik &…