Posts

Hari Ibu dan Mahmud Part-Time

Image
Karena cerita tentang Ibu saya udah banyak (terakhir nulis ini ), sekarang saya mau curhat tentang pengalaman saat bekerja menjadi au pair, atau saya lebih suka menyebutnya Mahmud Part-Time. Bulan Juli lalu, ada pasangan German-Indonesia menghubungi dan meminta saya untuk membantu mengurus bayi mereka (kita sebut namanya Bayik) yang baru berusia 7 minggu. Saya super jarang ketemu bayi, menggendong bayi, apalagi pengalaman mengurus bayi, even keponakan pun cuma ketemu pas lebaran. Jadi saat pertama kali ketemu Bayik, dengan mata bulat yang menatap saya sendu, yang terlintas dalam pikiran saya, “Oh nooo.. Bayi, what should I do? What should I do?” Saya excited sekaligus takut. Duh, ini bayi kecil banget kalau kenapa-kenapa gimana?? Ibunya Bayik (kita sebut saja Mommy) langsung mengajarkan cara menggendong dan bagaimana merebahkan Bayik ke box. Hari itu juga saya diajari cara ganti popok, bikin susu formula sesuai takaran, ganti baju, dll. Problem pertama: Bayik kalau apa-apa nan...

What Have You Done in 8 Months

Image
Tanpa terasa (terasa sih sebenarnya) sudah delapan bulan saya tinggal di Australia. Hidup 8 bulan di sini jauh lebih warna-warni daripada 28 tahun saya di Indonesia. Saya kerja, kuliah, jalan-jalan. Saya naksir dan ditaksir. Saya jatuh cinta lalu patah hati. Saya tertawa bahagia kemudian berderai air mata penuh drama. Saya nggak ninggalin sholat meski kadang khilaf dan melakukan maksiat (hey, saya bukan malaikat). Pertemuan dan perpisahan. Memiliki dan kehilangan. Memeluk erat kemudian melepaskan.  Perjalanan membuat saya menyederhakanan kehidupan sehari-hari; apa yang penting, apa yang mendesak, apa yang membuat bahagia. Jarak membuat saya melihat lebih jelas siapa-siapa yang ada ketika bahagia, siapa-siapa yang saya butuhkan dan hubungi ketika kesusahan menerpa, siapa-siapa yang ada dalam keduanya. Waktu adalah garis dimensi yang menjadi saksi (atau mungkin sosok penentu) kapan saya siap akan sesuatu. Saya belajar memahami semesta memiliki konspirasi tersendiri agar saya...

Perempuan, Hijab, dan Perjalanan

Image
Sebagai anak yang lahir dari keluarga yang memberi kebebasan penuh akan hidupnya, saya seringkali  tidak terlalu ngeh kalau tiga poin yang menjadi judul adalah kombinasi yang spesial. Apalagi untuk sudut pandang di negeri tercinta Indonesia. Kalau diingat-ingat lagi, ternyata tidak sedikit teman-teman perempuan yang curhat kalau mereka kesulitan mendapat izin orang tua untuk bepergian. Bukan hanya dalam urusan traveling jarak jauh, bahkan sejak saya masih di bangku sekolah pun. “Ayahku nggak ngasih izin.” Kalimat klasik kalau saya ngajak teman perempuan jalan-jalan. Ketinggalan rombongan biksu Tong Satu hal yang wajar ketika seorang ayah menjaga putrinya. Harus malah. Lah, kalau saya dibolehin pergi-pergi sesuka hati, apa Bapa nggak menjaga atau khawatir? Ada satu waktu ketika Bapa juga sering melarang saya main ke luar rumah. Seiring berjalannya waktu, boleh main tapi tidak terlalu jauh dan serentet pertanyaan sponsor (ke mana, sama siapa, mau berbuat apa). Makin saya gede...

Jalan-Jalan di New South Wales

Image
Saya sebenarnya lagi malas posting tulisan, jadi posting foto-foto hasil saya jalan-jalan selama di Sydney 5 bulan ini yaa.. La Perouse Opera House Blue Mountain Three sister Bondi Beach Harbour Bridge Swimming pool at Bondi Sydney Observatory Kangaroo Morisette Park Royal Botanical Garden Snowy Mountain Wedding Cake Rock Bondi Coastal Walk Canberra Flowery Festival Kiama Beach Sebenarnya banyak banget foto-fotonya. Tapi ya anggap saja ini mewakili. Love is real, real is love. -John Lennon-

9 Things to Do for WHV Indonesia When Arrived in Australia

Image
Sebenarnya saya udah lama ingin nulis ini, meski nggak sesibuk teman-teman WHV warrior lain, toh saya terkendala penyakit malas. As usual. Nah, berhubung sekarang lagi day off dan hawa-hawa di perpustakaan ini bikin pengen nulis, saya mau share beberapa hal yang perlu dilakukan saat awal hidup di Australia (Sydney, tepatnya) saat menjalani Work & Holiday Visa. Beli Kartu Bukan kartu gaple ya. Saat mendarat di bandara Sydney, akan banyak ditemukan counter-counter provider ponsel. Saya milih kartu Vodafone, alasannya selain karena konon katanya menurut gosip sinyalnya paling kenceng, juga pada saat mau beli eh lagi ada diskon gitu, paket $50 cukup bayar $30. Nah, kartu sim di Australia ini agak sedikit berbeda dengan di Indonesia. Sistemnya paketan dengan harga berbeda. Misalnya, saya pakai paket $30 dengan masa berlaku 28 hari, gratis telpon & sms ke semua nomor Australia, paket internet 2 GB plus bonus, dan pulsa $30. Ini nggak pernah habis, lho. Karena saya seringnya pa...

He and I

Image
The writings below are one of assignments from creative writing course I took in Sydney Uni. An essay I try to recreate from original version of "He and I" by Natalia Ginzburg . I got positive compliment from my professor for this writings (because the other assignments are just like sh*t, LOL).  ================================================================= He and I He plans for almost everything. I plan for only important things. Since we’re met in high school, he has planned his life for next ten and twenty years. I was planned only for which university I will go. He loves travel. I love travel too. One day we decided to go to Bali to spend annual leave. He bought tickets, booked hotel, rented motorbike, and told me about detail schedule for five days we will spend. I just agree or he will so fussy and argue that his plan was the most effective and efficient way to explore fascinating places in Bali in a short time. He does everything in a rush even we’re not i...

Ramadhan & Idul Fitri di Sydney

Image
Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini telah berlalu. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup saya lalui tanpa keluarga, di benua sebrang, dan memberi pengalaman berbekas dalam kalbu.  Sydney, Australia tentu berbeda dengan Bogor atau Bandung. Di sini tidak ada hiruk pikuk Ramadhan, tidak ada pedagang yang berderet di sepanjang jalan menjajakan makanan buka puasa, tidak ada heboh belanja baju baru, apalagi tradisi mudik. Di sini restoran dan kafe buka seperti biasa, jam kerja tidak berubah menjadi lebih pendek, dan menjadi kaum minoritas ternyata memberi pengalaman lucu serta berkesan.  How could you survive? Pekerjaan saya sebagai all rounder cafe mengharuskan saya datang jam 7 pagi (di mana tiap kali berangkat kerja seringkali masih gelap) dan pulang jam 4 sore (sedangkan buka puasa jam 5 sore). Namanya kerja di cafe, makanan dan minuman enak jelas bejibun (godaan). Karena saya memakai jilbab, yang tentunya sebagian besar orang tahu saya muslim, percakapan ini seringk...