Langsung ke konten utama

Ramadhan & Idul Fitri di Sydney

Ramadhan dan Idul Fitri tahun ini telah berlalu. Untuk pertama kalinya dalam seumur hidup saya lalui tanpa keluarga, di benua sebrang, dan memberi pengalaman berbekas dalam kalbu. 

Sydney, Australia tentu berbeda dengan Bogor atau Bandung. Di sini tidak ada hiruk pikuk Ramadhan, tidak ada pedagang yang berderet di sepanjang jalan menjajakan makanan buka puasa, tidak ada heboh belanja baju baru, apalagi tradisi mudik. Di sini restoran dan kafe buka seperti biasa, jam kerja tidak berubah menjadi lebih pendek, dan menjadi kaum minoritas ternyata memberi pengalaman lucu serta berkesan. 

How could you survive?
Pekerjaan saya sebagai all rounder cafe mengharuskan saya datang jam 7 pagi (di mana tiap kali berangkat kerja seringkali masih gelap) dan pulang jam 4 sore (sedangkan buka puasa jam 5 sore). Namanya kerja di cafe, makanan dan minuman enak jelas bejibun (godaan). Karena saya memakai jilbab, yang tentunya sebagian besar orang tahu saya muslim, percakapan ini seringkali terjadi. Entah dengan rekan kerja atau pengunjung kafe yang penasaran.
They: Hey, you’re muslim, right? So you’re doing Ramadan now?
Me: Yes, of course.
They: You don’t eat anything all day?
Me: No.
They: But, you still can drink, right?
Me: Not at all. No eat and drink.
They: Oh my God, how could you survive?!
Saya hanya akan tertawa serta menjelaskan dengan bahasa santai tentang aturan puasa, maknanya apa, dan bagaimana para muslim sanggup melakukannya. Yeah, I’m happy and proud of it.

We can have lunch with just water.
Bicara merantau rasanya nggak seru kalau nggak ada cerita tentang lawan jenis *uhuk*. Beberapa kali berkenalan dengan pria lokal (lokal sini maksudnya), ternyata saya nggak jelek-jelek amat karena ada yang mengajak kencan. Namun saya sadar menjalin hubungan di benua sini berbeda dengan di Indonesia. Alasan Ramadan sangatlah ampuh untuk menolak ajakan kencan.
Him: Hey, let’s have lunch.
Me: I can’t. I’m muslim and doing Ramadan now, I’m fasting.
Him: Okay. But we can have lunch with just water.
Me: Haha.. I don’t eat and drink.
Him: What about dinner?
Me: I have class at night.
Iya bro, cewek muslim emang susah digaet.

Take as many as you need.
Salah satu kejadian menarik adalah saat hari kedua Ramadhan, kerjaan di cafe padat dan saya pulang mepet waktu maghrib. Lupa bawa minum pula. Saya berniat untuk beli air mineral di minimarket. Tapi kan di sini air putih botolan 600 ml harganya lebih mahal daripada susu 1 liter dan uang saya di dompet tinggal $1.75 *anak miskin*. Setelah lihat-lihat di minimarket dan nggak ada air mineral sesuai budget, akhirnya saya memutuskan pulang. Tiba-tiba..
Kasir: Hi, buy something?
Me: No. Maybe next time. Thank you.
Kasir: Are you fasting? (kayanya karena dia lihat saya berjilbab)
Me: Yes.
Kasir: Oh, take any drink you want. Its free! Take it.
Me: Oh, no. I'm okay. Thank you so much.. (buru-buru keluar).
Kasir: No, please.. Hey, take any drink. Take the bottle near you, there.. Please take it, its okay. (Dia nunjuk air mineral dekat pintu keluar)
Me: Really? May I?
Kasir: Yes of course. Take as many as you need.
Dan saya pun mengambil satu botol dengan tampang hepi dan berterima kasih. Bahagiaaaaaa banget ketika menjadi minoritas dan diperlakukan dengan toleransi sederhana seperti itu.

Salat Tarawih nan salting.
Dari awal Ramadhan saya selalu shalat tarawih di rumah. Alasannya sih karena di sini masjid jarang banget dan cukup jauh, terus kan saya pemalas gitu. Namun saat sepuluh hari terakhir, saya niat banget pengen shalat di masjid. Maka suatu malam, saya siap-siap, mencari masjid terdekat di google map, dan dengan pede naik bus kemudian jalan kaki ke suatu masjid. Sesampainya di masjid, JRENG! Ternyata laki-laki semuaaaaa... Mereka memandang saya aneh gitu. Karena masjid tersebut ada dua lantai, saya kira bagian perempuan ada di lantai dua, saya pun buru-buru naik dan ternyata, JRENG! Laki-laki juga. -_-

Dengan tampang blo’on demi menyelamatkan gengsi, saya pun pura-pura bertanya ke salah satu lelaki yang lewat,
Me: Oh, I just want to pay zakat fitra.
Kemudian saya cepat-cepat pulang.

Idul Fitri dan meluruhnya air mata
Sejak awal Ramadan, sahabat saya sudah menyuruh untuk pulang ke Indonesia. Katanya, yakin saya nggak akan kangen? Yakin saya bisa tahan lebaran tanpa keluarga? Dan dengan mantap saya bilang nggak mau pulang, pengin mencoba lebaran di negeri orang. 

Shalat Idul Fitri di Sydney tidak semudah di Bogor yang tinggal ngesot, gelar koran, dan kemudian solat. Saya harus bangun sebelum subuh, solat subuh tepat waktu, dan setelah salam langsung cabut ke stasiun karena perjalanan ke lokasi komunitas muslim Indonesia yang mengadakan shalat Ied memerlukan waktu kurang lebih satu jam perjalanan. Masih gelap, musim dingin, jalan kaki ke stasiun. Bbbbrrrr...

Saya tidak akan cerita bagaimana muslim Indonesia di Australia yang ternyata banyak banget. Sepulang shalat dan makan-makan, saya sudah janjian dengan Bani akan melakukan video call. Keluarga Syahroni sudah ada di rumah nenek di Purwakarta. Siap dengan laptop berkamera dan LINE dengan wifi memadai, video call pun tersambung. Kemudian, muncullah mereka di layar laptop saya, Bapa, Ibu, Uki, dan Bani.

There’s something burst from my heart. Something I hold since I left them at the airport. Something I ignore just because of selfishness to get experience “I am an independent girl”. 

Usai video call, sahabat saya mengirim pesan,
Him: Selamat Idul Fitri, F.. Please don’t cry.
Yeah, he knows me. Saya ternyata tidak setangguh itu untuk menahan rindu. 

Foto official Idul Fitri 1437 H Keluarga Syahroni. Itu saya di pojok kiri atas
Hal ini membuat saya makin banyak bersyukur. Saya punya keluarga hangat, punya tempat pulang, punya orang-orang yang bisa saya rindukan dan juga merindukan saya. Karena sejauh apa pun saya pergi, sebanyak apa pun pengalaman yang saya cari dan gali, mereka lah tempat saya bermuara dan kembali. 

Selamat Idul Fitri.

Sydney, 3 Syawal 1437 H.

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

nhae gerhana mengatakan…
Seru yaaa.. Semoga betah, dan sukses. Aku malah pengeen nyobain ramadhan dan lebaran di negri orang :D
Nurin Ainistikmalia mengatakan…
Ketawa ngakak baca yang salah masuk masjid. :D. Sekarang mukim di Aussie ya? Saya seneng baca2 ceritanya. :)
achie mengatakan…
Happy (belated) Lebaran Rhein, maaf lahir bathin yaaaa..
Pulang-pulang dari negeri orang kayanya bakal jadi buku nih ;)
Amrizal mengatakan…
Him: Selamat Idul Fitri, F..Please don't cry....So who is he? Hehehe

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …