Langsung ke konten utama

What Have You Done in 8 Months

Tanpa terasa (terasa sih sebenarnya) sudah delapan bulan saya tinggal di Australia. Hidup 8 bulan di sini jauh lebih warna-warni daripada 28 tahun saya di Indonesia. Saya kerja, kuliah, jalan-jalan. Saya naksir dan ditaksir. Saya jatuh cinta lalu patah hati. Saya tertawa bahagia kemudian berderai air mata penuh drama. Saya nggak ninggalin sholat meski kadang khilaf dan melakukan maksiat (hey, saya bukan malaikat). Pertemuan dan perpisahan. Memiliki dan kehilangan. Memeluk erat kemudian melepaskan. 


Perjalanan membuat saya menyederhakanan kehidupan sehari-hari; apa yang penting, apa yang mendesak, apa yang membuat bahagia. Jarak membuat saya melihat lebih jelas siapa-siapa yang ada ketika bahagia, siapa-siapa yang saya butuhkan dan hubungi ketika kesusahan menerpa, siapa-siapa yang ada dalam keduanya. Waktu adalah garis dimensi yang menjadi saksi (atau mungkin sosok penentu) kapan saya siap akan sesuatu. Saya belajar memahami semesta memiliki konspirasi tersendiri agar saya melalui segala hal tepat waktu, tidak terlambat atau terlalu cepat meski sedetik. Punya banyak teman internasional membuat saya bersyukur memiliki sahabat-sahabat baik di/dari Indonesia karena bagaimana pun, curhat dalam bahasa Indonesia itu tetap paling melegakan (karena ketika panik, sedih, dan harus mikir curhat dalam bahasa asing itu tambah bikin pusing. Hahaha). Keterasingan menjerumuskan saya dalam pilihan; berteman atau gila karena kesepian. 

Perbedaan terasa begitu indah ketika saya belajar memahami. Hal-hal baru memberi efek excited yang pada akhirnya membuat saya puas dan bahagia (meski sebagian memberi efek syok, panik, dan drama). Saya punya sifat ceroboh, sometimes I'd like just to jump in new things without thinking. That's lead me to a lot of mistakes and such a mess. Namun sejak awal saya sudah meyakinkan diri, I'll take the risk. If I fall then I fall. Saya yang biasanya control freak akan segala sesuatu belajar menerima bahwa ada kalanya kita terjebak pada hal-hal yang kita anggap bodoh. I accept myself to made mistakes and did a lot stupid things. Saya belajar memaafkan orang lain dan diri sendiri. Sometimes everything happen out of control, but we just need to let universe work as it should be.

Masih ada sisa 4 bulan sebelum kembali ke Indonesia. Saya mau puas-puasin mengeksplorasi dan observasi hal seru lainnya. 

“Mistakes are a fact of life; they are building blocks, stepping-stones, the way we learn new things. Columbus wasn’t looking for a New World, he was searching for a route to spices. All mistakes teach us something, so there are, in reality, no mistakes. Just things we learn.” Nikki Giovanni

Bonus postingan kali ini, suara saya yang tak disangka ternyata merdu banget! LOL

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Haryadi Yansyah mengatakan…
Wah gak kerasa tahu-tahu udah 8 bulan ya :) Semoga 4 bulan yang tersisa adalah 4 bulan paling keren yang akan pernah ada.
Reza Bayuaranda mengatakan…
Hidup dirantau memang mendidik kedewasaan diri untuk mencapai cita-cita yang lebih tinggi😊

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …