Langsung ke konten utama

9 Things to Do for WHV Indonesia When Arrived in Australia

Sebenarnya saya udah lama ingin nulis ini, meski nggak sesibuk teman-teman WHV warrior lain, toh saya terkendala penyakit malas. As usual. Nah, berhubung sekarang lagi day off dan hawa-hawa di perpustakaan ini bikin pengen nulis, saya mau share beberapa hal yang perlu dilakukan saat awal hidup di Australia (Sydney, tepatnya) saat menjalani Work & Holiday Visa.

Beli Kartu
Bukan kartu gaple ya. Saat mendarat di bandara Sydney, akan banyak ditemukan counter-counter provider ponsel. Saya milih kartu Vodafone, alasannya selain karena konon katanya menurut gosip sinyalnya paling kenceng, juga pada saat mau beli eh lagi ada diskon gitu, paket $50 cukup bayar $30. Nah, kartu sim di Australia ini agak sedikit berbeda dengan di Indonesia. Sistemnya paketan dengan harga berbeda. Misalnya, saya pakai paket $30 dengan masa berlaku 28 hari, gratis telpon & sms ke semua nomor Australia, paket internet 2 GB plus bonus, dan pulsa $30. Ini nggak pernah habis, lho. Karena saya seringnya pakai wifi, jadi paket data jarang dipake. Pun pulsa cuma sedikit terpakai. Jeleknya, kalau kita isi pulsa lagi, nggak terakumulasi. Jadi kalau dari bulan lalu masih sisa pulsa $25, pas isi pulsa $30 ya cuma dapet $30. -_-

Kartu lain yang perlu dibeli saat di bandara adalah kartu OPAL (meski bentuknya persegi panjang). Ini kartu transportasi di wilayah NSW yang bisa dipakai untuk bis, kereta, dan kapal feri. Hanya bisa dibeli menggunakan kartu dengan logo mastercard atau visa (nggak bisa cash) dan harganya sekalian top up $10, $20, $40, dst. Saya beli $30 karena kereta dari bandara ke city mahal. Kartu ini kalau udah dipakai 8 kali sisanya gratis di sisa minggu dengan syarat dan ketentuan berlaku. Overall, rata-rata seminggu habis $17-$20 untuk opal. 


Cari roomshare/apartemen/flat
Ada banyak tawaran roomshare di Sydney. Bisa cek di flatmates, gumtree, atau grup Facebook. Beberapa teman sudah mencari dan mendapat roomshare saat mereka masih Indonesia, jadi pas sampai Sydney tinggal dateng ke lokasi. Kebanyakan sih penghuninya orang Indonesia juga. Saya lebih memilih tinggal di hostel selama beberapa hari (saya nginap di BIG Hostel, ini rekomended!), kemudian cari flat atau apartemen. Selain bisa inspeksi langsung, saya juga bisa kenalan dulu sama penghuninya yang rata-rata mix countries. Tiga bulan pertama saya tinggal dengan gadis Korea, Taiwan, Jepang, dan Thailand. Sekarang tinggal dengan 5 cowok (4 Jerman, 1 Inggris), 2 gadis (Jerman & Korea). Seru? Seru bangeeeettt dan mau nggak mau pasti lancar cas cis cus bahasa Inggris karena ya gimana lagi masa diem-dieman?? Hahaha

Cari Kerja
Perbanyak kenalan dan jaringan sebelum datang ke Australia. Gimana pun juga, info kerjaan sering muncul dari gosip ke gosip. Tapi cari kenalannya jangan oportunis juga sih, cuma pengen kerjaan doang. Saling berbagi lowongan udah jadi hal biasa untuk WHV warrior di Australia. Kerjaan pertama saya jadi room attendant (housekeeping) satu minggu setelah kedatangan di Sydney, berkat mamah Adhi Sappareng. Setelah 6 minggu, dapet kerjaan jadi allrounder di kafe berkat tawaran si cantik Julia. Sekarang saya kerja sebagai au pair, jagain bayik usia 2 bulan. Semua kerjaan di sini melelahkan (sesuai sama bayaran lah), bedanya adalah kamu bisa menikmati atau nggak. Kalau saran saya, untuk awal-awal tinggal di Oz mah selama kerjaan halal ya embat aja. Biaya hidup mahal, cyynn!

Beberapa website untuk cari kerjaan bisa dilihat di gumtree, seek, indeed. Ubek-ubek aja di sana, apply online, kalau ada nomor hp atau telepon langsung kontak. Cara lain adalah dengan print CV, lalu keliling untuk drop. Karena saya suka kerja di kafe, jadi search di google map kafe-kafe di sekitaran city Sydney, lalu datengin, minta ketemu managernya, bilang lagi cari kerja dan mau drop resume, gitu deh. Apa pun yang penting usaha!
Atas-Bawah: room attendant, cafe all rounder, au pair
Bikin TFN
Apaan tuu? Tax File Number semacam NPWP kalau di Indonesia. Kalau di negara kita kadang terabaikan, di Australia ini penting pisan karena mayoritas pemberi kerja minta TFN. Kalau dapat kerjaan yang pakai tax, gaji kita akan dipotong pajak dan nanti bisa diklaim untuk balik lagi duitnya menggunakan TFN itu. Cara buat TFN gampang, tinggal akses ato.gov.au, klik tab individual, pilih apply TFN dan ikuti langkah-langkah selanjutnya. Usahakan alamat yang dicantumkan sesuai dengan alamat tempat tinggal karena dari pihak ATO akan kirim surat berisi nomor TFN ke alamat tersebut. Atau kalau belum punya alamat tetap (masih di hostel, misalnya) pakai alamat teman juga boleh. Yang penting bukan alamat palsu. Kasian nanti si Ayu, eh ATO. 

Buka akun Tabungan
Hampir semua transaksi pembayaran di Sydney bisa menggunakan kartu debit, maka punya tabungan tentu penting. Apalagi untuk transfer gaji. Ada banyak pilihan bank, tapi yang common sih commonwealth kalau di city Sydney. ATM-nya banyak macam BCA di wilayah Jabodetabek. Mau belanja-belanja, tinggal tempel kartu ATMnya. Saya paling bawa cash $10-$20. Cara bikin tabungan juga gampang. Tinggal datang ke bank terdekat, bawa paspor, nanti dibantu sama pegawainya. Bawa duit cash untuk nabungnya, tapi jangan ditabungin semua karena kartu ATM baru jadi 5 hari kerja. Kan nggak lucu punya uang $10,000 tapi di tabungan semua dan kita kere selama 5 hari. Kartu ATM juga bisa dikirim ke alamat tempat tinggal atau diambil langsung di bank tempat membuka tabungan, tinggal kita request gimana.

Cari Kuliah
Ini optional tergantung tujuan masing-masing. Karena tujuan utama saya ke Oz juga pengen belajar, maka saya cari beberapa short-course yang seru sebelum berangkat. WHV mengizinkan belajar maksimum 4 bulan untuk sekali course. Nah karena saya pengen belajar creative writing, hoki banget di University of Sydney dibuka short-course juga. Untuk umum, syaratnya cuma bayar dan kegiatan belajar mengajar dalam bahasa Inggris. Nanti dapat sertifikat juga. Selain cari ilmu, berada dalam lingkungan akademis yang semuanya pake English bisa membantu untuk improve skill English saya. Karena belajar di sini sama kayak kuliah, dapet whole package; presentasi, nulis tugas, dengerin dosen. Awalnya saya juga keteteran sih, tapi ya dijalani aja.

Untuk short course yang bagus bisa coba di University of Sydney atau TAFE.
Belanja Murah
Sydney salah satu kota termahal di dunia. Emang iya sih, pokoknya kalau beli apa-apa jangan di-kurs ke rupiah deh. Sakit hati Neng. Tapi...tapi... ada triknya kalau mau belanja murah. Untuk belanja keperluan makanan yang bisa disimpan lama, bisa ke supermarket Coles, Woolworth, atau ALDI. Pilih brand mereka yang harganya jauh lebih murah (semacam kalau kita belanja ke Giant ada gula pasir merek Giant juga). Kalau mau coba brand lain yang lebih berkualitas, pilih yang diskon setidaknya setengah harga. Kalau mau beli sayur dan buah, pergilah ke Paddy's Market hari minggu jam 5 sore (anjisss detail banget). Menjelang tutup pasar jam 6, mereka akan banyak obral seharga $1! Gerak cepat & gesit (karena pasarnya rame), incar kebutuhan yang diperlukan. Usahakan beli secukupnya untuk 1 minggu sampai ketemu jadwal belanja murah selanjutnya. Saya cerita ini sama Ibu malah dibilangin kayak Misae si hobi diskon. Hahaha.

belanja pasar
Jalan-Jalan Hemat
Ada banyak yang bisa dieksplor dan diakses dengan murah bahkan gratis di Sydney. Ketika jatah kartu opal udah bisa gratis, pergilah ke lokasi-lokasi seru dengan kereta. Blue Mountain, Morisset Park, Wedding Cake rock, pantai-pantai kece. Kalau lagi mager pergi jauh, bisa keliling museum atau kebun raya Sydney yang gratisan. Masih mager juga? Ya udah nongkrong aja di deket Opera House.

Gaul

Trust me, gaul adalah satu hal penting nan hakiki selama di luar negeri (buat saya). Utamanya sih supaya nggak terlalu homesick. Saya sebenarnya tipe anak pemalu (pendiam-manis-lucu), dan sejak datang ke Sydney, mau nggak mau kemampuan berteman harus diasah. Berteman dengan sesama orang Indonesia itu penting, karena bagaimana pun we are all take care each other here. Apalagi kalau lagi galau dan butuh curhat dalam bahasa Indonesia! Hahaha.. Berteman dengan warga negara lain juga penting. Gimana pun, udah jauh-jauh dari Indonesia, saya ingin belajar banyak hal tentang negara lain. Saya dan housemates sering bertukar cerita, pendapat, kebiasaan di negara masing-masing, dsb. Dari sini saya belajar untuk saling menghargai dan salut dengan bagaimana cara mereka menghargai saya. Seringkali saya ikut gabung kalau roomates pergi dengan teman-temannya atau roomates ikutan main bareng dengan teman-teman Indonesia.

Last but not least and the most important thing: Minta doa orang tua!

viva WHV warrior!

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Sofi Meloni mengatakan…
Terima kasih banyak Mba Rhein atas informasinya yang sangat informatif dan lengkappp sekali!
I am planning to be WHV warrior next year! Semoga terlaksana dan bisa berjumpa kalau Mba masih di sana. Hehehe. Keep posting!
Fiqrotul Ulya mengatakan…
Keep posting tentang whv mba!
Yuna Pradjipta mengatakan…
Halo, Rhein

Thanks udah sharing pengalaman WHVnya.
Mau nanya dong, untuk kelas creative writingnya itu bayarnya berapa sih?
Saya liat di website University of Sydney nya $390, apakah benar?

Thank you! :)
faisal erlangga mengatakan…
Membaca postingan mba bagaikan serasa di ausy :)

Pos populer dari blog ini

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 2): Pattaya & Koh Larn Island

7 May 2014 Subuh di Bangkok, jujur Rhein nggak tahu arah kiblat ke mana. Pas di Indo nyarinya jadwal solat doang, lupa cari arah kiblat. Tapi yasud, kalau nggak tahu, solat mah niatnya yang penting ke kiblat, yes. Malam sebelumnya udah pesen ke resepsionis kalau beres subuh minta diantar ke terminal bus Ekkamai. Katanya mereka bisa nganter pake ojeg. Namun apa daya jam 5 pagi itu resepsionis masih gelap, nggak ada orang, ngga ada bel untuk manggil, mau nelepon ke contact person ya nomor hape Rhein masih nomor Indo kena roaming ngga bisa dipake. Akhirnya memutuskan untuk check out, simpan kunci, dan keluar hostel cari taksi ke terminal Ekkamai. Soalnya ngejar kapal ferry ke Koh Larn Island di Pattaya nanti yang cuma ada di jam-jam tertentu. 
Supir taksi, petugas terminal, dan orang-orang yang Rhein temui sepagi itu ramah-ramah. Mungkin kelihatan banget, cewek bawa backpack gede laha-loho nggak tahu arah, jadi mereka murah hati ngasih informasi. Perjalanan 2 jam dari Bangkok ke Pattaya …