ASEAN Trip (3): Backpacking Delta Mekong, Vietnam

Sore hari tanggal 21 Oktober 2015, pesawat yang saya tumpangi mendarat di bandara Tan Son Nhat, Ho Chi Minh City, Vietnam. Proses imigrasi cepat & lancar, keluar dari bandara langsung cari ATM ambil duit, kemudian naik bis nomor 152 menuju wilayah Bui Vien tempat saya menginap. Bis ini semacam bis damri gitu, murah, tampilan mirip-mirip kopaja, tapi jangan salah… bersih dan ber-AC! 

Ho Chi Minh baru saja diguyur hujan, adem. Selama perjalanan di bis, saya agak kaget dengan bendera palu-arit di sepanjang jalan utama (di mana-mana, lebih tepatnya), bersamaan dengan bendera negara (bintang). Sebagai generasi90an yang terkontaminasi Orde Baru dan doktrin akan paham komunis serta cerita muram PKI, rasanya agak gimana gitu sih. Tapi ya sudahlah, akhirnya saya sampai di hostel yang menjadi hostel paling kece selama perjalanan Asean Trip ini. Dapat dorm di lantai 6, saya baru sadar kalau bangunan di kota ini tinggi-tinggi, tapi lebarnya kecil. Mungkin luas tanah mahal kali ye..

Hostel nyaman bikin mager ternyata. Baru agak malam saya keluar untuk cari makan dan urus bookingan tour selama di Vietnam, antara lain Delta Mekong tour & Mui Ne tour. How’s night life in Ho Chi Minh City? Gustiiiiiii…… Saya kira Jakarta & Depok adalah neraka berisi sepeda motor yang membuat pejalan kaki selalu terdzolimi. Ternyata, kota ini lebih parah! Super parah. Ibarat main video game itu level kesemrautan motor di Jakarta level 3, di Ho Chi Minh City level 10. Tidak baik bagi pengidap penyakit jantung.

maafkan wajah saya yang sudah tak terawat

Delta Mekong: Crocodile? We never know…
Pagi hari sebelum pukul 7 tanggal 22 Oktober, saya sudah nongkrong di tempat travel agent yang lokasinya tidak jauh Bui Vien (lokasi hostel). Yang mau jalan-jalan nggak hanya saya (ya iyalah), di sepanjang jalan Pham Ngu Lao ini sudah banyak bis parkir & wisatawan menunggu. Ternyata bis tour yang saya ikuti banyak juga pesertanya, hampir 30 orang. Guide bis (ganteng, lho #plak) memperkenalkan diri namanya Jack, kepanjangan dari Jackie Chan. Dia menggunakan nama itu karena kebanyakan turis sulit menyebut nama orang-orang Vietnam. Kemampuan bahasanya keren, karena di sepanjang perjalanan dia menjelaskan banyak hal bergantian dari bahasa Inggris, Cina, & Vietnam. Orangnya juga lucu, informatif, interaktif, pinter banget memeriahkan suasana. 

Sebelum ke daerah Mekong, bis sempat mampir dulu ke kuil yang memiliki 3 patung Budha denga pose tidur, berdiri, dan duduk. Konon menurut Mr. Jack, 3 patung Budha tersebut merepresentasikan kehidupan manusia. Budha tidur adalah masa lalu saat tidak bisa apa-apa, Budha berdiri adalah masa kini saat manusia berjuang dalam hidup, Budha duduk dengan perut buncit dan tertawa adalah masa depan impian. 

Sampai di pelabuhan (eh, kalau pangkalan sungai namanya apa sih?), saya & wisatawan lain naik kapal nelayan ukuran sedang. Kami akan menyusuri sebagian kecil sungai Mekong yang menjadi salah satu sungai terpanjang di dunia, berawal dari Tibet, mengalir melewati China, Laos, Kamboja, Thailand, dan Vietnam. Kalah deh, choki-choki. Perjalanan menyusuri sungai menyenangkan. Mr. Jack menjelaskan banyak hal seperti sekelumit sejarah Delta Mekong, bagaimana kehidupan petani di daerah sana yang relatif miskin sehingga para orang tua menginginkan anak-anak mereka pergi ke kota untuk belajar dan bekerja demi taraf hidup lebih baik, hasilnya adalah wilayah delta mekong (dan desa-desa lain di Vietnam) kini sepi penduduk. Well, problematika negara berkembang ngga beda jauh sama Ibu Pertiwi. 

Konon, Delta Mekong ini dulunya banyak buaya. Emang sih, sungainya meski luas bingits tetap berwarna cokelat tanpa kelihatan apa-apa. Di sepanjang perjalanan menyusuri sungai, wisatawan dilarang mencelupkan tangannya ke air.. Because, we never know.. Hiiiii… Apalagi tambahan cerita kalau petani-petani di wilayah Delta masih melingkari mata mereka dengan tinta hitam. Sebuah kepercayaan bahwa jika buaya melihatnya, akan dianggap monster dan buaya-buaya tersebut pergi menjauh. Kami diajak berkeliling ke 4 pulau besar: Phoenix, Turtle, Dragon, & Unicorn. Lucu-lucu ya nama pulaunya..

Di pulau Turtle kami turun untuk makan siang. Karena yang muslim hanya saya dan travelmate, kami sudah pesan menu vegetarian. Tips: bawalah abon. Karena sungguh makanan di Vietnam (dan semua negara ASEAN yang saya kunjungi) rasanya hambar. Saya sungguh ngidam MSG. Selesai makan, kami pergi lagi ke pulau lain dan disuguhi pembuatan beragam jenis barang & makanan dari kelapa. Ada permen, parfum, lipbalm, sabun, body lotion, centong sayur, mainan, sampai obat kuat untuk lelaki agar tahan seharian… untuk bekerja. Tips untuk perempuan: belilah lipbalm-nya yang berwarna. Sungguh saya menyesal cuma beli 1. Karena baguuussss banget. Bibir jadi lembab-segar, warna pink alami, nggak lengket, dan tahan lama. Pas saya cari di Ho Chi Minh, ngga ada yang jual. Hiks.. Kalau ada yang mau ikutan tour Delta Mekong, kabari saya ya.. Mau nitip lipbalm!

Selanjutnya kami menyusuri ke anak-anak sungai yang lebih kecil dan sepiiiii… itu loh, yang pakai perahu kecil dan caping. Agak-agak spooky karena di kanan kiri sungai cuma ilalang tinggi-tinggi. Pokoknya kalau tiba-tiba muncul harimau dari balik semak dan buaya mangap dari sungai, hanya Tuhan yang tau nasibmu, Nak.

Saya suka waktu tour sampai ke pulau yang ada pertanian lebah dan kami disuguhi kesenian khas Vietnam. Mr. Jack menjelaskan tentang bagaimana lebah-lebah menghasilkan madu dan propolis serta manfaatnya terutama untuk kesehatan dan kecantikan. Dijual juga krim-krim kecantikan, mana yang mempromosikan benar-benar cantik banget pula. Duh, tapi emang bener sih gadis-gadis Vietnam ini cantik luar biasa & badannya itu loohh.. Selama di Vietnam, saya belum nemu perempuan lokal yang gendut! Bahkan yang udah tua sekalipun. Ramping, wajah putih mulus, bibir merah ranum. Sepertinya efek diet mayo, krim propolis, dan lip balm kelapa.

Menjelang akhir tour, sembari menikmati teh-madu asli, kebetulan saya duduk satu meja bersama 2 pemuda asal China & Italia (ganteng, again #plak). Dari obrol-obrol seru tentang pengalaman backpacking masing-masing, sampai celetukan dari pemuda China ke pemuda Italia, “Hey dude, if you want to have 4 wives, just being a moslem like them,” ujarnya menunjuk saya & travelmate (karena kami berjilbab). Pemuda Italia hanya menggeleng dan tidak menjawab apa pun, mungkin dia menghormati saya yang muslim akan merasa tersinggung. Saya malah menanggapi dengan tertawa karena paham maksud pemuda China bercanda, sembari menjelaskan bahwa bukan seperti yang-dimaksud-khalayak-umum tentang Islam untuk memiliki 4 istri. Pemuda China pun mengoreksi bahwa ia pun paham sangat sulit untuk memiliki istri 4 dalam Islam, perihal tanggung jawab dan keadilan. Bahwa tanggung jawab dan bersikap adil tidak hanya tentang materi, atau persetujuan istri, tapi juga anak-anak, pendidikan mereka, perasaan mereka, kebutuhan kasih sayang mereka akan seorang ayah. “Whoaaa, no, could not have 4 wives!”, tegasnya di akhir penjelasan. 

Ada perasaan miris ketika persepsi non-muslim tentang Islam terkesan negatif urusan 4 istri ini. Juga perasaan miris mengapa pemahaman non-muslim tentang tanggung jawab & keadilan jauh lebih mendalam dibanding muslim yang merasa paham Islam sehingga merasa pantas memiliki istri lagi. 

Di akhir tour, kami menyaksikan pertunjukan kesenian sembari menyantap buah-buahan. Para artist ini menyanyi (yang saya ngga ngerti bahasanya), menari, diiringi alat musik khas, yang konon merepresentasikan kehidupan sendu rakyat Vietnam.

click for detail
Love is real, real is love. -John Lennon-

Comments

Its Acipa said…
Selalu ada kesan tersendiri ya Kak kalau ketemu stranger gitu, saling belajar juga apalagi soal keyakinan.

Nambah-nambah destinasi aja nih :D
Rd said…
foto wanikta vietnamnya mana? jd penasaran #lho :))
Unknown said…
Biaya tournya berapa mba
Unknown said…
Biaya tournya berapa mba
Unknown said…
Hha sama seperti yg saya alami. Ke ho chi minh city itu bahkan saya pinjem motor punya tmn nya tmn yg org sana daann harus nyetirin di sblh kanan..bener2 jantungan (tp menambah skill bikers saya) huehehe lumayan sport jantung klo siang..mlm lumayan. Gila ya mana ga pake helm yg seperti kita hrs SNI disana cm pake helm teplek ga berguna klo jatuh! Still enjoyed the view and coffee there (without sianida hha)

Popular posts from this blog

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Tips Belajar IELTS (yang ngga berhasil-berhasil amat)

Giveaway & Talkshow with Nulisbuku Club