Langsung ke konten utama

ASEAN Trip (2): Backpacking Phuket-Patong

Phi-phi Island Tour

Malam sebelumnya saya udah keliling sekitaran Bangla Road untuk cari tour Phi phi, harganya rata-rata 1600 baht, paling mentok 1,400 baht, dan akhirnya dapat 1,350 baht. Senin 19 Oktober pagi, sudah ada van yang menjemput ke penginapan, on time. Salah satu hal yang saya suka dari Thailand adalah kedisiplinan mereka akan janji & waktu. Tahun lalu saat ke Bangkok & Pattaya pun, segala macam aktivitas selalu tepat jadwal. Bukan hanya yang berhubungan dengan fasilitas umum, tapi memang attitude masyarakatnya aja. 

Sampai di pantai (saya lupa namanya), saya dan penumpang van lain diberi benang wol warna kuning untuk dijadikan gelang. Tiap penumpang speed boat memakai warna gelang berbeda. Sebelum berangkat, guide kapal (Mr. Ring) menjelaskan banyak hal dengan bahasa Inggris aksen Thailand (pokoknya ya gitulah kedengerannya, kadang nangkep maksudnya lebih seringnya saya bingung), mengenai rute, waktu di tiap lokasi, fasilitas, bahkan memberi kami antimo. Sekitar jam 10 pagi, cuusss kami pun naik speed boat.

Perjalanan di laut menyenangkan. Cuaca cerah, angin sepoi, ombak bersahabat, dan para guide speed boat yang ceria. Sebelumnya Mr. Ring mewanti-wanti kalau ombak akan ajrut-ajrutan (bahasa apa ini), tapi karena saya pernah mengalami ombak yang lebih buruk di Indonesia, jadi ga terlalu berasa apa-apa. Sampailah kami di Maya Bay, itu loooohhh… tempat syuting Kang Leo di The Beach.. Pemandangannya indah bangeeeettt… Pasirnya bersiiihhh… Lautnya biruuuuu…. Pokoknya menggoda banget untuk langsung nyebur.

Selesai foto-foto di pantai (buat syarat doang, karena saya lebih suka enjoy moment), langsung nyemplung lah ke laut. Sayangnya lupa bawa kacamata renang, kan lumayan yah mata kena air garam. Ga apa-apa, yang penting berenang. Untungnya, karena saya datang bukan saat weekend, suasana tidak terlalu ramai. Tetap ramai sih, tapi nggak kayak cendol dan masih bisa renang kesana-kemari tanpa tubrukan sama orang lain atau foto di sana sini tanpa sering dilewatin orang. Suka banget sama suasana di sini. Touristy, bersih, rapi, aman terkendali. 

Puas di Maya Bay, perjalanan berlanjut ke lokasi selanjutnya, pantai kecil yang banyak monyet liar di antara pulau-pulau tebing. Di sini nggak berhenti, hanya lewat saja karena emang sempit banget. Banyak turis kapal yang foto-fotoin monyet. Yah, di Indonesia banyak… Kapal berlanjut ke lokasi yang saya tunggu-tunggu. Snorkling! Yeeeaaayyy… Pakai perlengkapan, cek-cek snorkle, life vest, fin, cebuuuurrr… Kyaaaa… Dikasih waktu untuk snorkling lumayan lama (meski nggak selama waktu saya ke Kep. Seribu, sih). Bocoran nih, kekayaan lautnya tidak seindah yang pernah saya alami waktu snorkling di Kep. Seribu & Tiga Gili. Setidaknya, saya puas berenang di laut biru bersih dan melihat ke kedalaman laut yang masih banyak ikan warna-warni dengan bentuk-bentuk unik. 

Capek snorkelling, balk ke speed boat dan disuguhi coca-cola. Saya baru merasakan kalau minuman bersoda bisa menetralisir air asin setelah berenang di laut. Selanjutnya cuss makan siang di salah satu pulau (lupa namanya). Makanannya enak, bentuknya prasmanan, menu beragam, dan halal (yang masak dan menyajikan Ibu-ibu muslim berkerudung). Selesai makan lanjut ke pulau lain lagi dan boleh lanjut berenang. Hanya saja karena cuaca sore mulai mendung, jadi saya hanya foto-foto dan beli eskrim. Enya..enyak.. Pihak kapal juga menyediakan minuman & buah segar di pulau terakhir ini. Puas banget sama tour phi phi ini deh. Fasilitas bagus, kapal bersih, tour guide lucu & ramah, makanan enak. Pukul 6 sore, kami sudah diantar kembali ke hostel.



Patong: Life Start at 9 p.m
Patong pagi hari sangatlah sepi. Kalau saya cari persamaan, daerah wisata seperti Patong, Khaosan Road, Pattaya, bahkan Legian Bali memiliki daya tarik di kehidupan malam. Jadi kalau pagi sampai siang, ya sepi-sepi aja makanya banyak cafe dan restoran memberikan diskon bir #eh.

Menjelang siang saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Phuket Town saja. Awalnya  mau ikut paket tour Phuket Town gitu, tapi mahal (dasar kere). Tambahan lagi wisata yang ditawarkan ya temple-temple dan patung-patung Buddha yang saya pikir tidak beda jauh dengan di Bangkok. Lokasi menarik lain paling melihat gajah dan monyet. Sebagai penduduk Bogor yang dekat dengan Taman Safari, jujur saya tidak terlalu tertarik. Jadi ya sudahlah, tetap ke Phuket Town dengan modal murah yaitu naik bis yang lewat di sepanjang pantai Patong. Bisnya besar, warna biru (seingat saya), duduknya kayak di bemo (ini masih ada ga ya di Indonesia?), bentuknya terbuka, dan perjalanan menuju Phuket meliuk-liuk naik turun seperti perjalanan ke Puncak. Ngeri-ngeri sedap lah.

Sampai Phuket Town, sepi juga. Hanya ramai oleh calo-calo yang menawarkan wisata ini itu dan dari informasi yang saya dapat sebelum berangkat bisa menjurus ke scam. Saya cukup puas jalan kaki keliling Phuket Town, melihat kota yang rapi, bersih, bangungan-bangunan khas seperti wilayah Kota Tua Jakarta, mampir ke toko buku tua, dan makan eskrim. Menjelang sore, saya baru menemukan food street yang dekat pangkalan bis untuk kembali ke Patong. Yaaahh… Pas udah mau pulang malah nemu tempat seru! Karena hujan, ya sudah pulang aja.

Sore hari di Patong ya nunggu sunset di pantai dong.. Pantainya bersih, nggak terlalu ramai, nyaman banget buat jalan sore apalagi sama pacar #nasibsingle. Malamnya, karena ini malam terakhir di Phuket, saya keluar penginapan sekitar jam 9 malam. Geliat kehidupan sudah ramai, gadis-gadis (???) seksi mulai keluar, lampu warna-warni dari setiap penjuru kafe menghidupkan suasana, banyak atraksi seru yang ditawarkan (bayar, jadi saya ngga cobain), dan semakin malam saya keasikan menatap etalase yang menampilkan para wanita menari striptis. 

Yang lucu, saat saya asik nonton para gadis (entah gadis asli atau KW) ada serombongan Aki-Aki buncit ubanan sedikit botak menghampiri. Mereka tanya apa saya reporter (kayaknya karena bawa kamera), saya jawab bukan. Kami sempat ngobrol dan mereka berasal dari Palestina. Berkali-kali para Aki ini bilang, “This is crazy! This place is so crazy!”. Saya hanya tertawa, ya kali di Palestina bisa nonton penari striptis di pinggir jalan.

Setiap kali saya singgah di lokasi wisata ‘macam begini’, kadang ada perasaan miris. Di lokasi-lokasi seperti ini saya merasa aman. Orang-orang seperti sadar diri untuk tidak saling mengganggu. Tidak ada preman, copet, atau perasaan tersisih karena saya muslimah berjilbab. Oiya, saya nggak lihat wisatawan berjilbab di sini selain si travelmate. Orang-orang tetap menyapa saya ramah, penjual menawarkan dagangan dengan senyum, beberapa wisatawan menyapa dan mengajak ngobrol begitu friendly.  

Perbedaan bukan alasan untuk mengganggu perdamaian. Kita hanya perlu menerima dan memahami. 


Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

wxrm mengatakan…
itu, foto di lokasi film ttg ladang ganja itu sungguh...., kapan2 kesana deh hehehe
rhein fathia mengatakan…
@warm:
Nantikan cerita saya tentang rencana bisnis ganja dan jalur distribusinya, Om.. :))
Arian Sahidi mengatakan…
saya tunggu cerita bisnis ganjanya, aja, Tante. Saya siap jadi distributor *lost focus*
Mevi Primaliza mengatakan…
Saya kok ngerasa kayak ngalamin sendiri ya kejadiannya..amazing dah..
Soal ganja, mau dong ikutan..ikut cicipin..:p
Lina W. Sasmita mengatakan…
Aku malah dapat paket tour yang seharga 1200an apa ya. Lupa. Yang jelas nggak segitu. Karena bawa anak maka anak-anak dihitung 1000 bath. Pantai buat nyebrang ke Phi Phi Island namanya Pantai Aonang. Btw kekayaan biota lautnya jauh banget dibanding tiga gili apalagi TN.Komodo. Nyari ikan satu aja susah ngejar-ngejarnya. Kalau di Pulau Kanawa yang di Komodo baru turun dari kapal aja ada baby shark dan ribuan ikan lainnya yang berenang di pantai. Gila kece habis deh. You shopuld go there Thein. Moal nyesel pisan.
Shifa Nadya mengatakan…
hii rhein boleh ngajuin beberepa pertanyaan kah seputar backpacking aseannya? buat referensi, aku rencana mau trip indochina juga awal tahun depan. soalnya info trip asean rhein gak se ldetail info thailad trip rhein sebelumnya.
mau tanya nama hostel tempat rhein menginap di phuket dan ho chi minh city, dan one day trip phi phi & mekong trip nya beli di tour mana, namanya tournya apa?

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …