Why ASEAN? (Intro)

Awalnya, saya hanya berencana menyambangi Ubud Writers & Readers Festival bulan Oktober lalu, sama seperti tahun-tahun sebelumnya. Ubud merupakan salah satu kota yang bisa membuat saya rileks, tenang, dan cocok untuk menjernihkan pikiran. Apalagi kalau pergi sendiri. Kontradiksinya, beberapa bulan lalu saya justru sedang suntuk dengan urusan tulis-menulis dan para sahabatnya. Kalau saya ingin ‘semedi’ tapi datang ke acara yang berhubungan dengan apa yang membuat saya suntuk, ga jadi dong refreshingnya. 

Akui saja, bahkan aktivitas menyenangkan yang kita sukai saja bisa menjadi menyebalkan dan kita perlu menjaga jarak sejenak. Ibarat sebuah hubungan, kadang perlu jarak agar ada rindu, agar cinta tetap tumbuh seiring waktu. (Kemudian baper karena jomblo).

Di sisi lain, saya sebenarnya punya rencana backpacking ke Eropa. Tapi karena paspor baru perpanjangan, kok jadi kosong gitu.. Sedih paspor sepi cap dan agak gengsi kalau mau apply schengen tapi isi paspor bersih. Lalu melihat ada promo maskapai yang ASEANPass, kok jadi tertarik. Maka dimulailah saya cari info tentang tempat-tempat menarik di ASEAN sebanyak-banyaknya (tapi belum beli PASS-nya). Destinasi-destinasi sudah didapat, dilanjut mencari info tentang sistem ASEANPass. Melalui perhitungan njelimet ala anak bisnis yang cenderung pelit binti kopet, ternyata tiket PASS itu agak-agak merugikan bagi backpacker kere dan memiliki waktu sempit seperti saya (jadwal audisi banyak soalnya #plak).

Akhirnya, saya pun memutuskan menantang diri untuk backpacking ke beberapa negara ASEAN dengan moda darat, laut, dan udara (berasa iklan antimo). Selain kalau backpacking itu saya suka sok sibuk berinteraksi sama lingkungan baru dan membuat saya istirahat dari menulis, saya juga bisa mendapatkan cap paspor cukup ‘ramai’ hanya dengan sekali jalan. 

Motivasinya emang ngga penting banget. Namun saya percaya, traveling selalu memberi pengalaman lahir batin yang memperkaya dan menenangkan pikiran. Entah karena cerita di sepanjang perjalanan atau esensi pelukan keluarga ketika saya kembali pulang.

Saya akan menulis cerita backpacking ASEAN ini secara bertahap. Tidak hanya mengenai rute, lokasi wisata, atau budget, melainkan apa-apa yang saya rasa selama backpacking melintasi Singapore, Thailand, Vietnam, Cambodia, dan Malaysia. 

Hanya satu yang sering saya simpulkan tiap kali pulang: Indonesia sangatlah indah.

Backpacker nasionalis

Love is real, real is love. -John Lennon-

Comments

Anonymous said…
ini baru keren, saya menunggu kelanjutan ceritanya ya
*nongkrong di pojokan*

Popular posts from this blog

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Giveaway & Talkshow with Nulisbuku Club

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok