Langsung ke konten utama

Tips Belajar IELTS (yang ngga berhasil-berhasil amat)

Setelah lebih dari 2 minggu, akhirnya saya cukup bisa move on dari keterpurukan yang disebabkan oleh nilai IELTS yang tidak sesuai impian (dan syarat masuk univ incaran). << Lebay.

Sesuai curhat sebelumnya, saya seharusnya tidak perlu menulis postingan ini karena score band IELTS tidak mencapai 7.00. Tapi..tapi..tapi.. Nggak apa-apa deh ditulis supaya pembaca bisa mengambil hikmah, hidayah, dan barokah mumpung edisi Ramadhan dari pengalaman saya. Di sini saya akan cerita bagaimana cara belajar sebelum menghadapi IELTS dan realita saat tes berlangsung. Oiya, saya nggak ikut les bahasa Inggris sebelum tes. Semuanya total belajar intensif sendiri. Cekidot, gan!

IELTS terdiri dari 4 section: Listening (40 menit), Reading (60 menit), Writing (60 menit), Speaking (interview dengan orang asing 15 menit). IELTS juga dibagi 2: academic (bagi yang ingin kuliah) dan general (bagi yang cari kerja). Saya mulai belajar IELTS kurang lebih 1 bulan sebelum tes berlangsung (13 Juni). Bagi yang jarang menggunakan English sebagai bahasa sehari-hari, mending sediakan waktu belajar cukup, deh. Kalau kamu bukan guru bahasa Inggris atau udah pernah tinggal di Inggris, jangan coba-coba ambil tes tanpa belajar. Apalagi kayak saya yang udah belajar aja masih nilainya jelek.. Hiks.. T_T

Hal-hal yang diperlukan untuk belajar atau persiapan menghadapi IELTS adalah buku-buku latihan pastinya. Saran saya adalah buku IELTS Cambridge yang ada 10 volume, lengkap dengan audio untuk latihan listening. Jujur, saya donlot dan tidak bisa memberikan ebook bajakan tersebut karena itu menyebarkan pembajakan. Jadi, cari sendiri ya.. :D. Oiya, saya tidak menyarankan buku IELTS Barrons karena ternyata tips-tipsnya tidak sesuai dengan aturan realita saat tes (entah kalau edisi terbaru).

Dalam 1 volume buku Cambridge ada 4 paket latihan soal untuk IELTS akademik (saya ambil IELTS akademik, jadi nggak memperhatikan soal-soal IELTS general) yang 1 paket terdiri dari listening, reading, writing, speaking.

LISTENING
Cara belajar: Selama 2 minggu pertama belajar, saya menggunakan earphone, baca soalnya di laptop, dengarkan pertanyaan di audio, dan tulis jawaban di buku tulis.
jawaban listening
Awal-awal dengerin, sumpah itu orang ngomong apa kumur-kumur sih?! Aksennya British bangeeettt -_-. Saya sampe pusing dan kesel banget karena susah ngikutin dan ngga bisa ngerjain soal. Tapi..tapi..tapi.. karena latihan TIAP HARI akhirnya ya lumayan bisa nangkep apa yang diomongin, bahkan saya mulai bisa membedakan mana aksen British, Canada, America, kalau dengerin berita di TV (gayaaaaa looooo). Dua minggu menjelang tes, saya belajar tanpa menggunakan earphone, hanya speaker laptop saja. Ini melatih konsentrasi di antara suara-suara berisik karena saat tes realita kita nggak dikasih earphone, hanya speaker biasa. 

Realita tes: Lebih susah!! Untungnya tempat tes menggunakan speaker yang bagus, jadi jelas terdengar. Hanya soalnya lebih susah daripada soal-soal latihan Cambridge dalam arti begini contohnya:
Di latihan soal: 
ebook: Peter: You can choose between coffee, milk, or tea.
Lisa: I choose .......
audio: Peter: You can choose between coffee, milk, or tea.
Lisa: I want to drink milk.
(kita isi titik-titik dengan jawaban 'milk')

Di realita tes:
test booklet: Peter: You can choose between coffee, milk, or tea.
Lisa: I choose .......
audio: Peter: You can choose between coffee, milk, or tea.
Lisa: I don't drink coffee and tea. Too much caffeine.
(kita mikir dulu, yang disebut coffee & tea, padahal kesimpulan jawabannya 'milk').

Jadi gitu, realita tes bikin musti mikir dulu sebelum ngisi jawaban. Udah mah baca soal panjang, dengerin audio aksen British, pake mikir kesimpulan pula. Pucing pala plincess.

READING
Cara belajar: Bagi yang nggak suka baca, mulai rajin-rajinlah baca. Bagi yang suka baca, mulai rajin-rajinlah baca yang menggunakan bahasa Inggris. Sebagai latihan, saya ngeprint ebook Cambridge yang bagian reading, terus dikerjain deh soal-soalnya. REMEMBER: section ini bisa dibilang paling menghanyutkan alias ada 3 artikel (jurnal ilmiah pula, musti mikir bacanya) yang panjang-panjang (5-8 paragraf) dan waktu terbatas. Kalau nggak inget waktu, pasti lama banget deh ngerjainnya. Saat latihan, saya pasang timer selama 60 menit dan fokus mengerjakan latihan soal tersebut. Kadang selesai semua, kadang nggak beres. 

print-out buat belajar reading karena kalau baca di laptop sakit mata
Saat belajar, saya menjajal 2 cara:
1. Baca semua artikel, lalu jawab soal-soal.
2. Baca soal-soal, tandai kata kunci di pertanyaan, lalu cari jawaban di artikel berdasarkan kata kunci yang disebutkan.

Ternyata bagi saya cara ke 2 lebih hemat waktu karena saya nggak perlu baca keseluruhan artikel. Hanya saja agak tricky karena seringkali kata kunci di pertanyaan, ternyata yang disebutkan di artikel adalah sinonimnya. Jadi, harus menguasai banyak vocabulary. Selain latihan soal, saya juga banyak-banyak baca National Geographic (versi English) dan novel English. Oiya, tiap orang beda-beda ya cara belajar yang cocok. Kalau kamu merasa cara 1 lebih cepat dalam mengerjakan soal, tetap lanjutkan latihan soal menggunakan cara tersbut. Kalau sudah menemukan cara latihan yang tepat, konsisten di situ, jangan dua-duanya.

Realita tes: Tipe soal nggak beda jauh sama latihan soal alias sama-sama jurnal ilmiah yang perlu mikir. Saya menggunakan cara ke 2 dan alhamdulillah bisa menjawab semua pertanyaan tepat waktu. 

WRITING
Cara belajar: Meski penulis, saya kan nulisnya novel bahasa Indonesia dan selain Tugas Akhir, saya nggak pernah nulis in English. Jadilah saya emang males latihan.. Baru belajar writing 2 minggu sebelum tes, itu pun dengan panic at the disco. Wajarlah kalau ternyata nilainya menyedihkan. Writing section ada 2 jenis: Deskripsi grafik dan Opini. 

Di bagian soal deskripsi, tulis benar-benar deskripsi sesuai yang ada di gambar JANGAN memberikan opini apa pun. Misalnya, ada grafik kenaikan konsumsi ayam dan penurunan konsumsi ikan. Tulis saja "Chicken consumption increased significantly while fish consumption decreased." JANGAN ditambahi "Chicken consumption increased significantly while fish consumption decreased, maybe because there are so many fast food restaurant serve fried chicken nowadays."

Di bagian soal opini, biasanya kita diminta opini atau argumen terhadap suatu masalah. Ingat, tidak ada opini yang salah atau benar. Kita hanya perlu menjelaskan opini yang kita percaya, lalu sertakan contoh-contoh pendukung opini tersebut. Ini bukan debat, tapi tulisan opini, nggak akan ada juga yang menyangkal atau mendukung. Gunakan cara menulis yang logis & sistematis seperti: paragraf pembuka, paragraf opini 1 dan kalimat pendukung, paragraf opini 2 & kalimat pendukung, kesimpulan.

Realita tes: Nggak beda jauh sama latihan soal alias topik yang harus ditulis sama-sama susah. Yang saya alami dan takutkan saat tes adalah waktu yang mepet, mentok ide, dan jumlah kata yang harus dipenuhi (deskripsi lebih dari 150 dan opini lebih dari 250). Kata petugas IELTS, nilai tulisan opini lebih besar. Saya sempet mau nangis pas tes ini berlangsung karena di bagian soal deskripsi mentok ide dan ngga tahu mau nulis apalagi padahal jumlah kata belum memenuhi. Tapi akhirnya injury time bisa juga memenuhi 160 kata (pas disuruh berhenti sama petugas pas bikin titik terakhir).

SPEAKING
Cara belajar: Sama seperti writing, saya juga ogah-ogahan belajarnya dan baru mulai fokus latihan 2 minggu sebelum tes. Cara belajarnya tentu baca soalnya dari buku Cambridge, lalu jawab pertanyaan sambil ngomong direkam. Hasil rekaman tersebut saya denger lagi, apa terlalu cepet, terlalu lambat, terlalu banyak "eerr... ehm... aaah... auooo...auuoooo emang tarzan". Kelemahan saya sih nggak menguasai banyak vocabulary, meski bisa jawab pertanyaan. Hiks..

Realita tes: Ini yang saya kesel banget karena di antara semua section, nilai speaking paling jongkok. Padahal topik pertanyaan tentang "Reading & Book", nggak kurang menguasai apa coba sayanya? Semua pertanyaan juga bisa saya jawab. Tapi ya sudahlah, mungkin justru karena bisa jawab, jadi jawaban saya ngelantur, atau kecepetan karena saya ngerasa grogi juga sih. Hiks..Hiks.. T_T

Selain menggunakan buku Cambridge, saya juga latihan dari youtube. Berikut link-link yang bagi saya membantu banget terutama untuk latihan writing & speaking dalam tempo sesingkat-singkatnya. Saran saya sih full latihan writing & speaking juga intensif sebulan dengan serius, jangan mepet waktu. 


Berikut band score IELTS saya. Listening 7 (lumayan), Reading 7.5 (at least cara belajar saya udah cocok), Writing 6 (sesuai cara belajar lah), Speaking 5.5 (T_T nangiiiiisss nggak nyangka sejelek ini). Total band score 6.5. Ini score standar banget untuk daftar kuliah di univ Eropah atau Ostralih sanah, apalagi ada jurusan yang mewajibkan minimal nilai per section harus sekian. Tapi ngga apa-apalah. Untuk sementara pakai nilai ini dulu ke kampus yang mau nerima. Nanti kalau udah ada duit baru nyoba tes lagi. Oiya, bayar IELTS mahal... lebih dari 2,5 juta. Kalau punya duit lebih sih bisa ikut les dulu sebelum tes, tapi..tapi..tapi.. biasanya biaya les intensif juga lebih dari 2 juta. Hihihi.. Jadi, jangan sia-siakan dan belajar lah yang rajin.



Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Arian Sahidi mengatakan…
rencana mau daftar dimana, Tante?
Lina W. Sasmita mengatakan…
Thank for Sharing Neng Rhien. Udah lama banget pengen nyoba daftar test IELTS kebetulan di Batam juga ada. Berarti harus persiapan dari sekarang ya. Jauh-jauh hari.
vera astanti mengatakan…
kalo vey lagi mendalami toefl mbak...
nggak ngerti soal ielts. tapi australia pake ielts, matih aku yak. hahaha.
rhein fathia mengatakan…
@Arian:
Ada deh.. :D

@Lina:
Yup! Semangat belajar & tes-nya ya.. :)

@Vera:
Hehe.. Emang beda sih TOEFL & IELTS polanya..
sara mengatakan…
I am surprising to see your blog!it has very helpful IELTS preparing Materials and helpful to students who looking forward for making careers by getting admission in USA top university.

ESL Learning

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …