Saya & Tenda Destarata

Seperti biasa, minggu di akhir bulan adalah masa-masa di mana saya harus berurusan dengan benda yang paling bisa bikin orang sensitif di dunia: UANG. Alias saya harus membuat laporan keuangan perusahaan. Seperti hari ini, ketika bermesraan dengan excel ditemani Ibu (beliau membuat rencana kerja untuk pegawai). Sempat terjadi percakapan,

Ibu: Berapa total bulan ini?
Me: Sekian juta
Ibu: Alhamdulillah. Lumayan lah untuk ukuran bulan puasa yang biasanya sepi order.
Me: Sepi gini juga bikin laporannya sama pusingnya. Tapi Bu, kita ngitung stress gini ketauan duit sendiri ya? Coba bayangin karyawan yang ngitung duit begini dan duit orang lain? Duit bosnya?
Ibu: *begidik* Iya ih. Mana uang yang diitung lebih banyak, lebih stress.
Me & Ibu: Hahahaha...

Semenjak meninggalkan dunia office hour nine to five, saya membantu orang tua menjalankan bisnis keluarga yang nggak seberapa. Masih terhitung UKM lah. Karena saya udah sekolah, jadi biasa ngurusin bagian keuangan, mulai dari ngitung pemasukan-pengeluaran, gajian pegawai, bayar cicilan-cicilan aset, sampai jadi debt collector kalau ada klien susah bayar (ini nih yang bikin umur lebih tua 10 tahun). Kerjaan lain, ya kacung bapa-ibu lah.. Nurut disuruh apa aja (kecuali disuruh nikah. Hahaha). 

Memang sih, kerjaan saya nggak sekeren temen-temen yang kerja kantoran dengan baju rapi wangi semriwing. Lha saya aja pernah menemui klien yang datang ke kantor dan tanpa sadar ternyata muka saya masih maskeran. Untung kliennya nggak jantungan ngeliat muka bertopeng. Atau pernah menemui klien masih pakai piyama, habisnya dia dateng pagi banget sih.. Nggak ding, saya sering dimarahi ortu kok untuk selalu pakai baju rapi meski di rumah (yang ada kantornya juga).

Penghasilan juga nggak seberapa. Yang pebisnis itu orangtua saya, yang uangnya banyak ya mereka. Saya berinvestasi membeli beberapa kursi futura untuk disewakan, jadi wahai orang Bogor kalau kamu ada acara sewalah kursi di Tenda Destarata. Hasil sewaan per bulan masih belum cukup kalau saya mau cicil KPR. Saya juga digaji oleh Tenda Destarata, masih di bawah UMR, malah gaji paling rendah diantara pegawai-pegawai lain (mereka semua digaji di atas UMR). Hahaha.. 

Alhamdulillahnya sih saya nggak terlalu ambil pusing (pusingnya kalau pas mau backpacking duitnya kurang). Kebetulan, kayaknya saya juga bukan tipe orang konsumtif kecuali untuk buku. Yang penting adalah waktu saya bebas, masih boleh bangun siang (I'm not morning person), masih bisa ngelamun bikin plot novel, nggak perlu khawatir mikir cuti kalau tiba-tiba ada promo tiket pesawat, dann... yang superpenting dari yang terpenting adalah masih bisa mengabdi sama ortu. Kalau ortu butuh apa-apa, saya ada, saya bisa bantu. Apalah saya ini udah bikin mereka capek lahir batin dari mulai saya lahir, plus mungkin suatu hari nanti saya diboyong suami (AAMIINN, ayo aamiinkan!), selama masih ada waktu bantu-bantu ortu, saya ingin lakukan itu. 

Punya perusahaan keluarga itu nggak kayak di cerita sinetron atau drama Korea, yang tajir2 mampus, problemnya cinta segitiga, dan bebas melenggang kemana-mana banyak waktu luangnya. Ya kecuali kalau udah setaraf perusahaan keluarganya Paris Hilton, sih. Jadi bagian di perusahaan ya ikutan rempongnya, pusing ngatur jadwal kerjaan, ketemu klien yang macam-macam sifatnya, mikir strategi pengembangan perusahaan, ah sagala rupa weh lah.

Untungnya, saya senang dengan kondisi ini. Mungkin saya emang tipe yang susah diatur, jadi cocoknya pekerjaan yang seperti ini. Jadi penulis & pebisnis, royalti & hasil investasi mengalir. Tantangannya, kadang ngalir seret kadang lancar.. Syukuri saja.. Hahaha..

Love is real, real is love. -John Lennon-

Comments

Retno said…
Apapun pekerjaannya, yang penting dikerjakan dengan riang gembira. Beruntung banget keluarganya punya perusahaan sendiri, ilmunya bisa dimanfaatkan untuk kemajuan perusahaan. Keren. :)
Anonymous said…
kasih ide boleh ga?
itu cerita kau & destaratanya ga dijadikan novel sekalian gitu?
eh apa jangna2 udah jadi ? :D
Rhein Fathia said…
@Retno:
Alhamdulillah Retno, hidup kan harus dibawa bahagia.. :D

@warm:
Nanti genre ceritanya jadi angry-comedy dong, om Warm.. Hahaha
Unknown said…
Mbaknya penulis ya... aku juga punya site mbak, tapi tulisannya aneh... Klw mau kunjungi, kunjungi aja muhherjan.com
Unknown said…
Minta price listnya donk mbk..bisa gak?

Popular posts from this blog

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Tips Belajar IELTS (yang ngga berhasil-berhasil amat)

Giveaway & Talkshow with Nulisbuku Club