The Midnight Library by. Matt Haig

"Mimpi siapa yang sedang kamu jalani saat ini?"


Waktu pulang ke Indonesia sebulan lalu, saya ngobrol banyak hal dengan ibu. Di suatu kesempatan beliau bilang, "Kamu sedang menjalani apa yang ibu cita-citakan. Tinggal di luar negeri, kuliah, membangun karir." Nggak perlu ditanya mengapa beliau dulu tidak mengejar mimpinya. Toh hidup seringkali tidak seperti yang kita inginkan. 



The Midnight Library tidak menceritakan tentang mimpi, melainkan kehidupan yang sedang dijalani. Puas nggak sih, kita sama hidup yang sedang dijalani sekarang? Di bab awal, novel ini menceritakan kucing mati yang membuat saya kesal. Kemudian si pemilik kucing bunuh diri, tapi belum mati. Between life and death there's a library. Nora (si pemeran utama) terjebak di sebuah perpustakaan dengan rak buku berjajar tak berujung dan ditemani seorang librarian. Buku pertama yang disuguhkan pada Nora berjudul "The Book of Regrets." Ugh, sounds depressing. 


Mengapa Nora bunuh diri? Apa benar Nora ingin mati? Atau dia hanya tidak tahu bagaimana caranya menjalani hidup? What is the best way to live? Midnight Library menjadi pintu menuju paralel-universe dan Nora mendapat kesempatan untuk menjalani hidup dengan beragam kemungkinan atas keputusan yang dia ambil di masa lalu. Bagaimana kalau dia mengiyakan saran Ayahnya untuk terus berlatih renang? Atau ikut sahabatnya ke Australia? Atau ikut kakaknya nge-band? Atau mungkin hidup sesimpel jadi pegawai shelter hewan di kota kecil? Dan atau-atau yang lain; dari guru musik sampai eco-arsitek, dari atlet olimpiade sampai peneliti glasier yang harus menyelamatkan diri dari beruang kutub. 


Sampai 70% membaca kisah Nora, ternyata selama ini dia menjalani mimpi orang lain. Seberapa sering sih tanpa sadar, kita menjalani hidup demi approval dari orang lain? Sialnya, kehidupan atas keputusan kita sendiri pun tidak sempurna. Ada bahagia dan sedih yang tumpang tindih, ada siklus tersakiti dan menyakiti. But you don't have to understand life. You just have to live. Bagaimana kalau ada keputusan yang membuat kita menyesal? Well, sometimes regrets are just a load of bullshit.


Petualangan Nora di perpustakaan dan melompat dari satu buku ke buku lain yang merupakan kisah hidupnya sendiri cukup mengaduk emosi. Rasanya tuh capek, tapi seru. Kebayang nggak sih, punya kesempatan untuk menjajal segala macam angan. Kalau kita jadi atlet, artis, orang miskin, ibu, astronot, pebisnis yang sukses atau gagal, dsb. Menutup buku ini bikin saya mikir banget tapi lega. In a world where you can be anything, be kind. 


Novel ini paket komplit; sci-fi, musik, mental issue, filosofi hidup, romance, ditulis dengan bumbu humor yang mengalir. Ngga salah kalau jadi pemenang best fiction di goodreads tahun 2020. 


Love is real, real is love. -John Lennon-

Comments

Popular posts from this blog

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Review Macbook Air 11 Inch