Prominte, Nerozumim.

Setelah satu setengah tahun tinggal di Praha, skill bahasa Ceko yang saya fasih hanya sebatas 'dobry den', 'prosim, mluvite Anglicky?' dan 'dekuju, nashladanou'. Di kampus, saya ambil kelas bahasa Ceko sampai 2 semester dan tidak ada peningkatan. Sebelum rezim korona sempat mempraktekan beberapa kalimat singkat untuk belanja, jajan biskuit, atau beli tiket museum. Kemudian lockdown, jarang ketemu orang lokal ya sudahlah makin tidak terasah. 


Teman menyarankan agar saya kursus bahasa Ceko secara intensif tiap hari agar cepat fasih. Saya pikir, well.. nggak ada salahnya dicoba, toh dibayarin kantor juga. Setelah lebih dari 2 minggu kursus, kesimpulannya: SUSAH. Saya pernah belajar bahasa Jerman, yang meski saya nggak suka struktur penyebutan angka dan aksennya penuh penekanan, lebih mudah dipelajari dan dimengerti. At least sampai sekarang masih ada yang nyantol di kepala. 



Saya suka mendengar orang bercakap-cakap dengan bahasa Ceko. Bagi saya, terdengar tenang, lembut, dan di akhir kalimat biasanya bergelombang. Mirip-mirip tipikal bahasa Sunda (kalau lagi ngobrol normal, bukan pas maki-maki "sia borokokok!"). Biasaya tidak sulit bagi saya belajar untuk membaca dan menirukan bahasa dari proses mendengar (Jawa, English, Arab, Jerman, Korea). Tapi bahasa Ceko ini, meski selama 1,5 tahun tinggal di sini dan tiap hari mendengar pengumuman di tram atau metro, susah banget nyantolnya di kepala. Menurut teman-teman dari Russia atau yang pernah belajar bahasa Prancis, bahasa Ceko punya kemiripan dan bagi mereka mudah dipelajari. Yetapikan Russia dan Prancis juga termasuk bahasa yang susah dipelajari, bhambhang. 


Hal-hal yang menurut saya susah mempelajari bahasa Ceko:

  1. gender (neutral, feminin, maskulin)
  2. formal/informal
  3. pelafalan huruf yang berbeda dengan bahasa Indonesia
  4. struktur subjek, predikat, objek, keterangan yang berbeda dari bahasa Indonesia atau English
  5. pelafalan kata yang sulit. Banyak kosakata yang minim huruf vokal. Contoh: zmrzlina (es krim)
  6. akhiran (ending) yang selalu berbeda tergantung subjek, gender, formal/informal, dll.


Sungguh kerja keras bagi otak ketika dari satu kata kerja atau kata benda, bisa berubah akhiran hanya karena kita bicara pada orang tua atau teman, laki-laki atau perempuan, kata tersebut termasuk kategori neutral, maskulin, atau feminin, jumlahnya satu, dua, atau lebih. Belum lagi kalau ditambah sesuai kebiasaan percakapan lokal.


Sebagai studentka (siswi), saya pernah tanya ke ucitelka (guru perempuan), kenapa bahasa Ceko susah dan harus ganti-ganti ending? Beliau cerita sambil tertawa, menurut sejarah, Bohemia merupakan wilayah kecil di tengah-tengah benua yang selalu dapat serangan dari berbagai arah. Karena itulah penduduk zaman dulu menciptakan bahasa yang sulit dimengerti agar strategi perang mereka tidak diketahui. Hmm... Oke baiklah. 


Well, at least sekarang sudah bertambah satu frasa yang saya fasih: "Prominte, nerozumim." (Maaf, saya tidak mengerti).




Love is real, real is love. -John Lennon-

Comments

Rd said…
membayangkannya aja saya mumet teh, keren bisa tabah belajarnya walau susah ngerti2 gitu
Rhein Fathia said…
@Om Warm:
Bukan tabah sih Om, demi survive hidup di sini aja. Hahaha...

Popular posts from this blog

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Giveaway & Talkshow with Nulisbuku Club

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok