Langsung ke konten utama

Pulang: Konsep Indah sebuah Rumah



Saya pernah melihat kucing liar mati. Suatu malam di rumah kosan di Bandung, saya melihat gundukan di tumpukan baju tak terpakai yang ditinggalkan penghuni kos-kosan. Karena curiga, perlahan saya menyibak tumpukan baju tersebut dan melihat seekor kucing tertidur di sana. Refleks tangan saya mengelus kepalanya. Dingin, bulu kering, tulangnya terasa, tidak berbau. Dia mati. Saya tahu jenis 'dingin' dari makhluk hidup yang mati. Bukan dingin seperti es batu, hembusan angin, atau salju. Melainkan jenis dingin yang menyiratkan sepi, hampa, dan pilu. 

Kucing itu tak bertuan dan sebelumnya sering berada di area teras balkon kosan lantai dua. Tempat tidurnya di tumpukan baju-baju bekas. Penghuni kosan sering berbagi sisa makanan dengannya. Malam itu saya menghubungi bapak kos memberi tahu perihal si kucing sembari mengecek kondisinya. Tidak ada luka, kemungkinan besar dia mati karena usia. 

Seminggu yang lalu, kucing saya (nama: Mele) tidak pulang selama empat hari berturut-turut. Dia kucing liar yang  kami kenal lebih dari lima tahun. Sudah dianggap keluarga, meski statusnya tidak boleh bermalam di rumah (karena berisik dan hobi berburu kalau malam). Dia tidak suka dikurung, maka kami bebaskan mau main ke mana pun, tapi selalu ada di kantor dari pagi hingga maghrib. Seringnya menemani saya kerja, merecoki klien yang datang. Pernah beberapa kali dia tidak pulang, biasanya nyangkut di rumah tetangga yang suka ngasih makan (mungkin dia ingin variasi makanan lain). Tapi biasanya tidak lama, pasti kembali ke kantor.

Maka ketika dua hari lalu Mele pulang, dalam keadaan luka pitak berdarah di beberapa bagian tubuhnya, bulu kotor seperti terkena lumpur, pincang, hidung dan mulut tertutup ingus mengering, kurus, dan bau, saya dan ibu kaget. Ini anak kenapa?? Dikasih makan, dia hanya makan sedikit. Biasanya nggak bisa berhenti makan. Perlahan kami membersihkan tubuhnya meski terkadang dia berontak. Kesimpulan awal, dia kalah gelut dengan kucing lain karena untuk ukuran kucing, Mele termasuk tua. 

Melihat Mele tidak napsu makan, apalagi sebelumnya sudah sakit pilek yang nggak sembuh-sembuh (diobatin berontak melulu), saya berinisiatif untuk membawanya ke klinik hewan. Namun saat saya gendong berkali-kali untuk masuk kandang, dia malah marah. Saat itulah saya melihat darah bercampur nanah mengucur dari tubuhnya. Tiap kali dia melangkah, darah di mana-mana. Saya dan ibu panik, kondisi Mele sudah di luar batas wajar kucing sakit. Saya segera menelepon klinik langganan dan minta perawat menjemput.

Mele kucing jantan, badannya termasuk besar dan berat untuk ukuran kucing kampung, plus dia galak pada orang asing. Karyawan lain di kantor yang semuanya lelaki nggak ada yang berani sama dia. Maka di klinik, saat akan tindakan pengobatan (mungkin operasi versi kucing), perlu 5 orang untuk memegang satu kucing yang kesakitan tapi berontak galak ini. Di tubuhnya ada luka abses, kulitnya sudah bolong 2 bernanah, belum termasuk luka cakaran dan pitak di bagian lain, ingusnya pun berdarah. Saya nggak tega liatnya. Udah sejak di kantor mata saya berkaca-kaca.

Sekarang dia masih dirawat inap di klinik dengan kondisi luka membaik meski napsu makan masih rendah, perlu disuapi. Kata dokter dan perawat, kemungkinan Mele tidak ada asupan makanan sejak dia hilang karena tubuhnya dehidrasi saat awal diperiksa. Mele juga sudah tidak ada keinginan grooming makanya badannya bau, padahal biasanya dia bersih banget. Luka abses kemungkinan sudah ada sejak sebulan lalu tapi tidak ketahuan. Kemudian perawat bilang, "Hebat, dia masih ingat pulang."

Ada perasaan bersyukur Mele pulang. Mungkin kucing pun punya insting tentang konsep rumah, orang-orang yang sayang dia, tempat dia merasa nyaman. Meski galak, mungkin Mele tahu ada manusia yang akan berada di pihaknya dalam kondisi apa pun. Home, a wonderful concept for a lucky living creature.  

Sering ada yang bilang, nggak ada yang pernah liat kucing liar mati atau bangkai kucing kecuali yang ketabrak. Karena ketika akan mati, kucing liar akan pergi, sembunyi, dan mati dalam sepi. Seperti kucing yang saya temukan di kosan. Saya berpikir kalau Mele tidak bisa pulang dua hari lalu, mungkin kami tidak akan melihatnya lagi selamanya. We love him. I love him so much. Dia sudah tua dan saya tidak berharap dia akan kembali lincah lucu seperti saat kami pertama kali bertemu dulu. He's a family. We never dump a family, aren't we? Saya ingin berusaha memberi rasa sayang dan peduli pada Mele sesuai yang saya mampu selagi bisa. 

Jika Mele masih mengingat kami dan berjuang untuk pulang, tentu kami pun akan berusaha agar dia pulih dan sehat. 
get well soon, sweetheart.
Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

9 Things to Do for WHV Indonesia When Arrived in Australia

Sebenarnya saya udah lama ingin nulis ini, meski nggak sesibuk teman-teman WHV warrior lain, toh saya terkendala penyakit malas. As usual. Nah, berhubung sekarang lagi day off dan hawa-hawa di perpustakaan ini bikin pengen nulis, saya mau share beberapa hal yang perlu dilakukan saat awal hidup di Australia (Sydney, tepatnya) saat menjalani Work & Holiday Visa.
Beli Kartu Bukan kartu gaple ya. Saat mendarat di bandara Sydney, akan banyak ditemukan counter-counter provider ponsel. Saya milih kartu Vodafone, alasannya selain karena konon katanya menurut gosip sinyalnya paling kenceng, juga pada saat mau beli eh lagi ada diskon gitu, paket $50 cukup bayar $30. Nah, kartu sim di Australia ini agak sedikit berbeda dengan di Indonesia. Sistemnya paketan dengan harga berbeda. Misalnya, saya pakai paket $30 dengan masa berlaku 28 hari, gratis telpon & sms ke semua nomor Australia, paket internet 2 GB plus bonus, dan pulsa $30. Ini nggak pernah habis, lho. Karena saya seringnya pakai wi…