Langsung ke konten utama

Antara Senyum, Zona Nyaman, dan Menulis


Beberapa hari lalu seorang teman menelepon dan kami bercerita banyak hal. Saya mengenal dan mengagumi dia sebagai sosok yang punya banyak rencana, cita-cita, dan ambisi. Beberapa bulan terakhir kami sering ngobrol dan saya suka mendengar bagaimana dia punya banyak hal yang ingin dilakukan dalam hidupnya di masa depan. Saya suka melihat orang yang bersemangat memiliki mimpi-mimpi. Meski kadang saya merasa iritasi kalau dia menyentil yang intinya kira-kira: hidup saya tampak gini-gini aja dibanding rencana hidupnya.

Kemudian di percakapan kami yang terakhir, saya cukup merasa tersinggung karena beberapa hal. Pertama, dia bilang saya ini hidupnya terlalu senang-senang dan senyum-senyum aja. Awalnya saya menanggapi hanya dengan tawa karena mengira dia bercanda. Ayolah, apa yang salah dengan murah senyum? Namun ternyata dia serius, katanya saya ini keliatan ketawa-ketawa aja. Hidup itu harus lebih serius. Saya menimpali, "Terus gue harus gimana? Nangis?" Jawabannya tetap sama, hidup saya terlalu banyak diisi dengan senang-senang dan senyum-senyum saja.

Saya sering kesal dengan orang yang mudah sekali menghakimi hidup orang lain dari luarnya saja. Tahukah kamu banyak komedian yang hidupnya selalu senyum dan tertawa, ternyata mati bunuh diri?  Apa saya perlu bercerita ke seluruh semesta ketika saya depresi atau bikin vlog ala awkarin saat menangis? Apa saya perlu buat video wawancara dengan karyawan tentang betapa galak dan tegasnya saya di kantor atau saat saya berdebat sengit dengan klien corporation yang mangkir dari kewajiban? Saya menjalani kewajiban dengan serius. Saya tersenyum dan tertawa karena itu membuat saya dan orang lain bahagia.

Kedua, dia mengatakan bahwa saya sedang dalam situasi di zona nyaman. Hidup saya enak, financial cukup, punya kebebasan bisa melakukan apa yang diinginkan. Menurutnya, saya seharusnya bisa mengembangkan potensi diri dan lebih dari yang ada sekarang. Untuk hal ini, saya setuju. Namun ketika dia mengibaratkan saya ini sama saja seperti PNS pemalas yang berangkat pagi pulang sore dan di kantor kerjanya gitu-gitu aja, duh... 

Keluarga saya bisnisnya mungkin kecil-kecilan. Tapi yang kami lakukan sudah jauh lebih oke daripada standar hidup manusia Indonesia. Kami membuka lapangan pekerjaan. Menerima pegawai dari daerah pelosok yang paling hanya lulusan SD atau SMP, mendidik mereka, memberi mereka pekerjaan, tempat tinggal, makan, menjamin pendidikan anak-anak mereka, bahkan beberapa pegawai menjadi tulang punggung keluarga di kampung. Kemudian kalau hidup pebisnis itu sering dibilang tampak enak bisa punya banyak waktu luang dan jalan-jalan sesukanya, cobalah ikutan saya begadang sampai pagi dengan was-was kalau event tidak berjalan dengan baik, kalau klien minta tambahan pesanan ini itu saat injury time, kalau hp berdering tak henti saat waktunya istirahat dan serbasalah antara memilih memberikan yang terbaik untuk klien atau waktu istirahat untuk badan sendiri. Begitu itu saya disamakan dengan PNS pemalas? Tanggung jawab kami bukan lagi pada 'atasan', tapi pada perut, kesehatan, dan pendidikan keluarga karyawan.

Ketiga, saat dia bertanya apa passion saya dalam hidup. Kontribusi apa yang ingin saya lakukan di masa depan untuk diri sendiri, negara, bahkan dunia. Saya ini di masa depan ingin melakukan apa sih yang sekiranya berefek gigantis? Mungkin kira-kira begitu maksudnya. Jawaban saya singkat dan sederhana, menulis. Lalu responnya, "Nulis? Doang?" Di sini saya menghela napas. "Iya, doang."

Prinsip saya dalam menulis (terutama buku) selama ini: informatif dan mengajak pada kebaikan. Buku-buku karangan saya emang nggak best-seller amat tapi setidaknya per buku terjual sampai 5,000 eksemplar bahkan beberapa buku bisa belasan ribu eksemplar. Itu tandanya ada puluhan ribu masyarakat Indonesia yang membeli buku saya, membaca buku saya, menyerap informasi dan ajakan kebaikan dari tulisan saya. Itu lebih dari jumlah mahasiswa di kampus gajah, lho. Betul sekali jumlah itu ibarat butiran micin. Namun saya yakin, ada yang tergerak dan terbuka wawasannya karena tulisan-tulisan saya. Dan kontribusi sederhana ini tidak perlu menunggu masa depan karena saya sudah melakukannya sejak di bangku SMA. 

Tentu saja saya pun ingin punya ambisi dan rencana hidup yang gigantis manfaatnya bagi semesta. Dan memulainya dengan berbuat hal yang sederhana, real, serta bermanfaat mekipun di lingkaran kecil. Tak perlu menunggu berubah menjadi elang ketika menjadi lebah pun masih bisa bermanfaat.

Lalu kenapa kamu nggak menjelaskan semua ini ke dia saat di telepon, Rhein? Simpel,

"Most people do not listen with the intent to understand; they listen with the intent to reply." ~Stephen R. Covey.

Karena ujung-ujungnya paling saya dibilang, "Ah, lebay lu." 


Not all people want to listen to our story, even someone we expected to listen. That's why I prefer to write a lot. Because people who read our writings, they're the real listener. 

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Rd mengatakan…
Saat membaca bagian:
“..ketika dia mengibaratkan saya ini sama saja seperti PNS pemalas yang berangkat pagi pulang sore dan di kantor kerjanya gitu-gitu aja, duh..”

Saya langsung mikir: duh, begitukah saya kerjaannya di kantor? Jangan2 memng gitu 😔

Lalu, yg bilang: “penulis doang..” itu, tau gimana proses nulis ga sih? Duh...
Shanti mengatakan…
ya ampun kok bisa sih temen lu komen gitu?

gw setuju banget "Tak perlu menunggu berubah menjadi elang ketika menjadi lebah pun masih bisa bermanfaat".

alhamdulillah bisa menikmati hidup, bermanfaat, dan ga bersikap kayak orang itu ya pet.. hihi..
Anita Hastari mengatakan…
sengaja googling ke blog kakak karena nyari postingan tentang diving license, eh malah baca yang ini. selalu salah fokus... sabar ya kak, hehe...
Bella Pratika mengatakan…
Hallo kak. Akhirnya ada orang yang punya banyak kemiripan dengan ku hahahha . Kakak INFP ya ? Aku juga tipikal yang keliatannya ketawa ketawa didepan orang banyak, susah fokus sama tempat ramai, suka ngayal, suka mimpi, suka main, wkwkk . Padahal dibelakang itu banyak usaha yg aku lakuin biar keinginanku terwujud, dan aku perfeksionis banget sama diriku sendiri, bukan orang lain . Hehe . Salam kenal ya, boleh mampir ke IG aku @delapanbelassenja ? Hehe makaasiih, dan semangat terus nulisnya kak 😀😊

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

9 Things to Do for WHV Indonesia When Arrived in Australia

Sebenarnya saya udah lama ingin nulis ini, meski nggak sesibuk teman-teman WHV warrior lain, toh saya terkendala penyakit malas. As usual. Nah, berhubung sekarang lagi day off dan hawa-hawa di perpustakaan ini bikin pengen nulis, saya mau share beberapa hal yang perlu dilakukan saat awal hidup di Australia (Sydney, tepatnya) saat menjalani Work & Holiday Visa.
Beli Kartu Bukan kartu gaple ya. Saat mendarat di bandara Sydney, akan banyak ditemukan counter-counter provider ponsel. Saya milih kartu Vodafone, alasannya selain karena konon katanya menurut gosip sinyalnya paling kenceng, juga pada saat mau beli eh lagi ada diskon gitu, paket $50 cukup bayar $30. Nah, kartu sim di Australia ini agak sedikit berbeda dengan di Indonesia. Sistemnya paketan dengan harga berbeda. Misalnya, saya pakai paket $30 dengan masa berlaku 28 hari, gratis telpon & sms ke semua nomor Australia, paket internet 2 GB plus bonus, dan pulsa $30. Ini nggak pernah habis, lho. Karena saya seringnya pakai wi…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …