Langsung ke konten utama

Family Gathering Tenda Destarata

Minggu lalu, Tenda Destarata kembali mengadakan Family Gathering, sebuah event tahunan yang intinya piknik seluruh karyawan dan keluarganya. Berdasarkan beragam usulan akhirnya disepakati kami main ke DUFAN. Kok Dufan? Ya gimana dong, mau ke tempat wisata alam macam di puncak nginep di villa, udah pada bosen lha wong kami biasa banyak orderan pasang tenda dan dekorasi di sana. Mau yang agak jauh macam ke Sukabumi, Pelabuhan Ratu, Sawarna, dll, lha kebanyakan karyawan justru berasal dari sana jadi bagi mereka udah nggak seru. Hahaha... Mereka justru belum banyak tahu Jakarta dan wisata modern. Yasudah, cuss!


Persiapan untuk liburan perusahaan UKM ini ternyata nggak terlalu sulit. Saya hanya pesan bis (Big Bird, yang rekomended banget karena pelayanan memuaskan), pesan tiket Dufan (karena banyak orang jadi harga lebih murah), dan pesan makan katering (di salah satu restoran di Dufan supaya gampang dan murah).

Alhamdulillah acara berjalan lancar, perjalanan nggak macet sama sekali, cuaca sempat hujan sedikit tapi selanjutnya cerah relatif adem karena hujan tadi. Karyawan dan keluarga mereka juga tampak senang coba sana-sini beragam wahana termasuk makan siang bersama. Kebetulan kebanyakan karyawan masih berusia muda jadi fisiknya kuat. Selama perjalanan pulang pergi di bis juga nggak pernah sepi. Saya dan orang tua sudah merancang doorprize bagi yang berani nyanyi karaoke atau bisa menjawab pertanyaan. Di akhir piknik saat pulang, kami sempat bertanya kesan-kesan karyawan atas piknik dan menampung usulan lokasi untuk Family Gathering tahun depan. Mereka bilang puas banget atas piknik hari itu. 

karena tak hanya bosnya yang hobi nyanyi dan party
Ternyata, di balik segala cerita traveling saya ke beragam negara, melihat para karyawan bahagia hanya dengan main ke Dufan, rasanya bikin hati meleleh terharu dan senang. Bahagia bisa sesederhana itu. 

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

9 Things to Do for WHV Indonesia When Arrived in Australia

Sebenarnya saya udah lama ingin nulis ini, meski nggak sesibuk teman-teman WHV warrior lain, toh saya terkendala penyakit malas. As usual. Nah, berhubung sekarang lagi day off dan hawa-hawa di perpustakaan ini bikin pengen nulis, saya mau share beberapa hal yang perlu dilakukan saat awal hidup di Australia (Sydney, tepatnya) saat menjalani Work & Holiday Visa.
Beli Kartu Bukan kartu gaple ya. Saat mendarat di bandara Sydney, akan banyak ditemukan counter-counter provider ponsel. Saya milih kartu Vodafone, alasannya selain karena konon katanya menurut gosip sinyalnya paling kenceng, juga pada saat mau beli eh lagi ada diskon gitu, paket $50 cukup bayar $30. Nah, kartu sim di Australia ini agak sedikit berbeda dengan di Indonesia. Sistemnya paketan dengan harga berbeda. Misalnya, saya pakai paket $30 dengan masa berlaku 28 hari, gratis telpon & sms ke semua nomor Australia, paket internet 2 GB plus bonus, dan pulsa $30. Ini nggak pernah habis, lho. Karena saya seringnya pakai wi…

Backpacker Thailand Trip (part 4): Grand Palace - Asiatique

Rhein itu kebiasaan deh, kalau posting tentang backpacking pasti ngga beres dari berangkat sampai pulang. Seringnya kepotong setengah-setengah karena alasan yang entah apa. Mungkin ini mengidentifikasi kalau Rhein tipe orang yang cepet move on yah.. Hehehe.. 
Untuk Backpacking Thailand ini udah diniatkan harus ditulis sampai tamat! Soalnya ini backpacking berprestasi yang mengeluarkan budget murah, ke luar negeri pula. Baiklah, mari kita lanjutkan cerita-cerita backpackingnya dengan membongkar ingatan. Yang belum baca part sebelumnya ada di sini, di sini, dan di sini, ya.
Hari keempat di Thailand dan kembali ke Bangkok lagi. Pagi-pagi sekitar jam 8 Rhein udah siap mandi, dandan cantik, dan siap untuk wisata kebudayaan. Saat turun ke lobi, Rhein dikasih tahu sama penjaga penginapan bagaimana rute ke Grand Palace yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Khaosan Road dan jangan tertipu sama orang-orang yang menawarkan tuktuk atau mengatakan bahwa Grand Palace tutup. Ih sumpah pemilik &…