Membaca ala Penulis

Suatu hari saat memberikan talkshow di salah satu acara kepenulisan, salah seorang peserta mengajukan pertanyaan kira-kira seperti ini, “Apa sih tips membuat jalinan cerita dan kalimat yang enak dibaca saat menulis novel? Tolong jangan memberikan tips ‘banyak membaca’ karena saya sudah cukup bosan mendengar tips tersebut.”

Maka dalam tulisan kali ini, Rhein ingin sedikit berbagi tentang apa sih maksudnya harus ‘banyak membaca’ bagi siapa pun yang ingin belajar menulis?

Siapa pun yang ingin menjadi penulis, harus memiliki kemampuan khusus dalam membaca. Ada perbedaan besar antara membaca karena dia hobi dan karena dia ingin belajar menulis (dari pengalaman pribadi). Sebagai penulis, kita harus jeli bagaimana mengulik sebuah tulisan atau buku. Simpelnya gini. Ambil sebuah buku yang sangat kita suka dan tidak bosan saat membacanya, lalu selidiki, APA SIH yang membuat buku tersebut begitu memikat?

Kemudian, satu buku tersebut kita pretelin sampai jadi remah-remah. Apa yang menarik dari buku tersebut? Misal: tokoh-tokohnya? Baca ulang bagaimana si penulis menciptakan tokoh-tokoh rekaannya tersebut. BACA SATU PER SATU bagaimana setiap tokoh dideskripsikan oleh si penulis. BACA bagaimana si penulis membuat setiap tokoh bergerak, melirik, tertawa, merengut, mengibas rambut, sehingga setiap tokoh memiliki ke’khas’an gesture dan ‘suara’ sendiri. BACA tiap detil kalimat dan kata yang dirangkai si penulis dalam membuat masing-masing tokoh.

Selanjutnya, misal di buku tersebut setting cerita sangat terasa. BACA JUGA bagaimana si penulis merangkai kata-per-kata dalam membuat kalimat untuk sebuah deskripsi stasiun. Hingga pembaca bisa merasakan hiruk-pikuknya, kesemrawutannya, kesibukannya. Apa? Pilihan kata apa yang dipilih penulis sehingga membuat kita sebagai pembaca bisa memunculkan imajinasi bahwa, oke-ini-stasiun.

Atau salah satu hal krusial dalam sebuah novel adalah 5-10 halaman pertama. BACA BERULANG-ULANG apa yang membuat kita tertarik untuk membalik setiap halaman berikutnya dari sebuah buku? Apa yang membuat kita penasaran? Bagaimana dan di mana si penulis menempatkan titik-titik percikan konflik sehingga kita ingin lagi dan lagi mengetahui kisah selanjutnya? Kata-per-kata apa yang digunakan si penulis.

Iya, semuanya cukup BACA AJA terus sampai negara api menyerang dan menjatuhkan meteor cokelat ke ladang gandum hingga jadilah koko krunch.

Beberapa hal yang saya lakukan dalam hal membaca untuk sebuah riset menulis contohnya saat proses menulis Gloomy Gift. Saya mencari genre yang setipe antara lain serial Millennium by. Stieg Larsson, serial in Death by. J.D Robb, dan tak lupa Negeri Para Bedebah by. Tere Liye agar mendapat cita rasa Indonesia. Kesemua buku-buku tersebut saya telaah satu per satu, per kalimat, per adegan, bertanya berkali-kali mengapa saya suka tokoh ini, mengapa saya suka suasana di situ, mengapa saya ingin menagis pada adegan di halaman sekian dan memaki-maki di adegan lain karena saking kesalnya pada penulis yang bikin perasaan campur aduk. NAH!! Saat kita membaca dan mendapat perasaan campur aduk itulah. STOP! Berhenti di situ. BACA ULANG, apa yang membuat adegan tersebut membuat perasaan jungkir balik? Kalimat atau kata apa yang membuat kita, si pembaca sensitif ini, begitu terbawa perasaan?

Begitulah kira-kira share pengalaman saya tentang membaca ala penulis. Ketika kita memutuskan ingin menjadi penulis, maka ubah mindset cara ‘latihan membaca’ sesuai yang dibutuhkan. Sama seperti ketika seseorang memutuskan menjadi atlet lari, tentu dia memiliki trik khusus untuk ‘latihan lari’, meski mau kayak apa juga memang intinya adalah LARI aja terus sampai negara api... #bungkamRhein.

Semoga bisa dipahami ya, terutama untuk teman-teman yang baru belajar menulis (kalau yang udah penulis jam terbang tinggi sih pasti udah tau). Dan yang terpenting, tekun & sabar... :)

Memberi tanda post-it untuk setiap unsur-unsur menarik (deskripsi, narasi, informasi, dll)  menjadi kebiasaan saya dalam membaca sebuah buku.

Mencatat setiap kosakata baru untuk memperkaya diksi. Saya menyebutnya 'bank kata'.

Love is real, real is love. -John Lennon-

Comments

Popular posts from this blog

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Giveaway & Talkshow with Nulisbuku Club

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok