Langsung ke konten utama

Selaksa Kerlip Bintang

Jadi setelah beres menulis The Gloomy Gift dan mengirim ke penerbit dan sudah diedit plus revisi tahap satu kemudian sudah dikasih ke saya lagi untuk revisi tahap dua atas permintaan sendiri, kali ini sedang menulis cerita tentang kehidupan sehari-hari.

Sebut saja judulnya Selaksa Kerlip Bintang. Mengambil setting di Bandung tahun sekarang dengan tokoh utama mahasiswa menjelang lulus. Masih tentang romance dengan konsep yang sangat sederhana, kehidupan sehari-hari. Bisa dibilang cerita ini setipe dengan Jadian 6 Bulan dengan konflik-konflik kecil menyangkut pemahaman Islam tentang kehidupan, tanpa sebar ayat dan hadist tentunya karena saya masih merasa belum mumpuni untuk menjelaskan. 

Sebenarnya, setelah menulis thriller-crime-romance, kemudian banting stir menulis tema ala keluarga cemara dengan alur lebih lambat, rasanya agak kagok. Apa ya sebutannya? Author hangover? Bagaimana pun menurunkan tempo dari yang super cepat di The Gloomy Gift, lalu harus menekan rem kuat-kuat di Selaksa Kerlip Bintang cukup bikin otak saya berkali-kali bilang, "No, you should keep calm. Re-read this scene, you need to put detail here and here, you need to put the warm soul here and here.". Kira-kira begitu.

Kabar baiknya, saya bahagia menulis cerita ini. Progres 68 halaman dalam 17 hari tentu termasuk cepat mengingat tugas akhir saya yang mentok di 30 halaman hampir 2 bulan ini. Sampai saat ini, plot cerita sudah ada dari awal sampai akhir dengan berbagai ide adegan berloncatan begitu riang. Friksi-friksi dalam cerita ini juga sudah terkonsep dan terdata dengan asyik. Kemudian, karena menulis dalam keadaan mengalir, saya kadang bertanya-tanya juga "Oke, jadi apa konflik utamanya?", karena toh hey, apa sebenarnya konflik utama manusia dalam menjalani kehidupan sehari-harinya? Sama seperti saya yang menulis cerita ini dalam mode: bebas mengalir begitu saja, urusan terbit pun biarkan bebas mengalir bagaimana nanti saja. Jadi, jangan bertanya kapan terbit, ya. Hehe.. 

Selain cerita cinta di antara tokoh-tokohnya, saya juga mengambil karakter yang mungkin agak berbeda dengan novel yang banyak beredar saat ini. Lupakan adegan nongkrong cantik di kafe, tokoh high class dengan barang branded, kehidupan metropolitan Jakarta, hangout mall-to-mall, dan apalagi ya? Nope. Kali ini, dengan ketenangan hati saat menulis (sebenarnya menulis ini untuk menenangkan hati yang kacau balau mengerjakan TA), saya mengedepankan tokoh-tokoh dengan otak lebih berisi dan kesederhanaan dalam bersikap.

Belum ada target kapan selesai atau terbit atau diterbitkan oleh penerbit mana. Sama seperti Jadian 6 Bulan, saya ingin melihat nasib mengalir dari cerita Selaksa Kerlip Bintang ini. Doakan saja lancar ya... 




Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Muhammad Iqbhal mengatakan…
Sukses untuk karya terbarunya. Semoga menjadi cerita yang disukai pembaca dan memberikan inspirasi untuk menulis. - http://masisiqbal.blogspot.com/

Pos populer dari blog ini

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 2): Pattaya & Koh Larn Island

7 May 2014 Subuh di Bangkok, jujur Rhein nggak tahu arah kiblat ke mana. Pas di Indo nyarinya jadwal solat doang, lupa cari arah kiblat. Tapi yasud, kalau nggak tahu, solat mah niatnya yang penting ke kiblat, yes. Malam sebelumnya udah pesen ke resepsionis kalau beres subuh minta diantar ke terminal bus Ekkamai. Katanya mereka bisa nganter pake ojeg. Namun apa daya jam 5 pagi itu resepsionis masih gelap, nggak ada orang, ngga ada bel untuk manggil, mau nelepon ke contact person ya nomor hape Rhein masih nomor Indo kena roaming ngga bisa dipake. Akhirnya memutuskan untuk check out, simpan kunci, dan keluar hostel cari taksi ke terminal Ekkamai. Soalnya ngejar kapal ferry ke Koh Larn Island di Pattaya nanti yang cuma ada di jam-jam tertentu. 
Supir taksi, petugas terminal, dan orang-orang yang Rhein temui sepagi itu ramah-ramah. Mungkin kelihatan banget, cewek bawa backpack gede laha-loho nggak tahu arah, jadi mereka murah hati ngasih informasi. Perjalanan 2 jam dari Bangkok ke Pattaya …