Langsung ke konten utama

#AskRhein: Awal & Akhir Cerita

Beberapa hari (oke, minggu) lalu, Rhein iseng tanya di twitter dengan #AskRhein tentang apa sih kesulitan yang biasa dialami penulis pemula? Tujuan utama Rhein sih supaya ada bahan nulis blog yang bermanfaat selain curhat (hohoho) dan bisa berbagi pengalaman tentang menulis bagi yang membutuhkan. Jawaban #AskRhein ini ada banyak dan Rhein mau bahas satu per satu ya supaya lebih fokus. Ini dia kesulitan awal penulis pemula bagian pertama:
@HeruSolo memulainya
@shelviach kesulitan saat memulai cerita dan mengakhirinya
Ada quote dari Lawrence Block yang menyatakan "Your beginning sells your current book. Your ending sells your next book". Yes, awal dan akhir cerita menentukan penjualan atau bagaimana pembaca akan tertarik pada tulisan kita. Kalau awal cerita udah bikin boring, bahaya banget si pembaca malas lanjutin baca dan kalau ngga sampai tamat, ya gimana nasib buku selanjutnya? Padahal, FYI ya, kebanyakan pembaca di Indonesia itu (imho) pemalas. Suka skip-skip kalau cerita kepanjangan, ngga seru, buku terlalu tebel, dan ujung-ujungnya pesan tersirat yang pengen kita sampaikan ngga bisa mereka tangkap.

So, bagaimana memulai sebuah cerita dan bagaimana agar awal cerita tersebut menarik, ini tantangan! Tips jitu adalah HOOK THE READER. Ibarat mancing dan pembaca adalah para ikan, kita harus punya umpan lezat dan kail yang kuat supaya ikan cepet ketangkap. Umpan atau awal cerita yang lezat itu seperti apa? Tentunya yang menarik. Yang menarik kayak gimana? Rumus singkat awal cerita menarik: 
Seseorang (atau beberapa orang)-melakukan sesuatu-di suatu tempat-di suatu waktu.
Dari buku yang pernah Rhein baca (lupa judulnya), awal cerita menarik hampir selalu tentang 'tokoh yang bergerak' karena dari sana pembaca akan ikut langsung merasakan seolah-olah menjadi si tokoh. Contoh: Si tokoh berlari di jalan raya saat tengah malam karena dikejar perampok. Dengan menangkap pembaca seolah-olah mereka adalah si tokoh yang bergerak, pembaca akan tanpa sadar membuka lembar demi lembar halaman buku kalian. Why? Karena mereka penasaran 'habis ini gw (padahal si tokoh novel) ngapain lagi?' 

Kemudian, di adegan awal cerita jangan menulis narasi penjelasan tentang semuanya. Sembunyikan dong supaya pembaca penasaran. Hohoho... Untuk contoh awal cerita, kalian bisa baca tulisanku di sini:
http://www.wattpad.com/44345107-the-gloomy-gift-prolog
Lalu, kecuali kalian penulis luar biasa canggih, JANGAN menulis tentang sejarah atau latar belakang tokoh, situasi, konflik, di awal cerita. Ingat, kalian nulis cerita fiksi, bukan SKRIPSI, jadi ngga perlu nulis latar belakang di halaman awal.

Sekarang tentang bagaimana menulis ending yang menarik? Ingat ya, your ending sells your next book. Kalau Rhein pribadi, menakar novel yang Rhein tulis itu menarik atau nggak adalah saat ada pembaca yang bertanya, "Novelmu yang itu ada lanjutannya?" Nah, itu adalah tanda-tanda pembaca ketagihan. Hihihi... xD

Untuk penjelasan ending Rhein coba tunjukkan dengan gambar. 

gambar dan tulisannya jelek, tapi penulisnya tetep cantik
Ini didapat waktu ikut workshop di Ubud Writers Readers Festival. Ibarat sebuah grafik, cerita yang kita tulis pasti dimulai dari perkenalan (A), ketemu problem, konflik-konflik kecil muncul, tensi semakin naik, klimaks, lalu turun perlahan. Nah, menulis kata TAMAT ini jangan setelah klimaks dengan lanjutan penjelasan 'kemudian kehidupan mereka bahagia selamanya, si A menikah dengan B, punya anak bernama C yang lucu imut. Mereka tinggal di sebuah desa kecil dan rumah sederhana. Di depan rumah mereka ada tukang sayur yang dan di sampingnya tinggal tukang daging. Mereka..bla..bla..' boring, ngga penting, terlalu turun moodnya. 

Jadi, bubuhkan kata TAMAT beberapa saat setelah klimaks berlangsung. Tentu setelah berbagai pertanyaan atau konflik cerita terjawab ya. Sisakan sedikit rasa penasaran pada pembaca tentang apa sih yang akan terjadi pada kehidupan tokoh-tokoh cerita kita selanjutnya. 

Nah, begitulah kira-kira sedikit penjelasan bagaimana membuat awal dan akhir cerita yang menarik. Semoga bisa dipahami ya... Lagi-lagi, semua teori ini tidak ada artinya tanpa kita terus berlatih menulis. Sampai jumpa di tulisan tentang #AskRhein lainnya.

KEEP WRITING! :D

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Novita Eka mengatakan…
menurutku sih, belum greget kalau belum ada twice ending dan ending yang menggantung
rhein fathia mengatakan…
@Novita Eka:
Twice? Twist kali ya maksudnya? :D Klimaks itu kan udh mencakup semuanya.. :)

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 4): Grand Palace - Asiatique

Rhein itu kebiasaan deh, kalau posting tentang backpacking pasti ngga beres dari berangkat sampai pulang. Seringnya kepotong setengah-setengah karena alasan yang entah apa. Mungkin ini mengidentifikasi kalau Rhein tipe orang yang cepet move on yah.. Hehehe.. 
Untuk Backpacking Thailand ini udah diniatkan harus ditulis sampai tamat! Soalnya ini backpacking berprestasi yang mengeluarkan budget murah, ke luar negeri pula. Baiklah, mari kita lanjutkan cerita-cerita backpackingnya dengan membongkar ingatan. Yang belum baca part sebelumnya ada di sini, di sini, dan di sini, ya.
Hari keempat di Thailand dan kembali ke Bangkok lagi. Pagi-pagi sekitar jam 8 Rhein udah siap mandi, dandan cantik, dan siap untuk wisata kebudayaan. Saat turun ke lobi, Rhein dikasih tahu sama penjaga penginapan bagaimana rute ke Grand Palace yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Khaosan Road dan jangan tertipu sama orang-orang yang menawarkan tuktuk atau mengatakan bahwa Grand Palace tutup. Ih sumpah pemilik &…

Trip to Vietnam: Hanoi-Ha Long Bay

Sebenarnya perjalanan ini saya lakukan Oktober 2017 lalu, namun apa daya baru sempat ditulis sekarang. Kemudian kali ini juga kunjungan saya ke Vietnam yang kedua, yang  pertama tahun 2015 dan malah tidak saya tulis di blog. Semua karena apa? Tentu karena malas. Hahaha..

Berbekal izin libur dari kantor dan tiket yang nggak murah-murah amat, saya dan adik bertolak ke Vietnam, sempat transit dan bermalam di KLIA2 untuk flight pagi menuju Hanoi. Berhubung kali ini merupakan perjalanan singkat (maklum buruh), otomatis saya nggak bisa go-show ujug-ujug menclok di suatu negara baru dan berpikir mau ngapain aja seperti biasanya. Saya sudah booking hostel dorm (hanya $5! I love Vietnam! Cheap!) dan tujuan saya kali ini jelas: Bermalam di kapal pesiar di Ha Long Bay. Duh, buruh satu ini emang loba gaya pisan. 
Hari ke 1
Dari bandara Hanoi kami naik bis umum dengan waktu perjalanan kurang lebih 30 menit ke daerah Old Quarter atau Hoan Kiem District. Sebenarnya di bandara banyak yang menawarkan …