Langsung ke konten utama

Uluwatu & Padang-Padang Beach #Bali

Day 3 (part 1)


Selamat pagi menjelang siang, Uluwatu...

Salahkan teman saya, Aha, yang membuat kami berempat harus main kartu sampai jam 3 pagi di malam sebelumnya. Rencana berangkat pukul 06.30 pun molor menjadi jam 8 karena kami semua bangun kesiangan. Hahaha... Setelah sarapan sejenak di penginapan, kami langsung cabut menuju Uluwatu. Perjalanan kali ini cukup menyenangkan. Udara yang sejuk, jalanan mulus dan sepi, meski cukup menanjak karena memang wilayah pegunungan. Karena daerahnya masih sepi, Rhein mendaulat Rama untuk nyupir motor setelah mata gw kelilipan. Gantian. Haha..

Sampai di Uluwatu, kami parkir motor, beli tiket, dan memakai sarung serta tali kain. Karena Uluwatu masih wilayah Pura, kami harus bersikap sopan dengan tidak memakai celana pendek. Makanya, kami memakai kain sarung itu. Kalau Rhein sendiri sih biar buat gaya. Hahaha.. Sebelum masuk ke dalam kompleks juga kami diperingati bahwa ada banyak monyet jahil di dalam sana. Mereka suka merebut dan mencuri barang pengunjung. Oleh petugas, kami diberitahu untuk menyimpan barang berharga di tas, membawa tas seaman mungkin, dan kalau mau bawa kamera harus mengikat talinya di tangan. Jangan sampai barang dicuri monyet.

Berjalanlah kami memasuki wilayah Uluwatu. Ternyata... Waaaaaaahhhh... Indahnya bikin speechless! Pura di atas tebing dan di bawah kami adalah laut lepas dengan warna biru cerah. Belum lagi udaranya yang cerah tapi nggak terik. Indaaaaaahhh banget! Berhubung suasananya menyenangkan, kami langsung antuias cari spot untuk foto-foto dan narsis ria. Tapi tunggu dulu, ada cerita cukup horor saat menuju ke salah satu sudut Uluwatu. Waktu jalan melalui pohon-pohon, tiba-tiba ada monyet nongol dari atas pohon secara mendadak. Kami kaget setengah mati dan langsung lari menghindar. Eeehhh... tuh monyet ngejar gueee, dong!! Aaarrgghh... Nggak hanya ngejar, dia naik ke atas bahu, ke kepala, dan mencopot bros di jilbab gue. Maaaakk... Rhein udah jerit-jerit kayak apa. Temen-temen yang lain juga pada tegang, takut, dan lari sambil menatap Rhein iba plus bingung. Malah ada turis Jepang yang memfoto gue lagi teriak-teriak ketakutan.. Siyaaalll.. 

Thanks God, dia cuma ngambil bros Rhein. Mungkin karena warnanya emas jadi menarik perhatian. Setelah tuh monyet pergi, Rhein langsung mencopoti sisa-sia peniti atau jarum pentul dan memodifikasi jilbab sedemikian rupa supaya nggak menarik perhatian monyet-monyet. Sumpah! Bikin gemeteran abis. Selesai menenangkan diri karena insiden monyet nakal, akhirnya lanjut foto-foto narsis. Teuteuuupp... Rhein dan Anne udah berasa foto model profesional sedangkan Aha dan Rama berasa fotografer profesional. Hahaha... 

Uluwatu ini cukup luas dan ada Pura besar di atas tebing. Kami harus naik tangga berbatu untuk bisa mendapat pemandangan indah. Puas mengeksplor Uluwatu, kami makan sejenak di warung-warung di kompleks tersebut dan diberitahu oleh nenek penjual es kelapa muda untuk datang ke pantai Padang-padang. Menurut cerita beliau, pantai tersebut indah banget dan dekat dari Uluwatu. Nenek juga ngasih tau rutenya. Baiklah, let's go there... 


Nenek baik hati itu ternyata tidak bohong. Padang-padang beach is a place that has very beautiful view! Such a heaven on earth... Aahhh.. Melihatnya dari atas jembatan saja sudah merasa seperti terpanggil untuk datang ke sana. Setelah parkir motor, kami bergegas turun menuju pantai. Ternyata akses menuju pantai indah tersebut harus masuk goa dulu. Hahaha.. Sumpah unik banget.. Sampai di pantai udah banyak yang berjemur, berenang, main volley, bahkan asyik baca buku. Pengunjung di sini kebanyakan turis asing dan dari obrolan mereka, rata-rata orang Jerman. Yang unik, pedagang-pedagang di sini fasih banget bahasa Jermannya. Gileee.. Gw yang baru les bahasa Jerman aja kalah, cuy. Hahaha.. Kami pun menyewa payung pantai karena cukup terik, menggelar kain, dan gantian berenang untuk saling menjaga barang. 

Pantai Padang-padang ini nggak seramai Kuta. Pasir putihnya kalau diperhatikan terbentuk dari pecahan karang, laut biru jernih, dan banyak karang-karang besar yang tinggi menjulang. Menurut info dari om Preman Kalem, harus hati-hati berenang di sini karena di bawahnya banyak karang yang tajam-tajam. Meski begitu, Rhein dan Anne tetep berenang meski nggak sampai ke tengah. Main dengan ombak dan air laut yang jernih itu sesuatu banget deh pokoknya. Secara di Jakarta udah nggak ada lagi kayak beginian. Turis-turis asing pun banyak yang berjemur dan kongkow-kongkow dengan rekan mereka. Karena pantai ini juga nggak seluas Kuta dan mungkin karena jauh dari pusat kota, suasananya jadi lebih sepi dan private. Nggak crowded, tenang, cerah, cocok banget buat yang pengen menghabiskan waktu seharian buat berjemur. Kalau Rhein sih ga perlu berjemur juga udah eksotis ya... *tsaaahh...* Overall, di sini menyenangkan banget! Kalau ke Bali lagi, nggak akan melewatkan tempat ini dan ingin lama-lama menikmati waktu di sana.

Selesai berenang dan main di pantai, meski kurang puas juga, kami harus melanjutkan ke tujuan berikutnya. Sebelumnya pasti mandi untuk membersihkan diri dari pasir pantai ya... Dan kami semua nggak ada yang bawa baju ganti. Hahaha.. Jadi ya selesai mandi, masih pake baju basah, langsung naik motor lagi ke Garuda Wisnu Kencana. Di perjalanan, baju kami udah kering. Hahaha... 

Cerita di GWK lanjut di posting berikutnya aja deh ya... Hari ketiga ini banyak spot menarik dan banyak cerita yang bisa ditulis. 

Heaven on Earth! ^_^

Penulis narsis paraaaahh!! :))

Bersambung...


Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Anonim mengatakan…
kenapa jadi gw yang disalahin
siapa yang punya ide bikin parameter "kalo gw menang baru boleh tidur"?!
hayo ngakuuuuu... :P
rhein fathia mengatakan…
Gw yakin sebenernya lu sengaja2 kalah supaya kita main terus.. hahahaha...

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …