Langsung ke konten utama

Kuta & Ubud... #Bali

Day 1

Selamat pagi, Kuta...
Kamu tahu salah satu cara menghilangkan stres? Bangun pagi di tempat berbeda yang memiliki suasana indah. Salah satunya di Bali ini. Rhein dan Anne sampai di Bali malam sebelumnya, langsung cari penginapan dan tidur. Saat bangun pagi, rasanya menyenangkan! Kami langsung berjalan ke arah pantai, menikmati suasana daerah Poppies Lane yang lengang dan udara segar. Jalanan masih sepi, beda jauh dengan jalanan Jakarta di pukul 06.30 yang sudah padat merayap oleh kendaraan lalu lalang. Beberapa orang asing tampak sedang membeli sarapan di mini market atau lari pagi dengan earphone terpasang.

Sampai di pantai, suasana masih sepi. Hanya ada beberapa orang yang berjalan-jalan di pinggir pantai, orang-orang asing yang juga jalan-jalan (di sini banyak sekali bule), para surfer yang bermain dengan ombak, dan banyak anjing. Salah satu binatang yang Rhein takuti karena waktu kecil sering dikejar anjing. Hahaha.. Setelah menggelar kain di salah satu sisi pantai, kami menikmati suasana sambil duduk-duduk santai. Foto-foto narsis, melihat para bontai (bocah pantai) alias surfer yang punya body oke-oke (haduuuhh, rezeki mata). Kami sengaja tidak berenang di pantai Kuta ini. Selain karena ada bendera peringatan dilarang berenang di pantai, juga airnya yang sudah mulai cokelat. Sebenarnya nggak kotor-kotor amat, mungkin karena pengaruh pasir pantainya yang memang cokelat. Lautnya sendiri biru cerah, menyegarkan!

Selesai nongkrong di pantai, kami mencari sarapan. Apalagi kalau bukan Mc. D. Di sepanjang jalan Legian ini banyak sekali restoran baik fast food maupun bukan. Karena sudah diperingatkan di Bali ini masih banyak restoran yang menyajikan babi, jadilah kami memilih fast food yang insyaAllah aman karena tidak menjual menu babi. Restoran fast food di sini buka 24 jam dengan harga standar. Pikir kami, relatif murah daripada restoran atau cafe-cafe itu lah ya... Maklum backpacker, bo... Hahaha.. Selesai makan, kami kembali ke penginapan dan 2 teman kami, Rama dan Aha, datang menyusul untuk bergabung jalan-jalan. 

Rencana kami kali ini adalah ke Ubud. Benar sodara-sodara, berhubung Rhein dan Anne adalah korban film Eat, Pray, Love, kami pengen banget jalan-jalan ke Ubud. Karena jarak Kuta-Ubud cukup jauh, kami menyewa motor untuk perjalanan ke sana. Di Bali ini banyak sekali yang menyewakan motor dan mobil karena nggak ada angkot. Kendaraan umum yang banyak digunakan di sini ya taksi. Tapi nggak perlu khawatir karena rental mobil dan motor di sini cukup murah. Untuk sewa motor, Rhein kena biaya 120.000 untuk 3 hari. Itu pun dibagi 2 kan karena saling bonceng. Sudah termasuk 2 helm dan Rhein hanya diminta menyerahkan KTP sebagai jaminan. Simpel.

Perjalanan dari Kuta ke Ubud menyenangkan. Jalan by pass Ngurah Rai besar, mulus, dan tidak terlalu ramai. Mirip-mirip jalan tol Jakarta tapi tanpa macet dan motor bisa lewat. Semakin mendekati wilayah Ubud, cuaca semakin dingin karena tempat ini memang sudah termasuk ke wilayah pegunungan. Rhein tidak banyak ambil foto saat perjalanan karena giliran nyupir motor. Tapi dari selayang pandangan mata, di wilayah inilah ada begitu buaaaanyaaak pengrajin. Sampai-sampai Rhein berpikir, sepertinya Bali terutama Ubud ini adalah kota dengan pekerja seni terbanyak di Indonesia. Di Sepanjang jalan, banyak terpampang hasil karya seni. Mulai dari ukiran kayu, hiasan kaca, kreasi kristal, lukisan, pemahat topeng, ukiran batu, dan masih banyak lagi. Belum lagi jejeran bangunan pura yang indah nan mistik. Selain itu, semuanya indah, semuanya amazing. Kalah deh toko-toko seni di Jakarta kalau dibanding jajaran penghasil seni di sepanjang jalan menuju Ubud ini.

Sebelum sampai ke Ubud, kami mampir dulu ke pasar Sukowati. Sepertinya hampir semua orang tahu tentang pasar terkenal satu ini. Di sini pusat dijualnya barang-barang kesenian dan harganya muraaaaahhh buangeeett!! Rhein dan Anne yang penggila belanja udah kalap aja dalam beberapa menit. Dengan kualitas yang lebih bagus, harganya jauuuhh lebih murah dibanding harga di ITC atau Ambassador. Hahahaha... Pokoknya cerita di sini itu ya kalap belanja, deh! 

Nah, ada tips belanja dari Rhein kalau di pasar Sukowati ini. Pertama, jangan keburu laper belanja saat masih di luar pasar. Pergilah ke dalam pasar yang emang penuh penjual dan pembeli, tapi di dalam sini harga bisa lebih murah. Kedua, harus tega untuk nawar. Rhein awalnya ditawari cardigan seharga 95 ribu. Setelah ditawar, bisa dapet 35 ribu. Ini entah gw yang keji atau emang harganya murah ya.. Hahaha..

Ada yang menyenangkan dari belanja di pasar Sukowati ini. Pedagang di sini baik-baik dan jujur. Mereka juga nggak terlalu materialistis dengan mengambil untung banyak. Bahkan hanya mengambil untung 1000-5000 pun mereka tetap mau. Lalu, kalau mereka bilang untuk penglaris, ya memang benar barang itu yang pertama kali laku  di hari tersebut. Lalu uang hasil bayaran kita yang membeli barang penglaris akan didoakan oleh mereka dan ditepuk-tepuk ke barang dagangan lain. Setiap belanja, meski menawar dengan keji, Rhein selalu mendoakan semoga barang mereka selalu laris dan kehidupan mereka semakin makmur. Aamien...

Dibandingkan Kuta, Ubud kota yang tenang dan damai. Jam 8 di wilayah ini sudah sepi meski masih banyak restoran dan cafe yang buka, musik yang mengalun cenderung lembut. Menurut cerita si teman maya, Preman Kalem, ketua adat di Ubud melarang adanya diskotik di wilayahnya. Dan memang tidak ada diskotik di wilayah ini. Yang ada justru gedung-gedung pertunjukan seni dan sendratari. Sayangnya cukup mahal untuk backpakcer kayak Rhein... huhuhu... Oiya satu lagi, di wilayah ini sangat aman. Menurut cerita ibu pemilik losmen tempat kami menginap, tidak pernah ada pencurian motor selama dia tinggal di wilayah ini (yang tentunya udah lama banget). Jadi, motor kami pun diparkir saja di jalan raya depan losmen. Aman. Kalau di Jakarta, beuh.. dalam garasi aja bisa raib.

Karena Ubud sudah cukup sepi padahal baru jam 8, kami cukup kesulitan mencari makan malam. Di sini tidak ada restoran fast food. Pilihannya adalah kafe-kafe atau warung pinggir jalan. Karena khawatir masalah menu babi yang pabalatak di mana-mana, Kami pun lebih memilih nongkrong di tempat jagung bakar dan membeli martabak plus roti bakar. Aman.

Sebagian foto-foto
Bersambung....

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Teguh Truf mengatakan…
just sharing kalau beli makanan meskipun teman2 muslim jangan di mcd.kalau di mcd itu bukan backpackeran namanya.banyak koq makanan murah meriah dan halal di bali.banyak warung makan warga jombang,banyuwangi di daerah jalan satria dekat jalan raya tuban arah mau ke bandara mau ke arah kuta.seharga 10 ribuan.sama kaya di jakarta.saya bisa berikan info ini karena saya baru saja seminggu lalu ke bali.dan tiap saat selalu makan disana.
Ardienator Tony mengatakan…
Terserah dia mas mau makan dimana. Dia yg jalan. Ribet amat kaya panitia

Pos populer dari blog ini

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 2): Pattaya & Koh Larn Island

7 May 2014 Subuh di Bangkok, jujur Rhein nggak tahu arah kiblat ke mana. Pas di Indo nyarinya jadwal solat doang, lupa cari arah kiblat. Tapi yasud, kalau nggak tahu, solat mah niatnya yang penting ke kiblat, yes. Malam sebelumnya udah pesen ke resepsionis kalau beres subuh minta diantar ke terminal bus Ekkamai. Katanya mereka bisa nganter pake ojeg. Namun apa daya jam 5 pagi itu resepsionis masih gelap, nggak ada orang, ngga ada bel untuk manggil, mau nelepon ke contact person ya nomor hape Rhein masih nomor Indo kena roaming ngga bisa dipake. Akhirnya memutuskan untuk check out, simpan kunci, dan keluar hostel cari taksi ke terminal Ekkamai. Soalnya ngejar kapal ferry ke Koh Larn Island di Pattaya nanti yang cuma ada di jam-jam tertentu. 
Supir taksi, petugas terminal, dan orang-orang yang Rhein temui sepagi itu ramah-ramah. Mungkin kelihatan banget, cewek bawa backpack gede laha-loho nggak tahu arah, jadi mereka murah hati ngasih informasi. Perjalanan 2 jam dari Bangkok ke Pattaya …