Langsung ke konten utama

Dear Brain


Beberapa bulan lalu, mungkin pikiran gue hanya dipenuhi oleh target kerjaan, rencana jalan-jalan, dan gaji yang nggak pernah cukup buat jalan-jalan. Memasuki 2012, sesuai dengan Resolusi Uyeah yang pernah dibicarakan, membuat otak gw sepertinya harus berbagi kasih dengan banyak hal. Selain karena emang otak gw sendiri yang berontak karena capek mikirin hal itu-itu saja dan membuatnya tidak berkembang banyak. Seolah-olah dia berkata, "Please deh, Rhein. Dasarnya gw ini udah kece dan nggak oke banget kalau cuma stuck di satu hal yang itu-itu aja.". See, yes I have arogant brain.

Jadilah, sejak Januari gw menuruti kemauan si otak yang haus akan supply supaya dia merasa kece lagi dengan ikut les IBT. Lumayan sih untuk exercise supaya dia bekerja lebih berat dan berkembang. Nah, ternyata dari urusan les ini otak gw makin songong minta hal-hal lain yang menurutnya akan makin seru untuk dilakukan. Akibatnya, ya gw yang jadi banyak pikiran.

Mikirin kerjaan tetep masih lah ya. Target kejar buku terbit per bulan, belum lagi ketemu beberapa klien yang mau jadi calon penulis. Mikirin jadwal dan deadline. Yah, namanya juga kerja pasti menyisihkan sebagian kemampuan otak untuk bekerja. Setelah kerja, tentu rencana jalan-jalan pun masih menyita kerja si otak. Apalagi gw sedang merencanakan backpacking miskin ke Karimunjawa bareng temen-temen. Karena udah beberapa kali memfasilitasi/mengoordinir acara backpacking, eh ternyata malah banyak peminat. Hadeeuuhh... Bukannya gw nggak mau backpacking ngajakin banyak-banyak orang, cuma gw bukan travel agen dan urusan booking-booking itu dikerjakan sendiri. Belum nanti kalau pas on the spot ngurusin transport dan makan. Nah, gw khawatir karena ngurusin hal-hal kayak gitu nanti jadi nggak bisa menikmati backpacking, doonngg... Hahaha... 

Ada lagi yang musti diurusin sama si otak ini, yaitu persoalan beasiswa. Gw dan si-partner-in-crime sudah berniat ngejar-ngejar beasiswa untuk sekolah ke luar negeri. Atau minimal menikmati proses seleksinya dulu, deh. Jadilah otak gw musti mikir jadwal untuk tes TOEFL, nyari surat referensi, dan mencari syarat-syarat lainnya. Belum lagi pastinya musti belajar dulu dong yah sebelum tes. Terus...terus... Kalau udah fix gw akan mencari beasiswa atau lolos tes untuk sekolah S2, otomatis gw harus resign dari kantor. Terus, darimana gw dapat DUIIITT?? Satu-satunya jalan atau investasi yang gw punya hanyalah draft novel CoupL(ov)e yang belum juga terbit. Gw mikir hanya ini cara supaya bisa dapet duit tanpa perlu kerja kantoran. Jadilah, lagi-lagi otak gw berpikir lebih kuat untuk kembali berkhayal menyelesaikan tuh novel.

So, dear my Brain, enjoy your daily live. Belajar, berkhayal, bekerja profesional.


Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Senjana Jingga mengatakan…
semangat. hidup ini UUD. Ujung-ujung duit lagi..duit lagi... hehehehe
rhein fathia mengatakan…
@Senjana Jingga:
Hahahah.. yah begitulah emang... :D
warm mengatakan…
pokoknya saya doakan smoga smua terwujud
dan ituu novelnya kapan terbitnya ? :D
kalo udah terbit kasi tau ya :"D
MelanoQyt mengatakan…
mangstaaapp...ciiiaoooo...
hanya berkhayallah yang sepertinya belum dikasih tagprice, so let's daydreaming :D
Vertical blind mengatakan…
iyaya, jangan kasih si brain jadi nganggur.

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Yang Berbeda: Orientasi Seksual dan Ras

Suatu kali di kelab malam, lantai dansa selalu menjadi tujuan utama saya untuk bergoyang. Lampu gemerlap, musik berdentam, dan di antara kerumunan saya melihat seorang perempuan rupawan dengan rambut indah panjang. Ia mengerling, mata kami bertemu. Tanpa ragu, gadis itu menarik saya untuk menari berpasangan. Beberapa pria melihat kami begitu asyik dan tertarik untuk mendekat, perempuan itu dengan setengah malas menghalau tak berminat. Seiring musik menghentak, kami berdansa makin semangat. Kami tertawa, saling sentuh menggoda, sesekali gadis cantik itu memeluk saya, tangannya serta merta meraba pinggul dan paha. Dengan alasan berpose selfie, pipi dan bibir saya pun diciumnya. Sampai ketika jemarinya berkelana ke bagian intim, saya merengkuh kedua pipinya dan berkata, "I'll go buy drinks. Okay?" 
Melanjutkan postingan sebelumnya, Australia tidak hanya menyuguhkan cerita tentang perbedaan agama. Kali ini saya akan bercerita tentang perbedaan lain yang jarang ditemui selama…