Langsung ke konten utama

Rindu pada Bintang

Kali ini Rhein bukan bicara tentang rindu pada si pacar, ya...

Humm...Semalam baru pulang dari acara Astronomi di SMANSA, almamater tercinta. Malam minggu, astronom biasa mangkal dunk, ya. Mencari sepiring emas dan semangkuk berlian gitu *ngelantur*. Back to topic, dan pagi ini, Rhein kembali merasa rindu. Rindu pada komunitas Astronomi yang Rhein miliki. Yang biasa Rhein kunjungi ketika rasa lelah dan penat mendera. yang Rhein jadikan tempat pelarian dan mengadu saat bosan dan suntuk melanda. Menggila dengan diskusi-diskusi hangat tentang langit, bepergian dan menclok kesana kemari mencari spot yang langitnya bersih serta indah. Aaahh... Bintang...

Dipikir-pikir, sudah berapa lama ya Rhein tidak melakukan kegiatan itu? Cukup lama sepertinya. Kalau ditanya alasan, jawabannya adalah klasik: sibuk di kampus. Fiuuhh... Sibuk ngapain? Ya sibuk kuliah. Jadwal kuliah yang bisa sampai jam 7 malam baru pulang, tugas, dan saat wiken, rasanya pengen tidur seharian di rumah daripada ke planetarium. Hemat energi. Rutinitas yang memosankan sebenarnya. Tapi ya mau bagaimana lagi? Rhein pikir, prioritas ada di kampus fisika ini. Rhein ingin semester ini adalah semester terakhir mengambil mata kuliah dan memperbaiki nilai habis-habisan. Bagaimana pun juga, target harus dicapai! Maka Rhein tidak terlalu mengambil banyak kegiatan selain di kampus. Bahkan thanks to medan elektromagnet yang berhasil membuat Rhein muntah-muntah selepas ujian kamis lalu. Cadas... Ditambah lagi nggak bisa datang ke konferensi Himpunan Astronomi Indonesia gara-gara ada dosen nyebelin yang seenaknya ganti-ganti jadwal ujian. Nyebelin... Tapi ini fisika! *lebaaaayyyy....*

Rindu... Rhein rindu Bosscha, rindu Planetarium, rindu pegang teleskop, rindu mencari objek langit sampai leher pegel, rindu tatap mata berbinar pecinta langit ketika sedang berdiskusi, rindu atmosfernya...

Ya sudahlah, langit masih setia menunggu... FIGHT!! FACE IT!!

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

-=-IpanG-=- mengatakan…
saya kangen sama kamu... hahahaha
rhein fathia mengatakan…
@Ipang:
Aku juga kangen kamuuuu....

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …