Ada Sedih Ada Senang


Beberapa hal tidak berjalan sesuai keinginan.

Nilai UTS tidak terlalu memuaskan. Kuliah di jurusan yang banting setir dari studi sebelumnya membuat saya menyadari harus belajar lebih ekstra (kalau belajar fisika lagi ya nggak mau juga sih). Persiapan UTS sudah dari jauh-jauh hari, ke perpustakaan untuk belajar bahkan saat long weekend, mengerjakan latihan soal, tanya jawab dengan teman, begadang itu sudah pasti, dll. Hasilnya masih tidak sesuai harapan. Ada banyak excuses berbisik di telinga; teman yang lain juga nilainya ga bagus-bagus amat, mungkin kamu nervous karena menghadapi ujian dunia akademis lagi setelah sekian tahun, waktu 30 menit kadang bikin otak blank, dsb dsb. But no, I could do better. I should study harder and do better next time.

Saya masih belum dapat kerja part-time. Untuk hal ini, saya agak nekad karena hanya fokus mencari karir di bidang bisnis atau finance & accounting, dimana saya minim pengalaman. Alasannya tentu agar bisa mengaplikasikan langsung apa yang dipelajari di kampus di dunia kerja. Saya sudah menyambangi jobfair, mengirim lamaran entah ke berapa perusahaan, sempat dapat respon dan lolos sekian tahap wawancara, tapi di akhir masih gagal juga. Sedih? Tentu. Apalagi saya perlu sepatu baru (LOL). Etapi beneran, winter hujan terus dan bakal ada salju, sepatu keds yang udah licin sol-nya bakal bikin susah kalau saya harus lari-lari ngejar tram tiap pagi berangkat ke kampus (kebiasaan injury time). 
Ngomong-ngomong winter, badan tropis ini akhirnya tumbang juga setelah dihantam suhu minus dan nol derajat berhari-hari. Demam, batuk, pilek, dingin, dan nggak ada Ibu. Kombinasi yang tidak bagus untuk anak manja seperti saya. 
 
Ada yang bikin sedih, tapi banyak yang membuat saya bersyukur. 
 
Kondisi belajar di sini sangat sangat kondusif. Teman sekelas nggak pernah ragu untuk berbagi saran, jawaban latihan soal, diskusi, saling koreksi. Beneran baru kali ini saya punya grup WhatsApp temen sekolah yang porsi diskusi belajarnya lebih banyak dari ghibah (LOL). Kalau jokes sih tetep banyak. Tugas dan proyek presentasi kelompok berjalan lancar dengan nilai bagus. Suka banget deh sama kultur belajar di sini. Kalau ada yang nggak paham, ya belajar bareng. Nggak nemu yang namanya tugas kelompok dan ada anggota mangkir. Dosen-dosen juga supportif dan baik banget. Karena nilai UTS jelek, saya sempat beberapa kali konsultasi dan meminta saran untuk memperbaiki ke depannya, terutama karena saya nggak punya basic finance accounting. Saran dari para dosen ini tentu nggak mudah, tetapi logis dan taktis; buku mana yang perlu saya baca, latihan soal seperti apa yang perlu saya asah, topik apa yang harus jadi fokus. Mereka sangat terbuka untuk siswa mana pun untuk bertanya apapun, bahkan hal sepele. 
Selain pelajaran, aktivitas mahasiswa di sini juga menyenangkan. Ada pertandingan bowling antar jurusan di fakultas (tim saya menang, hore!). Sebuah acara untuk memperkompak hubungan mahasiswa yang menurut saya berhasil (no ospek-ospek). Ini pertama kalinya saya main bowling dan ternyata seru banget. Kemudian, saya sempat ikut acara volunteer mengajak jalan anjing-anjing di animal shelter. Sebagai manusia dengan cynophobia, ternyata perlahan saya berhasil untuk berdekat-dekatan dengan anjing tanpa mengalami panic attack. Di lain waktu saya ikut acara menyiapkan makanan dan snack untuk para tunawisma dan membagikannya di beberapa taman kota yang biasa menjadi tempat di mana para homeless berada. Sedih banget melihat mereka harus tidur di bangku taman apalagi saat winter. 
 
Support system yang saya miliki memang yang terbaik. Keluarga selalu ada tiap kali saya ingin video call. Meski bapak ibu sibuk di kantor atau perbedaan lokasi dan zona waktu dengan adik-adik (Praha, Bogor, Singapura). Angie dan Bisma nggak pernah gagal untuk bikin saya ketawa dan merasa bebas release emotion. Ngobrol dengan Chelsea bisa berjam-jam dan nggak pernah ada puasnya. Kelas memasak online bareng Rama benar-benar upgrade skill masak saya yang awalnya ada di level 'masak telur rebus aja gagal' (LOL). Sekarang saya udah bisa masak rendang! Nggak kurang jago apa coba gurunya? Selain kelas memasak, dia juga selalu bisa saya andalkan untuk nanya PR (ga berubah dari zaman SMA, hahaha) atau sekadar curcol geje. Mereka, support system dengan jarak hingga belasan ribu kilometer dan perbedaan zona waktu hingga 9 jam, orang-orang paling berharga.
 
Kalau dipikir-pikir, baru dua bulan di Praha saya lumayan sibuk juga ya. Masih banyak kegiatan lain yang saya ikuti seperti nonton pertandingan hockey timnas Indonesia, hang out bareng teman-teman PPI, ikut program berkunjung ke museum bareng anak kampus lain, bahkan ikut seminarnya ESA (European Space Agency) yang salah satunya membahas misi ke Mars tahun 2020. Oh sungguh random sekali. Hahaha.. 
 
It's a cliche, but life will always give what you need. Sometimes we're distracted with deep sadness because we didn't get what we want. We just need to try harder and never give up. :)
 
Love is real, real is love. -John Lennon-


Comments

Popular posts from this blog

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Tips Belajar IELTS (yang ngga berhasil-berhasil amat)

Giveaway & Talkshow with Nulisbuku Club