Langsung ke konten utama

Ibu Negara

"Thi, mau seburuk apa pun masalah yang lu hadapi atau perasaan lu lagi kacau, ketika lu keluar rumah dan menghadapi dunia, lu harus bersikap layaknya Ibu Negara."

Itu pesan sahabat saya, Angie (ibu 2 anak), yang saya tanggapi dengan canda, "Ibu negara apaan? Negara api?"

Sebelumnya, saya tidak pernah menganggap sosok Ibu Negara sebagai seseorang yang memiliki peranan penting secara lingkup nasional. Mengingat semua ibu negara yang pernah ada di negeri ini tidak lebih dari perempuan produk patriarki (enggak saya banget). Saya justru lebih mengagumi perempuan yang menjadi direktur BUMN atau menteri karena terlihat nyata bagaimana mereka berkontribusi. 

Waktu SD saya pernah membaca buku punya ortu yang judulnya "100 Tokoh Paling Berpengaruh di Dunia" karangan Michael Hart (ini buku legend yang sampe sekarang juga masih ada). Satu sosok yang berkesan adalah Ratu Isabella dengan segala cerita saat dia mengelola Spanyol. Namun apalah kisah ratu tahun 1400an kayaknya nggak ngefek-ngefek amat ke anak SD. Setelahnya, nggak banyak cerita tentang perempuan yang berkesan bagi saya. Sampai sekitar tahun lalu saya mulai kepo dengan Michelle Obama (justru setelah Obama lengser). 

Dari youtube, saya suka dengan speech-speech yang dia berikan, bagaimana dia berinteraksi dengan masyarakat, ceramah dan pidato yang dia sampaikan, kontribusi yang dia kerjakan, dsb dsb. Namun tentu saya masih nggak terlalu terkesan karena (sorry to say) it's youtube and media always overrated about almost everything. 

Awal tahun ini saya membeli buku Becoming karangan Michelle Obama dan membacanya. And yes... dia adalah sosok Ibu Negara yang paling memenuhi ekspektasi saya. Buku ini merupakan biografi yang dia tulis dan tentang kisah hidupnya dari kecil hingga selesainya masa jabatan Barrack Obama sebagai presiden AS. 

Sebagai penulis, saya bisa menerka karakter seseorang dari hasil tulisan mereka (saya yakin semua penulis punya sense ini). Dari teknik tulisan buku Becoming, saya amaze dengan sosok Michelle Obama. Dia menulis dengan runut, jelas, sederhana, good story-telling, dan mudah dimengerti. Saya bisa membayangkan bagaimana kondisi White House, interaksi keluarga Obama di sana, atau ikut merasakan kegalauan ketika Obama harus meninggalkan rapat penting karena anak sakit, juga ikut menangis saat membaca bagian ayah Michelle meninggal. The way she wrote this book told us about her character. 

Michelle Obama adalah emak-emak pada umumnya. Dia yang cemas saat menunggu kelahiran anak pertama, yang protektif banget sama anak-anaknya, yang mengalami fase kegalauan antara ibu bekerja atau ibu di rumah, yang kadang masih merasa "I feel I'm the only one who fight for this family", yang kalau suaminya pulang kerja masih pengen curhat dan berkeluh kesah tentang apa-apa yang menjadi kekhawatirannya. 

Michelle menjalani fase hidup layaknya perempuan dan masyarakat kelas-pekerja pada umumnya. Dia bukan dari keluarga kaya, punya hutang student loan bahkan masih mencicil setelah lama lulus kuliah, mengalami rasa minder dan diskriminasi sebagai perempuan dan kulit hitam, pernah dibully di sekolah, suka manja dan menye-menye sama kakak laki-lakinya, dan mengalami love-life yang naik turun. 

Buku ini menjabarkan bahwa Michelle Obama adalah manusia biasa yang sangat related dengan masyarakat kebanyakan di AS bahkan di dunia. So, what's made her worth to be a First Lady? 

Yang bisa saya simpulkan dari buku ini, the way she responded to every problems she faces, which made her worthy to become an inspirational First Lady. Dia rajin dan hobi belajar, bahkan saya suka banget dengan motto "Books before Boys" yang dia kampanyekan untuk para perempuan muda. Di salah satu pidatonya, dia sangat ambisius untuk mendapat nilai straight A's untuk setiap mata pelajaran. Dia sangat peduli akan pendidikan dan kesehatan, dia paham bagaimana mengelola disiplin keluarga (bahkan aturan untuk Barrack Obama), dia pintar dalam mengelola sumber daya yang dia miliki, dia tahu waktu dan situasi yang tepat untuk mengambil keputusan dan menyelesaikan masalah. 

Jadi First Lady itu nggak digaji. Selain fasilitas rumah dinas, segala urusan rumah tangga mereka bayar sendiri. Namun Michelle Obama yang sejak awal sangat peduli terhadap pendidikan dan kesehatan, tidak tinggal diam dengan statusnya sebagai Ibu Negara. Dia menggalakkan berkebun di halaman rumah (white house) untuk menghasilkan makanan sehat, tampil di acara sesame street untuk mengajarkan anak-anak pentingnya sarapan, mewujudkan adanya Obama Care agar masyarakat bisa mendapat akses kesehatan gratis, berkunjung ke sekolah-sekolah dan memotivasi siswa betapa pentingnya pendidikan, berdiskusi dengan istri-istri tentara tentang masalah yang mereka hadapi dan mencari solusi bareng-bareng, dia juga selalu mengenakan pakaian dari desainer muda dan lokal yang sedang bertumbuh. Dia melakukan semua itu tanpa dibayar. Tentu, dia mendapat fasilitas layaknya First Family dan dia paham cara mengelola fasilitas yang ia miliki sebagai Ibu Negara untuk aktif dalam hal-hal positif yang bisa memberi dampak bermanfaat bagi masyarakat luas. 

What she choose, how she decide and use her power, what decision she made, the way she speak up and show her empathy, all of them made her a memorable First Lady. She's a woman who knows how show her full self. She knows how to stand out without overshadowing others and how to blend in but not fade away.

Hal lain yang saya pelajari dari buku Becoming ini adalah makna cinta. Michelle sangat sangat sangat mencintai keluarganya. Dia rela kecapekan hanya supaya bisa pulang ke rumah tepat waktu dan bisa makan malam dengan anak-anaknya, dia rela melepaskan pekerjaannya demi mendukung kampanye Barrack Obama, dia rela menjadi Ibu Negara yang sibuk kesana kemari demi berguna bagi masyarakat, dia menjadi pendengar yang baik bagi suaminya yang menanggung segala problem kenegaraan yang harus dihadapi. Namun dia juga paling tahu cara mencintai dirinya sendiri dan membuat prioritas untuk kebahagiannya tanpa perlu bergantung pada orang lain. 

Melalui buku ini, Michelle Obama menginspirasi saya untuk menjadi Ibu Negara Api sosok perempuan tangguh dan lembut, berani dan penuh empati, cerdas dan rendah hati. 

Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Trip to Vietnam: Hanoi-Ha Long Bay

Sebenarnya perjalanan ini saya lakukan Oktober 2017 lalu, namun apa daya baru sempat ditulis sekarang. Kemudian kali ini juga kunjungan saya ke Vietnam yang kedua, yang  pertama tahun 2015 dan malah tidak saya tulis di blog. Semua karena apa? Tentu karena malas. Hahaha..

Berbekal izin libur dari kantor dan tiket yang nggak murah-murah amat, saya dan adik bertolak ke Vietnam, sempat transit dan bermalam di KLIA2 untuk flight pagi menuju Hanoi. Berhubung kali ini merupakan perjalanan singkat (maklum buruh), otomatis saya nggak bisa go-show ujug-ujug menclok di suatu negara baru dan berpikir mau ngapain aja seperti biasanya. Saya sudah booking hostel dorm (hanya $5! I love Vietnam! Cheap!) dan tujuan saya kali ini jelas: Bermalam di kapal pesiar di Ha Long Bay. Duh, buruh satu ini emang loba gaya pisan. 
Hari ke 1
Dari bandara Hanoi kami naik bis umum dengan waktu perjalanan kurang lebih 30 menit ke daerah Old Quarter atau Hoan Kiem District. Sebenarnya di bandara banyak yang menawarkan …

Backpacker Thailand Trip (part 4): Grand Palace - Asiatique

Rhein itu kebiasaan deh, kalau posting tentang backpacking pasti ngga beres dari berangkat sampai pulang. Seringnya kepotong setengah-setengah karena alasan yang entah apa. Mungkin ini mengidentifikasi kalau Rhein tipe orang yang cepet move on yah.. Hehehe.. 
Untuk Backpacking Thailand ini udah diniatkan harus ditulis sampai tamat! Soalnya ini backpacking berprestasi yang mengeluarkan budget murah, ke luar negeri pula. Baiklah, mari kita lanjutkan cerita-cerita backpackingnya dengan membongkar ingatan. Yang belum baca part sebelumnya ada di sini, di sini, dan di sini, ya.
Hari keempat di Thailand dan kembali ke Bangkok lagi. Pagi-pagi sekitar jam 8 Rhein udah siap mandi, dandan cantik, dan siap untuk wisata kebudayaan. Saat turun ke lobi, Rhein dikasih tahu sama penjaga penginapan bagaimana rute ke Grand Palace yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Khaosan Road dan jangan tertipu sama orang-orang yang menawarkan tuktuk atau mengatakan bahwa Grand Palace tutup. Ih sumpah pemilik &…