Langsung ke konten utama

One Year Later

The Astronaut has landed at home after one year travel. Happy. Safely. She got a lot of experience she need including some scars -of course, but every scar tells a story and -in a good way, it looks sexy.

Usai kurang lebih 13 jam perjalanan Melbourne-transit Kuala Lumpur-Jakarta, akhirnya saya kembali merasakan pelukan Ibu, Bapa, dan Bani yang menjemput di Soekarno-Hatta. Saya pun mengabari banyak teman dengan pesan singkat “Gw udah balik Indo. I’m home. I arrived safely. etc.” Kemudian pagi ini, hari pertama bangun tidur di rumah dengan perasaan tenang tanpa bertanya-tanya, “Sekarang gw lagi ada di mana ya?”(Percayalah, terlalu sering traveling, pindah-pindah hostel atau tempat tinggal, kadang membuat saya bingung akan situasi tiap bangun tidur).

Setahun ke belakang menjadi fase Long Vacation dalam hidup saya. Kalau pernah ada yang nonton dorama Jepang dengan judul sama, kira-kira seperti itulah gambaran filosofinya. Setelah kerja kantoran, lanjut kuliah S2, lulus, daftar kuliah lagi ke Eropa dan ga dapet-dapet, saya cukup stress mau ngapain selanjutnya. Mungkin setahun lalu Tuhan sedang ingin saya mengambil liburan dalam hidup. Dan saya pun terbang ke benua sebrang. 

Saya menulis ini sambil senyum-senyum sendiri mengingat banyak kejadian selama memiliki Work & Holiday Visa di Australia. Mulai dari mendarat di bandara Sydney, sampai ke stasiun Central, tinggal satu apartemen dengan penghuni dari beragam negara, ikut short-course di Universitas Sydney (yang tugasnya banyak), pindah ke kota-kota lain, jalan-jalan, gonta-ganti pekerjaan, dan di sepanjang tahun ini saya juga melakukan banyak hal yang tidak pernah saya lakukan sebelumnya di Indonesia. Ceritanya nggak akan bisa ditulis dalam satu postingan, saya berencana untuk nulis lebih detail nanti (kalau mood #halah). 

Saya tidak berekspektasi bahwa kehidupan dalam setahun bisa sebegitu seru dan berwarna. Australia memberi ruang kondusif agar saya mencoba banyak hal baru yang tidak pernah dilakukan di Indonesia, apalagi dari kacamata budaya & agama akan dianggap salah. Seorang Rhein yang tampak alim ini, ternyata hobi clubbing. Ternyata dia juga sanggup minum 2 botol wine dalam semalam, tanpa hangover pagi harinya. Dia punya kemampuan beginner's luck karena menang pas main judi di kasino. Dia juga sempat tinggal satu rumah dengan banyak laki-laki. Dan cerita-cerita the dark side lain #uhuk. I did a lot of things I’m not proud of them, but I don’t regret.

Di sisi lain, saya juga bekerja lebih workaholic daripada sebelumnya. Belanja lebih boros, traveling lebih jauh, tertawa lebih lepas, dan meneteskan air mata lebih deras. Saya yang sebelumnya sosok logis dan bisa mengontrol diri, selama di Australia, belajar untuk mengeksplorasi dan mengobservasi diri sendiri. 

One year later, saya pulang dengan senyum damai. Satu tahun yang mengajarkan saya untuk bisa lebih bijaksana, menikmati hidup, memahami serta memaafkan diri sendiri dan orang lain. Satu tahun yang membuka cakrawala pikiran saya lebih luas tentang perbedaan dan bagaimana menjadi masyarakat internasional. Seperti yang pernah Feynman tulis dalam bukunya, "Learn what the rest of the world is like. The variety is worthwhile."  Pastinya saat suatu hari punya anak, saya punya banyak cerita seru (nikah belum udah mikir anak, visioner sekali).

Nggak sedih ninggalin Australia? Sedih pasti ada, tapi saya sadar toh yang namanya liburan pasti ada akhirnya. So, udah nggak bingung lagi sama rencana selanjutnya di Indonesia? Masih nggak tau (bwahahaha, jawaban standar alumni WHV). 

Terima kasih Australia. Terima kasih untuk semua orang yang menjadi bagian cerita selama saya di Negeri Selatan. Satu tahun penuh kenangan yang akan saya peluk dengan hangat. 

Ceritanya pengen jalan-jalan tapi di Australia ga ada Gojek, ya udah pake helikopter aja
Bye, taman-taman nyaman tempat baca, nulis, piknik, tiduran, atau sekedar ngegalau. Sampai jumpa di lain negara.
Bye, perpustakaan-perpustakaan tempatku berteduh ketika nggak tau harus kemana
Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Dila Maretihaqsari mengatakan…
Welcome back mbaaa 😊
Rd mengatakan…
eh ini beneran sudah balik (lagi)?

coba skarang lg deket dengan rumahmu, saya pasti bakal bertamu lalu nanya2 kepo ttg liburanmu yg menyenangkan disana. Daaan smoga nanti suatu saat impian nerusi kuliahnya kesampaian ya, teh. Amijn
hilal abu dzar mengatakan…
Way to go Rhein!!!

Coba nanti Kalau ketemu diceritakan lebih detail 'dark side' nya Hahaha!!


Hilal
Www.Hiladz.com

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 4): Grand Palace - Asiatique

Rhein itu kebiasaan deh, kalau posting tentang backpacking pasti ngga beres dari berangkat sampai pulang. Seringnya kepotong setengah-setengah karena alasan yang entah apa. Mungkin ini mengidentifikasi kalau Rhein tipe orang yang cepet move on yah.. Hehehe.. 
Untuk Backpacking Thailand ini udah diniatkan harus ditulis sampai tamat! Soalnya ini backpacking berprestasi yang mengeluarkan budget murah, ke luar negeri pula. Baiklah, mari kita lanjutkan cerita-cerita backpackingnya dengan membongkar ingatan. Yang belum baca part sebelumnya ada di sini, di sini, dan di sini, ya.
Hari keempat di Thailand dan kembali ke Bangkok lagi. Pagi-pagi sekitar jam 8 Rhein udah siap mandi, dandan cantik, dan siap untuk wisata kebudayaan. Saat turun ke lobi, Rhein dikasih tahu sama penjaga penginapan bagaimana rute ke Grand Palace yang bisa ditempuh dengan jalan kaki dari Khaosan Road dan jangan tertipu sama orang-orang yang menawarkan tuktuk atau mengatakan bahwa Grand Palace tutup. Ih sumpah pemilik &…

Trip to Vietnam: Hanoi-Ha Long Bay

Sebenarnya perjalanan ini saya lakukan Oktober 2017 lalu, namun apa daya baru sempat ditulis sekarang. Kemudian kali ini juga kunjungan saya ke Vietnam yang kedua, yang  pertama tahun 2015 dan malah tidak saya tulis di blog. Semua karena apa? Tentu karena malas. Hahaha..

Berbekal izin libur dari kantor dan tiket yang nggak murah-murah amat, saya dan adik bertolak ke Vietnam, sempat transit dan bermalam di KLIA2 untuk flight pagi menuju Hanoi. Berhubung kali ini merupakan perjalanan singkat (maklum buruh), otomatis saya nggak bisa go-show ujug-ujug menclok di suatu negara baru dan berpikir mau ngapain aja seperti biasanya. Saya sudah booking hostel dorm (hanya $5! I love Vietnam! Cheap!) dan tujuan saya kali ini jelas: Bermalam di kapal pesiar di Ha Long Bay. Duh, buruh satu ini emang loba gaya pisan. 
Hari ke 1
Dari bandara Hanoi kami naik bis umum dengan waktu perjalanan kurang lebih 30 menit ke daerah Old Quarter atau Hoan Kiem District. Sebenarnya di bandara banyak yang menawarkan …