Langsung ke konten utama

Life is Better with Friends

Friendship is complicated. Yes, this is for you. Welcome to your tape. 
Lhah, kok jadi Hannah Baker?

“Hi, is this seat empty? Can I sit here?”
Orang di hadapan saya mendongak. “Yeah, sure!”

Percakapan di atas menjadi sebuah kebiasaan tiap kali tinggal di hostel selama saya di Australia. Hampir semua hostel backpacker memiliki ruangan luas multifungsi merangkap dapur, ruang makan, nonton TV, perpustakaan, bahkan ada yang punya meja billiard. Dari kenalan dengan satu orang saat sarapan, kemudian malamnya kenalan dengan orang lain dan mengajak si orang-saat-sarapan bergabung, lalu ia pun mengajak temannya, apalagi ditambah teman satu kamar. Begitulah biasanya pertemanan antar backpacker terjalin.

Skill berteman. Satu hal yang saya pelajari selama setahun ke belakang. Saat memutuskan merantau, saya sadar bahwa saya tidak bisa hidup bergantung pada keluarga. Bukan hanya urusan materi tapi juga hati #halah. Menjalin pertemanan adalah salah satu cara untuk bertahan hidup. Baik untuk sama-sama cari kerja, berbagi info tentang apa pun, tuker-tukeran barang yang saling dibutuhkan atau nggak kepakai, merawat kalau ada yang sakit, tempat menangis ketika merasa hidup sedang kacau-kacaunya, tempat ketawa lepas sampai sakit perut (aneh kan ketawa sendiri), orang yang kita hubungi ketika super panik, rekan kirim-kiriman meme, atau sekedar sebagai tukang foto dan pengarah gaya saat bertemu situasi instagramable.

Lingkup pertemanan saya di Australia menjadi lebih luas, selain dengan teman-teman Indonesia juga teman-teman internasional. Untuk teman-teman sebangsa, saya akui tidak banyak. Saya hanya ikut grup WhatsApp dengan anggota sedikit tapi solid. Kemudian dua bulan terakhir di Australia saya tinggal di apartemen yang penghuninya orang Indonesia semua. Sisanya teman-teman dari negara lain yang saya dapat sebagai housemate, rekan kerja, di hostel, dan kampus. Dalam setahun saya tinggal di 4 alamat rumah/apartemen berbeda, singgah di entah berapa hostel, gonta-ganti tempat kerja 5 kali. Jadi ya teman fesbuk sama follower instagram nambah gitu #pentingbanget

Dari dulu saya suka ketemu dengan orang baru. Hanya dengan obrol-obrol santai, saya bisa bertukar banyak hal tentang budaya, kebiasaan, pola pikir, sudut pandang, atau hal-hal remeh seperti umpatan. Iya, saya punya teman yang menghapal kata umpatan dari banyak negara. Waktu dia tanya, "What is 'fuck you' in your language?" saya cuma melongo. Dengan teman serumah, saya suka barter. Pekerjaan membuat saya kadang membawa leftover makanan, bir, atau wine. Terkadang housemate akan gantian masak sesuatu untuk saya (sebagai anak yang tidak masak, ini menguntungkan). Biasanya saya tidak terlalu dekat dengan teman di tempat kerja (karena fokus kerja), kecuali saat kerja sebagai waitress di Fremantle, the best teamwork ever!

Susah nggak menjalin pertemanan di negeri orang?

Awalnya susah. Saya kan pemalu apalagi bahasa Inggris pas-pasan. Perlahan saya belajar bahwa tidak semua orang memiliki skill berteman yang baik. Maunya disapa duluan, ditanya duluan. Jadi ya udah, akhirnya saya pede-pede aja nyapa duluan dan ngajak ngobrol. Tentu dengan memperhatikan bahasa tubuh lawan bicara; apa dia merasa terganggu atau tidak. Satu kelebihan yang saya punya dalam urusan berteman adalah: senyum memikat #plak. Etapi beneran, nggak semua orang bisa senyum, lho! Orang Indonesia yang selalu didoktrin 5 S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) diuntungkan banget dalam urusan menjalin pertemanan. Di Australia, apalagi dengan banjirnya para backpacker, bisa dibilang sangat mudah mendapat teman dari beragam negara. Termasuk ketika seseorang berkata dia dari Namibia, saya bertanya balik, "Is it a country?"

Selain punya teman dari beragam negara, mereka juga memiliki beragam profesi. Ada yang dokter, guru, perawat, koki, baru lulus kuliah, pemburu (hewan, bukan wanita), pebisnis, desainer, bahkan ternyata saya pernah tinggal satu rumah dengan pengedar narkoba (pantesan rumah kami pernah digrebek polisi). 

Dengan keberagaman yang keterlaluan ini, saya belajar melihat dunia dari beragam sudut pandang. Saya belajar bahwa kunci dari menjalin pertemanan adalah tidak menghakimi (dasar kamu cina-yahudi-kafir!). Saya jadi tahu bahwa apa yang dianggap tabu di satu budaya ternyata hal biasa di budaya negara lain. Saya belajar menerima seseorang apa adanya mereka dengan segala kisah hidupnya. Saya mulai paham tidak ada orang yang 100% jahat atau 100% baik. Saya menyadari bahwa ketika kita ingin menjadi sosok yang baik, teman-teman di sekeliling pun akan bersikap hal sama meski mereka melakukan hal sebaliknya pada orang lain. Pernah ketika suatu sore, saya ikut lihat-lihat tinder dan memilihkan cewek untuk seorang teman, saya nyletuk, "I never have tinder.". Dengan tegas dia menjawab. "Don't! Good girl don't do tinder. So, just don't!"

Pertemanan akan mengalami seleksi. Itu pasti. Dari sekian teman, tentu saya memiliki siapa-siapa yang menjadi teman dekat, tempat untuk diskusi urusan masa depan, bergosip urusan cowok dengan nama samaran (Biasanya pake nama negara: Canadian Man, Malaysian Boy, HongKong Boy, Filipino Guy, German Boys, Korean Oppa), sosok yang akan saya hubungi ketika sedang hopeless dan bertanya, "Kamu sibuk? Aku butuh curhat.". Tentu saya pun tidak bisa memaksa siapa-siapa supaya menjadikan saya teman dekat mereka. It just happen naturally. 

Pertemanan tidak selamanya menyenangkan. Meski saya tipe plegmatis yang selalu menghindari konflik, toh yang namanya gesekan tetap saja ada. Bisa saja seseorang menjadi tidak acuh bahkan meninggalkanmu tanpa penjelasan apa-apa. Saya pernah punya roommate di Sydney, kami berteman baik, sering nongkrong bareng, ke pantai, restoran, masak bareng, dsb. Kemudian saya pindah ke Fremantle dan jarang kontak dengannya. Saat kembali ke Sydney dan ingin menghubungi dia, line & instagram saya sudah diblok, fesbuk di-unfriend, saya kirim pesan tidak dibaca. 

People come and go. Saya bahagia ketika tanpa bisa ditebak ada yang datang di kehidupan mengisi hari-hari. Saya pun belajar menghormati ketika ada yang memilih untuk tidak menjadi bagian cerita kehidupan saya lagi.

So, one day if you see empty seat in front of me, just say hi and you've got a friend in me :)
Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Rd mengatakan…
Teh, menyenangkan sekali tulisanmu ini. Cerita ttg kawan2 baik dimanapun emang selalu menyenangkaan
Irman Rahman mengatakan…
Keren, semakin tahu seseorang, semakin sedikit menyalahkan org lain. Makasih inspirasinya mba Rien...

Postingan populer dari blog ini

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Perkara ber-Agama dan ber-Tuhan di Australia

"Are you a Buddhist?" Saya menatap teman, yang sudah saya kenal di tempat kerja selama satu bulan itu, dengan pandangan bermakna, "Hah?"
Australia, sebuah benua dan negara dengan penduduk sangat-sangat-sangat beragam latar belakangnya. Di sini, pertanyaan setelah "What's your name?" adalah "Where are you from?". Dan jawabannya jarang banget "I'm Aussie." Pasti dari negara yang beda-beda. Indonesia memang penganut Bhineka Tunggal Ika (yang sekarang sedang terluka), namun tinggal setahun di benua Kanguru membuat saya berinteraksi dengan lebih banyak lagi perbedaan. Postingan kali ini akan mencoba membahas tiga perbedaan signifikan berdasarkan pengalaman saya dan bagaimana menyikapinya. Tadinya saya mau menulis menjadi satu postingan, tapi berhubung hobi curhat jadi saya pisah karena kepanjangan.
AGAMA

"Are you working everyday?" Pemuda itu bertanya sembari tangannya sibuk menyiapkan pesanan mie. "No. I have day off …