Langsung ke konten utama

Don't Judge a Book By Its Tattoo

Menurut cerita Ibu, di era mantan presiden Soeharto ada sebuah operasi pembunuhan massal yang dinamakan Petrus atau penembak misterius. Operasi yang dikomandoi ABRI ini bertujuan memberantas siapa pun yang diduga menjadi penyebab keresahan masyarakat. Culik, tembak, tinggalkan mayatnya. Kala itu, banyak preman-preman ketakutan dan menyelamatkan diri dari incaran Petrus. Salah satu cara yang dilakukan adalah menghapus tato yang sudah dirajah di tubuh mereka. 

Secara umum masyarakat Indonesia masih menganggap tato sebagai sesuatu yang dikaitkan dengan hal negatif. Sebagian orang menghubungkan tato dengan premanisme, kekasaran, kenakalan remaja, meskipun mereka tatoan tapi tak pakai narkoba. Apalagi kalau tato gambar sangar sebadan-badan. Saya akui saya pernah punya mindset seperti itu. 

Saat traveling ke Pattaya, saya pernah berkenalan dengan seorang gadis Rusia yang berprofesi sebagai tatto artist. Dia traveling ke banyak negara dan mencari uang dengan cara merajah siapa saja yang mau dengan harga lebih rendah dari harga pasaran. Dia juga menawarkan diri untuk merajah kulit saya dengan gratis. Saya tolak dengan alasan tidak kuat menahan sakit tusukan jarum (Padahal mah alasannya karena takut dimarahin Bapa).

Sampai setahun lalu saat saya mendarat di Australia dan mulai gaul kesana kemari, saya berpikir, busyeeenngg... Ini kok orang-orang pada tatoan yak? Baik laki-laki atau perempuan, terutama para backpacker yang pernah saya temui, 90% bertato. Yang 10% mungkin tatonya nggak kelihatan (di telapak kaki, misalnya). Dari tato sangar sepanjang lengan sampai tato mungil gambar tapak kaki anjing. 

Punya banyak teman bertato selama di Australia membuka pikiran saya bahwa ada satu sisi dunia yang menganggap tato adalah seni. Sama seperti lukisan, ukiran, kaligrafi. Yang membedakan hanya mediumnya adalah kulit manusia hidup. Saya suka kepo (maklum orang Indonesia) tanya-tanya kenapa kamu punya tato gambar itu atau kapan kamu punya tato itu, dll. 

Jawabannya beragam. Ada yang punya tato gambar wajah neneknya yang paling disayang yang ia buat setelah neneknya meninggal. Ada juga gambar aktor favorit yang menjadi inspirasi. Atau sebaris kalimat motivasi di dada yang dibuat setelah dicampakkan sang kekasih sehingga tiap kali bercermin, dia merasa hidup tetap cerah. Ada tato tanggal kematian anjing pertamanya. Ada lambang-lambang dengan makna tertentu. Atau sekedar itu gambar keren. Saya beberapa kali melihat orang dengan tato macan, meski tidak ada yang bertato macan cisewu. Lokasi tato juga macam-macam. Pergelangan kaki, paha, lengan, belakang telinga, leher, punggung, dada, pusar, oke udah cukup saya cuma sampai situ aja kok liatnya. 

Dari hasil kepo, ternyata tato itu bikin nagih. Mereka yang bertato selalu ingin merajah tubuhnya lagi. Ada juga beberapa cowok yang berkata, “Cewek tatoan itu keren, tapi saya ga mau pacar saya tatoan.” Lhah??

Satu hal penting, tato tidak ada hubungannya dengan kepribadian seseorang. Semua teman saya yang bertato baik banget. Saya juga pernah dipalak duit sama orang bertato. 

Satu kesamaan, semua orang bertato yang pernah saya kepoin sepakat bahwa tato yang ada di tubuh mereka menjadi pengingat akan sesuatu. Seperti mendongeng, mereka akan cerita ke saya tato ini dibuat di mana, kapan, kenapa, ada kejadian apa, dengan siapa, dll. Kemudian saya akan melihat mereka sebagai sosok yang memiliki tubuh dengan kisah hidup tertulis indah di sana. 

Jadi wahai kamu yang bertato, apa ceritamu? :)

pic source: an instagram account
Love is real, real is love. -John Lennon-

Komentar

Rd mengatakan…
saya seneng tatoo dan perihal bikin tatoo, keinginan saya sejak lama yg ga bakal kesampaian #lahcurcol

Pos populer dari blog ini

Backpacker Thailand Trip (part 1): Jakarta-Bangkok

Sawaddi Kha...
Ayey! Rhein baru pulang dari Thailand dengan hati senang.. :D Hmm.. cerita mulai dari mana dulu ya? Persiapan dulu kali ya. Oke deh.
Persiapan Backpacker murah meriah. Selain sama keluarga atau dapat fasilitas dari instansi tertentu, Rhein selalu jalan-jalan ala backpacker. Why? Selain murah juga karena males geret-geret koper. Hahaha... Rencana backpacking ke Thailand ini berawal dari adanya tiket promo Air Asia & Lion Air sekitar 5 bulan lalu yang membuat Rhein berhasil mendapat tiket Jakarta-Bangkok PP seharga 700 ribu rupiah sajah! Yes, murah!
Menjelang sekitar 1-2 minggu keberangkatan, baru deh mulai cari info detail tentang segala hal menarik di Thailand. Dari worskhop Seasoned Traveler waktu di UWRF, dikasih tahu kalau persiapan sebelum traveling (apalagi bagi penulis) itu sangat penting supaya nggak blank banget saat di lokasi. Sehingga saat sampai di tujuan, kita nggak lagi bingung mau ngapain atau ke mana, tapi bisa lebih fokus menerima hal-hal detail yang …

Untuk Kamu-Kamu yang Tidak Pintar

Zaman saya SMP sempat nge-tren adanya award semacam cewek tercantik, cowok terganteng, cewek tergaul, cowok terramah, dsb. Saat itu saya juga menang award, lho... jadi cewek ter-lemot alias lemah otak alias tulalit alias loading lama. Hahaha.. Dan emang bener sih, kala itu (sampai sekarang, meski nggak separah dulu) saya sering merespon sesuatu hal baru dengan kata pamungkas, “Hah? Hah?” dengan tampang boloho :))
Dari kecil saya nggak terlalu suka belajar akademis, apalagi di kelas. Lebih suka baca komik, majalah, novel, main, mengkhayal, jalan-jalan, atau membuat prakarya. Ibu juga bilang kalau saya bukan anak yang pintar, pun sampai sekarang punya kelemahan susah fokus saat di keramaian. Tapiiii... tapiii.. saat SD selalu ranking 3 besar, masuk SMP & SMA favorit dan mendapat peringkat 10 besar, lulus kuliah dari UI. Sombong kamu, Rhein! Itu namanya pintar!
No! Trust me, I’m not that smart dan kadang bingung kenapa bisa mencapai hal-hal yang mungkin termasuk wow untuk sebagian or…

Backpacker Thailand Trip (part 2): Pattaya & Koh Larn Island

7 May 2014 Subuh di Bangkok, jujur Rhein nggak tahu arah kiblat ke mana. Pas di Indo nyarinya jadwal solat doang, lupa cari arah kiblat. Tapi yasud, kalau nggak tahu, solat mah niatnya yang penting ke kiblat, yes. Malam sebelumnya udah pesen ke resepsionis kalau beres subuh minta diantar ke terminal bus Ekkamai. Katanya mereka bisa nganter pake ojeg. Namun apa daya jam 5 pagi itu resepsionis masih gelap, nggak ada orang, ngga ada bel untuk manggil, mau nelepon ke contact person ya nomor hape Rhein masih nomor Indo kena roaming ngga bisa dipake. Akhirnya memutuskan untuk check out, simpan kunci, dan keluar hostel cari taksi ke terminal Ekkamai. Soalnya ngejar kapal ferry ke Koh Larn Island di Pattaya nanti yang cuma ada di jam-jam tertentu. 
Supir taksi, petugas terminal, dan orang-orang yang Rhein temui sepagi itu ramah-ramah. Mungkin kelihatan banget, cewek bawa backpack gede laha-loho nggak tahu arah, jadi mereka murah hati ngasih informasi. Perjalanan 2 jam dari Bangkok ke Pattaya …